(pada mulanya adalah KATA...)

Saturday, March 11, 2017

Sejarah yang Menyertai Marcus/Kevin di Final All England 2017



Marcus/Kevin menatap juara All England 2017/badmintonindonesia.org
Perlahan tetapi pasti , begitulah langkah pasangan ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo di All England 2017. Turnamen tertua di dunia yang sedang berlangsung di BarclayCard Arena, Birmingham ini telah memastuki partai puncak. Marcus/Kevin salah satu yang akan berburu gelar super series premier pertama di tahun ini.

Tahun lalu Marcus/Kevin mencuri perhatian. Tiga gelar berhasil diraih masing-masing di India, Australia dan China. Dua yang pertama adalah level super series, sementara turnamen China Open itu satu tingkat dengan All England. Dan sekarang saatnya bagi mereka mengoleksi gelar prestisius sekaligus tertua di dunia. Terlepas dari hasil final yang akan dihelat hari ini, Marcus/Kevin akan kembali ke rangking dua dunia yang pernah mereka pijaki pada bulan Oktober tahun 2016.

Lantas bagaimana peluang Marcus/Kevin hari ini? Kemenangan atas Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding membuktikan bahwa unggulan lima ini sudah bisa “move on” dari statistik pertemuan yang buruk. Sebelum kedua pasangan bertemu di semi final ini, Marcus/Kevin dua kali bertekuk lutut. Salah satunya terjadi di babak perempat final All England 2015. Saat itu duo Mads menang rubber set 11-21 21-10 dan 13-21.

Tetapi kali ini dalam situasi dan perjuangan yang nyaris sama Marcus/Kevin sukses balas dendam. Hal ini berbeda dengan pasangan ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang belum bisa melewati  wakil tuan rumah Chris Adcock/Gabrielle Adcock di babak delapan besar, seperti tahun lalu.

Jujus, Marcus/Kevin benar-benar kewalahan meladeni pasangan Denmark itu di set pertama. Postur tubuh dan daya jangkau wakil Eropa itu begitu memadai sehingga menyulitkan wakil semata wayang Indonesia ini untuk mendapat poin. 

Marcus mengakui hal itu.”Mau main gimana juga mereka bolanya dapat terus, masuk terus.” Meski berhasil memberi perlawanan dan menjaga jarak game pertama akhirnya direbut duo Mads, 19-21.

Di game kedua pasangan Denmark itu membuat Marcus/Kevin ketar ketir. Hingga setelah rehat interval pertama lawan masih memimpin dalam kedudukan 10-12. Kesabaran dan ketenangan, seperti yang diperlihatkan di babak-babak sebelumnya, menjadi formula ampuh dalam situasi-situasi sulit.

Perlahan tetapi pasti keduanya mengejar lantas membalikkan keadaan untuk menyamakan kedudukan. Perang di game penentuan tak terhindarkan. Smes keras Kolding benar-benar menguji pertahanan Marcus/Kevin. Begitu juga rotasi mereka yang rapih membuat wakil Indonesia harus ekstra keras mendapatkan poin. Laga berdurasi 69 menit itu akhirnya menjadi milik Indonesia dengan skor akhir 19-21 21-13 dan 21-17.

“Kami bermain cukup tenang dan tidak terburu-buru. Karena Kolding punya smash yang cukup kencang. Dia juga mainnya rapi. Di poin-poin akhir kami main lebih tenang,”beber Kevin.

Satu langkah lagi Marcus/Kevin akan mengukir sejarah. Bila mampu membawa pulang gelar ke tanah air maka keduanya akan menjaga nama Indonesia yang tahun lalu sukses dengan satu gelar melalui ganda campuran, Praveen Jordan/Debby Susanto. Selain itu mengakhiri hasil kurang meyakinkan dala dua tahun terakhir setelah Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan naik podium tertinggi pada 2014. 

