(pada mulanya adalah KATA...)

Tuesday, August 30, 2016

Meksiko Bakal Menguburkan Sang Juara Bertahan, Mengapa Tidak?

Pelatih Meksiko, Juan Carlos Osorio/ESPNFC.com

Dengan tanpa mengabaikan apalagi meremehkan tujuh partai perempat final Copa America lainnya, perebutan tiket semi final terakhir antara Chile kontra Meksiko layak mendapat kredit tersendiri.

Betapa tidak. Laga yang dijadwalkan digelar di Levi’s Stadium, Minggu (19/6) pagi WIB dan disiarkan langsung oleh Kompas TV dan K-Vision itu, adalah pertemuan antara dua tim yang tidak hanya mendamba untuk ke keempat besar, juga pertarungan antara dua tim yang terbilang sama kuat.

Bermaterikan pemain yang seimbang di semua lini, berkelindan dengan tren, catatan pertemuan serta hasrat untuk mengukir sejarah. Maka, bila laga perempat final antara Argentina kontra Venezuela beberapa jam sebelumnya sedikit banyak sudah bisa diprediksi hasil akhirnya, laga ini, hemat saya, pelik ditebak.

Dengan kata lain, kita bisa dengan enteng memejamkan mata sekejap untuk mereka-reka akhir cerita, tetapi sukar membohongi hasrat untuk menjadi saksi pertarungan kedua tim secara langsung. Pendek kata, menonton laga ini adalah keputusan terbaik.  

Hasrat
Di satu sisi, Chile sedang berjuang mempertahankan catatan positif di Copa America setelah menjadi juara di edisi terakhir tahun lalu, sekaligus untuk pertama kalinya. Dengan sebagian besar materi pemain yang sama saat angkat trofi di Tanah Air sendiri, kecuali kepemilikan tongkat estafet pelatih dari Jorge Sampaoli ke Juan Antonio Pizzi, La Roja berhasrat untuk mengulangi catatan manis tersebut.

Alexis Sanchez dan kolega butuh tiga langkah lagi untuk mencapai target tersebut. Namun, Meksiko berpeluang menjegal mereka. El Tri, julukan Meksiko, pun sedang dalam laju positif. Belum terkalahkan dalam 22 pertandingan, termasuk membungkam Chile di laga persahabatan di San Diego pada Juni lalu berkat gol telat Javier “Chicharito Hernandez” adalah isyarat jelas.

Di tangan Juan Carlos Osorio yang menggantikan Miguel Herrera yang dipecat dua hari setelah menjuarai Piala Emas pada 2015, Los Tricolores tetaplah menakutkan. Hal tesebut diakui sendiri oleh Pizzi.

Berbicara usai timnya mengantoni tiket delapan besar pasca menggulung Panama dengan skor 4-2 pada awal pekan lalu, pelatih 46 tahun itu tak menampik kebesaran sang calon lawan. Menurut pria Argentina itu, untuk bisa mengalahkan Meksiko, timnya harus kembali ke level permainan semula, bahkan melampaui itu.

"Untuk mengalahkan Meksiko, kami harus berada di atas level kami biasanya, seperti dalam term sepak bola secara emosional," ungkap Pizzi dikutip dari espnfc.com.
"[Meksiko] adalah tim besar. Mereka telah melalui 22 pertandingan tanpa kekalahan dan hanya kebobolan dua gol di [10] pertandingan terakhir mereka.”

Belum lagi, dukungan fans yang diprediksi bakal menguasai stadion berkapasitas 68.500 tempat duduk itu. Dibanding Chile, Meksiko boleh dianggap tuan rumah untuk laga ini. Bersama AS, keduanya sama-sama berada di kawasan Amerika Utara sehingga keterjangkauan fans akan lebih mudah. Menurut wartawan goal, Jon Arnold, jauh hari sebelum laga ini jatah tiket untuk penonton Meksiko sudah terjual habis.

