(pada mulanya adalah KATA...)

Saturday, April 8, 2017

Krisis Mengemuka, Bersama Aqua Peduli Air Limbah Rumah Tangga



Tema Hari Air Sedunia 2017/gambar dari slide presentasi


Thousand have lived without love, not one without water
(Wystan Hugh Auden)
***

Dulu, belasan tahun lalu, saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), di antara kawan sekelas kami suka melempar guyonan berdasarkan adat dan kebiasaan masing-masing orang. Guyonan tersebut semata-mata untuk mewarnai persahabatan khas remaja yang sedang menjemput akil balik. Tidak ada tujuan lain, apalagi dengan tahu dan mau menyentuh sentimen primordial. Bagi kami itu kosa kata yang belum sempurna dicerna apalagi diterjemahkan. Tentu beda dengan situasi saat ini. 

Sebagai seorang yang berasal dari daerah pegunungan dengan logat berbicara yang kasar beberapa patah kata yang saya ucapkan menjadi sasaran empuk olok-olokan teman teman dari daerah lain yang merasa tutur kata mereka lebih lembut dan halus di telinga. Bila Anda pernah singgah di atau berkenalan dengan orang Bajawa, sebutan pars pro toto untuk penduduk dari kabupaten Ngada (meski sesungguhnya hanya menyentuh orang-orang di ibu kota kabupaten yakni Bajawa), Flores, NTT, Anda akan merasa bahwa pengucapan dengan nada yang tegas, bervolume keras, dan kata-kata yang keluar terdengar “serak.”.  Boleh dikata tutur orang Bajawa adalah versi kasar dari intonasi orang-orang Prancis. 

Sebaliknya  kami memiliki senjata untuk menyerang balik teman-teman yang berasal dari daerah pinggir pantai.  Kami merasa perilaku sejumlah orang yang kerap membuang hajat di pinggir pantai sebagai hal yang lucu. Ikhwal tingkah tersebut teman-teman yang mendiami daerah pinggir pantai menjadi sasaran olok-olokan. Ketika ada pembicaraan yang menyinggung tentang pantai maka kami akan menyerempet pada perilaku tersebut. Bahkan sampai muncul sebutan khusus bernada canda untuk salah satu pantai yakni “e’e beach” (bisa dimodifikasi menjadi “pup beach”).

Ternyata apa yang kami anggap sebagai lelucon belasan tahun lalu adalah persoalan serius bagi sanitasi hari ini. Kebiasaan tersebut adalah salah satu bentuk praktik, tidak hanya menyalahi etiket dan estetika (Anda bisa bayangan bagaimana aksi mereka di pantai), juga lebih dari itu mengganggu dan mengancam kesehatan masyarakat. 

Beberapa tahun setelah menamatkan strata satu  di Flores, saya hijrah ke Jakarta. Merantau tepatnya. Pertama kali tiba di ibu kota saya mengalami syok. Tidak hanya terguncang dengan keramaian dan pemandangan gedung-gedung yang mencakar langit, juga bagaimana situasi di sudut-sudut dan di sela-sela aneka kemajuan itu. 

Rumah berdempetan dengan ukuran tidak seberapa dan harus dibagi untuk sekian banyak anggota keluarga. Lokasinya pun terbilang ekstrem. Dengan segala kreativitas, bibir sungai, pinggiran rel, dan kolong jembatan disulap jadi tempat hunian. Dalam hati saya bertanya: bagaimana mereka menjaga privasi? Bagaimana mereka menjamin keamanan dan kesehatan? 

Dalam bahasa sarkastik mewujud tanya demikian. Ke mana mereka buang hajat? Ke mana mereka membuang sampah dan limbah? Dari mana mereka mendapat air bersih untuk minum? Di mana tempat mereka menanak dan mencuci pakaian? Strategi apa yang dipakai suami dan istri untuk melampiaskan hasrat dan cinta?  

Segala tanya yang kemudian berterima sebagai kenyataan itu mendapatkan jawaban ilmiah saat saya mengikuti #BincangAir yang diselenggarakan oleh Aqua Group, Sabtu, 18 Maret 2017 lalu di Cyber 2 Tower, Jakarta Pusat. Kehadiran Gunawan Wibisono, ahli hidrogeologi dan Karyanto Wibowo selaku Sustainable Development Director Aqua menyingkap banyak fakta yang menyentak kesadaran saya tentang kondisi air umumnya serta air limbah (wastewater) khususnya.

