Posts

Menanamkan Budaya BACA pada Anak Sejak Dini

Image
Ilustrasi anak tengah membaca buku, sumber: Pixabay Sedang baca buku apa? Apa bacaan terakhir yang ditandaskan? Apakah Anda menikmatinya? Adakah buku baru yang tengah diincar? Deretan pertanyaan ini sebenarnya hendak mengerucut pada satu hal. Membaca itu penting. Bila kita masih sepakat dengan itu, apa manfaat membaca yang kita rasakan? Apakah kegiatan tersebut hanya untuk orang dewasa yang sudah lancar membaca? Bagaimana dengan anak-anak, apakah mereka tidak perlu kita "racuni" dengan minat baca? Menamankan budaya baca sejak dini adalah investasi berharga bagi sang anak. Membaca banyak manfaatnya. Mulai dari menambah kosa kata, meningkatkan ketrampilan berkomunikasi, melatih berpikir logis, melatih konsentrasi, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, mendukung prestasi akademik, hingga membuka cakrawala dan memperelat relasi dengan lingkungan sekitar. Mengingat betapa pentingnya membaca bagi seorang anak, Danone Indonesia berinisiatif mengambil bagian dal

Festival Isi Piringku, Edukasi Tanpa Henti Pentingnya Gizi bagi Tumbuh Kembang Anak

Image
Slide presentasi webinar Danone Indonesia Apa saja faktor penting untuk mendukung tumbuh kembang seorang anak? Banyak teori dan pengalaman berbicara tentang ini. Sedikitnya ada empat faktor pendukung agar pertumbuhan dan perkembangan anak bisa berjalan optimal. Keempat faktor itu dibagi dalam empat kelompok berbeda yakni lingkungan, hubungan interpersonal, pengalaman awal, hingga faktor biologis. Faktor yang disebutkan terakhir itu mencakup jenis kelamin, kesehatan mental, hingga kondisi anak dan ibu saat melahirkan. Anak yang lahir sehat akan bertumbuh dan berkembang dengan baik. Begitu juga sebaliknya. Ada yang mengerucut empat faktor itu dalam tiga aspek yakni perhatian dan kasih sayang orang tua, stimulasi, dan asupan nutrisi. Soal nutrisi jelas tidak bisa disepelehkan. Sulit membayangkan tumbuh kembang anak secara baik bila asupan nutrisi tidak dijaga dengan baik. Apakah perkembangan fisik dan kognitif bisa optimal bila asupan nutrisi tidak diperhatikan? Bagaimana

Geliat Ekowisata di Kaki Kelimutu

Image
Pemandangan Detusoko:https://www.facebook.com/decotourism.id Apakah Anda mengenal Nusa Tenggara Timur (NTT)? Semoga Anda tidak menjadi seperti salah seorang anggota DPR asal Jambi yang “keseleo lidah” menyebut tak ada yang istimewa dari provinsi itu selain komodo! Bila Anda berkesempatan menjelajahi Pulau Flores misalnya, maka akan menemukan banyak jawaban untuk membantah anggota legislatif itu. Salah satunya adalah danau triwarna, Kelimutu. Di kaki danau tiga warna itu, sekolompok pemuda sedang berjuang memaksimalkan setiap potensi alam dan budaya sebagai destinasi pariwisata dengan tetap mempertahankan keaslian dan kearifan lingkungan. Para pemuda itu bergerak di bawah payung Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko. Detusoko merupakan nama tempat sekaligus kecamatan di Kabupaten Ende, satu dari 22 kabupaten di NTT. Tempat ini berjarak kurang lebih 33 km dari Kota Ende. Hanya ada satu pilihan moda transportasi yakni melalui darat dengan waktu tempuh tak sampai sa

