(pada mulanya adalah KATA...)

Thursday, October 6, 2016

Ada Apa dengan Pebulutangkis Muda Indonesia?



 Ihsan Maulana Mistofa/radarriau.net.
 
Demikian pertanyaan yang mengemuka melihat sepak terjang para pemain muda Indonesia di Thailand Grand Prix Gold yang tengah berlangsung di Nimibutr Stadium, Bangkok. Mengirim banyak pemain muda, hanya lima wakil dengan satu dari antaranya pemain senior, yang akhirnya lolos ke babak perempatfinal yang akan dihelat, Jumat (07/10) hari ini. 

Kelima wakil yang lolos itu adalah Sony Dwi Kuncoro (tunggal putra), Dinar Dyah Ayustine (tunggal putri), Berry Angriawan/Rian Agung Saputro dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (ganda putra) serta ganda putri, Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita Hanadia. 

Hanya Sony dan Berry/Rian yang terhitung sebagai unggulan yang masih bertahan hingga delapan besar. Padahal sebelumnya komposisi wakil Indonesia, selain mengirim banyak wakil, juga menempatkan beberapa pemainnya dalam daftar unggulan. Di tunggal putra, Sony berada di belakang Ihsan Maulana Mustofa yang dijagokan di tempat pertama.

Di ganda putra, selain Rian/Berry yang menempati unggulan dua, ada Hardianto Hardianto/Kenas Adi Haryanto(5), dan Hendra Aprida Gunawan/Markis Kido(8). 

Sementara di sektor putri, dua ganda menempati unggula empat dan enam yakni Apriani Rahayu/Jauza Fadhila Sugiarto dan Keshya Nurvita Hanadia/Devi Tika Permatasari.
Di ganda campuran juga terdapat dua pemain unggulan yaitu Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika(7) dan Edi Subaktiar/Richi Puspita Dili(8).

Hasil ini tentu melahirkan keprihatian tersendiri. Di satu sisi tingkat persaingan para pemain muda di pentas internasional semakin meningkat. Terbukti para pemain Thailand sudah mampu memberikan mimpi buruk tidak hanya kepada para pemain Indonesia tetapi juga masa depan bulu tangkis kita. Banyak bermunculan para pemain Thailand dengan kekuatan dan kemampuan yang patut diperhitungkan.

Di sisi lain beberapa sektor antara lain putri masih perlu perjuangan ekstra untuk melahirkan bibit-bibit muda. Fitriani misalnya belum bisa berbuat banyak saat mengadapi Busanan Ongbumrungpan, tunggal putri Thailand yang baru berusia 20 tahun tetapi sudah berada di rangking 16 dunia. Menghadapi Busanan di babak 16 besar itu, Fitriani menyerah mudah  11-21 11-21.

Demikianpun di sektor ganda campuran. Setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto, Indonesia masih mencari pelapis yang benar-benar prospektif. Alfian Eko Prasetya/Annisa Saufika, Edi Subaktiar/Richi Puspita Dili, Rafiddias Akhdan Nugroho/Masita Mahmudin dan Riky Widianto/Gloria Emanuelle Widjaja yang turun di turnamen ini belum bisa berbuat banyak.

Di sektor tersebut Indonesia masih memiliki Ronald Alexander/Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faisal/Shela Devi Aulia, Riky Widianto/Richi Puspita Dili serta Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja namun rangking dunia mereka masih tertinggal jauh di belakang Praveen/Debby.

Fenomena Ihsan
Dari deretan pemain unggulan di Thailand GPG kali ini, kekalahan Ihsan patut diperbicangkan lebih lanjut. Pasalnya pemain 20 tahun ini ditempatkan sebagai unggulan pertama namun langsung angkat koper di babak pertama.

Pemain rangking 25 dunia kandas di tangan pemain tuan rumah non unggulan Suppanyu Avihingsanon dalam pertarungan tiga game,17-21, 21-17, 18-21. 

Kekalahan ini memperpanjang hasil kurang maksimal pemain kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat itu di gelanggang internasional. Setelah membuat kejutan di Indonesia Open Super Series Premier pada awal Juni ini, performa Ihsan terlihat menurun.

Saat tampil di Istora, Senayan, Jakarta kala itu, Ihsan mampu melenggang hingga babak semi final usai mengalahkan wakil Inggris Rajiv Ouseph dalam pertarungan tiga game 17-21, 21-12, 21-12. Saat itu saya menjadi salah satu saksi perjuangan menganggumkan pemain mungil ini. Meski akhirnya gagal ke final setelah menyerah di tangan pemain kawakan, yang kini duduki rangking satu dunia, Lee Chong Wei, nama Ihsan langsung menjadi buah bibir.

