(pada mulanya adalah KATA...)

Wednesday, February 24, 2016

Ia Datang, Ia Melihat, Ia Merusak Segalanya (Tentang Messi, Flamini dan Cech)

Sumber gambar: Daily Mail.co.uk

Anda mengenal kalimat masyur berikut: veni, vidi, vici? Kalimat Latin itu pertama kali terucap dengan mantap dari mulut jenderal dan konsul Romawi, Julius Caesar, melaporkan kepada senat atas kemenangannya dalam perang saudara menghadapi Pharnaces II dari Pontus di kota Zela (sekarang Zile, wilayah bagian Turki). Dengan keangkuhan dan kepercayaan diri berlebihan, sosok yang kemudian menjadi doktator itu, ingin mengatakan bahwa pertempuran itu bukan pekerjaan berat baginya. 

Kini kata-kata itu telah menjadi sejarah dan melegenda. Ia kerap dipakai dalam berbagai kesempatan dan untuk aneka kebutuhan dengan bertitik tekan pada keyakinan diri, dengan nuansa superioritas dan kesombongan diri yang tak bisa dihapus. Veni, vidi vici.  Saya datang, saya melihat dan saya menang (menaklukkan). 

Namun bagaimana bila kedatangan (baca: kehadiran) seseorang justru merusak segala rencana? Bisa saja terjadi. Entahlah apa ungkapan yang tepat untuk hal itu, namun potret tersebut nyata dalam pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara tuan rumah Arsenal versus Barcelona, Rabu (24/02/16) dini hari WIB. 

Baru merumput 47 detik Mathieu Flamini membuat tuan rumah kian terpuruk. Maksud hati menggagalkan peluang Lionel Messi menambah gol, gelandang kelahiran Marseille itu malah melanggar pemain terbaik dunia itu di are terlarang. Wasit pun menunjuk titik putih. Messi sukses menambah gol. 

Masuk di menit ke-82 menggantikan Francis Coquelin, pemain 31 tahun itu langsung membuat pelanggaran tak lama berselang. Tak heran setelah laga, Flamini jadi buah bibir. Tak sedikit menjadikannya bahan olok-olokkan. 

Salah satu sindiran mencuat dari @SoccerMemes. Dengan gambar Flamini yang dideformasi, akun twitter itu menulis demikian: ‘He came. He Saw. He Destroyed everything. Mathieu Flamini”. Bila di-Indonesia-kan kurang lebih begini:  Ia datang, ia melihat, Ia merusak segalanya. 

Sindiran itu tampaknya tak berlebihan. Masuknya Flamini malah membuat Meriam London kian tertimpa tangga kemalangan. Alih-alih dengan suntikan tenaga segar membantu mengejar hasil imbang misalnya, Flamini malah membuat pendukungnya tak bisa berkata-kata, melihat tim kesayangannya kian tertekan dan dengan tatapan nanar melepaspergikan harapan kemenangan yang telah digantung. 

Menghadapi tim sekelas Barcelona, yang tampil begitu digdaya sepanjang laga, dengan penguasaan bola mencapai 66 persen, mengejar ketertinggalan dua gol dengan sisa waktu tak lebih dari sepuluh menit bukan perkara mudah. Boleh jadi menjadi misi mustahil, meski dalam sejarah sepak bola, di ajang sekelas Liga Champions, tiga gol pernah tercipat dalam rentang waktu tak kurang dari 15 menit yakni saat Liverpool menguburkan impian juara AC Milan pada 25 Mei 2005. Namun Arsenal belum punya sejarah tentang hal itu di Liga Champions, walau di level domestik pernah menjaringkan tiga gol ke gawang Manchester United dalam waktu 15 menit pada 4 Oktober 2015. Dan mental armada Meriam London di laga tadi, hemat saya, belum mampu untuk itu. 

Tak hanya Flamini yang jadi sasaran kritik. Nama Peter Cech pun ramai diberitakan. Catatan superior mantan pemain Chelsea itu ketika berhadapan dengan Messi luluh lantah. Sempat digdaya hingga separuh laga, membuat Luis Suarez dan Neymar Jr pun mati kutu, berubah seketika di menit ke-71. 
Sumber gambar: Daily Mail.co.uk

Berawal dari umpan kepala Pique kepada Iniesta, dilanjutkan dengan passing kepada Neymar, lantas memberi bola pada Suarez, dan kembali lagi ke Neymar. Masuk ke kotak penalti, Neymar memberi umpan manis melewati dua pemain belakang Arsenal. Sempat menahan bola, Messi pun melepaskan tendangan keras yang merobek gawang Cech. Proses itu terjadi begitu cepat, tak kurang dari 14 detik. 

Dalam waktu 20 menit, Messi dua kali memaksa kiper jangkung itu memungut bola dari dalam gawangnya. Rekor negatif Messi atas Cech berakhir. Bagi Cech, kehadiran Messi benar-benar merusak segalanya. 

Dampak kekalahan itu pun menjadi panjang. Tim Gudang Peluru harus bekerja ekstra keras di leg kedua yang akan dihelat di markas sang juara bertahan bulan depan. Bila tidak, maka catatan buruk di lima musim terakhir akan berlanjut. Artinya, dalam enam musim terakhir prestasi terbaik Arsenal hanya sampai di babak 16 besar. 

Barcelona, ​​AC Milan, Bayern Muenchen dan Monaco berturut-turut mengakhiri perjalanan The Gunners ke babak delapan besar. Menariknya, pola kekalahan Arsenal hampir sama di lima musim terakhir. Entah mengapa, tim London Utara itu selalu kalah di delapan besar dengan dua gol atau lebih. Mereka kalah 1-3 dari Barcelona di laga tandang (2010/2011), kalah 0-4 dari Milan di laga tandang (2011/2012),  kalah 1-3 dari Muenchen di laga kandang (2012/2013), kalah 0-2 di laga kandang dari Muenchen (2013/2014) dan kalah 1-3 dari AS Monaco di leg pertama (2014/2015). Kini, 0-2 atas Barcelona. 

Bila musim ini Arsenal belum bisa move one ke babak perempat final, maka kutukan babak 16 besar benar-benar melekat padanya. Lantas siapa yang harus disalahkan dari pertandingan kali ini? Fans Arsenal menilai Flamini salah satunya. Bagi Flamini dan Cech, mungkin Messi-lah penyebabnya. La Pulga atau Si Kutu itu membuat tidur malam Arsenal tak nyenyak. Messi datang, Messi melihat, Messi merusak segala mimpi indah The Gunners.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 24/02/2016

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/charlesemanueldm/ia-datang-ia-melihat-ia-merusak-segalanya-tentang-messi-flamini-dan-cech_56cda299d39273ae2c796e9e

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon Kembali ke Puncak Ranking Dunia

Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya. Gambar: www.badmintonindonesia.org Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon kembali ke ben...