(pada mulanya adalah KATA...)

Saturday, February 18, 2017

Ketika “Bondo Nekat” Menjadi “Bondo Nekat Kreatif”


Bonek Mania menggelar aksi parade bela Persebaya di jalan-jalan protokol Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (26/12). Mereka menuntut agar status Persebaya diakui kembali oleh PSSI/juara.net.


Satu hal yang turut membuat sepak bola Indonesia menarik dan bersejarah, selain tingginya animo penonton, adalah fanatisme pendukung. Fanatisme ini bisa diartikan sebagai loyalitas atau kesetiaan, yang terkadang total dan tak bisa diganggu-gugat, sampai-sampai bisa mengikis akal sehat. Tentu sulit memahami ada orang yang rela melakukan apapun demi klub kesayangan. Apa saja dikorbankan, bahkan sampai nyawa sekalipun. 

Beberapa klub menyandang nama besar tidak hanya karena prestasi, juga keberadaan penggemar fanatik. Persija Jakarta tidak hanya dikenal karena menjadi satu-satunya  klub ibu kota yang masih eksis hingga kini, juga kisah Jakmania atau The Jakmania yang selalu setia di pinggir lapangan. Begitu juga Pesib Bandung dengan Bobotoh-nya, Arema dengan Aremania, dan Persipura dengan Persipura Mania.

Tidak hanya klub yang saat ini masih eksis bersama ribuan fans di panggung utama sepak bola nasional, klub-klub yang pernah jaya pada masa tertentu pun masih memiliki basis penggemar. Berdiri pada 1915 dengan nama Makassar Voetbal Bond (MVB), PSM Makassar pernah-sedikitnya-lima kali juara perserikatan dan pernah menjadi “The Dream Team” dengan deretan pemain nasional seperti Hendro Kartiko, Aji Santoso, Bima Sakti, Miro Baldo Bento hingga Kurniawan Dwi Julianto. 

Kesetiaan warga Sulawesi Selatan tetap tak tergoyahkan bersama pasang surut tim yang berjuluk Juku Eja atau Ikan Merah ini. PSM masih tetap bertahan bersama penggemarnya layaknya sekawanan “Ayam Jantan dari Timur” yang pernah mencatatkan diri sebagai perempatfinalis Piala Winners Asia (1997/1998) dan Liga Champions AFC (2000/2001).

Tidak hanya yang kaya prestasi, klub biasa pun memiliki kelompok penggemar tersendiri, yang terkadang kebesaran pendukung itu turut membesarkan klub tersebut.  Menyebut nama PSS Sleman tak terpisahkan dari Brigata Curva Sud (BCS), barisan pendukung setia bersama klub yang berbasis di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Saat “Super Elang Jawa”, julukan tim tersebut, bertanding maka ribuan Brigata Curva Sud sudah pasti mendukung. 
Brigata Curva Sud (BCS), fans PSS Sleman/Kompas.com
Pemandangan menjadi lain, dan terkadang mendatangkan sensasi tersendiri, saat laga kandang di Stadion Maguwoharjo. Sudah pasti tribun selatan dari stadion berkapasitas 40.000 tempat duduk itu menjadi tempat “keramat” yang tak tersentuh suporter lain. Di tempat tersebut ribuan fans akan memamerkan koreografi unik, yang bisa membawa kita pada aksi para ultras di klub-klub besar Eropa.  Itulah cara mereka hadir bersama PSS Sleman. Apapun hasil akhir pertandingan, kesetiaan mereka tak pernah memudar, malah semakin menjadi-jadi.

Kesetiaan tingkat tinggi para suporter membuat pertanyaan tentang alasan dan dasar kesetiaan itu menjadi tidak bermakna. Kesetiaan itu seakan terwariskan, tetap melekat meski hanya pada sepotong nama klub yang tetap bertahan melintas zaman seperti Persebaya Surabaya.

Kesetiaan suporter itu pula yang membuat klub yang berdiri pada 18 Juni 1927 ini berani bangkit lagi setelah terbelit persoalan pelik yang membuatnya absen selama enam tahun terakhir. Penguasa kompetisi perserikatan ini sedang menyusun kembali kekuatan bersama Bonek, pendukung setianya.

