(pada mulanya adalah KATA...)

Thursday, October 13, 2016

Berpuisi dalam Lagu Antar Bob Dylan ke Panggung Nobel

Bob Dylan/BBC.com

Bagi yang meremehkan kekuatan sebuah lirik lagu, penganugerahan Nobel Sastra 2016 kepada Bob Dylan adalah pukulan telak. Demikianpun yang menganggap bahwa apresiasi prestisius itu hanya diperuntukan bagi mereka yang produktif menghasilkan buku, bakal segera berpikir ulang.

Penyanyi, penulis lagu, disc jockey-di samping penyair-bernama asli Robert Allen Zimmerman ini telah membuktikan bahwa lagu bisa berdiri sama tinggi dengan karya sastra umumnya seperti puisi, cerpen dan drama. Dan dengan hanya menulis tiga buku pun ia bisa meraih hadih Nobel.

Lebih dari separuh masa hidupnya selama 75 tahun, sosok multitalenta ini telah melewati jalan panjang untuk memperjuangkan cita-cita kesenimanannya melalui lagu dan musik. Oleh Dylan, anasir seni yang kadang disepelehkan bahkan dipinggirkan itu disuntik dengan unsur-unsur puitis yang dalam.

Oleh The Royal Swedish Academy of Sciences, sang empunya hajat tahunan bergengsi ini, Dylan dianggap berjasa, terutama,  telah “menciptakan ekspresi puitis baru dalam tradisi lagu Amerika." Atau dalam versi asli, mengutip sekretaris permanen The Swedish Academy, Sara Danius seperti diwartakan BBC.com, "for having created new poetic expressions within the great American song tradition".

Seperti apa ekpresi puitis baru yang dimaksud, tentu butuh ruang dan waktu lebih untuk menunjukkannya. Setidaknya pria kelahiran Minnesota, 24 Mei yang mengambil nama terakhir dari penyair kelahiran Wales Dylan Thomas itu telah memberikan warna tersendiri dalam tradisi lagu Amerika. Dunia musik Amerika sangat berutang budi padanya yang berperan penting dalam melahirkan sejumlah genre dalam musik pop, termasuk folk rock dan country rock.

Melalui lagu-lagunya, Dylan berpuisi. Hal itu sudah diakui oleh banyak kalangan yang telah lama menjagokannya meraih hadiah tersebut. Mengambil contoh salah satu master-peace-nya, “Blowin in the Wind” dan “The Times They are A-Changin,” penyair Inggris, Sir Andrew Motion menyebut syair-syair Dylan “bekerja layaknya sajak.” Dylan sangat piawai memainkan rima dalam lagu-lagunya.  Ia tahu kata-kata terbaik pada urutan atau posisi paling pas.

"They have often extremely skilful rhyming aspects to them. They're often the best words in the best order,"demikian pengakuan Motion kepada BBC.

Seperti menyimpulkan apresiasi para pakar, Sara Darius lantas menahbiskan Dylan sebagai “a great poet in the English speaking tradition”, atau kurang lebih terjemahan bebasnya, “seorang penyair besar dalam tradisi penuturan Inggris.”

Penghargaan atas Dylan lantas memberi warna baru pada tradisi Nobel, khususnya kategori sastra yang selama ini dianggap elitis dan tendensius atau berkecenderungan pada  karya-karya tertentu. Sekaligus ia menorehkan sejarah baru sebagai penulis lagu pertama dalam 112 tahun terakhir memenangkan penghargaan tersebut.

Hal paling substantif, berkaca pada Dylan, lagu adalah juga medium bersastra, melaluinya siapa saja bisa berpuisi dan bercerita. Berpuisi dalam lagu bukan lagi sesuatu yang aneh, apalagi tabu. Sehingga para pencipta lagu dan penyanyi pun layak bersanding di panggung Nobel.  

Namun seperti Dylan proses kreatif itu tidak mudah. Ada waktu dan kerja yang harus dibayar untuk berkreasi dan menghasilkan karya berbobot. Seperti kata Sara Darius, Dylan menginvestasikan lebih dari separuh abad untuk itu.

"For 54 years now he's been at it reinventing himself, constantly creating a new identity," kata Darius.

