(pada mulanya adalah KATA...)

Wednesday, November 16, 2016

Peta Kekuatan Ganda Putra Indonesia Setelah Mundurnya Hendra Setiawan

Salah satu momen terbaik Hendra Setiawan (kanan) saat berpasangan dengan Mohammad Ahsan/badmintonindonesia.org

Seperti sudah bisa ditebak, masa depan Hendra Setiawan di dunia bulutangkis tak bakal berlangsung lama. Setidaknya sebagai pemain Pelatnas PBSI dengan tuntutan dan tanggung jawab besar ketimbang sebagai pemain profesional. Mulai 1 Desember nanti pemain 32 tahun itu resmi mundur dari Pelatnas.

Dikutip dari badmintonindonesia.org, pria kalem itu mengaku bahwa sudah saatnya meninggalkan Pelatnas dan mengambil jalannya sendiri. Setelah tidak lagi menjadi bagian dari pemain tim nasional, pria kelahiran 25 Agustus itu masih akan tetap bergaul dengan dunia yang telah membesarkan namanya. Ia berencana menjadi pemain profesional.

“Kemungkinan main profesional, tapi belum tau pasti kedepannya seperti apa. Mungkin nanti dipikirkan setelah Hong Kong Open. Pengennya masih main di superseries dan lainnya,” beber Hendra yang kini berpasangan dengan pemain muda Berry Anggriawan di dua turnamen terakhir yakni di China Open Super Series Premier yang tengah berlangsung dan Hong Kong Open.

Terkait siapa partner berikutnya, Hendra pun belum bisa memastikan. Saat ini ia masih mempertimbangkan berbagai kemungkinan termasuk berpartner dengan pemain dari luar.

“Untuk pasangan berikutnya, saya masih mau lihat dulu. Ada beberapa kandidat pemain yang bisa menjadi partner saya  dan juga ada kemungkinan saya berpartner dengan pemain luar,” lanjutnya.

Mundurnya Hendra dari Pelatnas tentu meninggalkan banyak kesan. Sebagai pemain paling senior dan berpengalaman saat ini, ia telah dianggap sebagai sosok panutan bahkan “guru” oleh para pemain muda. Prestasinya telah mengular panjang. Bahkan menjadi pemain dengan prestasi komplet. Tiga gelar juara dunia, dua kali juara Asian Games, hingga medali emas Olimpiade 2008 saat berpasangan dengan Markis Kido, adalah beberapa dari banyak gelar yang telah disabet termasuk saat bertandem dengan Mohammad Ahsan.

Demikianpun kepribadiannya yang tenang dan layak menjadi panutan. Tak lagi ada nama Hendra di Pelatnas akan memunculkan rasa kehilangan baik bagi bulu tangkis Indonesia maupun para pemain muda. Sebelum bercerai dari Ahsan, keduanya adalah harapan utama di sektor ganda putra dan hingga kini belum ada pengganti sepadan.

Di sisi lain, keputusan Hendra itu tidak lahir secara gegabah. Ia mengaku sudah mempertimbangkan matang-matang dengan mendengar suara dari keluarga, pelatih, termasuk pula mantan tandemnya Ahsan yang dua kali juara All England, Asian Games, dan dua kali Juara Dunia.

Di balik keputusan matang itu, Hendra dengan sendirinya membuka jalan bagi para pemain muda untuk mengambil panggung. Sepertinya sudah waktunya bagi para penerus untuk keluar dari sarang ketergantungan pada Hendra/Ahsan dan berani unjuk gigi.

Pertanyaan kini, sudah siapkah para pemain muda mengambil tanggung jawab dan kepercayaan itu? Menurut hemat saya, dari segi kualitas tentu masih jauh dari kata siap. Tetapi dari segi potensi bukanlah hal mustahil.

Saat ini setidaknya ada dua pasangan muda yang menonjol. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo serta Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Dua pasangan ini memiliki prospek yang baik dan saat ini berada di lingkaran delapan besar dunia.

