(pada mulanya adalah KATA...)

Saturday, April 15, 2017

Puncak Kelelahan Marcus/Kevin dan Putusnya Tradisi



Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya/badmintonindonesia.org

Tidak ada yang bisa menjamin performa seorang atlet akan terus berada di titik tertinggi selama 18 pertandingan secara beruntun. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo pun harus mengakui bahwa pada titik tertentu mereka perlu istirahat lebih. Melakoni pertandingan tanpa henti sejak awal tahun, berjuang mengatasi tekanan mental dan fisik saat menghadapi lawan-lawan tangguh dari turnamen ke turnamen membuat “Tihe Minions” harus berkata ya pada kekalahan.

Tiga gelar di tiga turnamen super series berurutan sejak All England, India Open dan Malaysia Open tidak otomatis membuat mereka bisa leluasa merebut gelar keempat di Singapore Indoor Stadium, tempat turnamen super series Singapura Open sedang berlangsung. 

Mathias Boe/Carsten Mogensen memberi tahu bahwa sudah saatnya Marcus/Kevin mengambil waktu untuk recovery. Pasangan Denmark yang jauh lebih berpengalaman dari pasangan liliput itu paham bagaimana memberi tahu Marcus/Kevin sejak set kedua bergulir. Marcus/Kevin masih terlihat bertenaga saat merebut game pertama, 21-11. Namun situasi berubah drastis di dua game berikutnya. Saat Boe/Mogensen merapatkan pertahanan dan memancing Marcus/Kevin dengan bola-bola tinggi, pukulan-pukulan bertenaga itu tak lagi menampakkan hasilnya. Alhasil kekalahan 11-21 dan 14-21 tak terhindarkan.

Seperti baterai handphone ada saatnya perlu diisi kembali dengan energi baru. Marcus/Kevin sangat enerjik dan begitu percaya diri sejak menjadi juara All England. Berbagai rintangan kemudian dilewati di dua turnamen berikutnya, termasuk memaksa tubuh yang sempat terserang flu. Setelah satu turnamen selesai, keduanya langsung terbang ke tempat berikutnya untuk bertarung lagi. Hampir tidak ada waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga.

Kekalahan Marcus/Kevin ini sungguh bisa dipahami. Keduanya bukan robot yang disetting selalu berada dalam kondisi puncak setiap saat. Bahkan robot pun pada waktu tertentu perlu mendapat sentuhan tangan manusia untuk memberinya kehidupan lanjutan.

Usai gagal ke partai puncak, Marcus/Kevin sama sekali tak menyesal. Itulah titik terakhir yang bisa mereka daki. “Ini sudah pertandingan keberapa, tenaga kami juga sudah agak habis. Tadi juga berasa capek pas  game kedua diangkatin gitu, kaya kurang powernya,” beber Marcus kepada badmintonindonesia.org.

Hal senada juga keluardari mulut Kevin. “Lawan hari ini mainnya rapat, nggak gampang mati. Tenaga kami sudah jauh lebih menurun dari sebelum-sebelumnya. Tiap hari kerjaannya cuma main terus, nggak pernah latihan yang lain. Jadi menurun banget tenaganya.”

Bila Marcus/Kevin sendiri sudah berterus terang demikian tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Sudah saatnya Marcus/Kevin beristirahat. Bertepatan pula tidak ada agenda pertandingan yang perlu diikuti hingga pertengahan bulan depan. Keduanya tidak punya waktu pemulihan yang cukup karena akan ambil bagian di Kejuaraan Bulu Tangkis Asia yang akan akan digelar  di China, 25-30 April  nanti. Setelah itu memperkuat tim nasional untuk membawa pulang Piala Sudirman dari Gold Coast, Australia, 21-28 Mei mendatang. Selanjutnya menjemput gelar super series premier ketiga di tanah air sendiri yakni Indonesia Open yang dihelat pada 13-18 Juni 2017.

Putusnya tradisi

Marcus/Kevin bernasib sama seperti dua wakil Indonesia lainnya, Berry Angriawan/Hardianto Hardianto dan Anthony Sinisuka Ginting. Berry/Hardianto gagal melanjutkan kejutannya, seperti mengandaskan unggulan dua dari Malaysia di babak sebelumnya, saat berjumpa Li Junhui/Liu Yuchen. 

Berry/Hardianto sempat merebut game pertama dari unggulan empat itu.Namun kesalahan menerapkan pola permainan membuat pasangan yang tidak diunggulkan ini kesulitan mempertahankan permainan. Apalagi wakil China itu lebih sigap mengatasi persoalan di game pertama dengan mengubah pola permainan mereka. Dua game berikutnya giliran Berry/Hardianto yang ditekan. Laga berdurasi 45 menit itu berakhir dengan skor 21-15, 10-21 dan 16-21.

“Game kedua kami salah polanya. Terus kami kalah angin, jadi kaya tertekan terus,” Berry memberi evaluasi.

