Posts

Geliat Ekowisata di Kaki Kelimutu

Image
Pemandangan Detusoko:https://www.facebook.com/decotourism.id Apakah Anda mengenal Nusa Tenggara Timur (NTT)? Semoga Anda tidak menjadi seperti salah seorang anggota DPR asal Jambi yang “keseleo lidah” menyebut tak ada yang istimewa dari provinsi itu selain komodo! Bila Anda berkesempatan menjelajahi Pulau Flores misalnya, maka akan menemukan banyak jawaban untuk membantah anggota legislatif itu. Salah satunya adalah danau triwarna, Kelimutu. Di kaki danau tiga warna itu, sekolompok pemuda sedang berjuang memaksimalkan setiap potensi alam dan budaya sebagai destinasi pariwisata dengan tetap mempertahankan keaslian dan kearifan lingkungan. Para pemuda itu bergerak di bawah payung Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko. Detusoko merupakan nama tempat sekaligus kecamatan di Kabupaten Ende, satu dari 22 kabupaten di NTT. Tempat ini berjarak kurang lebih 33 km dari Kota Ende. Hanya ada satu pilihan moda transportasi yakni melalui darat dengan waktu tempuh tak sampai sa

Stimulus Berwirausaha di Tengah Pandemi

Image
Ilustrasi wirausaha dari Freepick Kita sedang berperang menghadapi pandemi Covid-19. Tambahan 8.242 kasus baru pada Senin, 8 Februari 2021, membuat jumlah kasus di Indonesia menjadi 1.166.079. Selain jumlah kasus baru harian yang tidak sedikit, kita bersyukur, jumlah kasus sembuh pun naik signifikan. Rekor kasus sembuh terjadi hari ini. Pertama kali, kasus sembuh menginjak angka 13.038 sehingga total pasien sembuh menjadi 963.028. Kita tentu berharap jumlah kasus positif semakin menurun di satu sisi dan kasus sembuh yang kian meningkat di sisi lain. Namun yang pasti, harapan itu akan bertepuk sebelah tangan, bila upaya pemutusan rantai penyebaran hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Data kasus Covid-19 per Senin, (8/2/2021) dari BNPB Indonesia Saat ini kita tidak hanya bergulat dengan upaya pemutusan rantai penyebaran, tetapi juga menghadapi dampak pandemi yang menyentuh hampir semua aspek kehidupan. Roda ekonomi pun berputar lambat, bahkan pada seba

Kelas ASIK untuk Pelaku UMKM Makin Eksis

Image
Patut diakui kontribusi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menenang (UMKM) bagi perekonimian bangsa tidak bisa disepelehkan. Bahkan sektor ini menjadi salah satu roda penggerak ekonomi dalam negeri. Mengapa demikian? Coba bayangkan, berapa banyak lapangan pekerjaan yang tercipta dan tenaga kerja yang terserap di sektor tersebut. Begitu juga bisa dibayangkan berapa besar kontribusinya untuk pendapatan masyarakat dan bangsa. Selain dampak finansial, tidak bisa diremehkan pula manfaat pelayanan UMKM bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat luas. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir jumlah UMKM saat ini menyentuh angka 64 juta. Angka tersebut nyaris mendominasi secara mutlak dari total keseluruhan usaha di Indonesia. Dari satu jenis UMKM, bisa dibayangkan berapa banyak tenaga kerja yang terserap, pihak-pihak yang ikut terkoneksi dan dampak yang ditimbulkannya, baik bagi masing-masing individu maupun bagi daerah dan negara, entah secara langsung atau tidak langsung. Data Kementerian Koperasi,