Kondisi riil yang sedang mengemuka, dan sepertinya kurang disadari, bahwa krisis air sedang terjadi. Menurut Water.org, satu dari 10 orang di dunia tidak memiliki akses air bersih.
Gunawan Wibisono sedang membawakan materi/gambar dari @aqua_lestari
Ironisnya, di tengah pasokan air bersih yang terus menipis, kuantitas air limbah yang terbuang pun semakin meningkat. UN Water melaporkan, 80 persen limbah air di dunia langsung terbuang ke alam tanpa dikelola. Padahal air limbah itu bila dikelola dengan baik akan menjadi sumber air, nutrisi dan energi.

Belum termanfaatkannya air limbah itu berpelukan dengan persoalan turunannya. Menurut Gunawan, buruknya sanitasi dan perilaku kebersihan menurunkan banyak persoalan. Ia tak ubahnya lingkaran setan yang saling bertalian, mulai dari kematian bayi dan ibu hamil, kesehatan hingga prestasi pendidikan, olahraga dan kinerja sumber daya manusia. 

Tercatat 88 persen kematian anak akibat diare di seluruh dunia. Di Indonesia, menurut laporan Riskesdas 2007, diare menyebabkan 31 persen kematian anak usia antara 1 bulan-1 tahun dan 25 persen kematian anak usia 1-4 tahun. 

Tingginya angka kematian akibat diare itu disebkan karena konsumsi air sumur terbuka (lebih tinggi  34 persen dari yang menggunakan air ledeng). Di samping itu, angka diare lebih tinggi 66 persen dari anak-anak yang keluarganya buang air besar di sungai dan selokan (dibanding yang menggunakan septic tank). Terjadinya diare dan berbagai penyakit lainnya bukan hal aneh karena dalam satu gram tinja mengandung 107 virus,  106 bakteri, 103 cysta parasit dan 102 telur cacing. 

Gunawan membuat peserta terpana dengan sejumlah ilustrasi. Ia menampilkan beberapa gambar berbeda. Gambar mobil tinja sedang membongkar muatan di selokan. Berlanjut seorang ibu sedang mencuci beras di sungai. Gambar berikutnya warung lesehan yang berdiri persis di pinggir sungai.

Coba kita bayangkan bila gambar-gambar tersebut membentuk satu cerita mulai dari mobil tinja hingga warung makan.  Berapa banyak orang telah menikmati makanan yang dicuci dengan air limbah manusia? Apakah para pelaku dan penikmat kuliner pinggir sungai tahu akan kemungkinan seperti ini?
Contoh rantai sanitasi buruk yang sedang terjadi/slide pesentasi Gunawan Wibisono

Ilustrasi lain tak kalah mengagetkan.  Beberapa orang sedang membuang hajat di sungai. Sementara pada sisi lainnya orang-orang ramai-ramain memanfaatkan air sungai untuk berbagai kebutuhan mulai dari mandi, cuci hingga keperluan air bersih.

Contoh-contoh ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, daerah-daerah pedalaman yang tidak memiliki fasilitas pembungan memadai juga rentan mengalami hal serupa. Kisah lain lebih menohok suasana perkotaan yang padat penduduk. Pipa yang mengalirkan air ke fiber penampung ternyata berasal dari sumur yang berdekatan dengan tengki septik tetangga.  
Contoh buruk sanitasi/slide presentasi Gunawan Wibisono
Tidak seimbang

Masih banyak contoh untuk menggambarkan betapa buruknya sanitasi kita.  Jumlah penduduk yang terus bertambah, sementara jumlah air di bumi tetap, akan terus mengancam dengan beragam persoalan membuat lingkaran setan itu semakin rumit.

Saat ini populasi penduduk Indonesia sudah menginjak angka 255 juta jiwa. Pola persebarannya tidak merata dengan Jakarta menjadi hunian terpadat. Ketidakseimbangan antara tingkat kebutuhan dan pasokan air bersih jelas mengemuka. Pulau Jawa dengan luas hanya 6,8 persen dari daratan Indonesia dihuni oleh 55 persen penduduk Indonesia. Sementara cadangan air hanya 4,4 persen dari cadangan air nasional (Gatra, 29 Maret 2017).