Stimulus Berwirausaha di Tengah Pandemi

Image
Ilustrasi wirausaha dari Freepick Kita sedang berperang menghadapi pandemi Covid-19. Tambahan 8.242 kasus baru pada Senin, 8 Februari 2021, membuat jumlah kasus di Indonesia menjadi 1.166.079. Selain jumlah kasus baru harian yang tidak sedikit, kita bersyukur, jumlah kasus sembuh pun naik signifikan. Rekor kasus sembuh terjadi hari ini. Pertama kali, kasus sembuh menginjak angka 13.038 sehingga total pasien sembuh menjadi 963.028. Kita tentu berharap jumlah kasus positif semakin menurun di satu sisi dan kasus sembuh yang kian meningkat di sisi lain. Namun yang pasti, harapan itu akan bertepuk sebelah tangan, bila upaya pemutusan rantai penyebaran hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Data kasus Covid-19 per Senin, (8/2/2021) dari BNPB Indonesia Saat ini kita tidak hanya bergulat dengan upaya pemutusan rantai penyebaran, tetapi juga menghadapi dampak pandemi yang menyentuh hampir semua aspek kehidupan. Roda ekonomi pun berputar lambat, bahkan pada seba

Kelas ASIK untuk Pelaku UMKM Makin Eksis

Image
Patut diakui kontribusi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menenang (UMKM) bagi perekonimian bangsa tidak bisa disepelehkan. Bahkan sektor ini menjadi salah satu roda penggerak ekonomi dalam negeri. Mengapa demikian? Coba bayangkan, berapa banyak lapangan pekerjaan yang tercipta dan tenaga kerja yang terserap di sektor tersebut. Begitu juga bisa dibayangkan berapa besar kontribusinya untuk pendapatan masyarakat dan bangsa. Selain dampak finansial, tidak bisa diremehkan pula manfaat pelayanan UMKM bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat luas. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir jumlah UMKM saat ini menyentuh angka 64 juta. Angka tersebut nyaris mendominasi secara mutlak dari total keseluruhan usaha di Indonesia. Dari satu jenis UMKM, bisa dibayangkan berapa banyak tenaga kerja yang terserap, pihak-pihak yang ikut terkoneksi dan dampak yang ditimbulkannya, baik bagi masing-masing individu maupun bagi daerah dan negara, entah secara langsung atau tidak langsung. Data Kementerian Koperasi,

Perempuan Pelaku UMKM, Dominan Tapi Belum Optimal

Image
Ilustrasi gambar: suara (freepik) Ada yang bertanya, seberapa penting Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bagi suatu negara. Dari rujukan literatur, dan terlebih kenyataan riil, setidaknya mengerucut pada beberapa poin. UMKM mendongkrak penyerapan tenaga kerja. Ikut andil mengentaskan kemiskinan. Kehadiran banyak UMKM membuat pemeratakaan tingkat perekonomian rakyat kecil semakin baik. Banyak usaha tersebar di berbagai tempat, bahkan hingga ke pelosok-pelosok desa. Ekonomi bergeliat sampai jauh. Tahun 2018, sebanyak 64 juta lebih unit usaha tumbuh di tanah air. Kini jumlah tersebut telah bertambah. Tak kalah penting, UMKM ikut menyumbang devisa bagi negara. Tidak sedikit UMKM yang sudah go internasional. Produk-produknya sudah dikenal hingga mancanegara. Selain mengharumkan nama bangsa, kontribusi UMKM untuk menambah pundi-pundi pemasukan bagi negara tidak sedikit. Hanya saja tidak semua UMKM mampu eksis dan berkembang optimal. Situasi pandemi misalnya, telah memukul perekonomian

Jangan Sampai Bonus Demografi itu Jadi Bencana

Image
Gambar dari nutricia.co.id Berapa jumlah penduduk Indonesia saat ini? Berapa dari antaranya berusia produktif? Bagaimana tren jumlah penduduk usia produktif dalam beberapa tahun mendatang? Demikian sejumlah pertanyaan krusial yang mengemuka di tengah wacana soal bonus demografi yang akan terjadi di Indonesia. Para ahli memprediksi, tahun 2030 mendatang, Indonesia akan mengalaminya. Apakah hal tersebut benar akan terjadi? Mengacu tren yang ada, prediksi tersebut tampaknya tidak akan meleset. Pada tahun tersebut, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibanding usia non produktif (65 tahun ke atas), sebagaimana pengertian dasar dari bonus demografi itu. Namun demikian, muncul pertanyaan penting lainnya. Apakah situasi tersebut bakal dinikmati dan dimanfaatkan sebagai “bonus” yang produktif? Atau jangan-jangan bonus tersebut bakal tak memberikan dampak apa-apa, atau malah berbalik menjadi petaka? “Middle income trap” adalah salah satu dari ancaman bencana itu.