(pada mulanya adalah KATA...)

Monday, April 10, 2017

Ada yang Tak Beres? Let’s Talk!




Infografis dari @kpsi_pusat
Jembatan dengan rangka baja sepanjang kurang lebih 135 meter itu mempunyai kisah tersendiri. Ia tidak hanya menjadi penghubung dua daratan yang membentang di Jalan Piet A Tallo, Kelurahan Liliba, Kota Kupang, NTT. Beberapa gembok terpasang di pagar pembatas. Kabarnya, itu sengaja dilakukan muda-mudi kasmaran untuk mengabadikan jalinan kasih. 

Jumlahya memang tidak seberapa, praktis hanya dilakukan beberapa pasangan saja. Tentu masih jauh dari kesan menawan seperti  Jembatan Pont des Invalides. Ribuan gembok beraneka rupa dan warna telah menjadikan jembatan yang membentang di atas Sungai Seine di Paris, Prancis itu ikonik.

Bila keberadaan beberapa gembok itu tidak terlalu mencuri perhatian dan mudah dilupakan, tidak dengan ini. Jembatan tersebut selalu memperdengarkan kisah miris dari orang-orang yang putus asa.  Dari ketinggian 200 meter itu beberapa orang mengakhiri hidupnya. Mulai dari remaja yang masih sekolah hingga lanjut usia mengakhiri kehidupannya secara tragis. Sampai-sampai jembatan itu mendapat nama baru, “jembatan bunuh diri.”

 Entah apa alasan orang-orang bernasib naas itu. Dari “jembatan bunuh diri” itu terbersit simpati sekaligus awasan. Bunuh diri bukan lagi cara menjemput kematian yang asing. Bunuh diri adalah cara terakhir yang diambil orang-orang yang kehilangan harapan.

Hari Kesehatan Sedunia tahun ini mengambil tema “Depression: Let’s Talk.” Tajuk peringatan saban 7 April itu diduplikasi secara nasional menjadi “Depresi: Yuk Curhat!”

Tema ini penting. Karena itu Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan talkshow dua hari sebelum peringatan Hari Kesehatan Sedunia. Acara separuh hari itu bertempat di ruang rapat Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, beralamat Jln. Percetakan Negara No. 29 Jakarta Pusat. 

Hadir saat itu sejumlah tokoh berkompeten. Dr. dr Firdiansjah, SpKJ, MPH yang merupakan Direktur P2MUN dari Kementerian Kkesehatan, berikut dr.Eka Viora SpKJ, Nursiladewi dari World Health Organization (WHO) Indonesia serta Nur Yanayirah, pendiri Mother Hope Indonesia.
Suasana temu blogger untuk memaknai Hari Kesehatan Internasional/@KemenkesRI
Selain memaknai peringatan tersebut, tema ini terlalu penting untuk disepelehkan apalagi diabaikan. Ada beberapa alasan utama. Depresi adalah salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia saat ini. Tahun 2030 nanti ia akan bersanding dengan HIV dan jantung dalam jajaran penyakit terbesar, yang tentu saja linear dengan jumlah korban. 

Menurut data Kementerian Kesehatan hampir 800.000 ribu kematian akibat bunuh diri terjadi di dunia saban tahun. Dengan kata lain setiap 40 detik, seorang meninggal karena bunuh diri. 

Depresi ini bisa terjadi pada semua kelompok demografi. Namun kelompok remaja dan usia dewasa muda mendapat penekanan tersendiri. Ini adalah kelompok rentan, di samping wanita usia produktif terutama setelah melahirkan dan yang berusia 60 tahun.

Bunuh diri disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah depresi. Pada tingkat tertinggi orang yang mengalami depresi akan mudah mengambil langkah bunuh diri itu. 