Di Jakarta ketidakseimbangan itu jelas sangat terasa. Sebagai salah satu kota terpadat di Asia, dengan luas 662 km2 menampung 12,5 juta jiwa, tiap penduduk di ibu kota rata-rata membutuhkan hingga 240 liter per kapita per hari.

Namun tingginya angka kebutuhan itu tidak dibarengi dengan pengelolaan air limbah yang baik. Firdaus Ali, pakar pengkajian masalah air menemukan fakta bahwa 90 persen dari jumlah tersebut menjadi air bekas atau air limbah  yang terdiri dari 75 persen limbah domestik, 15 persen limbah komersial seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan dan 10 persen limbah industri. 

Sayang dari jumlah tersebut hanya 3 persen yang diolah kembali. Selebihnya? Terbuang ke laut dan menimbulkan pencemaran lingkungan. Tak heran kita mendapatkan potret Jakarta yang kumuh tidak hanya di sejumlah titik pemukiman, juga sampai ke perairan pantai Jakarta. Air yang keruh dengan persoalan kematian ikan dan biota laut adalah dampak tak terbantahkan.

Jakarta  adalah ibu kota negara, etalase Indonesia. Jakarta bisa menggambarkan Indonesia secara keseluruhan.  Bisa dibayangkan bagaimana nasib pengelolaan air di daerah-daerah apabalia persoalan di episentrum kekuasaan belum tertangani. Tak heran bila persoalan ini dalam banyak wujud menyata di mana-mana. Kelangkaan air, buruknya sanitasi, hingga terbuangnya air secara cuma-cuma adalah bagian dari ruang kehidupan masyarakat Indonesia. 

“Air limbah bukan hanya mengacu pada air sisa buangan. Penting juga memahaminya dalam konteks air yang ada tetapi tidak dimanfaatkan sebaik mungkin,”ungkap Karyanto.

Karyanto Wibowo, Sustainable Development Director Aqua sedang mebawakan materi/gambar dari @tuty_atut
Inisiatif Aqua

Berbicara tentang air dan air limbah penting menyebut Aqua. Sebagai produsen air mineral dalam kemasan terbesar di Indonesia, Aqua juga menaruh perhatian besar terhadap ekosistem air di Indonesia. 

“Sesuai dengan amanat founding father Aqua (Tirto Utomo) tidak hanya pikir bisnis saja,” tegas Karyanto.
Komitmen tersebut sesuai dengan visi Aqua yakni berkontribusi untuk Indonesia yang sehat. Perwujudan terhadap visi tersebut terejawantah di antaranya dalam semangat “Aqua Lestari” yang mencakup empat pilar. 

Pertama, pelestarian air dan lingkungan. Aqua mengedepankan manajemen sumber daya air (SDA) dengan konsep terpadu dari hulu, tengah hingga hilir. Basis operasional, bisnis hinga sosial-lingkungan benar-benar diperhatikan keseimbangannya. 

Misi tersebut dijabarkan dalam sejumlah praksis antara lain penelitian terkait SDA, penanaman pohon, pembuatan sumur resapan, biopori, hingga pendidikan lingkungan hidup bernama sekolah "sahabat mata air" bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan.

Gambar dari @aqua_lestari

Kedua, praktik ramah lingkungan. Untuk memangkas pencemaran lingungan Aqua berusaha meninggalkan jeja karbon sedikit mungkin. Moda transportasi berbahan bakar fosul dikurangi, dan diganti dengan energi listrik yang ramah lingkungan. Di samping itu menggunakan “green energy” dan minyak goreng jelantah sebagai bahan bakar.

Ketiga, pengelolaan distribusi produk di antaranya dengan pengurangan penggunaan truk yang berpotensi menambah kemacetan di jalan raya. Kereta api menjadi moda transportasi alternatif demi menjaga rantai distribusi tetap terjaga.

Keempat, pelibatan dan pemberdayaan masyarakat. Sesuai visinya Aqua juga memberikan perhatian pada pemberdayaan ekonomi masyarakat dan mengajak mereka turut serta terlibat dalam memelihara ekosistem lingkungan. Berbagai bentuk sumbangan usaha hingga aksi pertanian seperti pertanian organik, akses air bersih, penanaman pohon, pembuatan pupuk organik, ditempuh. 

