Messi, Murtaza dan Afganistan


Namanya Murtaza Ahmadi. Usia baru menginjak lima tahun. Tak seperti anak-anak kebanyakan yang hidup tentram dengan serba kelimpahan, bocah ini meniti hari dalam kubangan kemiskinan di tengah himpitan perang berkepanjangan.  Nun di pelosok Ghazni, dekat Kabul, ibu kota Afghanistan, Murtaza berada. 

Murtaza secepat kilat menjadi viral setelah deretan foto yang menggugah beredar di jagat maya. Perkembangan teknologi komunikasi yang menggila, membuat Murtaza segera mencapai ketenaran yang tak disangka-sangka sebelumnya. Bagaimana bisa, bocah dekil dari sebuah daerah terpencil dengan segala keterbatasan, mampu menggapai popularitas yang melampui anak-anak kebanyakan, termasuk menggusur anak-anak seumuran yang kini sedang asyik masuk dengan smartphone terbaru dan tercanggih sekalipun. 

Murtaza tak punya apa-apa. Ia tak bisa mengandalkan potongan tubuh dekilnya. Pun kemiskinannya sekalipun. Tak terhitung berapa banyak anak di dunia yang bernasib sama sepertinya, bahkan jauh lebih miris. Kemiskinan dan kemelaratan sudah hampir lumrah. Jamak, bertebaran di mana-mana, dengan daya menggugat yang kian melemah, dan sama sekali tak ‘seksi’ dan ‘laris’ untuk dijual. 

Bukan pada negara, bukan pada para pemimpin, Murtaza hanya punya rasa pada seorang bintang sepakbola yang hidup jauh beribu-ribu kilometer dari tempat diamnya. Pada sosok yang disaksikan hanya sepintas lalu namun aksinya begitu membekas, bernama Lionel Messi. 

Cinta pada pandangan pertama serba terbatas itu menggugah Murtaza untuk berbuat lebih sebagai ekspres puja-puji pada sosok yang ketenaran, kekayaan, kemampuan dan nama besarnya jauh melebihi apa yang bisa ditangkap anak lima tahun. 

Bisa dipastikan, dalam pikirannya, Murtaza tak khatam berapa banyak gol yang sudah Messi cetak, berapa banyak rekor yang sudah dipecahkan, berapa besar pemasukan yang terkumpul, yang gampang saja berubah-ubah dalam hitungan bulan bahkan minggu. Jangankan Murtaza, kita yang memiliki serbaneka akses pun sampai tak percaya melihat rekor demi rekor yang Messi ukir, belum lagi pemasukan yang mengalir terus ke kantung pribadinya seperti rombongan semut yang tiba-tiba saja datang mengerubungi ‘gula’ istimewa yang dijuluki Sang Messih itu. 


Yang Murtaza tahu hanya Messi. Ya, Messi. Bukan Messi yang pemain Barcelona itu, tetapi Messi yang merupakan pemilik nomor 10 di timnas Argentina. Dengan bantuan sang kakak Homayoun, bermodalkan kantong kresek berpola garis-garis putih dan biru yang dibuang tetangga plus sebatang spidol biru, Murtaza menunjukkan bahwa dalam serba keterbatasannya ia adalah pemuja Messi.

Ayah Murtaza, hanyalah seorang petani miskin, tak sanggup membelikan jersey replika buat sang anak. Lagi pula bagi Murtaza tampaknya jauh lebih berharga membeli sesuatu yang perlu untuk menyambung hidup ketimbang membeli replika yang entah di mana mendapatkannya. 

Belum lagi dengan replika itu Murtaza tak bisa berbuat apa-apa. Lapangan sepakbola  di Afganistan sebagian besar sudah menjadi arena eksekusi, dan ladang mutilasi. Di bawah rezim Taliban olahraga itu tabu, sekalipun sepak bola dan kriket sudah mendarah daging. 

Ada rasa puas setelah memiliki jersey alakadar. Dengan bangga jari kanannya menunjuk nomor punggung sang pujaan, meski yang dikenakannya tak lebih dari kantong kresek bekas yang kedua ujungnya diikat agar menyatu seperti baju. 

Di tangan Azim Ahmadi, orang Afghanistan yang tinggal di Australia, Murtaza akhirnya mendapatkan lebih dari yang diinginkan, menggapai apa yang sebelumnya tak terpikirkan. Ahmadi menyebarkan ‘Messi kantong kresek’ itu dan secepat kilat menjadi buah bibir. 

Sejak pertengahan Januari, dengan rasa haru, orang bertanya-tanya sambil mencari tahu identitas bocah lima tahun itu. Lagi-lagi kekuatan teknologi, mempertemukan kita dengan ‘Messi kantong kresek’ itu dan ‘Messi kantong kresek’ dengan Messi, sang idola. 

Seperti Martunis yang menggugah hati Cristiano Ronaldo, demkianpun Murtaza bagi Messi. Jorge Messi langsung bereaksi tak lama setelah mengetahu sang anak memiliki penggemar lima tahun yang hidup nun jauh di negeri konflik. 

Federasi Sepakbola Afganistan (AFF) pun mendapat kabar Messi sangat ingin bertemu Murtaza sesegera mungkin, meskipun tanggal atau tempat masih dipikirkan.

 “Messi telah berkomunikasi dengan federasi untuk mengatur pertemuan dengan anak muda, "kata juru bicara AFF Sayed Ali Kazemi.

"Kami sedang bekerja untuk melihat apakah Messi akan datang ke Afghanistan atau anak lima tahun akan melakukan perjalanan ke Spanyol atau mereka akan bertemu di negara ketiga,"lanjutnya. 


Bertemu di Afghanistan tentu mustahil. Ke negara aman dan tentram saja Messi harus berpikir berkali-kali, apalagi ke tempat yang karib dengan asap mesiu dan letupan senjata. Messi tentu tak mau jadi incaran pemberontak Taliban, meskipun siapa tahu ada dari antara mereka yang mengidolainya.

Namun satu yang pasti, kedutaan Spanyol di Kabul dan pihak Messi telah membulatkan tekat untuk menyatukan keduanya, memberi jalan Murtaza bertemu sang idola, memungkinkan Murtaza mendapatkan sesuatu yang lebih dari kantong kresek yang terbuang. Dan bukan tidak mungkin memberi jalan bagi Murtaza untuk berkenalan lebih jauh dengan bola, sesuatu yang sudah memasyurkan namanya. 

Sumber gambar dan tulisan:
Dailymail.co.uk

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 4 Februari 2016 dengan judul mengalami sedikit perubahan.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/charlesemanueldm/messi-murtaza-dan-idola-yang-menggugat_56b30f3fb893734e09e1a1fb

Comments

Popular posts from this blog

Menjaga Rantai Juara Indonesia di Singapura Open SS 2016

Menulis Terus Sampai Jauh...

Millennial Marzukiana, Strategi “Proxy War” Ananda Sukarlan untuk Bang Maing