(pada mulanya adalah KATA...)

Thursday, April 28, 2016

Lonceng Kematian Asian Games Terdengar di Jakarta?

Salah satu sisi Stadion GBK/Gambar Kompas.com

Pertanyaan seperti judul di atas terdengar menyakitkan. Memang. Seperti itulah yang kita rasakan bila mendengarnya pertama kali pada 1962 silam. Saat itu, harian Singapura, Strait Times menurunkan tulisan dengan judul serupa (Kompas, 19 April 2016). Namun, bukan dalam nada sanksi, tapi afirmatif. Bukan bertanya, melainkan memastikan. Tanpa tanda tanya di judul.

Memang saat itu, tak hanya Singapura,  negara-negara di kawasan Asia lainnya begitu pesimis saat Indonesia mengajukan diri sebagai tuan rumah Asian Games 1962. Bersaing dengan Pakistan dan Taiwan, Indonesia dianggap terlalu berani.

Bukan tanpa alasan Singapura dan negara-negara anggota Federasi Asian Games (AGF) ragu. Tak hanya ekonomi yang terpuruk, sumber daya pun setali tiga uang. Belum lagi fasilitas dan sarana prasarana yang nihil untuk menggelar multievent tingkat Asia itu.

Namun, keraguan tersebut, justru berubah jadi semangat dan ambisi di mata Soekarno. Seperti kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan dengan gigih, demikianpun untuk menggelar Asian Games itu. Tampaknya sang proklamator tak ingin bangsa-bangsa lain meragukan independensi dan kemampuan Indonesia.

Tak kehabisan akal, dengan kemampuan diplomasinya, Soekarno mendapatkan pinjaman dari Uni Soviet. Dana besar pun digelontorkan untuk membangun kompleks olahraga Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.

Stadion megah dengan daya tampung 100.000 penonton dibangun, plus kolam renang, asrama atlet, dan berbagai sarana olahraga lainnya. Kompleks GBK itu tak hanya mencengangkan para tetangga. Kini, setelah lebih dari setengah abad berlalu, GBK masih menjadi monumen kebanggaan Indonesia.
Ketika Indonesia kembali terpilih menjadi tuan rumah Asian Games untuk kedua kalinya, raut pesimisme bangsa-bangsa lain seperti 52 tahun lalu mungkin tak terlalu terlihat. Kondisi Indonesia saat ini sungguh sangat berbeda dengan masa Soekarno itu.

Indonesia telah menjadi bangsa besar dengan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki. Walaupun tingkat pertumbuhan naik turun, dan saat ini sedang terjepit, potensi menjadi raksasa ekonomi dunia tetap diperam dengan positif.

Bahkan para analis dan pengamat baik domestik mapun mancanegara memprediksi Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia baru pada 2020, bersanding dengan  BRIC (Brasil, Rusia, India dan China).

Sejalan dengan itu majalah kenamaan The Economist, sejak Juli 2010 lalu, telah menempatkan Indonesia sebagai calon kekuatan ekonomi baru pada 2030.

Namun yang dikatan di atas masih bersifat potensi. Sebagai sebuah potensi, bila tak ditindaklanjuti dengan baik dan tepat, akan tinggal potensi belaka.

Dan saat ini kondisi perekonomian Indonesia masih jauh dari yang diprediksi itu. Pembangunan sedang digalakkan dengan menarik para investor asing, sambil menambal defisit anggaran belanja negara dengan berbagai kebijakan dan paket ekonomi.

Dalam situasi seperti ini, posisi Indonesia untuk menjadi tuan rumah Asian Games 2018 pun disangsikan. Tengok saja sejauh mana tingkat persiapan sarana prasarana terutama di Jakarta sebagai tuan rumah utama, di samping Palembang.

Hampir semua arena dan fasilitas olahraga di  Ibu Kota sudah tidak layak untuk menggelar even tingkat Asia itu. Utusan Dewan Olimpiade Asia yang menengok tingkat persiapan Indonesia memberikan koreksi dan menganjurkan pembenahan di sana sini.

Jelas, sebagai tuan rumah, Indonesia terkesan belum siap. Dalam rentang waktu tak kurang dari dua tahun, Jakarta masih belum bergerak secara signifikan. Indonesia masih berkutat pada wacana dan polemik.

Terkini Palembang ngotot untuk menjadi tuan rumah sebagian besar cabang olahraga. Memang dari argumen yang disampaikan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin, Palembang terlihat lebih siap, terutama dengan adanya Jakabaring Sport City (Kompleks Olahraga Jakabaring) dengan aneka sarana olahraga yang telah memenuhi standar internasional.

Walau pembagian cabang-cabang olahraga sudah diputuskan sejak Juni 2015, namun baru Palembang yang sigap bersiap. Sementara Jakarta masih jalan di tempat. Rencana renovasi dan pembangunan sejumlah sarana di Kompleks GBK baru akan dimulai bulan depan. Demikian pula pembangunan wisma atlet dan berbagai sarana lainnya.

Dalam situasi seperti ini, dengan muatan berbeda, pesimisme seperti yang didengungkan 1962 lalu kembali mengemuka. Tanpa perlu mendengar suara-suara dari ‘luar’, kita bisa lihat perkembangan olahraga negara-negara lain yang sudah sedemikian pesat. Tak hanya dari segi fasilitas, prestasi para atlet pun demikian. Alih-alih di tingkat Asia, di level Asia Tenggara (ASEAN) kita sudah kehilangan taji.

Hal terakhir tersebut, semakin membuat pesimisme tersebut mengental dan mengeras. Tentu, Indonesia tidak ingin dikenal sebagai  tuan rumah yang sukses. Sebagai penyelenggara, kita pun ingin agar Merah Putih juga bisa berkibar di antara bangsa-bangsa lain di dalam arena pertandingan. Kita tak ingin hanya menjadi penonton di rumah sendiri, bukan?

Hemat saya, hal tersebut jauh lebih penting dan substantif. Sebagai penyelenggara dampak positif saat dan setelah penyelenggaraan itu lebih bernilai. Prestasi dan keberlanjutannya lebih utama ketimbang prestise sesaat.

Saat peresmian stadion GBK pada 21 Juli 1962, dari atas podium, Soekarno berkata lantang, “Sekarang saya akan bertanya kepada Anda semua: Apakah Anda bangga dengan stadion ini? Apakah Anda bangga stadion semegah ini dimiliki Indonesia?”


Kini tak perlu bergelora seperti itu, cukuplah kita bertanya diri: Adakah yang perlu kita banggakan dari dan setelah menjadi tuan rumah Asian Games 2018?  

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 28 April 2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon Kembali ke Puncak Ranking Dunia

Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya. Gambar: www.badmintonindonesia.org Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon kembali ke ben...