Keempat pilar itu sejalan dengan itikad Aqua untuk membangun siklus air yang sehat yang berjalan secara harmonis dengan ekosistem lokal dan komunitas-komunitas masyarakat.  Harmonisasi itu ditempuh dengan cara menjaga kuantitas dan kualitas air di Daerah Aliran Sungai (DAS), efisiensi air untuk pertanian, akses air minum kepada masyarakat, pemakaian air secara efektif serta pengolahan air limbah.

Aqua menjalankan semua visi dan misi tersebut di 20 pabrik yang ada saat ini.  Sedang dikembangkan secara intensif dengan menggunakan teknolgi tinggi di salah satu pabrik di Klaten, Jawa Tengaah untuk menjaga siklus air secara efektif.  

Penggunaan teknologi pemantai curah hujan hingga rain harvesting (panen air hujan) untuk mengurangi pengambilan air dari mata air dan memanfaatkan setiap tetes yang tercurah dari langit. Semua itu semata-mata bertujuan untuk memastikan air terpakai secara efisien dan limbah dialirkan ke ekosistem dengan bersih. 
Salah satu proyek rain harvesting yang dilakukan Aqua/slide presentasi Karyanto Wibowo
Aqua juga memberikan pendidikan dan ikut terlibat bersama masyarakat untuk menjaga sanitasi di antaranya dengan membuat septic tank komunal seperti yang dilakukan di Bumirejo, pengolahan air sungai yang dicontohkan bersama Gunawan di Sungai Rejoso, hingga program bank sampah.
Gambar dari video presentasi Karyanto Wibowo tentang penerima manfaat septic tanc komunal di Desa Bumirejo

Seperti dikatakan Karyanto, Aqua sendiri berjuang untuk mewujudkan target pemerintah Indonesia untuk mencapai ketersediaan akses air bersih dan sanitasi 100 persen pada 2019. Selain itu ikut mendukung pemenuhan poin 6 sustainable development goals (SDGs) 2030 yakni menjamin ketersediaan dan pengelolaan berkelanjutan air dan sanitasi bagi semua. 

Saat ini penggunaan air di Aqua adaah 1:1,19. Artinya untuk menghasilkan 1 liter air minum diperlukan 1,19 liter air untuk produksi. Ke depan Aqua berjuang agar penggunaan air untuk produksi benar-benar efektif. “Maunya sih tidak ada setetes pun air yang keluar percuma,” tandas Karyanto. 

Solusi air limbah rumah tangga

Tahun ini Hari Air Sedunia (World Water Day) yang jatuh saban 22 Maret, bertema “Why Waste Water?”  Kenyataan di atas membuat kita paham dan sepakat dengan tajuk itu. Meski begitu  sampai di sini persoalan air limbah belum selesai dengan sendiriny. Masih ada pertanyaan yang mengganjal. Itu terkait solusi mengatasi persoalan limbah rumah tangga.

Mengapa hal ini penting disorot? Hemat saya, rumah tangga adalah locus yang paling terdampak, dan salah satu penyumbang limbah terbesar. Sehingga rumah tangga menjadi titik berangkat ideal untuk mengatasi persoalan air limbah. Selain menempuh cara-cara konvensional seperti sudah dilakukan Aqua, terus menambahkan alternatif dan opsi semakin penting mengingat persoalan serius air limbah yang harus ditangani melalui usaha-usaha terpadu, sinergis dan intensif. Tidak bisa mengharapkan perubahan bila itu dilakukan secara sporadis dan fragmentaris. Sebagaimana siklus air yang berputar dalam satu ekosistem yang luas, maka persoalan air limbah harus didekati secara menyeluruh, dimulai dari titik terkecil yakni individu-individu di setiap keluarga.

Solusi yang sedang digalakan Gunawan dan sejumlah pihak melalui metode Constructed Wetland patut digalakan. Alasannya, metode WWTP yang umumnya dikenal membutuhkan biaya mahal. Sementara metode Wetlend membutuhkan biaya murah sebagai solusi pengolahan air limbah yang bisa diterapkan mulai dari skala rumah tangga, hingga sektor publik seperti kantor dan rumah sakit.

