(pada mulanya adalah KATA...)

Saturday, October 1, 2016

Membaca Pertemuan Pochettino dan Guardiola

Pochettino (kiri) dan Pep Guardiola/www.espnfc.com

Bukan pertandingan biasa. Setidaknya itu kesimpulan yang bisa dipetik jelang matchday ke-7 Liga Primer Inggris antara tuan rumah Tottenham Hotspur kontra Manchester City di White Hart Lane, Minggu (2/10) pukul 20:15 WIB. Secara peringkat, di tabel klasemen sementara, kedua tim teratas.  City yang sempurna dalam enam laga hanya berjarak empat poin dari Spurs. Sementara Spurs unggul satu poin dari Arsenal, Liverpool dan Everton di lima besar.

Dengan tanpa bermaksud mengabaikan yang lain, pertandingan ini akan menjadi ujian bagi kedua tim. City di bawah asuhan Pep Guardiola sedang di jalur positif di pentas domestik. Sementara Spurs pun demikian belum pernah kalah meski beberapa kali hanya mendulang hasil seri. Kemenangan dalam laga ini jelas akan mempengaruhi konstelasi papan atas: entah perolehan poin semakin ketata, atau sebaliknya.

 Eks pemain Spurs, Jermaine Jenas kepada BBC Sport mengaku bahwa laga ini akan menjadi ujian terberat pelatih baru The Citizen. Kemenangan dalam derby Manchester, di kandang Manchester United beberapa waktu lalu, sekilas menunjukkan sejauh mana hasil kerja mantan pelatih Barcelona dan Bayern Muenchen itu. Namun, hasil positif di Old Trafford itt, menurut Jenas, belum bisa dijadikan tolak ukur stabilitas komposisi City saat ini.

Secara sederhana dapat dikatakan demikian. Guardiola memenangkan “perang” Manchester menghadapi pelatih baru yang sedang berada dalam masa-masa adaptasi. Tak dapat dimungkiri saat ini Mourinho sedang menghadapi pekerjaan rumit untuk membangun tim. Komposisi dan formasi ideal seperti yang dicita-citakan The Special One itu masih jauh panggang dari api. Bongkar pasang masih saja terjadi.

Dalam kondisi seperti itu, apresisasi pada Guardiola jelas bukan sesuatu yang berlebihan. Dibandingkan Mourinho, yang juga diklaim sebagai salah satu pelatih hebat saat ini,  langkah pelatih berkepala plontos jauh lebih cepat. Apakah itu mengisyaratkan perbedaan kualitas di antara keduanya?

Jawaban terhadap pertanyaan itu jelas akan bersifat prematur karena banyak faktor lain yang saling berkelindan untuk sebuah hasil akhir. Masih terlalu dini menilai berhasil tidaknya kerja seorang pelatih karena belum banyak batu ujian yang sudah dilewati. Mengorganisasikan sebuah tim dengan banyak pemain dari beragam latar belakang usia, posisi, dan pengalaman jelas membutuhkan waktu untuk mendapatkan pakem tertentu.

Setidaknya kesimpulan tersebut terbersit dari mulut pelatih Liverpool, Jurgen Klopp. Kepada Sky Sports 'Monday Night Football  belum lama ini, pelatih 49 tahun itu mengaku tidak secepat yang dibayangkan para fans untuk melihat Liverpool saat ini seperti Borussia Dortmund yang ditanganinya saat itu. Sejak kursi kepelatihannya pindah ke Anfield hampir 12 bulan lalu, pria Jerman itu masih terus berproses, memadukan antara apa yang diharapkan dengan sumber daya yang dimiliki.

Demikian pun belum bisa diambil kesimpulan terhadap kinerja Guardiola. Ia baru memulai perjalanan bersama tim barunya itu. Memang sedikit mengejutkan dengan start luar biasa Guardiola. Aksi jempolan pria spanyol itu dalam masa transisi yang tidak mudah di Etihad Stadium.

Namun  keterkejutan kita itu tampaknya masih perlu pembuktian lebih. Seperti Anonio Conte yang juga baru bersama Chelsea, masa transisi Guardiola masih muda. Hasil imbang kontra Celtic di Liga Champions beberapa waktu lalu membuktikan bahwa transisi Guardiola belum berjalan sempurna. Di pentas domestik laga terakhir kontra Swansea masih menyiratkan pekerjan rumah untuk Guardiola.
Pochettino (kiri) dan Pep Guardiola/www.espnfc.com

Pada titik ini pertemuan dengan Tottenham bakal menjadi ujian berat Guardiola. Betapa tidak, tim yang dihadapinya bukan tim baru yang sedang membangun. Finis di urutan ketiga musim lalu sudah mengisyaratkan bahwa The Liliwhites akan semakin merepotkan tim-tim besar lainnya.

Mauricio Pochettino, sang arsitek sudah menunjukkan hasil baik. Proyek yang dibangunnya selama dua tahun terakhir semakin jelas hasilnya. Musim ini mereka langsung tancap gas dengan enam laga tanpa kekalahan. Pencapaian yang luar biasa dalam sejarah klub. Pertama kali dalam 51 tahun terakhir.

