(pada mulanya adalah KATA...)

Saturday, February 11, 2017

Kado (Pahit) di Ulang Tahun Susy Susanti


Susy Susanti berulang tahun ke-46/juara.net

Entah disebut kado pahit atau bukan di hari ulang tahun ke-46 Susy Susanti hari ini. Namun yang pasti wanita kelahiran Tasikmalaya itu patut disebut. Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI. Meski belum lama menjabat, posisi ratu bulu tangkis tanah air yang belum tergantikan hingga kini, turut bertanggung jawab atas hasil yang dituai anak asuhnya di semi final Thailand Masters Grand Prix Gold. 

Tak ada satu pun dari empat wakil Pelatnas PBSI yang lolos ke partai puncak. Seperti turnamen Grand Prix Gold sebelumnya di India, PBSI pun dipastikan puasa gelar lagi. Belum lagi di turnamen berhadiah total 120 ribu USD ini dua pemain Indonesia dipapar cedera di tengah jalan. Mereka adalah Ni Ketut Mahadewi yang berpasangan dengan Anggia Shitta Awanda di nomor ganda putri serta pemain ganda campuran Alfian Eko Prasetya.

Hanya Tommy Sugiarto, mantan penghuni pelatnas yang kini meniti karir profesional, wakil tunggal Merah Putih. Keempat penghuni Pelatnas yang tumbang di empat besar adalah ganda campuran unggulan tujuh Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika, Anthony Sinisuka Ginting (tunggal putra), Greysia Polii/Rosyita Eka Putri Sari (ganda putri) dan Berry Angriawan/Hardianto (ganda putra).

Berbanding terbalik dengan Indonesia, tuan rumah menunjukkan keperkasaannya dengan merebut empat tempat di partai pamungkas. Thailand mengungguli Tiongkok dalam jumlah finalis. Negeri Tirai bambu hanya mengirim tiga wakil dengan dua dari antaranya akan berebut gelar dengan para Gajah Putih. 

Final ideal terjadi di ganda putri antara dua unggulan teratas. Chen Qingchen/Jia Yifan (1) menghadapi Puttita Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai. Dua pasangan muda ini sudah pernah bertemu sekali di German Open 2016. Saat itu Puttita/Sapsiree menang setelah bermain tiga set, 21-16 16-21 18-21. Laga kali ini pun akan menampilkan aroma balas dendam dari pihak Chen/Jia yang merupakan juara Dubai Super Series Finals 2016. 

Selain itu performa pasangan masa depan Tiongkok itu masih di jalur positif seperti tahun lalu. Di babak semi final keduanya menang mudah atas wakil Indonesia, Greysia Polii/Rosyita Eka Putri, 21-16 21-7.
Perang Tiongkok-Thailand terjadi juga di ganda campuran antara unggulan dua Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattahachai menghadapi pasangan senior-junior Zhang Nan/Li Yinhui. Ini akan menjadi pertemuan perdana kedua pasangan.

Peluang wakil tuan rumah terbuka lebar.Namun Zhang/Li tetap berpotensi menyulitkan. Selain peran penting Zhang sebagai pemain berpengalaman, pasangan ini juga memiliki modal stamina yang lebih prima jelang laga ini. Dibanding Dechapol/Sapsiree yang bermain penuh, meski straight set saja menghadapi wakil Taiwan, Yong Kai Terry Hee/Wei Han Tan,  Zhang/Lii hanya bermain 24 menit di semi final. 

Hal itu terjadi setelah pasangan yang mereka hadapi asal Indonesia, Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika mengundurkan diri. Sebelum set pertama berakhir, dalam kedudukan imbang 20-20, Alfian terpaksa harus mendapat perawatan dokter akibat engkel pada engkel kirinya. Cedera tersebut terjadi karena terpeleset saat mengambil kok dalam kedudukan memimpin 20-19.
 
Alfian Eko Prasetya mengalami cedera pada engkel kiri/badmintonindonesia.org
Wakil ketiga tuan rumah adalah tunggal putri Busanan Ongbamrungphan. Unggulan pertama ini ditantang unggulan tiga dari Jepang, Aya Ohori. Meski lebih diunggulkan, Busanan kalah dalam rekor pertemuan. Dari empat pertemuan, Ohori berhasil mengunci tiga kemenangan, termasuk di pertemuan terahir di ajang yang sama tahun lalu. Saat itu Ohori yang kini berada di rangking 20 dunia menang dua game langsung 25-23 21-8. Jelas laga ini akan menjadi kesempatan bagi Busanan untuk balas dendam, apalagi secara peringkat dunia tunggal rangking 12 dunia itu lebih diunggulkan. Ditambah pendukung tuan rumah akan kompak berada di belakangnya.

