(pada mulanya adalah KATA...)

Friday, April 8, 2016

Antonio Conte untuk Chelsea, Orang Benar di Tempat yang Tepat?

Ilustrasi Dailymail.co.uk

Demikian pertanyaan yang menggema menyusul penunjukkan Antonio Conte sebagai pelatih Chelsea mulai musim depan. Pria 46 tahun itu akan berada di kursi pelatih The Blues hingga tiga musim ke depan, tepatnya setelah menemani timnas Italia di Euro 2016.

Di jagad kepelatihan, nama manajer kelahiran Lecce itu tak perlu diragukan lagi. Kecemerlangannya sebagai pemain menular saat menjadi pelatih di klub yang sama: Juventus. Sebagai pemain Nyonya Tua (1991-2004), Conte sukses merengkuh Scudetto atau juara Serie A lima kali (1995, 1997, 1998, 2002 dan 2003),  Piala UEFA tahun 1993 dan Liga Champions tiga tahun kemudian. Sementara saat duduk sebagai pelatih, eks manajer Arezzo, Bari, Atalanta dan Siena itu berhasil mempersembahkan tiga gelar Serie A secara beruntun sejak 2012.

Saat melatih Juventus ini, tangan dingin Conte benar-benar terlihat. Ia mengambil alih Bianconeri saat klub itu berada dalam situasi goyah, mendekam di tempat ketujuh klasemen liga Italia. Perlahan tapi pasti ia mengangkat mental pemain dan menerapkan strategi jitu hingga mencapai tangga juara di tahun yang sama. Bahkan ia sukses mempertahankan kejayaan itu selama tiga musim secara berturut-turut.

Kerja baik pria kelahiran 31 Juli itu berlanjut saat dipercaya menangani timnas Italia pada 2014. Conte membuktikan diri sebagai orang tepat dalam situasi yang tepat. Keterpurukan mental dan performa Gli Azzurri di Piala Dunia Brasil pada tahun yang sama berhasil dipulihkan.

Dengan kedisiplinan dan indoktrinasi semangat memberi diri secara total, Conte berhasil membangun kembali tim untuk menatap masa depan. Setidaknya, positif menatap turnamen bergengsi berikutnya yakni Euro 2016. Tak tanggung-tanggung di bawah asuhan Conte, Italia seperti mencapai titik balik yang signifikan. Gianluigi Buffon dan kolega tak terkalahkan selama babak kualifikasi sekaligus menjadi salah satu kandidat untuk menjadi juara Eropa.

Untuk prestasi tersebut, kita patut mengangkat topi padanya. Namun karir selanjutnya di tanah Inggris adalah sesuatu yang berbeda. Boleh jadi masih menjadi misteri yang harus dipecahkan.
Conte datang di tengah situasi Si Biru yang sedang meredup. Ditambah lagi Conte adalah orang baru di sepakbola Inggris, walau ia bukan orang Italia pertama mengingat sebelumnya Gianluca Vialli, Claudio Ranieri, Carlo Ancelotti, dan Roberto di Matteo lebih dulu menangani klub London Barat itu.

Terdepaknya pelatih sekaliber Jose Mourinho dan tak dipermanen Guus Hiddink menjadi tanda bahwa sang pemilik Roman Abramovic tak main-main  dengan prestasi. Bahkan sejak mengakuisisi Chelsea pada 2002, sudah ada 10 pelatih top yang datang dan pergi.

Pelatih beken Leicester City saat ini, Claudio Ranieri hanya semusim di Stamford Bridge. Nyaris melangkah ke final Liga Champions bila tak disikat Monaco tak mampu menyelamatkan karirnya. Alhasil ia pun bergi dengan tak meninggalkan satu trofi pun di lemari Chelsea.

Nafsu gelar Abramovic tak juga berkurang. Ia pun kepincut pada Jose Mourinho yang sebelumnya sukses menangani FC Porto dan Real Madrid. Tangan dingin Mourinho berlanjut saat didaratkan di Inggris pada 2004. Ia sukses mempersembahkan dua gelar Liga Inggris, Piala FA, dua gelar Piala Liga selama tiga tahun masa kepelatihannya. Namun kegagalan mencapai final Liga Champions tetap meninggalkan ‘noda’ di mata Abramovic. The Special One pun angkat kaki.

Bila Mourinho saja harus terdepak, maka bukan hal aneh jika para penerusnya yakni Avram Grant, Luis Felipe Scolari dan Andre Villas-Boas yang nir gelar bernasib sama.

