(pada mulanya adalah KATA...)

Saturday, January 14, 2017

Dia yang Tergusur di Negerinya, tetapi Diburu Asing




Rexy Mainaky/Djarumbadminton.com
Banyak tanya menggelayut saat Ketua Umum PP PBSI, Jenderal (Purn) TNI Wiranto tak menyertakan Rexy Mainaky dalam kabinet kerjanya untuk empat tahun ke depan. Bukan bermaksud membuka kembali lembaran lama yang sejatinya ditutup sementara waktu untuk menyambut kisah baru, tak ada nama pria 48 tahun dalam barisan armada Sang Jenderal cukup mengagetkan. 

Setidaknya kekagetan itu terwakili dalam sejumlah pertanyaan. Apakah mantan pemain ganda putra Indonesia itu gagal dalam empat tahun kerja bersama Gita Wirjawan, Ketum PBSI sebelumnya? Apakah adik Richard Mainaky ini pantas dibuang begitu saja, dengan tanpa memberi waktu lagi, atau setidaknya diberi tempat berbeda tetapi masih dalam gerbong kepengurusan yang sama? Begitu mudahnya kita “membuang” sosok seperti Rexy begitu saja?

Saya tidak bermaksud meragukan Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi yang kini menggantikan Rexy. Toh, Susy punya catatan prestasi sebagai atlet yang gilang gemilang bahkan tak tertandingi oleh pebulu tangkis Indonesia lainnya hingga kini. Begitu juga pengalaman di luar lapangan setelah gantung raket dini pada usia emas 26 tahun. Selama kurang lebih 19 tahun peraih emas tunggal putri Olimpiade Barcelona 1992 itu  tetap wira-wiri di dunia yang telah membesarkan namanya baik dalam laku bisnis maupun kepelatihan dengan bertindak sebagai staf ahli, penasihat atau motivator maupun sponsor.
Tetapi patut diakui Susy belum teruji sebagai pelatih, hal mana yang selalu ditolaknya sejak gantung raket dengan berbagai alasan, antara keluarga dan bisnis. Meski pada akhirnya Susy tak kuasa menolak ajakan Wiranto, mendepak Rexy begitu saja tetap mengundang tanya. 

Banyak hal akhirnya terungkap setelah diungkap di antarnya oleh jurnalis senior, Daryadi di majalah yang dikelolanya, Bulutangkis Indonesia, edisi Januari 2017. Pertemuan singkat yang dipaksakan Daryadi terjddi  di bandar udara Soekarno-Hatta, Selasa (20/12/2016) satu jam sebelum KLM membawanya ke Kuala Lumpur, rumah keduanya dalam 10 tahun terakhir. 

“Saya sama sekali tidak tahu apa sebabnya karena saya baru tahu juga setelah pengumuman itu,”tandas Rexy ketika ditanya sebab tak masuk pengurus PBSI periode 2016-2020. 

Rexy mengaku dirinya juga tidak diaja bicara sebelumnya, setidaknya untuk mendapatkan penjelasan mengapa ia tidak lagi dipercaya.

“Itulah yang sebetulnya membuat saya agak kecewa mengapa harus diam-diam seperti itu, jadi mengesankan seperti ada konspirasi.

Hmmm, konspirasi? Apakah karena setia dan bekerja tekun bersama Gita maka ia pantas dilengserkan? “Tapi, saya berprinsip di periode yang lalu Ketua Umumnya adalah Pak Gita. Jadi kalau saya harus loyal kepada beliau tentu memang sudah sepatutnya saya bersikap sebagai anak buahnya.”

Jangan-jangan ada permainan dari pihak lain, atau mungkin karena permintaan seperti nilai gaji yang terlampau besar? Rexy mengaku soal gaji mestinya bisa didiskusikan, apalagi hal seperti itu lumrah dalam dunia kerja profesional. Setiap pekerja patut mendapat upah, sesuai kualitasnya.

