(pada mulanya adalah KATA...)

Sunday, September 18, 2016

Man United Belum Juga "Move On", Mengapa?

Ekpresi para pemain United usai dikalahkan Watford/Dailymail.co.uk

Hasil negatif dalam tiga laga terakhir memunculkan seribu satu tanda tanya terhadap skuad Manchester United saat ini. Betapa tidak, sejak mengalami keterpurukan dalam beberapa musim terakhir, Manchester Merah telah melakukan sejumlah perubahan mendasar. Pelatih kawakan Jose Mourinho diboyong ke Old Trafford. Menyusul sejumlah bintang seperti Zlatan Ibrahimovic , Eric Baill, Henrikh Mkhitaryan hingga merogoh kocek dalam-dalam memulangkan Paul Pogba dari Juventus.

Apa daya, kehadiran mereka belum juga berbuah manis. Berawal dari kekalahan di derby Manchester dengan skor 1-2, selanjutnya takluk di kandang Feyenoord di pentas Liga Europa, dan terkini menyerah 1-3 di kandang Watford.

Kekalahan atas Watford  pada Minggu (18/9) malam kemarin sungguh di luar dugaan. Selain berstatus tim promosi, dan nota bene tak memiliki sumber daya setara, hasil tersebut sekaligus meruntuhkan rekor positif United atas Watford dalam tiga dekade terakhir. Vicarage Road, markas Watford, akhirnya menjadi kuburan baru bagi United yang tak pernah kehilangan muka selama 30 tahun terakhir.

Rententan kekalahan itu pun semakin memperjelas krisis di tubuh Setan Merah. Setidaknya pertandingan menghadapi Watford menjadi cermin seperti apa wajah baru yang sedang dilukis The Special One.  Apakah ada yang salah dalam polesan Mourinho? Atau ada yang tak beres dengan Mourinho mengingat tiga kekalahan beruntun ini adalah yang pertama dalam satu dekade karir kepelatihannya?

Statistik menunjukkan United mendominasi pertandingan dengan penguasaan bola 60 persen. Namun United hanya mampu mencetak sebiji gol melalui Marcus Rashford di babak kedua. Itu pun gol penyeimbang setelah Etienne Capoue mengoyak gawang David De Gea di babak pertama. Tak sampai di situ. Camilo Zuniga dan Troy Deeney kembali memaksa kiper timnas Spanyol itu memungut bola dari dalam gawangnya. Dua gol dalam 10 menit itu adalah drama indah bagi The Hornets dan tragedi bagi Iblis Merah.

Minimnya gol setidaknya dipicu oleh kekacauan penampilan para pemain United. Eks pemain internasional Inggris, Steve McManaman dan legenda Setan Merah, Paul Scholes sepakat dengan hal itu.

Kacau. Mereka terlihat kehilangan posisi dan ketiadaan tujuan. Koordinasi dan penempatan diri para pemain tak berjalan organik. Menurut McManaman pemandangan ini mirip seperti era kepelatihan Lous Van Gaal sebelumnya.

United jelas tak memanfaatkan lebar lapangan. Marcus Rashford, Anthony Martial dan Ashley Young yang menggantikan Martial setelah 38 menit, berkumpul di dalam lapangan. Kita tak bisa serta merat menyayangkan situasi tersebut. Bisa saja mereka kompak menyerang dari tengah lapangan. Namun situasi ini terlihat kontraproduktif melihat skema permainan yang diperagakan anak asuh Walter Mazzarri.

Saat menguasai bola tuan rumah menggunakan pola 4-4-2. Sementara ketika mereka kehilangan bola alias sedang ditekan, formasi itu berubah. Lima pemain terkonsentrasi di lini tengah untuk menyumbat serangan United. Pola yang dinamis, dari 4-4-2 menjadi 4-5-1 ini efektif meredam serangan tim tamu.

Dalam situasi tersebut  terlihat jelas seperti apa kreativitas para pemain United.  Keterpaksaam melancarkan tembakan langsung dari jarak tak ideal kerap menjadi pilihan instan. Antara taktik dan frustasi menjadi kabur.

Padahal saat Watford menumpuk pemain di lini tengah, United semestinya bisa memanfaatkan lebar lapangan. Saat Odion Ighalo merapat ke lini kedu, Antonio Valencia memiliki banyak ruang. Namun Valencia tak mempunyai rekan di depannya karena Rashford sudah berada terlalu dalam. Ruang kreasi Roony maupun Pogba pun semakin sempit. Para pemain United telah masuk dalam jebakan Watford.