Berbeda dengan klub-klub lain, terutama para raksasa, yang sebagaimana biasa tak bisa diam di setiap bursa transfer, pada musim panas ini Pochettino tidak terlalu agresif di jendela transfer. Pasti banyak yang bertanya-tanya, mengapa pria Argentina itu tak mau merogoh kocek setidaknya untuk satu dua pemain bintang? Apakah Spurs tidak punya banyak uang?

Jawabannya tentu bukan karena keterbatasan uang dan lemahnya negosiasi. Tetapi karena Pochettino merasa bahwa tidak perlu ada perubahan lagi pada timnya. Sistem, skema, dan identitas tim sudah ada sehingga tidak perlu dibongkar pasang, apalagi dirombak lagi.

Kepaduan itulah yang membedakan Spurs dengan tim-tim elit lainnya. Karakter bermain sudah terlihat, dan para pemain sudah tahu apa yang dikehendaki sang pelatih. Menurut Jenas lagi, saat tidak bermain baik saja mereka sudah mampu mengambil poin, bagaimana kalau mereka bermain baik.

Menghadapi Spurs, catatan penguasaan bola City yang tinggi (rata-rata 64%) akan mendapat hadangan. Dua tim yang sekilas secara statistik memperlihatkan dominasi gaya berbeda, agresif versus defensif, akan saling beradu. Spurs yang tercatat memiliki prosentase kemasukan paling sedikit akan menantang Manchester Biru yang dominan.

Namun gaya tersebut tak sepenuhnya menunjukkan karakteristik bermain. Meski kemasukan paling sedikit tidak berarti bahwa Pochettino mengamini gaya bertahan. Menurut catatan BBC.co.uk, dibanding City, prosentase shots  per game (tembakan) Spurs lebih tinggi dari City, sekaligus yang tertinggi dibanding tim-tim lain. Jumlah gol yang sudah tercipta pun tak berbeda jauh. City hanya 8 gol lebih banyak dari Spurs yang sudah mengemas 10 gol sejauh ini.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa pertandingan ini akan menjadi ujian berat City. Tim yang akan mereka hadapi adalah tim yang sudah terbentuk, setidaknya jauh lebih padu dalam arti terintegrasi antara pemain muda dan pemain senior, dan antara keinginan pelatih dan kemampuan para pemain.

City memiliki Sergio Aguero yang sudah mencetak lima gol dalam empat pertandingan. Namun Spurs punya Son Heung-min-selain Harry Kane, Arik Lamela dan Dele Alli-yang tengah naik daun. Pemain Korea Selatan itu menjadi mimpi buruk lawan-lawannya dalam tiga laga terakhir dengan memborong gol yang kini total berjumlah 4 gol.

Di lini kedua dan ketiga Spurs, seperti terlihat dari prosentasi kemasukan di atas, terlihat bahwa komposisi yang ada sudah padu. Para pemain muda yang sudah menjadi tulang punggung sejak musim lalu sudah paham bagaimana memainkan pertandingan, termasuk meladeni City. Berman di kandang sendiri semakin mempertembal semangat mereka.

Head to head 32 pertemuan kedua tim, Spurs lebih dominan dengan 17 kemenangan (termasuk di pertemuan terakhir pada awal Februari tahun ini dengan skor 2-1), 11 kekalahan dan empat hasil seri. Catatan ini semakin menyemangati Hugo Lloris dan kolega untuk melanjutkan hasil positif. Tidak hanya untuk mencatatakan hasil baik di lembaran sejarah pertemuan kedua tim, juga untuk menunjukkan diri bahwa mereka pantas diperhitungkan sebagai kandidat juara musim ini.

Musim lalu, Spurs nyaris membuat kejutan andai saja tidak terjatuh di akhir musim. Ada yang menilai saat itu para pemain telah kehabisan tenaga karena terlalu dipaksa Pochettino. Kelesuan saat menghadapi Liverpool pada akhir Agustus menunjukkan hal itu. Tingkat kebugaran bergerak negatif.

Jenas yakin Spurs sudah jauh lebih matang baik dalam skill maupun kebugaran. Berbeda ketika ia di White Hart Lane sejak 2005-2013, Spurs kini digerakkan oleh sosok muda, energik dan ambisius untuk memenangkan gelar. Tidak hanya bermimpi dan berambisi besar, menurut Jenas, Pochettino dan para pemain pun pun sudah tahu apa yang perlu mereka lakukan untuk mewujudkannya, termasuk saat menjamu City nanti.

Mari kita menjadi saksi untuk pertemuan ciamik ini.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 2 Oktober 2016.



No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Indonesia Sabet 2 Gelar Korea Open 2017

Anthony Ginting (kanan) dan Jonatan Christie, finalis #KoreaSS 2017/badmintonindonesia.org Pertama kali sejak naik level menjadi turnam...