(pada mulanya adalah KATA...)

Wednesday, March 1, 2017

Menanti Merah Putih Berkibar Lagi di All England 2017


Praveen Jordan/Debby Susanto juara All England 2016/Kompas.com

Saat ini sedang berlangsung turnamen German Open. Namun fokus para pemain dan pencinta bulu tangkis dunia sudah mulai diarahkan pada turnamen akbar yang akan dihelat pada pekan depan, 7-12 Maret di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris. German Open yang berlevel grand prix gold itu tak lebih dari pemanasan jelang perhelatan turnamen bulu tangkis tertua di dunia, All England 2017.

Turnamen prestisus berlevel Super Series Premier itu menjadi incaran setiap pebulutangkis. Tak terkecuali para pemain Indonesia. Setidaknya 38 pemain Indonesis telah didaftarkan untuk kejuaraan yang memperebutkan total hadiah 600 ribu dolar AS atau setara Rp8 miliar. Tahun lalu Indonesia berhasil membawa pulang satu gelar dari nomor ganda campuran melalui pasangan Praveen Jordan dan Debby Susanto.

Tantangan besar mengemuka di edisi kali ini. Apakah prestasi tersebut berhasil dipertahankan, atau bahkan dilampaui? Dari 38 wakil itu, Indonesia masih menaruh harapan pada dua nomor yakni ganda putra dan ganda campuran.

Masing-masing dua wakil menempati daftar unggulan di dua nomor tersebut. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (5) dan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi (7) di nomor ganda putra. Sementara itu Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (2) menemani Praveen/Debby (4) untuk merebut kembali mahkota yang pernah dikenakan selama tiga tahun secara beruntun, sejak 2012 hingga 2014 itu.

Turnamen dengan level di belakang Olimpiade dan Kejuaraan Dunia ini akan akan menjadi turnamen pertama bagi Liliyana di tahun ini. Liliyana sengaja diistirahatkan agar tetap tampil prima di turnamen-turnamen besar. Sedangkan Owi, sapaan Tontowi sudah tampil sekali sepanjang tahun ini, yakni di ajang Malaysia Masters Grand Prix Gold pada Januari. 

Owi/Butet, sapaan kedua pasangan itu, akan mengawali kiprahnya dengan menghadapi  pemenang dari babak kualifikasi. Sementara Praveen/Debby ditantang Yuta Watanabe/Arisa Higashino dari Jepang.
Tidak hanya kedua pasangan itu, di sektor ini, Indonesia juga menyertakan tiga pasangan lain yakni Hafiz Faizal/Shela Devi Aulia, Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika dan Ronald Alexander/Melati Daeva Oktavianti. Dibanding dua pasangan andalan, tantangan ketiga pasangan ini lebih berat di pertandingan pertama. Hafiz/Shela akan menghadapi Zhang Nan/Li Yinhui dari Tiongkok; Alfian/Annisa juga menghadapi wakil dari Negeri Tirai Bambu, Lu Kai/Huang Yaqiong; dan Ronald/Melati ditunggu pasangan kawakan Denmark yang diunggulan di tempat ketiga, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen.

Kepala pelatih ganda campuran utama Pelatnas PBSI, Richard Mainaky mematok target juara kepada anak-anak asuhnya. Meski turnamen tersebut bukan satu-satunya sasaran di tahun ini. “Tentu saja target kami mempertahankan gelar juara All England meski saya punya target lain untuk ganda campuran pada tahun ini, yaitu juara Indonesia Terbuka dan Kejuaraan Dunia,” bebernya seperti dilansir Kompas, (1/3/2017, hal.29).

Target tinggi pun mengemuka di sektor ganda campuran. Indonesia punya sejarah bagus di sektor ini, setidaknya menjadi juara pada 2014. Saat itu Mohammad Ahsan yang berpasangan dengan Hendra Setiawan menginjak podium juara setelah menghempaskan wakil Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawadua game langsung, 21-19 dan 21-19.