Dalam situasi seperti ini United tak hanya membutuhkan sosok yang setia memanfaatkan lebar lapangan.Lebih penting lagi adalah pemain yang bertindak sebagai jenderal lapangan tengah. Terlihat dalam pertandingan tersebut dan laga-laga sebelumnya, United membutuhkan pemain tengah yang tangguh dan kreatif untuk membuka celah.

Beberapa tahun terakhir United memiliki sosok-sosok seperti Michael Carrick, Paul Scholes dan Ryan Giggs. Mereka sukses menempatkan diri sebagai pusat permainan dan sanggup membuka ruang yang membahayakan lawan. Kelengahan di pihak lawan berarti petaka karena mereka akan menjelma menjadi pembunuh.

Saat ini United memiliki sumber daya lini depan yang mumpuni. Ibrahimovic memiliki tubuh jangkung dan insting gol yang bagus. Sementara Rashford adalah pelari yang siap beradu kecepatan. Kehadiran geladang kreatif dengan akurasi passing yang bagus memberikan santapan empuk bagi Ibrahimovic dan Rashord.

Lantas bagaimana dengan Pogba? Bukankah pemain tersebut dibeli dengan harga tinggi untuk memainkan peran tersebut?

Tak ada yang meragukan kemampuan poga baik kekuatn fisik, maupun skill individu. Saat Piala Dunia 2014, koran Italia Gazzetta dello Sport menyebut pemain internasional Prancis itu sebagai 'Seorang atlet NBA dengan kaki Brasil. " 

Sebutan tersebut menggambarkan bahwa Pogba memiliki modal jasmani yang mumpuni. Dengan tinggi lebih dari cukup, 1,91 m, Pogba adalah menara di lini tengah seperti Yaya Toure di Manchester City sebelum ia dicadangkan Pep Guardiola.

Namun modal tersebut belum diterjemahkan secara presisi. Saat menghadapi tetangga dalam derby Manchester akhir pekan lalu, legenda Liverpool yang kini menjadi kolumnis Jamie Carragher menyebut Pogba seperti anak sekolah.

"Dia berlari di seluruh lapangan. Tanpa pemikiran atau disiplin, dan tidak pernah tetap di satu area yang semestinya ia berada: lini tengah,”tandas Carragher dikutip dari Dailymail.co.uk.

Pemandangan serupa terjadi saat  menghadapi Watford. Seharusnya ia berada bersama Marouane Fellaini dalam formasi 4-2-3-1. Justru Fellaini lebih setia dengan posisinya. Pemain internasional Belgia itu cukup disiplin dan tidak mengembara terlalu luas.

Apakah United membutuhkan lebih banyak pemain yang setia di lini tengah? Dalam situasi tertentu hal tersebut penting. Terlebih sosok pemain yang sanggup membuka ruang dan menciptakan peluang bagi para pemain depan.
Pogba berduel dengan pemain Watford/Dailymail.co.uk


Masih ada kesempatan
Kompetisi baru dimulai. Masih ada kesempatan untuk berbenah. United memiliki stok pemain berkualitas yang lebih dari cukup. Alih-alih berang berkepanjangan, Mourinho bisa mengambil hikmah dari tetangga sebelah.

Berkaca dari tiga pertandingan tersebut, pekerjaan rumah Mourinho adalah menemukan keseimbangan tim yang lebih baik. Menguasai pertandingan tidak cukup bila tidak dibarengi dengan kreativitas menciptakan peluang. Pasokan pemain depan United sudah lebih dari cukup untuk mencetak gol. Tinggal saja yang dibutuhkan adalah pemain tengah yang kreatif membuka dan menciptakan peluang.

Seperti Mourinho, Guardiola pun tengah membangun tim dan mencari formula yang pas. Kecakapan Guardiola antarala lain dengan memanfaatkan para pemain yang sudah ada dengan amunisi-amunisi baru.


Demikian sekiranya Mourinho. Ia tak bisa begitu saja menepikan semua muka lama yang jelas memiliki kualitas yang dibutuhkan. Bisa jadi pemain seperti Carrick masih dibutuhkan untuk mengisi celah puzzle yang tengah disusun pria Portugal itu. 

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 19 September 2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...