Secara sederhana depresi diartikan sebagai keadaan yang memiliki gejala seperti rasa sedih berkepanjangan dan hilangnya minat melakukan kegiatan yang disukai. Selanjutnya disertai penurunan kemampuan menjalankan aktivitas yang biasa dilakukan selama dua minggu. 

Menurut dr.Eka ada beberapa penyebab depresi:
*konflik keluarga, yakni permasalahan keluarga yang tidak terselasaikan.
*Konflik antarpersonal. Hubungan antarpribadi juga bisa memicu depresi. Relasi dalam pergaulan yang tidak harmonis dan timbulnya masalah misalnya. Agar tidak sampai membawa masalah, dianjurkan setiap masalah segera diselesaikan. Mula-mula mencari akar masalah, dan bila sebabnya ada pada diri kita maka berbesarhatilan untuk klarifikasi dan meminta maaf.
*Peristiwa kehilangan dan kekecewaan juga bisa memicu depresi, seperti peristiwa ditinggal orang terdekat karena kematian, atau kehilangan pekerjaan. Kekecewaan karena sesuatu alasan bisa mengantar pada depresi.
*Selain itu penggunaan obat terlarang dan alkohol. Sifat adiktif atau ketagihan dan sakau yang ditimbulkan bisa mempengaruhi mental dan perasaan pengguna.

Kenali depresi

Berbagai hal di atas ditengarai sebagai penyebab depresi. Namun tidak semua orang bisa menilai diri atau mengidentifikasi seseorang mulai mengalami depresi. Apa saja gejala depresi?

  • Terjadinya perubahan nafsu makan. Mereka yang mengalami depresi biasanya kehilangan nafsu makan secara drastis.
  • Mengalami gangguan tidur. Gangguan ini bisa menyita lebih banyak waktu atau kurang waktu tidur (insomnia).
  •  Merasa cemas secara berlebihan.
  •  Tidak mampu berkonsentrasi.
  •  Tidak mampu membuat keputusan
  •  Merasa tidak berharga dan bersalah
  •  Rasa putus asa yang diikuti pemikiran untuk melukai diri sendiri, atau bahkan bunuh diri.

Bicaralah

Seorang peserta bertanya apakah depresi itu bisa menular? Si penanya khawatir dirinya akan terbawa perasaan setelah memberi waktu untuk mendengar keluh kesah atau “curhatan” orang yang sedang bermasalah. 

dr Firdiansjah, seperti tema yang diangkat, menyarankan orang-orang yang bermasalah untuk berani berbicara. Mencari tempat labuhan pada orang-orang terdekat untuk mengungkapkan segala beban. Berbicara ini menjadi cara terbaik ketimbang memilih mengambil langkah berbahaya seperti melukai diri atau mengakhiri nyawa sekalipun. 

Nur Yanayirah pernah mengalami saat terburuk dalam hidupnya. Ia pernah mengalami depresi pascamelahirkan atau dikenal dengan istilah Postpartum Depression. Peristiwa itu bermula setelah melahirkan anak pertama yang meninggal di usia 26 minggu dalam kandungan. Musibah yag terjadi pada 2011 itu berlanjut setelah ia mengandung lima bulan kemudian.
Nur Yanayirah, survivor depresi pasca melahirkan sedang berbagi pengalamannya/@kurniaameliaa
Selama kehamilan itu ia kerap mengalami pendarahan selama tiga bulan. Mual dan muntah menyertai. Bayangan masa lalu tentang sang bayi selalu datang dalam mimpi buruk. 

Ia pun melahirkan secara caesar. Tidak ada pilihan untuk melakukan persalinan normal karena air ketuban menipis, janin stres dan plasenta tidak mampu mengalirkan nutrisi. Setelah sang putri yang diberi nama Hana Nabila lahir, masalah Yana tidak lantas berakhir.