Namun pada edisi kali ini kedua pasangan itu berbeda pasangan. Ahsan bertandem dengan pemain muda Rian Agung Saputro, sementara Hendra berpasangan dengan pemain senior Malaysia, Tan Boon Heong. Menariknya di laga pertama, Hendra/Tan akan menantang Kevin/Marcus.

Selain Ahsan/Rian, dan Kevin/Marcus, Indonesia juga menaruh harapan pada Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro. Peluang para pemain muda ganda putra tentu berat sejak laga pertama. Fajar/Rian Ardianto akan menghadapi pasangan Tiongkok Li Junhui/Liu Yuchen yang menempati unggulan enam, dan Ahsan/Rian berjumpa Him Law Cheuk/Reginald Lee Chung Hei asal Hong Kong di laga pertama.

Di balik tantangan besar itu terbersit harapan agar mereka bisa tampil maksimal. Mereka diharapkan memberikan perlawanan meski lawan yang dihadapi lebih diunggulan sebagaimana disampaikan pelatih ganda putra utama, Herry Imam Pierngadi. 

“Sebenarnya memaksa lawan bermain tiga gim sudah bagus untuk Fajar/Rian. Mudah-mudahan, mereka bisa meraih hasil lebih dari itu,”tandas pria yang karib disapa Herry IP itu.

Pengalaman pemain muda
Harapan serupa, yakni optimalisasi kesempatan juga dilambungkan untuk sektor-sektor lain yang sebagian besar diisi para pemain muda. Di samping Sony Dwi Kuncoro dan Tommy Sugiarto, di nomor tunggal putra pasukan Garuda bertumpu pada trio masa depan, Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa dan dan Anthony Sinisuka Ginting.

Sony dan Tommy yang langsung tampil di babak utama menghadapi lawan berat di laga pertama. Tommy harus berjibaku menghadapi unggulan tujuh dari Tiongkok Tian Houwei, sementara Sony menantang Son Wan Ho, unggulan empat dari Korea Selatan.

Selain Sony dan Tommy, Jonatan juga langsung tampil di babak utama. Tantangan pemain kelahiran Jakarta 19 tahun silam tak kalah berat. Tak tanggung-tanggung Jojo, demikian ia disapa, akan berperang melawan pemain muda dari Denmark yang menjadi unggulan tiga, Viktor Axelsen.

Anthony dan Ihsan akan memulai kiprahnya di turnamen ini dari babak kualifikasi. Anthony berjumpa Sourabh Verma asal India dan Kenta Nishimoto dari Jepang menjadi batu ujian pertama bagi Ihsan.

Di nomor tunggal putri Indonesia harus rela kehilangan satu pemain muda, Hanna Ramadini. Pemain 22 tahun dari Tasikmalaya ini tampil luar biasa di turnamen beregu Djarum Superliga 2017. Absennya Hanna di turnamen ini menyisahkan Dynar Dyah Ayustine, Fitriani dan Lyanny Alessandra Mainaky sebagai harapan. 
Hanna Ramadini absen di All England 2017/Juara.net
Fitriani akan bertemu unggulan tiga dari Korea Selatan, Sung Ji Hyun. Dinar menanti pemenang dari babak kualifikasi. Satu dari tiga pemain ini akan menjadi lawan Dinar di babak pertama yakni Mariya Mitsova (Bulgaria), Chloe Birch (Inggris), Luise Heim (Jerman), dan Natalia Koch Rohde (Denmark).

Sementara Lyanny akan memulai kiprahnya dari babak kualifikasi menghadapi Nadia Fankhauser dari Swiss.
Peluang Indonesia mendapatkan gelar dari nomor ganda putri menjadi berat dengan “perceraian” sementara Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari. Saat ini Nitya sedang dalam masa penyembuhan cedera. 