Ketika ditanya jangan sampai pihak Djarum, salah satu sponsor besar dan pelaku penting dalam bulu tangkis Indonesia, turut bermain, Rexy tegas membantah. Ia mengaku memiliki relasi yang sangat baik dengan pimpinan perusahaan rokok itu, Victor Hartono.

“Kalau memang seperti itu mengapa tidak dari dulu saja saya diganti. Saya pun sangat respek dan hormat dengan orang seperti Pak Victor yang begitu total mau mengabdikan diri buat kemajuan bulu tangkis Indonesia. Saya tidak membayangkan apa jadinya bulutangkis Indonesia kalau beliau tidak berkenan lagi membantu.”

Terlepas dari komunikasi yang tertutup dan penuh misteri ini, kita pun menduga-duga apakah sebabnya pada kinerja. Selama empat tahun “tukang gebuk” yang pernah berpasangan dengan Ricky Subagja ini  kurang berhasil memainkan perannya untuk proses regenerasi dan prestasi bulu tangkis tanah air, seperti itu?

Mengacu pada dua indikator itu, Rexy tidak gagal. Di ganda campuran dan ganda putra, prestasi Indonesia terus berlanjut. Terus bermunculan lapisan-lapisan mulai dari senior hingga junior yang siap berprestasi. Dengan tanpa perlu mengeja panjang, di ganda putra setelah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan “selesai” kita sudah mendapat penerus dalam diri Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang gilang gemilang di tahun 2016. 

Begitu juga di ganda campuran. Selain Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Praveen Jordan dan Debby Susanto sudah berhasil merangsek ke jajaran elit dunia. Owi/Butet, sapaan Tontowi/Liliyana berhasil mengembalikan tradisi emas Olimpiade yang sempat lepas di London tahun 2012 silam. Sedangkan Praveen/Debby membanggakan Indonesia di All England 2016.

Marcus dan Kevin, serta para pemain tunggal putra masa depan seperti Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, Anthony Sinisuka Ginting adalah bibit-bibit muda yang disiapkan secara terencana oleh Rexy dan timnya di Pelatnas Cipayung. 

“Saat ini mereka memang masih seperti bunga yang baru kuncup. Targetnya mereka akan mekar saat berlangsung Olimpiade Tokyo 2020.”

Memang patut diakui di sektor putri, proses regenerasi berjalan lambat. Banya faktor mengemuka. Bibit yang minim, ditambah jurang yang dalam antara generasi senior dan junior. Untuk mempersempit “gap” itu butuh waktu dan proses yang tidak cepat. Apakah karena hal ini, Rexy harus angkat kaki?

Manajemen Pelatih
Tidak ada yang tahu secara pasti kualitas dan keandalan Rexy selain pihak-pihak yang telah  bekerja sama dengannya. Namun kepercayaan yang diperoleh dari banyak negara di dunia menunjukkan seperti apa pentingnya Rexy dalam bulu tangkis. 

Tidak semua pemain termasuk yang hebat sekalipun berbakat dan andal sebagai pelatih. Rexy salah satu yang mempunyai anugerah istimewa itu. Memulai karir pelatih di Inggris pada 2001, setelah tiga tahun bertanya diri usai gantung raket profesional. Meski belum punya pengalaman melatih, Rexy sanggup memenuhi target Asosiasi Bulutangkis Inggris (BE) yang telah mendekatinya sejak 1998. Medali Olimpiade Athena 2004 berhasil diraih melalui ganda campuran Nathan Robertson/Gail Emms yang melaju ke final meski ahirnya menyerah di tangan Zhang Jun/Gao Ling dari Tiongkok.

