(pada mulanya adalah KATA...)

Sunday, February 5, 2017

Belajar dari Kamerun, Juara Piala Afrika 2017


Para pemain Kamerun merayakan kesuksesan sebagai juara Piala Afrika 2017/BBC.com

Bukan Mesir, seperti prediksi banyak orang, tetapi Kamerun kampiun Piala Afrika 2017.  Bukan Pasukan Firaun yang berdiri di podium tertinggi di Stade d’Angondje, Senin (6/2) dini hari WIB, tetapi “Indomitable Lions”, Kawanan Singa Garang yang berpesta di Libreville. 

Bagi  yang mempercayai tuah sejarah, Mesir lebih diunggulkan. Tujuh gelar Piala Afrika berbanding empat gelar milik Kamerun. Tidak hanya soal rekam jejak, dari persiapan tim pun Mesir lebih meyakinkan. Theguardian.com sampai-sampai menyebut Kamerun sebagai tim terburuk, setidaknya tiga setengah minggu lalu.

Kamerun datang ke Gabon dengan mengandalkan para pemain senior, setelah delapan pemain utama tidak lolos disiplin Hugo Bross, termasuk beberapa dari antaranya lebih memilih kenyamanan di Eropa bersama klub mereka. Namun apa yang terjadi dalam perjalanan waktu. Rentang waktu sejak kikc off hingga babak semi final, Kamerun berubah menjadi tim solid.

Kematangan para pemain justru menjadi modal penting. Tidak hanya tua dalam usia, keuletan dan kerja sama yang solid membuat Kawanan Singa ini bertaji, memangsa lawan satu demi satu. Kematangan dan keuletan itu mencapai klimaks di partai final.

Lebih dulu tertinggal di menit ke-27 tak membuat Kamerun patah arang. Meski Kamerun mendominasi laga, Mesir bermain lebih efektif seperti tercermin dari gol pembuka bintang Arsenal Mohamed Elneny setelah menuntaskan umpan winger AS Roma, Mohamed Salah.

Sebelum dan sesudah keluar dari ruan ganti Mesir semakin percaya diri. Trofi bakal dibawa ke tanah para mumi. Namun Bross dan timnya tidak kehabisan akal dan semangat. Bross nekat menarik keluar Adolf Tikeu dan Robert Tambe, memberi kesempatan pada Nicolas N'Koulou dan Vincent Aboubakar.
Kubu Kamerun merayakan gol Vincent Aboubakar/BBC.com
N’Koulou dan Aboubakar menunjukkan diri sebagai supersub dengan peran penting bagi tim. Dalam satu kesatuan dengan para pemain lain, keduanya berubah menjadi pahlawan. Menit ke-59, N’Koulou berhasil menyempurnakan umpan Benjamin Moukandjo. Gawang kiper kawakan 44 tahun, Essam El Hadary kembali terkoyak setelah sodoran Sebastien Siani berhasil diselesaikan Aboubakar. Laga yang nyaris berlanjut ke babak perpanjangan waktu berubah dramatis hingga J. Sikazwe meniup peluit panjang. 

Para pemain Mesir hanya bisa tertunduk lesu. Pemandangan berbeda terjadi di kubu Kamerun. Pekikan alat musik tradisional Afrika mengiringi tarian gembira Aboubakar dan kolega. Kamerun yang semula diragukan resmi menjadi kampiun, menggondol gelar kelima setelah menanti 15 tahun.

“Kesedihan saya tidak karena saya kalah di final yang lain,”ungkap pelatih Mesir, Hector Cuper yang pernah dua kali gagal di turnamen mayor bersama Valencia di Liga Champions Eropa.

Kesedihan itu, lanjut pria 61 dari Argentina, “karena ada begitu banyak harapan secara khusus di antara masyarakat Mesir dan saya meminta maaf kepada para pemain yang telah banyak berjuang.”

Di kubu sebaliknya, Bross membuktikan bahwa kecemasan legenda Kamerun Roger Milla tidak terbukti. Setelah menginjak semi final, striker legendaris era 80-an dan 90-an itu mengaku para pemain yang lebih memilih klub ketimbang klub akan menyesal bila Kamerun sampai tidak memenangkan gelar. 

Pernyataan pria yang kini berusia 64 tahun yang pernah bermain di Indonesia sejak 1994 dan 1996 bersama Pelita Jaya dan Putra Samarinda itu mengacu pada sikap antipati Joel Matip. Bek kelahiran Jerman itu merasa lebih memikirkan Liverpool ketimbang negaranya.

Ketika ditanya terkait perkembangan timnya di Gabon, dengan ketus pemain 25 tahun itu berujar, “Saya tidak tahu, saya di Hull, kalah 2-0.”

Tanpa Matip dan tanpa para pemain penting lainnya tidak jadi soal bagi Bross. Ternyata Kamerun memiliki soal lebih dari itu. "Ketika saya datang ke Kamerun saya menemukan sekelompok pemain lama dan tidak termotivasi.”
Hugo Bross di antara para pemain Kamerun/BBC.com
Yang kemudian dilakukannya adalah memanggil beberapa pemain muda, dan menyuntikkan semangat kepada mereka. Bersama para pemain tersebut ia mulai membangun tim. Tidak hanya menyatukan mereka sebagai satu tim, tetapi menjadikan kelompok tersebut layaknya sebuah keluarga. Setiap pemain merasa berarti, tidak hanya yang mendapatkan jam pertandingan termasuk juga yang duduk di bangku cadangan. Seperti dua supersub di atas saat turun dari bangku cadangan mereka siap memberi diri.

“Ini bukan sekelompok pemain sepak bola. Itu sekelompok teman-teman dan itu sebabnya pemain di bangku cadangan terus motivasi mereka ".

Ikatan kekeluargaan yang telah terjalin kemudian bersekutu dengan dukungan masyarakat yang datang mendukung. Di partai final atmosfer stadion juga berwarna dengan kehadiran banyak ekspatriat Kamerun.
Faktor non teknis itu berperan besar saat menghadapi Mesir yang terkenal efektif dan cerdik. Empat kali clean sheet, sekali lebih banyak dari Kamerun, membuat tim ini cukup percaya diri. Kehadiran pemain kawakan El-Hadary memberikan dorongan dari lini belakang. 

Namun patut diakui di laga ini penjaga gawang 44 tahun itu harus takluk. Rupanya usia tak bisa ditutupi, dan tak bisa menepikan peran Ahmed Hegazy dan Ali Gabr di barisan pertahanan selama ini. 

Di laga itu segala kebesaran Mesir tenggelam dalam kekompakkan dan semangat juang Kamerun. Bross telah mengubah singa-singa tua itu menjadi kawanan pemangsa yang garang, membuat pasukan Firaun bertekuk lutut. Kekompakan dan rasa kekeluargaan mengubah segala ragu jadi juara.

Proficiat Kamerun!

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 6 Februari 2016.


No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Tolak Penyalahgunaan Obat!

Penny K. Lukito, Kepala BP POM RI (dokpri) Area seputaran Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta hampir tak pernah sepi sepanjang hari terma...