Keduanya pun akan berada dalam daftar panjang para juara sejak Christian Hadinata/Ade Chandra (1972 dan 1973), Tjuun Tjun/Johan Wahjudi (1974, 1975, 1977, 1978, 1979, 1980), Rudy Heryanto/Harimanto Kartono (1981, 1984), Rudy Gunawan/Eddy Hartono (1992), Rudy Gunawan/Bambang Suprianto (1994), Rexy Mainaky/Ricky Subagja (1995 dan 1996), Tony Gunawan/ Candra Wijaya (1999), Tony Gunawan/Halim Haryanto (2001), Sigit Budiarto/Candra Wijaya (2003) hingga 11 tahun kemudian, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (2014).
Hendra/Ahsan, ganda putra Indonesia terakhir yang juara All England/badmintonindonesia.org
Namun satu langkah ini menuntut perjuangan keras. Jangan sampai antiklimaks. Berburu gelar dengan Li Junhui/Liu Yuchen asal China sungguh tidak mudah. Seperti duo Mads, sebelum laga ini Marcus/Kevin kurang diuntungkan dengan statistik pertemuan. Sekali pertemuan sebelumnya di Vietnam Open 2015 menjadi milik Li/Liu. Saat itu wakil Negeri Tirai Bambu itu menang, 21-15 21-23 18-21.

Bila Marcus/Kevin mampu menghadang Li/Liu maka peluang China untuk meraih gelar terbanyak berkurang. Selain di ganda putra, China juga mengirim dua wakil di ganda campuran dan tunggal putra melalui Lu Kai/Huang Yaqiong (5) dan Shi Yuqi. 

Lu/Huang dan Shu akan menghadapi wakil Malaysia Peng Soon Chan/Liu Ying Goh (6) dan Lee Chong Wei (1).  Menarik membicarakan Shi Yuqi. Status dan pengalaman jelas mengunggulkan Chong Wei. Namun sepak terjangnya hingga ke final membuat pemuda 21 tahun ini patut diperhitungkan. Apalagi di partai semi final sukses merontokkan seniornya Lin Dan. 

Shi terbukti mampu mengungguli Super Dan yang kaya pengalaman dan jam terbang di turnamen elit dunia. Peraih emas Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012 itu menyerah dua game langsung, 24-22, 21-11 dari sang junior dalam laga berdurasi 50 menit. Sekaligus menggagalkan peluang terciptanya final antara dua pemain senior yang saling bersaing di lapangan tetapi karib di luar arena.

Mampukah Shi membuat kejutan pamungkas? Dua pertemuan terakhir menjadi milik Chong Wei termasuk laga terkini di Japan Open tahun lalu. Performa apik Shi begitu juga konsistensi Chong Wei membuat laga ini bakal berlangsung sengit.

Sementara di dua nomor lainnya akan diperebutkan oleh Korea Selatan,  Denmark, Taiwan dan Thailand. Di ganda putri akan  mempertemukan  Chang Ye Na/Lee So Hee (4)dari Korea Selatan vs pasangan senior Denmark, Kamillla Rytter Juhl/Christina Pedersen (2).  Rekor pertemuan berpihak pada wakil Negeri Ginseng yang memenangkan dua dari tiga pertemuan. Tetapi di pertemuan terkhir di Olimpiade Rio 2016, Kamilla/Christina menang setelah melewati pertarungan sengit tiga game, 26-28, 21-18 dan 15-21.

Duel sengit antara dua pemain muda akan menutup babak final, unggulan teratas dari Taiwan Tai Tzu Ying kontra Ratchanok Intanon (5) asal Thailand. Keduanya sudah 13 kali bertemu dengan tujuh dari antaranya dimenangkan Ratchanok. Namun kemenangan pada pertemuan terakhir di Dubai Super Series Finals 2016 menjadi modal bagi Tzu untuk menyempurnakan statusnya sebagai ratu bulu tangkis putri dunia.

N.B
Pertandingan final, Minggu (12/3) disiarkan secara langsung di Kompas TV mulai pukul 19.00 WIB.
Jadwal pertandingan final/@INABadminton
Tulisan ini terbit pertama di Kompasiana, 12 Maret 2017.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...