(pada mulanya adalah KATA...)

Thursday, March 30, 2017

"'The Minions" Vs Duo Raksasa Rusia, Duel Juara All England


Vladimir Ivanov dan Ivan Sozonov, juara All England 2016/bwfbadminton.com


Seperti prediksi sebelumnya bila tak ada aral menghadang akan ada pertemuan menarik di babak perempat final India Open Super Series. Pertemuan yang dimaksud benar terjadi. Setelah menaklukkan lawan-lawannya di babak kedua, Kamis (30/3) kemarin, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo pun berhadap-hadapan dengan Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov.

Perebutan satu tiket semi final di antara kedua pasangan ini menarik. Marcus/Kevin merupakan unggulan empat, meski berperingkat satu dunia, baru akan menjajal ketangguhan Ivanov/Sozonov dengan tubuh menjulang tinggi. Pertemuan kedua pasangan ini tak ubahnya pertarungan antara “The Minions” menghadapi duo raksasa.

Apakah perjumpaan itu tidak adil? Tentu, tidak. Ini bukan arena tarung bebas yang direkayasa seperti di arena Coloseum. Keduanya sama-sama berada dalam posisi setara. Tidak ada penilaian rasial apalagi fisikal. Dua unsur yang masih juga dijadikan bahan dagelan sudah melebur. Yang mengemuka adalah diktum: keadilan dalam pertandingan tidak semata-mata diukur dari postur tubuh. Faktor lahiriah ini terlampaui oleh semangat kompetisi. Keduanya dengan tahu dan mau bertarung. Dan pertarungan itu difasilitasi secara baik, dan adil sehingga keduanya memiliki peluang sama besar.

Ah, bukan maksud saya berceramah tentang perbedaan yang irelevan itu. Bukan bermaksud menonjolkan perbedaan, karena memang terlampau jelas dilihat, namun hendak mengatakan bahwa pertarungan adil dalam situasi tertentu yang memang tidak adil ini tidak menghalangi peluang menang bagi salah satu pihak.

Ini pertemuan pertama mereka. Pasangan yang diantarai oleh perbedaan tinggi badan yang cukup kentara namun memiliki kualitas yang hampir setara. Ivanov  bertinggi lebih dari 2 meter dan Sozonov yang lebih pendek sekitar 20 cm mengguncang dunia bukan karena postur tubuh raksasa untuk ukuran orang Asia itu. Mereka telah membuktikan kemampuan komplit sebagai pebulutangkis dengan menjuarai All England 2016. Baru setahun kemudian giliran Marcus/Kevin mengambil podium tertinggi yang pernah ditempati wakil Negeri Beruang Merah itu.

Secara prestasi hampir sama meski grafik performa Marcus/Kevin lebih meyakinkan. Sebelum juara All England 2017 keduanya lebih dulu meyakinkan publik dengan empat gelar di tahun 2016. Kini keduanya berjarak 11 tangga di daftar peringkat dunia. 

Marcus/Kevin yang bertinggi badan 167 cm dan 170 cm berada di puncak rangking dunia. Pertemuan antara pasangan liliput dan raksasa ini meleburkan segala cemas tentang perbedaan fisis sekaligus menjadi tontonan bagaimana dua pasangan berbeda postur itu beradu.

Marcus/Kevin jelas mengatasi keterbatasan fisik itu melalui permainan cepat dan taktis. Kelenturan menjadi nilai lebih yang memungkinkan keduanya bebas bergerak baik secara horizontal maupun fertikal. Pukulan-pukulan tak terduga Kevin berpadu smes-smes keras Marcus adalah beberapa senjata konkret yang mereka miliki. Rotasi melalui koordinasi yang baik untuk berbagi peran dan mengambil momentum jelas dituntut.

Di pihak sebaliknya, wakil Eropa itu juga tidak tinggal diam. Keunggulan postur tubuh jelas membuat keduanya mendapat kemudahan dalam melancarkan smes dan menguasai medan. Rentangan tangan dan langkah kaki yang panjang membuat keduanya tidak harus bekerja lebih keras dan cepat 

Namun mengandalkan tinggi badan dan rentangan tangan semata jelas tidak cukup. Ivanov/Sozonov tahu itu. Ivanov tentu akan memaksimalkan kemampuannya dalam menyerang. Lee Yong Dae, mantan ganda nomor satu dunia memiliki kesaksian tersendiri saat berpasangan dengan Ivanov dalam kejuaraan beregu di tanah air. Mantan tandem Yoo Yeon-seong itu mengakui Ivanov memiliki keahlian menyerang yang handal. 