Perempuan Pelaku UMKM, Dominan Tapi Belum Optimal

Image
Ilustrasi gambar: suara (freepik) Ada yang bertanya, seberapa penting Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bagi suatu negara. Dari rujukan literatur, dan terlebih kenyataan riil, setidaknya mengerucut pada beberapa poin. UMKM mendongkrak penyerapan tenaga kerja. Ikut andil mengentaskan kemiskinan. Kehadiran banyak UMKM membuat pemeratakaan tingkat perekonomian rakyat kecil semakin baik. Banyak usaha tersebar di berbagai tempat, bahkan hingga ke pelosok-pelosok desa. Ekonomi bergeliat sampai jauh. Tahun 2018, sebanyak 64 juta lebih unit usaha tumbuh di tanah air. Kini jumlah tersebut telah bertambah. Tak kalah penting, UMKM ikut menyumbang devisa bagi negara. Tidak sedikit UMKM yang sudah go internasional. Produk-produknya sudah dikenal hingga mancanegara. Selain mengharumkan nama bangsa, kontribusi UMKM untuk menambah pundi-pundi pemasukan bagi negara tidak sedikit. Hanya saja tidak semua UMKM mampu eksis dan berkembang optimal. Situasi pandemi misalnya, telah memukul perekonomian

Jangan Sampai Bonus Demografi itu Jadi Bencana

Image
Gambar dari nutricia.co.id Berapa jumlah penduduk Indonesia saat ini? Berapa dari antaranya berusia produktif? Bagaimana tren jumlah penduduk usia produktif dalam beberapa tahun mendatang? Demikian sejumlah pertanyaan krusial yang mengemuka di tengah wacana soal bonus demografi yang akan terjadi di Indonesia. Para ahli memprediksi, tahun 2030 mendatang, Indonesia akan mengalaminya. Apakah hal tersebut benar akan terjadi? Mengacu tren yang ada, prediksi tersebut tampaknya tidak akan meleset. Pada tahun tersebut, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibanding usia non produktif (65 tahun ke atas), sebagaimana pengertian dasar dari bonus demografi itu. Namun demikian, muncul pertanyaan penting lainnya. Apakah situasi tersebut bakal dinikmati dan dimanfaatkan sebagai “bonus” yang produktif? Atau jangan-jangan bonus tersebut bakal tak memberikan dampak apa-apa, atau malah berbalik menjadi petaka? “Middle income trap” adalah salah satu dari ancaman bencana itu.

Jangan Sampai Benteng Pertahanan Itu Runtuh!

Image
  Ilustrasi/Danone Dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19 yang entah sampai kapan akan berujung. Banyak tantangan dan masalah mengemuka, berkelindan dengan realita hidup saban hari. Hampir semua sektor kehidupan tak bisa mengelak. Tidak terkecuali institusi kecil seperti keluarga. Apa tantangan terbesar orang tua saat ini? Bagaimana memastikan anggota keluarga aman terlindungi dan terhindar dari paparan Covid-19 adalah salah satunya. Aman dari Covid-19 adalan prioritas utama saat ini. Namun rasa aman itu belum cukup bila kita tidak bisa bersekutu dengan laku normal baru (new normal). Salah satu ciri normal baru adalah sentralisasi kegiatan di rumah, mulai dari urusan personal hingga profesional. Ajakan di rumah saja menandai tempat tersebut sebagai locus “pengasingan” untuk memutus transmisi Covid-19, sekaligus pusat segala rutinitas. Di rumah itu rupa-rupa tantangan datang silih berganti. Memastikan semua anggota keluarga aman, sekaligus ketersediaan makanan dan kecukupa

Langkah Mudah Deteksi Alergi dengan Allergy Risk Screener

Image
Ilustrasi dari Danone Apa itu alergi?   Apakah alergi itu bersifat genetik? Apakah alergi itu sesuatu yang menakutkan? Bagaimana bila anak terkena alergi? Dampak apa saja yang akan anak alami bila terkena alergi? Apakah alergi yang ada pada anak bisa disembuhkan? Bagi para orang tua, bagaimana mencegah alergi? Demikian sekelumit pertanyaan yang ada di benak kita saat berbicara tentang alergi, terutama pada anak. Apalagi bagi para orang tua yang memiliki buah hati. Saya tak terkecuali. Saat ini saya sedang belajar sambil perlahan-lahan menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua secara baik dan benar. Tentu, hal seperti alergi tidak bisa disepelehkan. Alergi perlu dikenali dengan sebaik-baiknya. Dengan mengenali alergi maka saya bisa bertindak secara tepat manakala itu terjadi pada anak. Demikianpun bila alergi ternyata tak terjadi pada anak, setidaknya saya tahu bagaimana cara untuk menghindarinya. Saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk belajar t