(pada mulanya adalah KATA...)

Friday, October 7, 2016

Wujudkan Mimpi Jutaan Anak Negeri

                                                              Ilustrasi dari http://www.bumiputera.com


A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is a reality (John Lennon)
***
Nabila (8) berkali-kali melompat girang ketika Ajun Inspektur Satu Ririn Nurfiah (41) dan suaminya, Aiptu Darmawan menuntunnya masuk ke halaman SD Sobo, Banyuwangi. Dengan masih mengenakan piyama dan sandal jepit, pagi itu dengan penuh sukacita Nabila mendaftar di SD tersebut.

Di ruang guru, Ririn mendampinginya untuk bertemu dengan guru dan kepala sekolah. Mewakili orang tua Nabila, Ririn menyerahkan akta lahir dan rapor terakhir sang anak.
“Saya berharap Nabila bisa sekolah di sini, Pak. Ibunya hanya buruh tani dan tidak bisa membayar sekolah, “kata Ririn menyampaikan kondisi Nabila... (Kompas, Rabu 7 September 2016, hal 1 dan 15).

Ilustrasi di atas adalah satu dari banyak contoh miris tentang kehidupan dunia pendidikan di tanah air. Nabila merupakan satu dari sekian banyak anak Indonesia yang mengalami keterbatasan untuk bersekolah. Di tempat-tempat lain masih banyak anak yang bernasib seperti Nabila, atau bahkan lebih dari itu. Bila Nabila terbantu oleh uluran kasih Ririn dan Darmawan, masih ada yang sama sekali tak tertolong atau luput dari perhatian sehingga tak mampu mendapat pendidikan formal sedikitpun. 

Potret buram Nabila yang masih jamak terjadi di tanah air bukan isapan jempol. Data statistik menunjukkan secara jelas seperti apa kondisi pendidikan kita saat ini. Menurut Ikhtisar Data Pendidikan Kemendikbud Tahun 2015/2016 seperti dilansir Kompas, Kamis 8/9/2016 hal.11, ada 68.066 anak yang tak mengenyam pendidikan dasar atau tak melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar (SD). 

Sementara itu ada 946.013 anak yang terhenti di bangku Sekolah Dasar (SD). Tak kurang dari 51.541 anak tak mampu menyelesaikan  Sekolah Menengah Pertama (SMP). Secara keseluruhan, ada 997.554 anak yang berstatus tamatan SD.

Jumlah anak yang bernasib sedikit lebih baik dengan tingkat pendidikan sedikit lebih tinggi pun tak kalah banyaknya-untuk mengatakan sama mirisnya. Sebanyak 99.406 anak terpaksa berhenti sekolah dengan mengantongi ijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jumlah tersebut bila ditambah 118.353 siswa yang tak mampu menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), maka ada 217.759 siswa yang hanya berijazah SMP. 

Dari survey Badan Pusat Statistik (BPS) sebagaimana disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, sekitar 73 persen kasus putus sekolah itu terjadi karena alasan ekonomi. Anak-anak tersebut sesungguhnya masih berniat untuk terus mengenyam pendidikan, namun kendala finansial akhirya memaksa mereka berhenti sekolah.
Sejauh ini pemerintah sudah menelurkan sejumlah kebijakan seperti  bantuan operasional sekolah(BOS) atau bantuan siswa miskin dan Kartu Indonesia Pintar, namun masih jauh dari kata cukup untuk mengatasi sengkarut persoalan pendidikan dalam negeri. Alhasil target Nawacita (sembilan program prioritas pemerintah) yang digaungkan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla yakni APS sekolah dasar sebesar 100 persen dan APS SLTP 95 persen masih jauh panggang dari api.

Demikianpun komitmen  Indonesia bersama negara-negara di dunia terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) 20130 Bidang Pendidikan yakni seluruh warga mengenyam pendidikan hingga SMA/SMK, sepertinya masih sulit terwujud. 

Data tersebut menjadi salah satu indikator untuk melihat seperti apa pembangunan manusia Indonesia. Angka Partisipasi Sekolah (APS) yang berdampak pada angka rata-rata lama sekolah (mean years schooling) seperti itu mengantar kita pada kesimpulan betapa tertinggalnya manusia Indonesia.

Ketertinggalan itu makin menguat dengan sejumlah data tambahan tentang sejumlah aspek penting lainnya. Nirwan Ahmad Arsuka dalam opininya berjudul “Para Pencipta Sejarah” (Kompas, 7/9/2016.hal.6) mengedepankan pengamatan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) yang secara rutin melakukan kajian tehadap dunia pendidikan Indonesia, Ditemukan kenyataan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Meski tingkat buta huruf berhasil dikurangi, minat baca tetap jongkok. 