“Mereka memiliki banyak pemain dan level Eropa dan 80 persen di tribun menguntungkan mereka,”lanjut Pizzi.
Namun demikian, laga di lapangan hijau-lah yang paling menentukan. Seperti dikatakan gelandang Chile, Arturo Vidal, sekalipun ada tambahan “pemain ke-12” itu, timnya tetap bertekad menang.

"Ini akan berbeda. Meksiko akan membawa banyak orang, tapi kami tenang, kami memiliki tim yang baik dan kami akan memberikan segalanya dalam permainan."

Mengapa tidak?
Patut diakui Meksiko belum pernah sekali pun menjuarai Copa America, persis seperti dua negara Amerika Selatan yakni Venezuela dan Ekuador. Namun Los Tricolores hampir selalu mendapat undangan untuk berpartisipasi di ajang tersebut dan sudah dua kali bertemu Chile di ajang tersebut .

Pertemuan perdana di fase grup edisi 2011. Saat itu, Chile menang dengan skor 2-1. Keduanya kembali berjodoh di fase grup Copa America 2015 dan Meksiko memaksa laga berakhir sama kuat, 3-3.

Di pertemuan ketiga ini, Meksiko memiliki sumber daya untuk melampaui pencapaian itu. Dari tiga kiper yang dibawa ke Amerika Serikat dan ketiganya sudah mendapat kesempatan tampil di fase grup, nama Guillermo Ochoa berpeluang besar tampil di laga krusial ini.

Sebagai salah satu pemain senior di Meksiko, penjaga gawang 30 tahun ini sudah berpengalaman baik di timnas maupun klub. Sepanjang musim lalu, sosok bernama lengkap Francisco Guillermo Ochoa MagaƱa ini tampil cukup baik bersama Malaga. Mendapat 10 kesempatan bersama klub La Liga Spanyol itu, ia mampu menghindari gawangnya dari kebobolan alias clean sheet sebanyak tiga kali. Pengalaman dan kemampuannya itu dibutuhkan Osorio untuk menjadi tembok terakhir menahan serangan Alexis Sanchez, Eduardo Vargas, Marcelo Diaz dan Arturo Vidal.

Di lini belakang Meksiko memiliki trio tangguh Nestor Araujo, Rafael Marquez dan Hector Moreno. Ketiganya menjadi tulang punggung saat mengalahkan salah satu favorit juara Copa America kali ini, Uruguay di fase grup. Soliditas dan presisi membaca arah bola membuat Edinson Cavani dan kolega mati kutu.

Araujo merupakan sosok mengejutkan untuk mengisi posisi bek kanan. Namun saat menghadapi Uruguay dan Jamaika, pemain 24 tahun sangat mumpuni dalam bertahan.

Kehadiran Marquez dengan kepemimpinan dan kemampuan passingnya yang masih ciamik di usia 37 tahun semakin menambah kepercayaan diri Araujo dan Moreno yang terbilang pemula.

Kuartet Diego Reyes, Andres Guardado, Miguel Layun dan Hector Herrera adalah tumpuan di lini tengah. Agresivitas Guardado dan Herrera dalam berjelajah diimbangi dengan Layun dan Reyes yang tenang namun sangat kreatif. Terlepas dari strategi yang akan dipakai Osorio, Guardado, Reyes dan Marquez dapat bertukar peran dengan lentur.

Di lini depan Raul Jimenez, Javier "Chicharito" Hernandez, dan Yesus "Tecatito" Corona bakal mencabik-cabik lini pertahanan lawan. Selama masa kepelatihan Osoria. Chicharito dan Tecatito sudah mencetak tujuh dari 20 gol Meksiko, masing-masing empat kali dari kaki Corona dan sisanya dari eks pemain Real Madrid dan Manchester United itu.