Tetapi di beberapa turnaman setelah itu, taji dan daya juang pemain kelahiran 18 November ini tak lagi terlihat. Puncak penurunan performa terlihat di ajang Thailand GPG kali ini. Apakah kelelahan setelah tampil all out di PON Jawa Barat yang baru saja usai menjadi alasan?

Semestinya tidak. PON Jabar bisa dianggap sebagai ganti dari sebuah turnamen yang semestinya terus diikuti oleh seorang pebulutangkis. Tanda-tanda minus yang sudah terlihat setelah Indonesia Open itu sudah cukup jelas memberikan konklusi sementara. Ihsan perlu perhatian serius. 

Saat ia bersama Jonathan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting muncul ke panggung internasional, banyak orang mengelu-elukan mereka. Bahkan tak sedikit yang memprediksi di tangan ketiga pemain muda itu, supremasi bulu tangkis Indonesia, terutama di sektor tunggal putra, akan kembali digenggam. Chong Wei sendiri memuji Ihsan sebagai titisan legenda tunggal putra kita, Tufik Hidayat.

Namun pujian dan prediksi tersebut tidaklah cukup. Apalah arti euforia dan puja-puji itu bila tak dibarengi dengan penggemblengan dan pendampingan serius? Jangan sampai mereka seperti bunga indah yang layu sebelum berkembang.

Kado Rian/Berry
Ganda putra Rian Agung Saputro/Berry Angriawan akan menjadikan turnamen ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan kado perpisahan. Setelah turnamen ini keduanya akan bercerai. Masing-masing dari antara mereka akan dipasangkan dengan dua pemain senior yang baru saja berpisah, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Rencananya, Rian akan ditandemkan dengan Hendra, sementara Berry bersama Mohammad Ahsan. Bersama para senior itu, mereka akan mengawali debut di Denmark Open Super Series Premier 2016 serta French Open Super Series 2016 yang akan dihelat pada akhir Oktober hingga awal November nanti.

Di babak perempatfinal, Berry/Rian akan menghadapi wakil Malaysia Hoon Tien How/Teo Kok Siang. Menghadapi unggulan enam itu, cerita Berry/Rian akan berbeda ketika menghadapi wakil Negeri Jiran lainnya di babak 16 besar, Lee Jian Yi/Lim Zhen Ting yang dibekuk dengan mudah dalam tempo 21 menit, dengan skor 21-12, 21-16. 

“Ini adalah turnamen terakhir buat saya dan Rian, kami mau hasil terbaik di sini. Semoga saja kami bisa membawa gelar juara,” ungkap Berry dikutip dari badmintonindonesia.org.
 Rian Agung Saputro/Berry Angriawan/badmintonindonesia.org

Sementara itu wakil Indonesia lainnya di babak delapan besar, Sony Dwi Kuncoro akan menantang wakil Taiwan, Hsueh Hsun Yi. Dinar Dyah akan mendapatkan lawan berat untuk mengantongi tiket semifinal. Berbeda ketika memenangkan “perang saudara” atas Ruselli Hartawan, di delapan besar, pemain 22 tahun itu akan menghadapi wakil tuan rumah yang menempati unggulan empat Nitchaon Jindapol.

Tantangan yang sama dihadapi oleh ganda putri Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita Hanadia. Keduanya akan menghadapi salah satu andalan tuan rumah Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai yang diunggulkan di tempat kedua.

Berbeda dengan Dinar dan Devi/Keshya, ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian diharapkan mampu mengunci satu tiket semi final saat menghadapi wakil Taiwan Lee Jhe-Huei/Lee Yang.

Jadwal babak perempatfinal Thailand GPG 2016, Jumat (7/10),mulai 15.00 WIB:

Sony Dwi Kuncoro [INA/2] vs Hsueh Hsuan Yi [TPE]
Dinar Dyah Ayustine [INA] vs Nitchaon Jindapol [4/THA]
Berry Angriawan/Rian Agung Saputro [INA/2] vs Hoon Tien How/Teo Kok Siang [6/MAS]
Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto [INA] vs Lee Jhe-Huei/Lee Yang [TPE]
Devi Tika Permatasari/Keshya Nurvita Hanadia [INA/6] vs Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai [2/THA]

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 7/10/2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...