Ia tidak bisa menyusui sang bayi dengan air susu sendiri. Bayi pun terpaksa mendapat asupan dari susu formula. Ia pun terbawa dalam perasaan bersalah dan rasa tidak berguna. Dalam situasi sulit itu dukungan yang minim dari keluarga yang terlanjut mencapnya dengan berbagai stigma semakin menguatkan langkahnya untuk mengakhiri hidupnya. Pernah sekali ia dan sang bayi ke sungai untuk bunuh diri. Untung sang suami yang begitu tabah menggagalkan rencana tersebut.

Yana bangkit setelah disarakan temannya untuk bergabung dengan Komunitas Peduli Trauma. Ia bertemu dengan orang-orang yang pernah berada dalam situasi seperti dirinya. Keterbukaan dan saling pengertian membuat Yana perlahan-lahan lepas dari segala perasaan negatif. Selain dari anggota komunitas ia juga dibantu oleh psikolog.

 “Saya merasa bahwa saya tidak sendirian,”ungkapnya setelah membuka video singkat tentang perjalanan hidupnya lepas dari depresi.

Pengalaman Yana sangat menyentuh. Beberapa peserta sampai meneteskan air mata. Perjuangannya untuk lepas dari depresi luar biasa. Yana kemudian membentuk komunitas Mother Hope Indonesi. Masa lalu menjadi inspirasinya untuk mendampingi para ibu yang mengalami masalah serupa, terutama memberikan dukungan sosial bagi para ibu dan keluarga yang mengalami masalah setelah melahirkan seperti
sindrom baby blues dan postpartum depression.

Bagi khalayak luas, ada banyak cara untuk menghentikan rantai depresi. Pencegahan hingga penanganan dini bisa ditempuh.

  • Pada tahap awal bisa diajak bicara secara santai. “Orang yang mengalami depresi hanya ingin didengarkan. Anda hanya perlu mendengar. Tidak perlu berkata-kata apalagi sampai menghakimi, “ tandas dr Firdiansjah.
  • Bila sudah sampai ke tingkat kronis segera bertemu dokter seperti psikiater, konselor dan psikolog.
  •  Mengamankan barang-barang yang mengkhawatirkan keselamatan seperti  barang-barang tajam (pisau), senjata, pestisida, obat-obatan atau Napza.
  • Tetap menjaga hubungan baik dengan pengidap agar ia merasa masih diperhatikan. Selain itu pantau selalu kondisinya.
  • Sebenarnya ada banyak cara untuk menghindarkan diri dari depresi. Beberapa tips berikut bisa diambil:
  • Bicarakan perasaan Anda dengan orang yang Anda percaya
  • Bila mengalami depresi carilah bantuan prodesional
  • Terus lakukan kegiatan yang selama ini Anda nikmati, atau cari alternatif kegiatan lain bila kegiatan-kegiatan sebelumnya tak mungkin lagi dilakukan
  •  Tetaplah menjaga hubungan baik dengan orang-orang
  • Tetap berhubungan dengan keluarga atau teman
  • Makanlah secara teratur dan tidur yang cukup
  • Berolahraga secara teratur bila Anda bisa. Bila tidak sempat berjalan dalam jarak pendek bisa diambil.
  • Batasi, bahkan hindari alkohol.

@KemenkesRI
Kita sebenarnya bisa mengurangi 4 persen dari total populasi yang saat ini mengalami depresi. Begitu juga tidak memperparah keadaan yang bisa berujung kematian secara tragis atau melalui penyakit-penyakit lain seperti diabetes, penyakit jantung, hingga stroke. Dengan mengetahui, menyadari dan mengelolanya secara baik, segalanya bisa ditanggulangi. 

Bila Anda mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres, lets’talk! Kepada orang-orang yang Anda rasa sedang bermasalah, katakan: curhat yuk!

#DepresiYukCurhat

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Indonesia Sabet 2 Gelar Korea Open 2017

Anthony Ginting (kanan) dan Jonatan Christie, finalis #KoreaSS 2017/badmintonindonesia.org Pertama kali sejak naik level menjadi turnam...