Demikianpun dengan Guus Hiddink yang hanya mempersembahkan satu gelar (Piala FA musim 2008/2009), dan Carlo Ancelotti dengan gelar Liga Inggris dan Piala FA (musim 2009/2010).
Mimpi Abramovic untuk menjadi juara Eropa sempat terwujud di masa kepelatihan Roberto Di Matteo. Ditunjuk sebagai pelatih interim menyusul pemecatan Villas-Boas, pria kelahiran Swiss itu berhasil mengawinkan gelar Liga Champions dan Piala FA di musim pertamanya. Namun kegagalan mempertahankan konsistensi Chelsea membuatnya hanya enam bulan menangani John Terry dan kolega.

Dua pelatih berikutnya, Rafa Benitez dan Mourinho berhasil mendulang gelar. Sayang Benitez tak berumur panjang di sana. Sebagai pelatih interim di sisa musim 2012/2013, mantan pelatih Liverpool itu hanya mampu mempersembahkan gelar Liga Europa dan membawa timnya finish di tempat keempat Liga Primer Inggris, sebelum akhirnya angkat kaki juga.

Kembai dipercaya sebagai pelatih, Mourinho hanya dua musim melatih. Setelah merengkuh gelar Liga Primer Inggris dan Piala Liga (musim 2014/2015), performa timnya terus menukik tajam. Bulan Desember tahun lalu, karirnya berakhir secara menyakitkan. Ia dipecat dan meninggalkan timnya di ambang zona degradasi.

Sebagai manajer sementara Hiddink belum juga menunjukkan kesuksesan. Rupanya peninggalan keterpurukan Mourinho masih terlalu berat bagi mantan pelatih timnas Belanda itu. The Blues hampir pasti tanpa gelar musim ini dan tengah berjuang bangkit di pentas domestik. Abramovic pun tak ambil pusing, langsung menunjuk Conte sebagai suksesor sejak musim depan.

Tanda tanya besar pun menyeruak, apakah Conte akan bernasib sama seperti para pendahulunya? Tentu, dalam sebuah klub sepakbola, sebagaimana telah terbukti selama ini, hal seperti itu bukan tak mustahil terjadi. Namun, tak sedikit pelatih yang selalu berada di jalur positif seperti yang ia torehkan di Juventus dan timnas Italia.

Conte masih memiliki waktu berpikir dan merenungkan misi bersama The Blues. Sebelum mulai menduduki ‘kursi panas’ di musim panas mendatang.

Berbagai perubahan sudah pasti terjadi. Ia dikenal sebagai sosok yang fleksibel dengan permainan modern. Bahkan ia digadang-gadang akan melakukan sejumlah ekperimen, termasuk merubah pakem tim yang telah bertahan selama lima tahun terakhir. Di antaranya dengan memainkan tiga pemain di lini belakang.

Relasinya yang baik dengan sejumlah pemain bintang akan memuluskan langkahnya untuk membangun tim impian. Dengan uang berlimpah sang pemilik, bukan tidak mungkin, Conte akan mendatangkan Paul Pogba dari Juventus, gelandang Bayern Muenchen Arturo Vidal, pemain AS Roma Radja Nainggolan, striker yang sedang gelisah bersama Paris Saint-Germain Edinson Cavani serta bintang Napoli Gonzalo Higuain seperti yang diidamkannya.

Termasuk menarik kembali Romelu Lukaku dari Everton dan pemain pinjaman Roma dari Stutgart Antonio Rudigier untuk mengisi lini belakang. Tak terkecuali memulangkan pemain yang disebut-sebut menjadi biang hengkangnya Conte dari Juventus yakni Juan Cuadrado.

Selain modal sumber daya pemain, kerja keras, disiplin dan komitmen seperti yang dihidupi selama ini amat diperlukan. Sudah pasti semangat yang sama akan  merasuki tim. Dan mengganggu kemapanan para pemain bengal seperti Diego Costa.


Akhirnya, kita menanti kiprah Conte selepas putaran final Piala Eropa. Dengan bantuan lima orang saudaranya Gianluca, Angelo Alessio, Massimo Carrera, Paolo Bertelli dan Mauro Sandreani diharapkan Conte bisa cepat beradaptasi, selanjutnya mampu menjawab pertanyaan apakah ia orang benar di kursi pelatih Si Biru. 

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 8 April 2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Menanti The Minions Sempurnakan Predikat Pemain Terbaik 2017

Marcus dan Kevin menyabet penghargaan Pemain Putra Terbaik 2017/badmintonindonesia.org Patut diakui kebanggaan bulu tangkis Indonesia m...