Selain tiga wakil di atas, tuan rumah juga menempatkan pemain muda di partai terakhir. Adalah tunggal putra masa depan Kantaphon Wangcharoen yang akan menghadapi wakil semata wayang Merah Putih.
Performa Kantaphon di turnamen ini sangat impresif. Pemain berusia 18 tahun ini ke final setelah menggasak sesama pemain muda Malaysia Lee Zii Jia melalui drama panjang selama lebih dari satu jam dengan skor 15-21 21-18 dan 22-20. 

Pertemuan kedua pemain muda ini merupakan ulangan perebutan medali perunggu Kejuaraan Dunia Junior tahun lalu di Bilbao, Spanyol. Saat itu Zii menang dua game langsung 21-18 dan 21-13. Selain balas dendam pribadi kemenangan kali ini sekaligus menebus kekalahan seniornya Tanongsak Saesomboonsuk yang digasak Zii di perempat final, 21-18 dan 21-12.

Kantaphon Wangcharoen/@antoagustian
Pemain 18 tahun itu tentu ingin menyempurnakan penampilannya di partai puncak. Apalagi ini menjadi turnamen mayornya setelah malang melintang di level junior. Peraih dua medali perunggu di Kejuaraan Dunia Junior 2016 ini bakal menjadi ancaman bagi Tommy.

Laga ini akan menjadi pertarungan serius bagi Tommy. Tunggal nomor 20 dunia itu akan diuji oleh pemain berperingkat 142 dunia itu. Seperti rentangan umur yang terpaut cukup jauh, 10 tahun. Begitu juga pengalaman dan kematangan di antara mereka. 

Namun Tommy tetap waspada karena kejutan bukan sebuah kemustahilan. Kegagalan para pemain senior di babak-babak sebelumnya adalah bukti nyata bahwa segala sesuatu bisa saja terjadi. Tommy pun menyadari hal itu.

“Semuanya kalau sudah terjun di turnamen senior, dianggap satu level semua. Pemain muda bisa menang, saya pun yang pemain senior juga bisa menang, yang penting fokus dan siap untuk fight,” pungkas putra mantan pebulutangkis nasional Icuk Sugiarto itu kepada badmintonindonesia.org.
Tommy Sugiarto/badmintonindonesia.org
Pengalaman diuji sebelumnya oleh pemain muda senegara Anthony diharapkan menjadi pemantik untuk tampil lebih semangat dan taktis. Seperti Kanthapon, energi Tommy juga terkuras saat menghadapi juniornya. Keduanya beradu selama 68 menit sebelum Tommy menyegel kemenangan dengan skor akhir 16-21 21-18 21-14.  Dalam situasi tersebut jam terbang Tommy diharapkan menjadi pembeda.

Selain gengsi pribadi, pertandingan ini juga menjadi pertarungan harga diri bangsa yang mana Tommy menjadi wakil satu-satunya. Kita berharap Tommy bisa tampil klimaks, berjaya di kandang para gajah putih yang terlihat semakin perkasa.

Akhirnya terlepas dari hasil tersebut, kita harus terus mendukung kerja Susy yang berbahagia hari ini. Selamat ulang tahun Susy!

Hasil pertandingan wakil Indonesia di semifinal Thailand Masters 2017 :
 Ganda Campuran
Zhang Nan/Li Yinhui (5/CHN) vs Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika (7/INA) 20-20 mundur
 Tunggal Putra
Tommy Sugiarto (3/INA) vs Anthony Sinisuka Ginting (10/INA) 16-21, 21-18, 21-14
 Ganda Putri
Chen Qingchen/Jia Yifan (1/CHN) vs Greysia Polii/Rosyita Eka Putri Sari (6/INA) 21-16, 21-7
 Ganda Putra
Lu Ching Yao/Yang Po Han (TPE) vs Berry Angriawan/Hardianto (INA) 21-16, 21-17

Jadwal final, Minggu (12/2) pukul 13.00 WIB disiarkan di Fox Sports
Ganda campuran
CHEN Qingchen/JIA Yifan [Tiongkok/1] vs Puttita SUPAJIRAKUL/Sapsiree TAERATTANACHAI [Thailand/2]
Tunggal putri
Busanan ONGBAMRUNGPHAN [Thailand/1] vs Aya OHORI [Japan/4]
Ganda putra
LU Ching Yao/YANG Po Han [Taiwan] vs HUANG Kaixiang/WANG Yilyu [Tiongkok/6]
Ganda campuran
ZHANG Nan/LI Yinhui [Tiongkok/5] vs Dechapol PUAVARANUKROH/Sapsiree TAERATTANACHAI [Thailand/2]
Tunggal putra Kantaphon WANGCHAROEN [Thailand] vs Tommy SUGIARTO [Indonesia/3]

Tulisan ini pertama kali tayang di Kompasiana, 11 Februari 2017.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Tolak Penyalahgunaan Obat!

Penny K. Lukito, Kepala BP POM RI (dokpri) Area seputaran Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta hampir tak pernah sepi sepanjang hari terma...