Tanpa sang tandam, Greysia beberapa kali harus bertukar pasangan untuk mendapatkan formasi ideal.
Di turnamen Thailand Masters, 7-12 Februari lalu, Greysia berpasangan dengan Rosyita Eka Putri Sari. Di All England, dan juga sementara berlangsung di Jerman Open, pemain 29 tahun itu bertandem dengan Rizky Amelia Pradipta. Sementara Rosyita sudah mulai menjajal pasangan barunya, Della Destiara Harris sejak di Jerman  hingga di Inggris nanti.

Dua pasangan lainnya juga menemani Greysia/Rizky dan Rosyita/Della yakni Anggia Shitta Awanda/Apriani Rahayu dan Ni Ketut Mahadewi Istirani/Tiara Rosalia Nuraidah, semuanya langsung berkiprah di babak utama. Ni/Tiara ditantang Julie Finne-Ipsen/Rikke Soby (Denmark); Greysia/Rizky bertemu Maiken Fruergaard/Sara Thygesen (Denmark); Anggia/Apriani ditantang Anastasia Chervyakova/Olga Morozova (Rusia); dan Della/Rosyita bertemu unggulan pertama Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang) di babak pertama.

Patut diakui tanpa Greysia/Nitya peluang sektor ini untuk berbicara banyak cukup sulit. Para raksasa dari Korea Selatan, Denmark dan Tiongkok masih terlalu tangguh untuk ditumbangkan. Selain Misaki/Ayaka ada duo Korea Selatan Jung Kyun Eun/Shin Seung Chan (3) dan Chang Ye Na/Lee Son Hee (4); Kamilla Rytter Juhl/ Christinna Pedersen  (2) dari Denmark  serta pemain muda Tiongkok Chen qingchen/Jia Yifan yang melengkapi lima besar unggulan.

N.B
Daftar pemain dan lawan wakil Indonesia di laga pertama All England 2017:

Tunggal putra
Kualifikasi
Anthony Sinisuka Ginting vs Sourabh Verma (India)
Ihsan Maulana Mustofa vs Kenta Nishimoto

Babak utama
Tian Houwei (China) vs Tommy Sugiarto
Son Wan Ho (Korea) vs Sony Dwi Kuncoro
Jonatan Christie vs Viktor Axelsen (Denmark)

Tunggal putri
Kualifikasi

Lyanny Alessandra Mainaky vs Nadia Fankhauser (swiss)

Babak utama
Dinar Dyah Ayustine vs pemenang babak kualifikasi
Sung Ji Hyun (Korea) vs Fitriani

Ganda putra
Li Junhui/Liu Yuchen (China) vs Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto
Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi vs Marcus Ellis/Chris Langridge (Inggris)
Hendra Setiawan/Tan Boon Heong (Indonesia/Malaysia) vs Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo
Him Law Cheuk/Reginald Lee Chun Hei (Hong Kong) vs Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro

Ganda putri
Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang) vs Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari
Anastasia Chervyakova/Olga Morozova (Rusia) vs Anggia Shitta Awanda/Apriani Rahayu
Maiken Fruergaard/Sara Thygesen (Denmark) vs Greysia Polii/Rizki Amelia Pradipta
Julie Finne-Ipsen/Rikke Soby (Denmark) vs Ni Ketut Mahadewi Istirani/Tiara Rosalia Nuraidah

Ganda campuran
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs pemenang babak kualifikasi
Hafiz Faizal/Shela Devi Aulia vs Zhang Nan/Li Yinhui (China)
Praveen Jordan/Debby Susanto vs Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang)
Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika vs Lu Kai/Huang Yaqiong (China)
Ronald Alexander/Melati Daeva Oktavianti vs Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark)

Tulisan ini terbit pertama di Kompasiana 2 Maret 2017.

http://www.kompasiana.com/charlesemanueldm/menanti-merah-putih-berkibar-lagi-di-all-england-2017_58b78461147f615005e7ed73
 



No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...