Meski begitu pencapaian ini menjadi prestasi tersendiri bagi pasangan ini di ajang super series. Sebelumnya saat masih berpasangan dengan Ryan Agung Saputro, Berry pernah menjadi semifinalis turnamen super seies yakni di Australia Open. Prestasi tertinggi diukir Berry/Rian dengan menjadi juara di dua turnamen level grand prix gold yakni Indonesia GPG dan Thailand Masters.

Sementara  sebagai satu pasangan Berry/Hardi pernah menjuarai Malaysia Masters. Masih di turnamen level yang sama keduanya hanya menjadi semi finalis di India dan Thailand.

Seperti Berry/Hardi yang masih terus memendam hasrat tampil di final super series begitu juga Anthony Ginting. Pemain asal Cimahi ini untuk ketiga kalinya menjadi semi finalis setelah sebelumnya menorehkan hasil yang sama di Hong Kong tahun 2015 dan Australia setahun kemudian.

Adalah Srikanth Kidambi asal India yang menjegal pemain 20 tahun itu. Meski skor pertemuan keduanya imbang setelah saling mengalahkan di dua pertemuan sebelumnya di Indonesia Open 2015 dan Indonesia Masters 2015, kali ini Kidambi berhasil mengungguli Anthony berkat  kemenangan straight set  13-21 dan 14-21.

Anthony sempat memimpin di awal set pertama 3-0, 8-3 dan 10-6. Srikanth berhasil membalikkan keadaan setelah merebut 10 angka secara berurutan. Setelah itu, Anthony terus berada di bawah tekananan. Tekanan yang diterima Anthony berlanjut di game kedua, sejak awal hingga laga usai.

Anthony mengaku, “Tidak ada perubahan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Cuma saya merasa hari ini dia lebih siap. Dari segi performa juga baik. Beberapa kali saya coba matikan juga nggak mudah.”

Tersisihnya tiga wakil Merah Putih ini membuat tradisi baik sejak 2010 pun berganti. Sejak tujuh tahun silam Indonesia minimal membawa pulang satu gelar dari Negeri Singa. Terakhir tahun lalu Indonesia menggondol dua gelar yang dipersembahkan tunggal putra Sony Dwi Kuncoro dan pasangan ganda putri Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari.
Srikanth Kidambi dan Anthony Ginting bersalaman usai pertandingan/badmintonindonesia.org
Juara-juara baru

Bila dibandingkan Korea Selatan, kesedihan Indonesia tampaknya sedikit lebih berkurang. Betapa tidak dari lima wakil Negeri Ginseng, sekaligus menjadi yang terbanyak, tak ada satu pun yang lolos ke final. Pasangan ganda putri unggulan empat Chang ye Na/Lee So Hee membuka parade kesedihan Korea saat kalah dari unggulan dua asal Denmark Kamilla Rytter Juhl/Christina Pedersen, 28-26 dan 21-11.

Kemudian berlanjut dengan unggulan dua Sung Ji Hyun yang kandas di hadapan Carolina Marin, unggulan empat dari Spanyol. Selanjutnya unggulan pertama asal Jepang Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi mengandaskan harapan ganda putri Jung Kyung Eun/Shin Seung Chan yang diunggulkan di tempat ketiga. Kekalahan Lee Dong Keun dari Sai Praneeth digenapkan oleh pasangan ganda campuran Kim Gi Jung/Shin Seung Chan yang dibekuk unggulan tiga dari China Lu Kai/Huang Yaqiong.

Hasil tersebut membuat panggung Singapura Open kali ini akan memunculkan para juara baru. India dipastikan menggondol satu gelar dari tunggal putra setelah terjadi final sesama negara antara Srikanth Kidambi menghadapi Sai Praneeth.

Denmark dan China sama-sama mengejar gelar ganda. Lu/Huang akan berebut gelar ganda campuran dengan pembunuh dua jagoan Indonesia asal Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai. Li Junhui/Liu Yuchen akan menghadapi Boe/Mogensen untuk merebut gelar ganda putra.

Satu wakil Denmark lainnya, pasangan veteran Kamilla/Christina akan beradu dengan Misaki/Ayaka.Ini akan menjadi partai ulangan  final Olimpiade Rio 2016. Kala itu medali emas menjadi milik wakil Jepang.

Partai ulangan, tetapi bukan Olimpiade melainkan final Malaysia Open pekan lalu, mempertemukan unggulan teratas Tai Tzu Ying menghadapi Caro Marin. Dari sejarah pertemuan keduanya imbang, delapan pertemuan dibagi rata. Laga ini bakal berlangsung ketat, adu skill dan kekuatan antara dua pemain putri dengan bakat yang istimewa. Meski tanpa wakil, kita tetap memiliki alasan untuk menyaksikan partai puncak yang akan melahirkan para juara baru.

Jadwal babak final #SingaporeSS 2017, Minggu (16/4):
 
 Tulisan ini terbit pertama di Kompasiana, 15 April 2017.


Post a Comment

1 comment:

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon Kembali ke Puncak Ranking Dunia

Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya. Gambar: www.badmintonindonesia.org Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon kembali ke ben...