Keahlian Ivanov juga pengalaman yang cukup di turnamen-turnamen internasional dan kompetisi tingkat klub di beberapa negara mengimbangi Sozonov yang mampu bertahan dengan baik. Ivanov, 29 tahun dan Sozonov, adalah pasangan yang patut disegani. Bodin Isara/Nipitphon Phuangphuapet dari Thailand dan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi sudah merasakan ketangguhan Ivanov/Sozonov di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi.

Namun bedanya pasangan Rusia itu melewati dua pertarungan sebelumnya dengan tiga game. Sementara Marcus/Kevin hanya butuh dua set untuk menyisihkan Cheng Hung Ling/Chi-Lin Wang (Taiwan) di babak pertama dan wakil Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko di babak kedua.

Dari dua pertandingan itu Marcus/Kevin paling lama bermain dengan Takuto/Yuki yakni 31 menit, lebih lama empat menit dari pertandingan pertama. Skor akhir pun tidak berbeda jauh. Marcus/Kevin menang 21-17 dan 21-17 di pertandingan pembuka dan melibas wakil Negeri Matahari Terbit dengan 21-16 dan 21-18.

Angga/Ricky Membaik

Pasangan ganda putra lainnya Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi juga mengikuti Marcus/Kevin ke delapan besar. Performa pasangan yang lebih dulu diorbitkan ketimbang Marcus/Kevin itu terlihat semakin baik.

Di babak kedua unggulan enam itu memupuskan harapan wakil Denmark  Mathias Christiansen/David Daugaard. Meski begitu Angga/Ricky harus bermain rubber game dengan skor akhir 21-14, 17-21, 21-18. Memang tidak mudah menghadapi wakil Denmark ketimbang di laga pertama saat menang straight set 21-14 dan 21-17 atas pasangan Rusia, Evgenij Dremin dan Denis Graechev.

Di babak delapan besar hari ini mereka bertemu untuk ketiga kalinya dengan pasangan Taiwan Lee Jhe Huei/Lee Yang. Angga/Ricky boleh saja diunggulkan di laga ini karena masuk daftar unggulan dan berperingkat dunia lebih baik-meski hanya berbeda dua strip-dan selalu menang di dua pertemuan sebelumnya. Namun wakil Taiwan itu patut diwaspadai karena baru saja membuktikan ketangguhannya di babak sebelumnya dengan menumbangkan unggulan tiga dari Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen,  21-18, 21-18.  

Hasil tersebut membuat Angga/Ricky tidak bisa lengah apalagi menganggap enteng lawan. Lee/Lee pasti akan melanjutkan kejutannya yang bisa berakibat gagalnya Angga/Ricky mengulangi pencapaian tahun lalu: menginjak partai final, apalagi menjadi juara.

 Selain dua pasangan ganda putra, Indonesia masih memiliki satu harapan lagi dari nomor tunggal putra.  Pemain senior Tommy Sugiarto menumbangkan wakil China Huang Yuxiang melalui pertarungan ketat tiga set, 21-11, 11-21, 21-15. 

Pasangan ganda campuran Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja ditundukkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia), dengan skor 11-21, 19-21. Unggulan enam asal Hong Kong NG Ka Long Angus menjadi lawan Tommy hari ini. Dari daftar unggulan dan peringkat dunia Tommy inferior. Namun Tommy yang berperingkat 16 dunia memiliki rekor sempurna dalam empat pertemuan sebelumnya menghadapi pemain berperingkat 10 dunia itu. Tommy selalu menang dan kemenangan terakhir diukir di Piala Thomas 2016 dengan skor 21-11 19-21 15-21.

Kita menaruh harapan pada tiga wakil ini dari enam wakil yang lolos ke babak kedua. Langkah tunggal putri, Lyanny Alessandra Mainaky  terheti di tangan unggulan empat dari Jepang, Akane Yamaguchi.  Pemain masa depan Indonesia itu kalah dua game langsung 16-21 13-21.

Nasib serupa dialami pula pasangan ganda putri, Cynthia Shara Ayunidha/Debora Rumate  dan ganda campuran Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja. Cynthia/Debora tak berkutik di hawapan unggulan pertama asal Korea Selatan, Jung Kyung Eun/Shin Seung Chan, 21-13 21-5.  Sementara Edi/Gloria harus mengakui keunggulan pasangan peraih medali perak Olimpiade Rio 2016 asal Malaysia, Chan Peng Shoon/Goh Liu Ying dengan skor 21-11 dn 21-19. 

N.B
Babak perempat final #IndiaSS akan dimulai pukul 15.30 WIB live di Fox Sports dengan jadwal lengkap sebagai berikut:

tournamentsoftware.com

 Tulisan ini terbit pertama di Kompasiana, 31 Maret 2017.
http://www.kompasiana.com/charlesemanueldm/the-minions-vs-raksasa-rusia-duel-juara-all-england_58ddc1992e7a6192645289af 

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...