Secara sederhana sistem ini  dirancang sebagai rekayasa pengolahan air limbah yang dirancang dan dibangun dengan melibatkan tanaman air, tanah atau media lain dan kumpulan mikroba terkait. Dalam tulisan di Indonesian Green Technology Journal Vol.2 No.2, 2013, Anna Catharina Sri Purna Suswati dan Gunawan Wibisono menyebut Wetland terbagi atas Free Water Surface (SWF) yang tampak sebagai kolam atau danau dan Subsurface flow (SSF) yang dapat dikemas sebagai taman.
Contoh Wetland/slide presentasi Gunawan Wibisono
Berdasarkan hasil penelitian Gunawan, teknologi ini sudah terbukti efektif dan efisien menurunkan bahan-bahan polutan yang terkandung dalam air limbah. Konstruksi, pengoperasian dan perawatannya pun sederhana,mudah dan terjangkau. Selain itu memberikan nilai tambah pada aspek estetika dengan kehadiran taman dan kolam yang asri dan tertata.

Sistem ini sudah jamak di negara-negara lain, sesuatu yang sedang diperjuangkan di Indonesia. Langkah yang sedang ditempuh Gunawan sekiranya terus didukung dan direplikasi agar cara alternatif pengolahan air limbah ini bisa semakin memasyarakat. Memperbanyak proyek percontohan agar bisa meyakinkan banyak orang. Bila terasa berat untuk mengusahakan sistem tersebut secara individu bisa saja mencoba Constructed Wetland secara komunal.

Sasarannya adalah memperbaiki kualitas air, dan mengurangi efek berbahaya dari limbah dan berperan dalam konservasi air. Bila situasi ini bisa terjaga maka akan meningkatkan kualitas sanitasi yang pada gilirannya berdampak paga kualitas kesehatan dan kehidupan masyarakat. 

Model wetland lainnya/slide presentasi Gunawan Wibisono

Krisis air dan persoalan limbah yang semakin terasa mestinya mendorong kita agar lebih menaruh perhatian dengan kerja-kerja nyata mulai dari lingkungan terdekat dan ruang lingkup terkecil. 

Pertama, membiasakan pola hidup sehat dalam menjaga sanitasi dan kebersihan mulai dari keluarga bahkan diri sendiri.

Kedua, tidak membuang sampah sembarangan, apalagi sampah manusia seperti tinja ke selokan atau sungai. Beralihlah menggunakan septic tank, bila tidak mampu mengusahkan secara pribadi bisa berbagi menggunakan tangki septik bersama..

Ketiga, memperhatikan sistem air minum dan saluran limbah, menjaga sumber-sumber air dan menghindarkan penggunaan air secara berlebihan tanpa manfaat. Perhatikan letak tangki saptik dan sumur air dalam jarak aman.

Keempat, setiap rumah tangga bisa menerapkan sistem pengolahan limbah sendiri agar setiap polutan yang ada dalam deterjen, sabun dan bahan kimia yang lain tidak mencemarkan lingkungan. Limbah organik bisa dimanfaatkan sebagai kompos. Limbah plastik bisa didaur ulang. Sementara limbah cair diolah menjadi air bersih dengan cara-cara sederhana seperti yang dicontohkan Aqua dan Gunawan. 

Setiap orang harus merasa bertanggung jawab terhadap masa depan air. Sulit membayangkan bila krisis air belum merasuk ruang kesadaran, apalagi tidak segera diatasi. Tidak hanya merusak target pemerintah pada 2019  dan sasaran  SDGs 2030, juga bakal mengancam kelangsungan hidup. Benar pernyataan  sang penyair berkebangsaan Amerika yang dikutip Karyanto seperti tertera pada awal tulisan ini.  Thousand have lived without love, not one without water. Tanpa air segalanya sia-sia belaka.


Sumber tulisan:

Materi presentasi

Gatra, 29 Maret 2017.

Tulisan Anna Catharina Sri Purna Suswati dan Gunawan Wibisono berjudul “Pengolahan Limbah Domestik dengan Teknologi Taman Tanaman Air” dalam Indonesian Green Technology Journal Vol.2 No.2, 2013.

Peserta #Bincang Air yang diselenggarakan Aqua. Terima kasih Aqua. Gambar dari @aqua_lestari

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Tolak Penyalahgunaan Obat!

Penny K. Lukito, Kepala BP POM RI (dokpri) Area seputaran Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta hampir tak pernah sepi sepanjang hari terma...