Hasil ini dipertegas oleh laporan mutakhir dari lembaga yang menggarap proyek World’s More Literate Nations bernama Central Connecticut State University (CCSU).  Menurut lembaga tersebut, Indonsia berada pada posisi 61 dari 62 negara dalam hal minat baca. 

Temuan lainnya, dalam dimensi berbeda, dikemukakan oleh PIAAC (Programme for the International Assesment of Adult Competences) untuk mengetahui tingkat kecakapan orang dewasa yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau OECD. Seperti diangkat Victoria Fanggidae dalam kolom opini Kompas, 2/9/2016 hal.7, hampir semua jenis kompetensi orang dewasa Indonesia untuk bekerja dan berkarya berada di urutan buncit dari 34 negara OECD dan mitra OECD. Hasil tersebut menunjukkan orang dewasa kita dalam kategori produktif (16-65 tahun) jauh tertinggal dalam hal kemampuan literasi, numerasi dan pemecahan masalah. Skor kita terendah di hampir semua kategori umur.

Data-data memang tak bisa membicarakan realitas secara utuh dan pasti. Penelitian sekalipun tetap memiliki kelemahan. Termasuk soal ruang lingkup yang terbatas serta segala keterbatasan empirikal lainnya. Namun demikian, data-data tersebut, ditambah dengan pengalaman riil seperti dalam kisah Nabila di atas sudah lebih dari cukup untuk membuat kita serius berpikir tentang pendidikan Indonesia saat ini.

Pendidikan merupakan salah satu kunci untuk membuka masa depan yang baik. Tanpa pendidikan yang baik kita sulit mewujudkan cita-cita masyarakat Indonesia yang maju dan sejahtera. 

Demikianpun masih kurang afdal bila pendidikan yang sedang digalakkan di tanah air sama sekali tak tersentuh evaluasi dan pertimbangan serius karena segala cacat dan kelemahan yang ada perlu dibenahi agar tak memperparah keadaan.

Dari berbagai formula dan racikan strategi yang bisa dibuat, dua hal penting yang tidak bisa diabaikan adalah kerja sama. Berbagai bentuk kerja sama yang sinergis dan konstruktif mesti dibangun. Pada intinya, membangun pendidikan yang berkualitas dan merata tidak bisa mengandalkan kerja satu dua pihak saja. Pemerintah misalnya, meski hadir dengan kebijakan cerdas dengan regulasi terperinci dan ketat sekalipun, bila bekerja sendiri dengan tanpa bantuan tokoh masyarakat, LSM/NGO, tokoh agama, orang tua dan sebagainya, akan ngos-ngosan juga. Demikianpun sebaliknya. 

Eksekusi
Faktor lain yang tak kalah penting adalah strategi eksekusi. Terlalu banyak rencana dan kebijakan bila tak dijalankan tak ubahnya kata-kata hampa dan teks mati belaka. Kerja nyata dan kerja konkret harus menjadi nafas bersama untuk membangun dunia pendidikan kita.

Ririn dan sang suami sudah berbuat sesuatu bagi Nabila dan anak-anak pesisir di Banyuwangi. Dengan segala keterbatasan, keduanya sudah membantu mewujudkan cita-cita pendidikan sekelompok anak. Dari data di atas masih banyak anak-anak Indonesia yang membutuhkan uluran tangan dan perhatian. Masih banyak anak-anak dengan cita-cita yang masih menggantung alias belum terwujud.

Selain kerja nyata dengan langsung menjadi orang tua asuh, atau merelakan tenaga untuk memberikan pelajaran gratis atau cuma-cuma, masih ada cara lain yang bisa ditempuh. Salah satunya yakni memberikan beasiswa kepada anak-anak dari kalangan tidak mampu. 

Ada beragam skema beasiswa yang bisa diberikan. Namun alangkah baik bila beasiswa tersebut tak hanya menjamin biaya pendidikan sesaat, tetapi juga berlangsung terus dengan nilai tambah berupa perlindungan jiwa dan investasi sehingga mengantisipasi melonjaknya biaya pendidikan yang bisa mengancam keberlangsungan pendidikan anak. Sejumlah skema yang ditawarkan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 misalnya.

Asuransi tertua sekaligus sangat Indonesia ini memiliki sejumlah produk terkait pendidikan. Beberapa dari antaranya adalah Mitra Beasiswa dan Mitra Cerdas. 

