(pada mulanya adalah KATA...)

Tuesday, May 30, 2017

Saatnya Martabak “Naik Kelas”, Nikmati Sensasinya di Martabak Factory



Martabak Grande Mix 10/@MartabakFactory

Hampir tidak ada yang tidak mengenal martabak. Kuliner ini sudah dikenal luas di nusantara. Konon kabarnya makanan yang terkenal lembut ini sudah mengisi kazanah kuliner nusantara sejak abad ke-17.

Munculnya martabak tidak lepas dari keberadaan para perantau China yang disebut orang-orang Hakka (Khek) yang menempati Kepulauan Bangka dan Belitung. Sejarah kemudian mencatat wilayah kepulauan tersebut sebagai muasal sekaligus identik dengan martabak.

Mula-mula martabak dikenal dengan nama Hok Lo Pan atau Kue Orang Hok Lo. Kemudian disebut Pan De Kok. Lantas berubah panggilan menjadi martabak. Seiring sulur-sulur penyebarannya yang menjangkau ke mana-mana, berbagai sebutan pun bermunculan. Seperti martabak manis yang oleh orang Semarang disebut kue Bandung, kue bulan atau terang bulan di mata orang Yogyakarta dan wilayah Indonesia Timur, Apam Pinang di Pontianak, hingga penduduk Malaysia menyebutnya Apam Balik.

Seiring ekspansinya yang kian meluas tingkat keberterimaannya pun semakin tinggi. Martabak menjadi camilan yang mengisi ruang makan penduduk Indonesia. Keberadaan para penjaja martabak pun diburu di mana-mana.

Meski begitu tidak semua martabak memiliki cita rasa yang sama. Soal rasa tidak bisa diperdebatkan. Begitu kira-kira pembelaan yang adil. Begitu juga bagaimana mendapatkan martabak. Martabak kebanyakan dijumpai di pinggiran jalan atau di sudut-sudut sempit. Para penjual yang menjajakan martabak dengan gerobak mini pun tidak lebih dari produsen semata. Para pembeli pun hanya datang bertandang untuk mendapatkan martabak yang diinginkan, lantas berlalu pergi. Bisa saja keterbatasan ruang membuat orang akhirnya lebih peduli pada martabak semata. Apakah memang demikian seharusnya kita memperlakukan martabak? 
Ika Hendrani, Founder dan CEO Martabak Factory
 Strategis dan Nyentrik

Ika Hendrani terlihat sibuk memberi komando kepada beberapa pria. Ruang dengan deretan kursi dan meja masih teratur rapi. Belum ada siapa-siapa di ruang itu selain Ika dan beberapa pria tersebut. Dari lantai atas terdengar dentuman musik elektronik. 

Ketika saya memperkenalkan diri, Ika pun dengan ramah membalas memperkenalkan dirinya. Oleh salah seorang pria yang pertama kali menyapa saya di tempat itu, tanpa tedeng aling-aling menyebut Ika sebagai pemilik Martabak Factory. Ya, sang empunya tempat yang sedang saya datangi di Jl.Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan itu.

Sejak 19 April lalu Ika memulai kehidupan baru bersama bisnis martabak di tempat tersebut. Sebelum itu sejak 18 Februari 2015 mengambil tempat di Jl.Tebet Utara No.50C. Meski letak kedua tempat itu sebenarnya tak terlalu jauh, Ika punya alasan sendiri harus hijrah.

Di tempat sebelumnya  Ika kesulitan untuk menampung ledakan pengunjung. Tidak sedikit pelanggan melontarkan komentar betapa sempitnya tempat tersebut. Ketika datang tawaran bahwa ada lokasi baru yang lebih menjanjikan, Ika pun tak segan pindah walau masa kontrak masih cukup panjang.  

“Lokasinya strategis. Belum lagi ruangannya lebih besar dan sebagian besar sudah tersedia,” begitu Ika memberi alasan.

Berada persis di pinggir jalan utama, dan berada tidak jauh dari stasiun KRL Tebet dan halte bus Transjakarta, Martabak Factory mudah dijangkau dari berbagai arah. Dari segi akses para pengunjung sama sekali tidak kesulitan.

Saat memasuki outlet para pengunjung langsung disambut dengan suasana ruangan yang nyentrik. Bekas mesin jahit disulap menjadi meja dengan hanya menambahkan kayu tipis di atasnya. Sementara kursi-kursi dikonstruksi dari krat bekas botol minuman. Di bagian pojok terdapat beberapa tempat duduk bantalan berukuran besar. Namun jangan salah sangka. Bila diperhatikan dengan saksama, tempat duduk tersebut adalah hasil modifikasi drum-drum bekas. Di beberapa sudut Tina sengaja memajang beberapa ornamen berupa tulisan-tulisan inspiratif hingga sepeda.