Khusus Hernandez yang diistirahatkan di laga pemungkas fase gugur hanya butuh satu gol lagi untuk menyamai rekor salah satu legenda Meksiko Jared Borgetti yang sudah mencetak 46 gol.

Dengan pengalaman menghadapi bek-bek tangguh di kompetisi Eropa,  Chicharito yang kini berseragam klub Bundesliga, Beyer Leverkusen dan Corona yang membela klub Portugal, FC Porto, keduanya akan bekerja sama dengan striker Benfica Raul Jimenez untuk menembus barikade pertahanan Chile.

Bila buntu, Jimenez siap membuka ruang dari sayap kanan atau bertindak sebagai second striker seperti yang ditunjukkan saat menghadapi JamaikaDi bangku cadangan Osorio masih memiliki Hirving "Chucky" Lozano yang sangat cemerlang di pentas domestik.

Walau demikian deretan pemain ini tak akan berarti banyak bila tak didukung oleh strategi yang mumpuni. Tim yang dihadapi adalah Chile yang terkenal spartan, agresif dan memiliki pertahanan yang kukuh. Kecakapan Osorio meracik formula amat dituntut.

Osorio tak bisa bersikukuh dengan impiannya menampilkan skuad ideal dengan tanpa memikirkan kebutuhan saat harus berduel dengan sang juara bertahan. Bila tak ingin dipecundangi dan kehilangan kesempatan maka Osorio mau tidak mau harus berani merubah strategi bila dibutuhkan.

Menurut data transfermarkt.co.uksaat kedua tim bertemu dalam laga uji coba tahun lalu, mereka sama-sama menurunkan formasi 4-3-3. Dalam pertemuan kali ini, hemat saya, kunci yang perlu dipegang Osoriao adalah lini tengah.

Di tempat itu Meksiko akan bergantung pada Andres Guardado dan Hector Herrera. Keduanya adalah gelandang penting yang bakal berjibaku untuk menguasai bola dan mengalirkannya kepada "Tecatito" Corona dan Chicharito di lini depan.

Pada turnamen kali ini Herrera tampil sangat memuaskan. Gelandang FC Porto ini turut mencetak gol dalam kemenangan 3-1 atas Uruguay. Secara keseluruhan pemain 26 tahun ini sudah mengukir 11 peluang, lebih dari para pemain lain.

Pemain yang sedang diincar Napoli dan Liverpool ini akan berduel dengan Arturo Vidal. Diharapkan dengan bantuan Guardado mereka mampu menjinakkan lini tengah Chile. Kehadiran Guardado mutlak diperlukan dengan berkaca pada ketidakhadirannya saat menghadapi Jamaika.

Kecerobohan dan ketidakakuratan hampir saja berbuah mala petaka jika saja mampu dimaksimalkan Jamaika. Menghadapi pemain sekelas Alexis Sanchez, tak ada kata maaf untuk kesalahan, apa;agi blunder seperti itu.
Bila Meksiko mampu menguasai lini tengah, dengan syarat Guardado dan Herrera tampil maksimal, maka peluang untuk menang terbuka lebar. Kecenderungan Osoria yang selalu mengubah formasi sekiranya tidak sampai menyudutkan kedua pemain tersebut plus Yesus "Tecatito" Corona, Javier "Chicharito" Hernandez, Hector Herrera, Andres Guardado, Rafael Marquez, Hector Moreno dan Miguel Layun yang sangat fital.

Bukan mustahil, kekompakan dan ketangguhan mereka yang sudah berbuah 48 peluang emas, atau 12 kesempatan lebih banyak dari tim lain, walau data statistic ESPN menunjukkan peluang Chile pun setali tiga uang, bakal mengulangi pencapaian terbaik pada tahun 2007: menginjak babak semi final. Bahkan melampauinya.

Selamat menyaksikan.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 18 Juni 2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon Kembali ke Puncak Ranking Dunia

Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya. Gambar: www.badmintonindonesia.org Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon kembali ke ben...