Berhasil di Inggris, Rexy dipinang Asosiasi Bulutangkis Malaysia (BAM). Tujuh tahun ia bekerja memajukan bulu tangkis Negeri Jiran. Puncak pencapaian yakni mencetak ganda putra tangguh, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Menjuarai Asian Games Doha 2006 dan All England setahun kemudian, adalah puncak prestasi pasangan yang kini telah bercerai dan salah satu dari antaranya akan berpasangan dengan Hendra Setiawan sejak awal tahun ini.
Koo Kien Keat/Tan Boon Heong/www.freemalaysiatoday.com
BE merayu Rexy untuk kembali lagi ke Inggris pada 2011. Namun tawaran itu ditampik. Ia memilih Filipina, negara yang tidak memiliki tradisi dan sejarah bulu tangkis dunia. “Justru karena bulu tangkis tidak populer di Filipina, saya pilih ke sana. Saya suka tantangan,”tegasnya.

Baru setahun di Filipina, Rexy dipanggil pulang oleh Gita untuk membantunya sebagai Kepala Binpres. Kepulangan Rexy menunjukkan bahwa keberpihakannya kepada bulu tangkis Indonesia berada di atas negara-negara lain. Bisa jadi tawaran dari negara-negara asing lebih menggiurkan. Tetapi Indonesia tetap utama di hatinya. 

“Bukan kali ini saja saya dianggap seperti itu. Kalau saya menerima tawaran melatih di negeri orang, hal itu karena saya tidak diperlukan lagi di negeri sendiri....selain itu meski saya melatih di negara manapun, setiap kali ditanya berasal dari mana saya selalu bangga menjawab dari Indonesia. Jadi, jangan pernah meragukan nasionalisme saya,”jawabnya ketika dipancing tanya tidak nasionalisme karena menerima pinangan Thailand usai tak “dipakai” lagi di Indonesia.

Ya, dalam rentang dua hari setelah tak masuk kabinet Wiranto, telepon genggam Rexy selalu berdering. Selain tanya dan uneg-uneg lainnya, muncul tawaran dari Inggris, Kanada dan Thailand. Mempertimbangan jarak yang lebih dekat ke tanah air, juga kesesuaian konsep kedua pihak, Rexy ahirnya menerima tawaran untuk bekerja sama dengan Thailand. Terhitung mulai 5 Januari 2017 hingga tiga tahun ke depan menjadi Pelatih Kepala di Pelatnas Thailand. 

Bersama bulu tangkis Negeri Gajah Putih yang tengah berkembang, Rexy mendapat “PR” untuk berjaya di Olimpiade empat tahun mendatang dan merebut Piala Uber 2018. Melihat potensi Ratchanok Intanon dan kolega saat ini, tentu target tersebut tidak berlebihan dan bersama Rexy bukan mustahil terwujud.

Rekam jejak Rexy sudah tergerai jelas. Terlepas dari kekurangannya, hilangnya sosok yang sangat tegas dalam prinsip ini tentu menjadi kerugian tersendiri bagi bulu tangkis Indonesia yang tengah berkembang.
Rexy adalah gambaran kecil bagaimana Indonesia mengelola dan mengoptimalkan sumber daya pelatih yang tidak hanya banyak dalam jumlah, juga tinggi dalam kualitas. Tak terhitung berapa banyak pelatih Indonesia kini bekerja di negara lain. Terkini, sosok yang membesarkan Taufik Hidayat, Mulyo Handoyo, mengikuti jejak Atiek Djauhari yang memoles Saina Nehwal di Asosiasi Bulutangkis India. 

Memang stok pelatih berlimpah membuat PBSI kelimpungan mengelolanya, sehingga tak sedikit yang merasa tidak dibutuhkan di tanah air memilih hengkang ke mancanegara. Sistem yang jelas, tegas, transparan dan terukur sekiranya patut diterapkan dalam manajemen kepelatihan di Indonesia agar para pelatih bisa berkompetisi secara sehat untuk Indonesia sehingga tidak ada yang “dibuang” percuma dan merasa tersakiti.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 14 Januari 2017.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...