(pada mulanya adalah KATA...)

Tuesday, April 12, 2016

Madrid di Tebing Waktu, City dan PSG di Ambang Sejarah

Ilustrasi selebrasi Kevin de Bruyne (dailymail.co.uk)

Dua pertandingan penentu ke babak semi final Liga Champions akan tersaji, Rabu (13/04) dini hari nanti. Empat tim, Real Madrid dan Wolfsburg serta Manchester City dan Paris Saint-Germain (PSG) siap bertarung habis-habisan. Di depan sana, dua tiket empat besar menanti direngkuh. Untuk itu sejarah baru pun siap diukir.

Madrid membutuhkan kemenangan minimal dengan tiga gol kandang di Santiago Bernabeu. Kekalahan dua gol tanpa balas di Jerman pada leg pertama menuntut armada Zinedine Zidane untuk bekerja ekstra keras.

Cristiano Ronaldo dan kolega tak hanya dibebani tiga gol. Mereka pun tengah dibayang-bayangi sejarah buruk di pentas elit ini. Delapan kali secara beruntun sejak 2002 silam Los Blancos dililit rekor buruk. Mereka tak pernah menang setelah kalah di leg pertama. Musim lalu, kekalahan 1-2 di kandang Juventus, menghentikkan langkah mereka ke partai final, sekaligus menggagalkan asa merengkuh gelar Liga Champions ke-11.

Walau harus memikul ‘beban’ sejarah, Los Merengues bukan tanpa peluang. Di dunia sepak bola segala sesuatu bisa terjadi. Termasuk membalikkan keadaan setelah tertinggal cukup telak di pertandingan sebelumnya, seperti pernah mereka lakukan di era 1980-an.

Walau sudah lama terjadi, namun kenangan manis itu tentu masih terus dikenang dan dirawat. Dalam situasi genting dan kritis seperti saat ini, memori indah itu perlu diputar kembali sebagai lecutan untuk menambah semangat dan mempertebal motivasi.

Tentu, di Santiago Bernabeu itu sejarah indah itu masih terukir dengan indah. Selama periode itu, Bernabeu benar-benar menjadi momok bagi para lawan. Salah satu stadion terbesar di benua biru itu pernah menjadi kuburan  bagi Inter Milan dan Borussia Monchengladbach.

Setelah tertinggal 1-5 di kandang Monchengladbach, Madrid mampu memukul balik di leg kedua dengan empat gol tanpa balas. Alhasil Madrid pun lolos ke babak perempat final Piala Eropa (saat ini Liga Champions) musim 1985/1986.

Sebelum wakil Jerman itu, Internazionale lebih dulu merasakan angkernya Bernabeu. Keunggulan 2-0 di Milan sama sekali tak berarti setelah Madrid balik ‘menikam’ dengan tiga gol tanpa balas di Bernabeu.

Namun itu sudah lama terjadi. Ditambah lagi mereka kini tak lagi memiliki sosok Juanito, sang legenda yang dikenal dengan semangat pantang menyerah. Bersamanya di era 1970 hingga 1980-an  Madrid pernah menorehkan catatan gemilang di pentas Eropa: 15 kali membalikkan ketertinggalan setelah kalah di leg pertama.

Walau tak memiliki sosok Juanito, semangat sang legenda setidaknya tetap dipelihara hingga kini. Semangat heroik tersebut akan  membakar Si Putih yang akan tampil dengan kekuatan penuh. Tak ada pemain di daftar cedera dan Karim Benzema dan Raphael Varane pun siap tampil. Ditambah lagi gelora dukungan dari seisi Santiago Bernabeu akan semakin memacu Ronaldo cs untuk mengulangi sejarah indah tiga dekade silam.

Bila tidak, maka sejarah baru akan ditorehkan Wolfsburg. Untuk pertama kalinya, klub yang bermarkas di Volkswagen  Arena ini akan merasakan sensasi dan tantangan semifinal Liga Champions.

Madrid benar-benar di tebing waktu, kembali ke tiga dekade silam atau bertahan dengan sejarah buruk belakangan ini.

Di ambang sejarah

Seperti Wolfsburg, Manchester City dan PSG pun diambang sejarah. Menjamu klub kaya raya Prancis, PSG, The Citizen hanya butuh hasil imbang tanpa gol, hasil seri 1-1 untuk lolos ke empat besar.

