(pada mulanya adalah KATA...)

Wednesday, September 21, 2016

Jokowi, Ayam, dan Diplomasi Meja Makan

Susana saat Jokowi makan bersama sekitar 100 orang Kompasianer di Istana Negara pada Desember 2015. Gambar: beritajokowi.com.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo tak pernah absen melakukan kejutan. Salah satunya mendobrak status quo protokoler kenegaraan dengan membuka ruang bagi banyak orang terutama orang kebanyakan untuk berhadap-hadapan langsung dengannya di istana negara. Bahkan, tempat yang sebelumnya menjadi sangat “angker” dan nyaris tak tersentuh rakyat banyak itu dibuka lebar-lebar untuk menyambut para tukang ojek, pedagang kaki lima, blogger, guru dan masyarakat dari profesi sederhana untuk makan bersama.

Banyak hal terjadi dalam makan bersama Jokowi itu. Sang pemimpin negara bisa mendengar langsung suara mereka yang kerap terpinggirkan dan tak terekam media. Keluh kesah, dan tetek bengek lainnnya bisa diungkapkan tanpa sensor. Sekaligus pada waktu bersamaan mendapat respon langsung dari orang nomor satu di negeri ini.

Dari pihak sebaliknya, Jokowi bisa leluasa mewujudkan ikhtiar keberpihakannya kepada rakyat kecil. Menyapa, mendengar, dan memberikan jawaban langsung untuk setiap persoalan yang mereka hadapi. Pada saat bersamaan, berbagai program dan rencana kerja ditanamkan secara langsung ke batok kepala dan ruang kesadaran masyarakat kecil.

Walau dalam waktu sangat singkat, Jokowi memiliki cukup momentum untuk meluruskan persoalan, menyelesaikan masalah, hingga menggiring mereka untuk seiring sejalan dalam rencana kerja yang digagas.
Pada titik ini, Jokowi  cukup jitu memainkan strategi diplomasi yang nyaris tak pernah dilakukan para pemimpin sebelumnya dan pemimpin kebanyakan saat ini. Jokowi berhasil memanfaatkan kesempatan yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan manusia yakni makan bersama.

Siapa dari antara kita yang tak memandang perlu dan penting makan bersama? Adakah dari antara kita yang sudah benar-benar meninggalkan kebiasaan tersebut? Jawabannya tentu saja tidak.

Banyak hal bisa terjadi dalam makan bersama itu. Bila Jokowi memanfaatkan momen makan bersama untuk memainkan strategi politiknya, tak sedikit pula yang menjadikan saat tersebut untuk menggulirkan bola bisnis, bahkan juga merajut asmara. Cara mudah untuk melobi proyek, mencuri hati rekan bisnis atau lawan jenis, salah satunya ialah dengan makan bersama, bukan?

Di meja makan banyak hal sebenarnya bisa terjadi. Dalam kehidupan keluarga, rasa rindu untuk duduk bersama dengan orang-orang terdekat mustahil disaput dari ruang kesadaran kita. Sesibuk apapun, kangen untuk makan bersama keluarga selalu ada.

Meski demikian, patut diakui, ada pula pada tingkatan tertentu, kebiasaan tersebut perlahan-lahan hilang. Kebiasaan makan bersama pada kesempatan tertentu bisa jadi telah dikikis oleh kesibukan kerja yang luar biasa.

Bisa juga, kebiasaan itu memudar karena pola hidup rumah tangga yang berubah. Setiap anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing saat waktu makan tiba. Misalnya, si anak tekun dengan permainannya di kamar atau si ayah lebih memilih duduk manis depan televisi karena tak mau ketinggalan program favorit, sementara sang ibu ber”hahahihi”ria di depan benda elektronik bernama gadget yang tersambung dengan sahabatnya nun di tempat berbeda.

Momen penting
Sadar atau tidak makan bersama memiliki banyak manfaat. Pertama, mempererat ikatan. Makan bersama adalah saat di mana setiap anggota keluarga duduk bersama. Makan bersama bukan hanya soal makan in se. Saat makan adalah saat komunikasi, saat bertukar pikiran, saat saling meneguhkan dan menguatkan.

Orang tua bisa menjadikan kesempatan makan bersama untuk menjalin komunikasi dengan anak. Menanyakan sejauh mana kehidupannya di luar rumah, dalam pergaulan sosial dan di tempat belajar. Orang tua yang memiliki tingkat kesibukan yang tinggi menjadikan momentum makan bersama untuk memantau perkembangan anak mereka, sekaligus menjawab keluh kesah yang mungkin tak tersalurkan pada waktunya.

Sebaliknya, saat makan bersama itu sang anak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan perhatian yang telah dicuri oleh rutinitas kerja orang tua yang begitu padat. Di meja makan pula anak menuntut pertanggungjawaban akan kasih sayang ayah dan ibu.