Mitra Beasiswa sebagaimana bisa dilihat di www.bumiputera.com, menawarkan perlindungan anak dan biaya pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. 

Setiap orang tua termasuk orang tua asuh tak perlu khawatir dengan kenaikan biaya pendidikan yang kerap terjadi, dan kadang naiknya tak diduga-duga. Pasalnya produk ini menjamin pendidikan sepenuhnya dengan memperhitungkan segala keadaan baik kenaikan biaya maupun musibah meninggalnya orang tua. Selama mengikuti Mitra Beasiswa maka anak-anak akan terpenuhi kebutuhan pendidikannya, dan dipastikan terlindungi dari segala kemungkinan yang bisa berujung putus sekolah.

Secara ringkas aneka manfaat yang bisa diterima adalah:
a Dana Kelangsungan Belajar (DKB) yang dibayarkan secara bertahap, sesuai dengan tingkat usia anak, baik Tertanggung hidup atau meninggal dunia.
b. Dana Beasiswa anak, dibayarkan pada saat periode asuransi berakhir, baik tertanggung masih hidup atau meninggal dunia.
c. Santunan meninggal dunia sebesar 100% dari uang pertanggungan.
d. Bebas premi bagi polis jika Tertanggung meninggal dunia.
e. Pengembalian simpanan premi bagi polis saat Tertanggung meninggal dunia jia premi dibayarkan secara penuh setelah jumlah premi diperhitungkan.
f. Hak untuk mendapatkan Reversionary Bonus, jika Tertanggung meninggal dunia, penebusan polis, atau habis kontrak.

Sementara itu Mitra Cerdas menawarkan keunggulan lainnya yakni peluang investasi. Artinya, dana yang dirancang untuk kebutuhan pendidikan akan meningkat sejalan dengan hasil investasi. Selengkapnya dikatakan, “Mitra Cerdas dirancang secara khusus untuk mengembangkan dana yang Anda alokasikan untuk pendidikan anak Anda. Berbeda dengan asuransi pendidikan pada umumnya yang hanya menawarkan perlindungan dan tabungan, program ini memberikan Anda kesempatan untuk mendapatkan hasil investasi yang kompetitif dari premi asuransi yang Anda bayar.”

Secara ringkas berbagai keuntungan yang ditawarkan Mitra Cerdas yakni:
1.       Dana Kelangsungan Belajar (DKB) yang dibayarkan secara bertahap sesuai dengan tingkat usia anak-anak, baik Tertanggung hidup atau meninggal dunia.
2.       Jaminan perolehan hasil investasi sebesar 4,5% per tahun dari akumulasi premi tabungan.
3.       Tambahan hasil investasi jika dana investasi yang diperoleh AJB Bumiputera 1912 melebihi hasil investasi yang dijamin pada poin 2.
4.       Santunan kematian 100% dari Uang Pertanggungan.
Bebas premi bagi polis untuk Tertanggung yang meninggal dunia.
5.       Pengembangan investasi sebagaimana dinyatakan pada butir 2 dan 3 untuk Dana Kelangsungan Belajar (DKB), yang tidak dapat diambil pada saat jatuh tempo.
6.       Jika Pemegang Polis menghendaki, setelah Tertanggung meninggal dunia, polis dapat diakhiri dengan penarikan Dana Kelangsungan Belajar (DKB) sekaligus, tanpa mengurangi hak-hak lain yang diuraikan sebelumnya pada butir 2, 3 dan 4.

Jalan yang ditawarkan AJB Bumiputera di atas bisa dimanfaatkan oleh semua orang tua untuk melengkapi rencana dan strategi mewujudkan pendidikan anak yang berkualitas. Masa depan Indonesia tak bisa digapai oleh generasi yang kurang berpendidikan. Kerja pendidikan di Indonesia adalah kerja sama dan kerja bersama. Keyakinan penyanyi dan penulis lagu kondang asal Inggris, John Lennon bahwa mimpi bersama kan menjadi nyata, bukan sebuah kemustahilan. Sudah terbukti mimpi yang diperam sendiri akan tinggal tetap di alam mimpi. A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is a reality.

Akhirnya, bersama AJB Bumiputera mari bergerak bersama merajut dan mewujudkan mimpi jutaan anak Indonesia. Bersama Bumiputera yang telah teruji lebih dari seabad, kita bergerak mewujudkan cita-cita anak di seantero negeri.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana,  11 September 2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Indonesia Sabet 2 Gelar Korea Open 2017

Anthony Ginting (kanan) dan Jonatan Christie, finalis #KoreaSS 2017/badmintonindonesia.org Pertama kali sejak naik level menjadi turnam...