Sentuhan minimalis ini juga terasa di lantai dua. Sebuah anak tangga kayu yang berada persis di samping pintu masuk akan mengantar para pengunjung untuk mendapatkan sensasi menikmati martabak dari ketinggian. Di salah satu pojok terdapat rak buku hasil koleksi Ika Hendrani. Tersedia juga beberapa permainan seperti kartu remi, ular tangga, catur, hingga congklak.

Persis di bagian tengah terdapat panggung mini yang dilengkapi beberapa peralatan musik. Tersedia pula proyektor untuk keperluan acara hingga nonton bareng. Saat mendongak kepala ke atas kita akan mendapatan sebuah ruang kecil di pojok yang sengaja disediakan sebagai mushola.

Ika mengatur lantai dua sedemikian rupa agar bisa dimanfaatkan untuk arena pertujuan live musik atau konser mini. Selain itu para pengunjung bisa leluasa mengabadikan momen-momen menarik tanpa perlu risau dengan akses internet. Aliran wifie berkecepatan tinggi siap membantu pelanggan berbagi keseruan dengan netizen di dunia maya.
Rupanya Ika paham dengan kebutuhan masa kini. Selain menikmati makan sambil menghabiskan waktu, kebutuhan akan ekspresi diri pun tak kalah penting. Orang makan tidak hanya untuk makan itu sendiri. Tetapi juga mendapatkan sensasi dengan berbagi rasa dan sensasi. 

“Orang biasanya juga berbagi makanan di instagram. Karena itu mereka mencari makanan yang instagramable,” beber Ika. 

Kaya inovasi

Menjawab kebutuhan kekinian itu, Ika pun tak henti-hentinya melakukan inovasi. Inovasi tersebut tidak hanya soal bentuk dan ukuran juga rasa martabak. Ika menyajikan martabak dengan berbagai varian topping, berbeda dengan martabak manis umumnya yang memiliki pilihan terbatas. 

Begitu juga soal ukuran. Pelanggan bisa memilih ukuran martabak sesuai kebutuhan, entah untuk dikonsumsi beramai-ramai yang sekaligus menyajikan beberapa varian rasa atau cukup untuk dikonsumsi sendiri. 

Saat bertandang ke Martabak Factory saya mendapat kesempatan melihat dari dekat dan merasakan beberapa menu andalan. Tampilan luarnya benar-benar menggoda. Tidak hanya soal penampilan, rasanya pun benar-benar nikmat. Martabak tersebut terbuat dari adonan yang lebih halus sehingga sangat lembut di mulut. Usianya pun lebih panjang, bisa bertahan hingga dua hari.

Pertama, Martabak Manis Grande Mix 10. Sesuai namanya, martabak jenis ini berukuran jumbo dengan diameter mencapai 28 cm dengan 10 topping yakni green tea, cheese chaca, banana, ovomaltine, choconut, red choco, oreo, cheese, nutella marshmallow, dan silver queen.

Jenis ini sangat pas bila disantap beramai-ramai. Setiap orang akan mendapatkan martabak dengan varian pilihan, tanpa perlu memesan beberapa martabak sekaligus. Tak pelak, menurut Ika, martabak ini paling diburu alias menjadi favorit. 

Kedua, Martabakk Manis Grande Rainbow. Ukurannya tak jauh berbeda dari Martabak Manis Grande Mix 10. Bedanya toppingnya dipilihkan warna-warna pelangi yakni ungu, jingga, biru muda dan biru.

Ketiga, Martabak Manis Mini Ice Green Tea. Ukuran martabak ini pas untuk seorang. Sebagai topping dipilih es krim berwarna hijau yang tegak di puncak di antara taburan coklat dengan warna senada. Sebatang coklat astor bersandar pada es krim yang meleleh.
Tidak hanya bentuk, rasanya pun mengundang selera. Perpaduan antara martabak manis dengan sentuhan rasa green tea cukup menggoyang lidah.

Bila ingin mencoba rasa lainnya dengan tanpa merasa bersalah karena porsi terlalu banyak, Martabak Factory memiliki cukup banyak pilihan martabak mini. Beberapa dari antaranya martabak pizza, martabak noodle, martabak tuna, martabak burger dan martabak cheese burger.

Keempat, Martabak Telur Mozzarella. Martabak Factory tidak hanya menyajikan martabak manis semata. Umumnya orang mengenal martabak terdiri dari dua jenis yakni martabak manis dan martabak telur. 
Mengakomodasi keinginan pelanggan akan martabak telur, Martaba Factory memiliki menu spesial yakni Martabak Telur Mozzarrela. Tidak seperti martabak telur biasa, jenis ini ditambahi topping berupa lelehan keju mozzarella. Rasa keju yang tersamar menyatu dengan martabak yang empuk. Sangat nikmat berpadu dengan saus dan acar timun dan wortel.