Tidak lebih besar dari murid
Hadiah Nobel Sastra yang jatuh ke tangan Dylan sekaligus merontokkan berbagai spekulasi. Kejutan kembali terjadi. Sebelumnya nama penulis Jepang, Haruki Murakami paling disebut-sebut. Tahun lalu, Murakami bersama sastrawan asal Kenya Ngugi wa Thiong'o juga masuk nominasi. Namun penghargaan itu akhirnya menjadi milik penulis dan wartawan asal Belarusia, Svetlana Alexievich yang tekenal dengan tulisan dokumenter bergaya cerita naratif itu.

Selain menyisihkan kedua favorit itu, Dylan juga menyisihkan sejumlah unggulan seperti sastrawan asal Suriah Adonis, novelis asal Amerika Philip Roth, penulis asal New York, Joyce Carol Oates, peraih Irish Booker John Banville, penyair asal Korea Ko Un, novelis Hungaria Laszlo Krasznakorkai, hingga penulis Argentina Cesar Aira.

Terlepas dari pertimbangan 18 anggota The Swedish Academy, menarik melihat sepak terjang Dylan. Dengan tanpa meremehkan para nominator lainnya, Dylan merupakan sosok besar di dunia musik. Majalah musik kenamaan Rolling Stone sampai-sampai menempatkan Dylan di urutan kedua sebagai “Artis Terbesar Sepanjang Masa” (Greatest Artists of All Time), di belakang The Beatles.

Namun siapa sangka grup band rock asal Inggris itu banyak dipengaruhi oleh gaya bermusik Dylan. Bahkan grup asal Liverpool yang beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, Gerorge Harrison dan Ringo Starr ini kerap mendengarkan lagu-lagu Dylan.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa tidak selamanya seorang guru lebih besar dari muridnya. The Beatles yang masyur itu ternyata sedikit banyak “berguru” pada Dylan, yang kemudian tidak lebih tinggi posisinya sebagai artis terbesar sepanjang masa.

Dylan telah berkenalan dengan musik sejak di bangku SMA.  Sosok dengan karakter suara yang khas hingga membuat Presiden AS Barack Obama terpukau hingga menganjarnya dengan Presidential Medal of Freedom  sudah mulai bergaul dengan sejumlah alat musik seperti gitar dan harmonika sejak remaja.
 Dylan menerima Presidential Medal of Freedom dari Presiden Obama di Gedung Putih pada 2012/BBC.com.

Jalan hidupnya terus mengular panjang. Mulai dari membentuk band rock & roll di bangku SMA, selanjutnya mengekplorasi lagu-lagu rakyat di kedai-kedai kopi saat duduk di bangku perguruan tinggi. Sejak itu, ia mulai berani memaklumkan diri dengan identitas baru, dengan nama panggung Bob Dylan.

Tahun 1961 ia pindah ke New York. Namun kecintaannya pada lagu-lagu rakyat dan komunitas rakyat tak juga memudar. Malah semakin kuat. Sejak itu ia terus berkreasi seperti kata Sara Darius menemukan “identitas-identitas” baru yang kita temukan dalam aneka karya utamanya lagu (35 album studio, sepuluh album live, dan delapan seri bootleg), di samping buku (salah satunya yang terkenal berjudul “Tarantula”) dan naskah adegan.

Di usianya yang sepuh, Dylan tampaknya belum kapok berkreasi. Gelora semangat masih cukup kuat membakarnya untuk terus menghidupkan hasratnya seperti  tajuk tur yang telah dilakukannya sejak akhir 1980, “Never-Ending Tour” atau “Tur Tanpa Akhir.”

Sekalipun pada waktunya ia benar-benar diganjal usia, setidaknya riwayat yang telah terpatri sepanjang jalan panjang kehidupannya akan mewariskan nilai-nilai penting baik bagi dunia musik khususnya maupun kehidupan umumnya. Sepeti Dylan yang kini namanya masuk dalam daftar bersama penyair besar India Rabindranath Tagore atau sang empunya "One Hundred Years of Solitude",  Gabriel García Márquez, kita pun dibukakan jalan untuk berpuisi tidak hanya dalam buku, tetapi juga dalam lagu, dan dalam kehidupan.

Dylan akan mendapat US$906,000, atau Rp11,8 miliar dari Nobel yang diraihnya. Namun sumbangsihnya jauh lebih besar dari itu, bukan?
Bob Dylan saat muda/Theguardian.com


N.B
Daftar peraih Nobel Sastra dalam 5 tahun terakhir:
2015: Svetlana Alexievich (Belarus)
2014: Patrick Modiano (Prancis)
2013: Alice Munro (Kanada)
2012: Mo Yan (China)

2011: Tomas Transtromer (Swedia)
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 13/10/16.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...