Klub yang berdiri dengan nama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) ini sedang bersiap untuk kembali ke panggung nasional, meski harus dimulai dari kasta kedua, Liga 2. Seakan tak mau ambil pusing dengan status itu, di bawah sokongan Jawa Pos Grup, tim berjuluk “Bajul Ijo” itu kembali menatap masa depan. 

Bonek dengan kesetiaan yang tak terperi ikut membantu, tidak hanya dengan ikhtiar semangat dari luar lapangan, tetapi juga ikut aktif dari dalam. Bersama rencana masa depan manajemen, Bonek pun siap mentransformasi diri dari sekadar “bondo (modal) nekat” menjadi “bondo nekat kreatif.” (Kompas, 17 Februari 2017, hal.30).

Apapun tagline atau nama yang akan dipilih, predikat tersebut membungkus semangat pembaharuan. Identitas bonek sudah pasti tetap terjaga, karena bagaimana pun itu mewakili jiwa dan semangat yang telah mendarah-daging. Perubahan yang sedang disambut terkait kreativitas dan sportivitas dalam mendukung tim kesayangan, setelah menghabiskan banyak energi  turut berjuang agar Persebaya kembali berdiri.

Menyiapkan yel-yel, aksi di tribun, dan cinderamata yang paling unik, sedang diperlombakan. Hal ini bertujuan untuk memacu kreativitas para pendukung. Tidak hanya itu, stimulus dalam bentuk kompetisi juga menyasar bisnis skala mikro yang disebut Bonekpreneur. 

Berbagai lomba kreativitas tersebut dimaksudkan untuk pencitraan kembali atau rebranding image. Bersama kreativitas itu, dibangun pula komitmen untuk menghilangkan gambaran buruk yang selama ini melekat pada Bonek. Berbagai aksi tak terpuji di sisi lapangan, seperti umpatan, kata-kata kotor, dan caci-maki bernada SARA pun akan dibuang jauh-jauh. Bersama dengan itu meningkatkan penghargaan terhadap perempuan dan anak-anak dengan memberi tempat khusus kepada mereka sehingga tidak terpapar asap rokok.

Pencitraan kembali itu baru satu dari tiga rencana besar manajemen bersama fans yang juga meliputi pusat data (fans database) dan Akademi Bonek (Bonek Academy). Manajemen akan mengeluarkan kartu tanda anggota yang juga berlaku sebagai tiket terusan. Diharapkan nantinya fungsi kartu tersebut bisa meluas, di antaranya mencakup asuransi.
Salah satu aksi Bonek di pinggir lapangan/juara.net
“Keselamatan pendukung bukan sekadar di dalam stadion, melainkan juga kehidupan kesehariannya,”usul Erik Lukman, bonek Batam.

Kita tentu menyambut baik perubahan yang sedang merasuk Persebaya dan pendukungnya meski upaya tersebut tidak mudah dilakukan karena menyangkut kepentingan puluhan ribu orang dari berbagai latar belakang. Setidaknya hal itu menjadi angin segar bagi klub legendaris itu, sekaligus langkah bagus untuk mendukung iklim sepak bola di Indonesia. 

Suporter tidak lagi dilihat sebagai pelengkap semata, tetapi bagian penting dari perkembangan sebuah klub dan sebuah kompetisi sepak bola. Fans bukanlah sekadar “orang luar” lapangan, apalagi pihak “haram” yang tidak boleh bersentuhan langsung dengan sebuah klub. 

Kita pasti bermimpi suatu saat fans di tanah air menjadi seperti  sebagian orang Catalonia, yang tidak pernah absen ke Nou Camp. Mereka datang tidak hanya sekadar melihat dan mendukung Barcelona dari dekat, tetapi lebih dari itu didorong oleh rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai bagian dari pemilik. 

Selamat datang kembali Persebaya dan Bonek!

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 19 Februari 2017.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Tolak Penyalahgunaan Obat!

Penny K. Lukito, Kepala BP POM RI (dokpri) Area seputaran Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta hampir tak pernah sepi sepanjang hari terma...