Selain varian utama itu, Ika juga memberi sentuhan hari besar pada menu martabak. Saat hari besar keagaamaan seperti Natal dan Imlek, Ika pun menyajikan martabak dengan nuansa serupa. Misalnya bewarna merah saat Imlek atau hijau ditambah hiasan pepohonan pinus, bintang dan salju sebagai kekhasan suasana di akhir tahun.

Ala kafe

Ika tidak hanya memberi tempat istimewa kepada martabak. Menonjolkan konsep kafe, ia pun menyajikan menu “berat” sebagaimana kita jumpai di kafe atau restoran. Di sini para pelanggan bisa mendapatkan sajian istimewa lainnya. Tujuannya untuk memenuhi selera dasar orang Indonesia yang merasa tak lengkap bila belum makan nasi. 

Tersedia beberapa lauk dengan bahan dasar ayam dan ikan seperti ayam penyet, nasi ayam saos mentega, nasi ayam lada hitam, serta gurame lada hitam. Selain itu ada  bakso, nasi goreng,  mie hingga seblak dengan lima pilihan estra topping yakni kornet, tuna, ayam kari, telur dan keju.

Ayam yang disajikan sangat empuk. Lalapan dan sambal plus nasi putih menjadi teman yang pas. Begitu juga menu gurame. Daging gurame benar-benar terasa. Meski berasal dari ikan air tawar, tambahan sejumlah bumbu memberi rasa gurih. Para pengunjung akan disodori dua pilihan. Bila menyantap sendiri bisa memilih gurame ukuran sedang. Sementara untuk keperluan makan bersama, untuk 4 orang misalnya, bisa memesan menu gurame XL.

Sebagai penutup tersedia beberapa appetizer pilihan seperti roti bakar dan sosis dalam beberapa paket yang bisa ditambah topping saus keju atau mozzarella. Begitu juga pilihan minuman. Mulai dari jus buah, es krim, minuman bersoda, varian latte dan vrappe, teh, shisha hingga kopi.

Tentang yang disebutkan terakhir, Martabak Factory juga menjadi tempat nongkrong yang asyik bagi para petualang kopi. Kopi-kopi pilihan dari seluruh penjuru nusantara tersedia di sini mulai dari kopi Jawa, Toraja, Aceh, Bali, Sidikalang hingga Flores.

Launcing Electroguns

Jejak keberadaan Martabak Factory sebagai tempat nongkrong kekinian telah ditegaskan pada Jumat, 19 Mei lalu saat sebuah grup musik memilih meluncurkan single perdananya di tempat itu. Adalah Electroguns yang mengusung aliran Electronic Dance Musik (EDM) dengan lagu pertama berjudul Call Me Before Midnight.

Satu paket dengan kunjungan ke tempat itu, saya pun berkesempatan melihat aksi panggung mereka. Band ini terdiri dari tiga personel dengan latar belakang keterampilan bermusik yang telah teruji. Ada DJ Stroo sebagai DJ controller, sampling dan electronic percussion, bersama Ana Livian sebagai back vokal, sekaligus pemain drum dan perkusi, serta Syanti Nova sebagai vokalis, yang juga piawai bermain gitar dan flute.

Keberadaan grup ini memberi warna tersendiri di blantika musik tanah air. Mereka hadir dengan konsep musik yang berbeda dengan arus utama. Meski begitu mereka bukan orang-orang baru. DJ Stroo adalah DJ Rock N Roll yang telah menelurkan sejumlah karya bersama Bagus NTR. Ana pernah menggawangi band Rock N Roll, Miszy, yang belakangan berkolaborasi dengan DJ Una. Sementara Nova pernah menjadi solois dan sebelumnya bergabung dengan band Pop-Rock, The Winner.
Penggabungan antarpara personel dengan latar belakang karier, kemampuan hingga aliran musik berbeda sebenarnya cukup menantang, bila tidak ingin dikatakan berbahaya. Namun saat ditanya bagaimana menjawab serba perbedaan itu, mereka menjawab mantap sebagai berkah ketimbang petaka.

Penampilan Electroguns.
Menurut DJ berkepala plontos itu, perbedaan itu justru memperkaya mereka dalam kerja kreatif. Dasar musik yang kuat akan dengan mudah disatukan dalam karya kolaborasi musik elektronik yang segar. ‘

Optimisme ini menguat ketika mereka bercerita tentang bagaimana menghasilkan karya perdana. Untuk menghasilkan Call Me Before Midnight itu mereka membutuhkan waktu tidak lebih dari dua bulan. Lirik lagu dibuat secara dadakan, di samping Nova dan Ana mempunyai kemahiran di bidang itu, hingga akhirnya menyatu di dapur rekaman. 