Armada Manuel Pellegrini tentu sangat berhasrat untuk menciptakan sejarah baru itu. Hasil imbang 2-2 di Parc des Princes pekan lalu menjadi modal berharga untuk leg kedua ini. Hasil tersebut menjadi cermin bahwa Manchester Biru pun memiliki peluang dan kans tampil di empat besar.
Apakah City hanya perlu bermain aman untuk lolos? Di satu sisi peluang tersebut terbuka lebar. 

Namun di sisi lain, strategi tersebut berpeluang melemahkan semangat dan pada gilirannya akan menjadi bumerang mengingat tim tamu akan tampil gila-gilaan untuk mengejar kemenangan.

"Saya pikir aspek yang paling penting dari tim ini yakni selalu mencetak gol. Kami bekerja di sini selama tiga tahun dan saya selalu memiliki jawaban yang sama. Kami adalah tim yang dipersiapkan untuk mencetak gol. Jika kita mempersiapkan diri untuk bermain 0-0 saya pikir kami kalah,”aku Pellegrini dikutip dari BBC.com.

PSG dipastikan kehilangan dua amunisi, bek David Luiz dan gelandang serang Blaise Matuidi. Ditambah lagi Javier Pastore, Kevin Trapp dan Marco Veratti dalam kondisi meragukan. Situasi ini tentu kurang menguntungkan Les Parisien. Namun Laurent Blanc tetap memiliki segudang senjata untuk bertempur.

Di lini serang bomber Zlatan Ibrahimovic dan Edinson Cavani siap dikerahkan. Plus gelandang cerdik Angel Di Maria. Sumber daya permainan ofensif PSG lebih dari cukup untuk mengobrak-abrik barisan pertahanan tuan rumah.

Absennya Vincent Kompany tentu menjadi pukulan bagi City. Pemain Belgia itu tak hanya menjadi sosok pemimpin dan penyemangat di lapangan. Ia juga pelindung dan tembok kokoh di barisan pertahanan. Bersama Kompany, City hanya kalah tiga kali sepanjang musim ini. Kebobolan di pertandingan kontra Juventus yang berakhir dengan kekalahan 1-2 pada September lalu terjadi tak lama setelah ia diganti. Namun cedera betis yang dialami sejak menghadapi Dynamo Kiev pada bulan Maret lalu, memaksa pemain 30 tahun itu menepi.

Selain Kompany, Manuell Pellegrini juga dibuat pusing dengan kondisi Nicolas Otamendi. Bek internasional Argentina itu sedang dalam proses pemulihan pasca cedera pergelangan kaki yang dialami pada akhir pekan lalu. Ia pun diharapkan fit untuk mengisi celah yang ditinggalkan Kompany. Terlebih bersama Eliaquim Mangala, mereka harus mengawasi pergerakan raksasa PSG, Ibrahimovic.

"Kami selalu berbicara, melihat dan bekerja dengan semua pemain. Mungkin mereka membuat beberapa kesalahan di pertandingan terakhir melawan PSG tapi saya percaya mereka akan bermain di level yang bisa mereka lakukan,"ungkap Pellegrini dikutip dari BBC.com.

Akhirnya, laga ini benar-benar akan menjadi tontonan menarik. Kita akan menjadi saksi sejarah bagi kedua tim. Bila menang City akan menjadi tim Liga Primer Inggris kedua, setelah Chelsea pada 2014, yang sukses ke empat besar, sejak 2012.

Ditambah lagi Pellegrini ingin  meninggalkan kenangan manis di Etihad Stadium. Saat meninggalkan karir manajerial pada akhir musim ini, pria Chile itu ingin dikenang sebagai satu-satunya pelatih yang sukses mempersembahkan gelar Liga Champions bagi Si Biru.

Target yang sama pun diusung Laurent Blanc. Mantan pemain timnas Prancis itu ingin menciptakan sejarah tersendiri baginya dan bagi klub Prancis itu. Setelah tersingkir di babak perempatfinal dalam tiga musim terakhir, ia ingin PSG bisa berbicara banyak kali ini.


"Ini akan menjadi era baru bagi sepak bola Prancis bila kami mampu lolos," tutur Blanc.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 12 April 2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Tahun Terbaik Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon

Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya juara/badmintonindonesia.org Terbaik. Kata ini bisa saja berlebihan karena tidak ada sesuatu yang tak t...