Hal tersebut diamini oleh pelatih kepala ganda putra Herry Iman Pierngadi. Menurut pelatih kelahiran Pangkal Pinang, 21 Agustus 1962 itu, dua pasangan itulah yang saat ini paling siap untuk meneruskan kejayaan Hendra/Ahsan.

Meski belum sepenuhnya siap, lanjut pelatih yang karib disapa Herry IP itu, kedua pasangan itu mau tidak mau harus siap untuk mengambil peran tersebut. Dalam jangka waktu yang singkat, sebagaimana target Herry di awal tahun depan, kedua pasangan itu harus sudah siap tempur.

“Angga harus meningkatkan kekuatan tangan dan ototnya. Sedangkan Ricky, fisiknya tidak banyak yang perlu ditambahkan, namun ada beberapa pukulan yang harus dimatangkan. Overall, mental dan ketenangan dalam bertanding yang harus ditingkatkan. Namun pencapaian mereka ke semifinal Denmark dan French Open 2016 secara beruntun adalah sebuah kemajuan.”terang Herry.
 Terkait Marcus, Herry memberi penekanan khusus pada kondisi fisik, sementara Kevin tinggal mematangkan peran sebagai pengatur permainan.

“Marcus harus memaksimalkan fisiknya dan recovery pasca cedera. Sebaliknya Kevin punya fisik yang oke, VO2 max Kevin bagus. Namun sebagai playmaker, Kevin harus lebih sabar mengatur irama permainan dan memperbanyak variasi di depan net,”lanjutnya.

Selain dua pasangan itu, masih ada Ahsan yang tak bisa dilupakan begitu saja. Sepeninggal Hendra, Ahsan masih memegang peran penting. Dialah yang akan menggantikan Hendra sebagai penuntun sekaligus penyemangat bagi para pemain muda.

Dengan usia yang masih memungkinkan, bukan tidak mungkin skema yang selama ini dipakai, masih akan berlaku. Yakni seperti yang dilakukan Hendra padanya, Ahsan akan mendorong satu pemain muda lain untuk tampil ke panggung utama. Saat ini Ahsan berpasangan dengan Rian Agung Saputro. Pemain kelahiran 7 September 29 tahun silam bisa menuntun Rian atau pemain lainnya untuk menjadi seperti dirinya dan Hendra.

“Saya meminta bantuan Ahsan untuk ‘mengangkat’ pemain muda. Seperti yang dulu Hendra lakukan kepada Ahsan. Memang selalu seperti ini, di ganda, dua itu jadi satu, berbeda dengan tunggal,”terang Herry IP.

Sambil mengucap terima kasih untuk dedikasi Hendra Setiawan, kita berharap keputusan yang niscaya akan terjadi pada setiap pemain itu, membuka jalan bagi proses regenerasi terutama di sektor ganda putra.

Selama ini ganda putra tak perah kehabisan stok, dan rajin mempersembahkan gelar untuk menjaga wajah bulu tangkis Indonesia. Semoga para pemain muda lainnya tetap mempertahankan tradisi tersebut, atau malah lebih cemerlang.

Rahasia kesuksesan Hendra sebenarnya sederhana. Seperti pesannyaa kepada para pemain muda hanya dibutuhkan komitmen dan kerja keras untuk melengkapi segala kemudahan yang sudah tersedia di Pelatnas sehingga hampir tidak ada yang mustahil terjadi.

“Sebenarnya simple aja. Mereka di sini udah enak, sudah diurusin. Jadi tinggal fokus, latihan yang benar dan disiplin waktu. Saatnya latihan ya latihan, jam istirahat ya harus istirahat,” pesan Hendra.

Terima kasih Hendra!

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana 16/11/2016.



No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Tolak Penyalahgunaan Obat!

Penny K. Lukito, Kepala BP POM RI (dokpri) Area seputaran Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta hampir tak pernah sepi sepanjang hari terma...