Nuansa baru dan segar ini menjadi ikhtiar karya bermusik mereka. Seperti nama Electroguns yang diciptakan untuk mengidentikkan dengan pelatuk pistol yang baru saja ditarik sang koboi.

Kebaruan dan kesegaran itu terlihat juga dalam lirik lagu mereka. Meski lirik berbahasa Inggris, maknanya mudah dicerna. Lagu tersebut berisi ajakan untuk menikmati kesenangan setelah energi tubuh terkuras oleh rutinitas. 

“Isinya ringan, tentang kehidupan sehari-hari di kota besar yang mudah membuat boring dan capek. Lagu ini mengajak untuk melepas penat dan joget sama-sama,” terang Nova.

Promo Puasa

Dari semua itu satu pertanyaan yang patut dijawab adalah berapa harga yang harus dikeluarkan untuk menikmatinya. Harga yang dipatok tidak terlalu tinggi untuk segala kemewahan yang didapat. 


Untuk martabak manis Grande harga yang dipatok berkisar dari Rp 50.000 hingga Rp 125.000. Martabak ukuran mini (berdiameter 12 cm) tersedia mulai dari Rp 13.000 hingga Rp 30.000.

Sementara  untuk menikmati martabak asin berjenis telur dan noodle, mini hingga grande Meatlover Anda hanya perlu merogoh kocek mulai dari Rp 30.000 sampai Rp 120.000. Harga untuk makanan berat tidak jauh berbeda dengan harga pasaran, berkisar dari Rp 16.000 hingga Rp. 30.000.


Tidak hanya harga yang cukup ramah di kantong, Martabak Factory juga menyediakan sejumlah kemudahan. Mulai dari paket promo untuk yang berulang tahun, hingga layanan delivery untuk area sekitar Pancoran,  Tebet hingga Manggarai, juga pemesanan melalui aplikasi Go-Jek dan Grab.

Pintu Martabak Factory tidak pernah tutup selama tujuh hari dalam seminggu sejak pukul 11.00 hingga 02.000 (Senin-Jumat) dan mulai pukul 16.00 hingga 02.00 pada hari Sabtu dan Minggu. 

Selama bulan puasa yang sedang berlangsung tersedia layanan “take out” yang khusus disediakan hingga pukul 16.00 serta pemesanan melalui aplikasi. Tujuannya tentu saja melayani keinginan pelanggan untuk berbuka puasa dengan sajian terbaik dari Martabak Factory.
Paket promo lebaran/@MartabakFactory

Di samping itu tersedia paket MARBAYA untuk 2 orang seharga Rp 40.000/orang dan untuk 4 orang seharga Rp 37.500/orang. Paket ini lebih hemat hingga 22% dibanding harga normal. Selain itu ada tajil gratis selama pukul 16.00-19.00.

Akhirnya separuh hari berkunjung ke tempat ini, tagline “NongkrongBelum Lengkap Tanpa Martabak” tampaknya bukan isapan jempol belaka. Martabak Factory menjadi tempat merayakan martabak yang “naik kelas” tidak hanya sebagai jajanan yang dibeli dan dimakan sambil lalu saja. Tetapi juga layak dinikmati lebih lama, dengan lebih banyak pilihan, dan dalam suasana yang benar-benar kekinian.

Selamat datang di Martabak Factory!

Informasi lebih lanjut:

Alamat: Jl. KH. Abdullah Syafei No. 37, Tebet, Jakarta
Jam Buka: Senin-Jumat pukul 11.00-16.00 (khusus Take Away, GoFood & GrabFood), pukul 16.00-02.00 (terbuka untuk pengunjung); Sabtu-Minggu pukul 16.00-02.00.
Pemesanan: 0812 8800 1095
FB, twitter dan instagram: @MartabakFactory

Post a Comment

4 comments:

  1. hmmmm martabak ... kudapan favorit sepanjang masa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah martabak selalu di hati ya..makas udah mampir

      Delete
  2. Dear Bang Charles, terima kasih untuk wawancara singkat dan tulisannya yg lengkap hingga bahas sejarah martabak. Kapan2 datang lagi ya bersama keluarga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ika terima kasih atas undangannya.Semoga Martabak Factory semakin jaya. Saya pasti akan datang kok soalnya Martabak Factory tiada duanya..btw, mohon maaf bila ada kekurangan dalam tulisan ini

      Delete

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...