Kedua, saat makan bersama adalah saat yang pas untuk mengedukasi. Nilai-nilai pendidikan dan tata krama dasar namun penting bisa ditanamkan saat itu. Anak diajari sopan santun dan nilai-nilai penting di antaranya mendengar saat orang lain berbicara, berbicara secara sopan, bertanggung jawab dengan makanan yang ada sebagai bentuk empati pada orang yang susah. Beberapa tata krama dasar ini niscaya akan membuka jalan bagi sang anak untuk membawa diri secara beradab saat keluar rumah.

Sulit dibayangkan seorang anak bisa bergaul secara baik dengan tata krama dan adat sopan santun bila tak ditanam sejak dini dari keluarga. Kepada siapa kita mengharapkan ajaran tentang hal-hal tersebut kalau bukan dari keluarga?

Ketiga, selain mengajarkan hal-hal tersebut, makan bersama menjadi momentum untuk membicarakan hal-hal penting di antaranya tentang rencana studi anak. Tak jarang melalui makan bersama itu rencana pendidikan yang terbaik bagi anak dibentuk. Anak pun akan sadar bahwa ia tak sendirian dalam perjalanan menuju masa depan.

Hal tersebut diamini Adrienne Mand Lewin dalam tulisannya berjudul Do Family Dinners Help Students Get In to College? yang dipublikasikan di abcnes.go.com (sumber1). Menarik konklusi dari beragam pendapat dari sejumlah pakar tentang korelasi antara dukungan keluarga dan pilihan perguruan tinggi anak, Lewin mengatakan sebagian besar sepakat bahwa anak-anak yang didukung orang tua cenderung lebih sukses mencari perguruan tinggi yang sesuai kebutuhan mereka. 

Dukungan orang tua akan .menjadi modal penting untuk membentuk ikatan emosional yang berlangsung seumur hidup.

"Apa pun yang dilakukan bersama secara konsisten dalam keluarga, untuk mempromosikan kesatuan dan ikatan akan mengantar pada pembentukan individu yang kuat secara emosional. Hasil positif akan berlangsung seumur hidup," kata J King, seorang konselor di SMA DeSoto di DeSoto, Texas seperti dikutip Lewin.

Keempat, berdasarkan hasil penelitian seperti dilansir washington.edu, kebiasaan makan bersama berkorelasi positif dengan prestasi anak di sekolah. Menurut sumber tersebut, siswa yang berasal dari keluarga dengan kebiasaan rutin makan bersama cenderung meraih prestasi akademik lebih besar.

Hal senada diutarakan  Adrienne Mand Lewin. Mengutip hasil studi Pusat Nasional Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat di Columbia University pada 2005, dikatakan remaja yang makan dengan keluarga setidaknya lima kali seminggu lebih mungkin mendapatkan nilai lebih baik di sekolah.

Selain itu, melalui makan bersama nutrisi atau asupan gizi serta penggunaan zat-zat berbahaya lebih mudah dikontrol. Anak belajar tentang makanan yang sehat dan bagaimana mengkonsumsinya secara seimbang.
Lebih lanjut, Lewin menulis, “Siswa memiliki masalah perilaku lebih sedikit ketika mereka makan bersama keluarga. Penelitian telah menunjukkan bahwa remaja yang jarang makan makanan dengan keluarga mereka 3-1 / 2 kali lebih rentan penyalahgunaan resep dan obat-obatan terlarang, sedangkan anak perempuan yang keluarganya makan bersama 50% lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan kebiasaan makan yang tidak sehat dan gangguan makan.” (sumber 2)

Tips
Patut diakui penelitian tentang manfaat makan bersama keluarga di atas berasal dari latar belakang keluarga Amerika atau de facto maju dan sejahtera. Hal tersebut tentu berbeda kondisinya dengan mayoritas keluarga Indonesia yang berada dalam kategori sederhana.

Namun demikian, esensi makan bersama pertama-tama dan terutama adalah soal kebersamaan, terlepas dari menu seperti apa yang dikonsumsi. Sesederhananya Indonesia, tokh tetap memiliki banyak kemungkinan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang bernilai gizi. Gizi dari sebuah makanan bukan soal masak di mana dan siapa yang memasak, tetapi bahan makanan itu sendiri.  Dalam setiap hidangan yang sederhana pun terkandung manfaat.

Walau demikian, tak mudah membangun suasana bagi terciptanya makan bersama yang berdayaguna, terutama dalam keluarga yang mulai kehilangan kebiasaan tersebut.

Untuk kembali menyatukan keluarga, dan terutama agar makan bersama bisa mendatangkan hal positif, sejumlah tips berikut ini bisa dijadikan pegangan seperti dikutip dari nourishinteractive.com (sumber 3) dan washington.edu (sumber 4).

Pertama, mengatur waktu yang teratur untuk makan keluarga. Bagi keluarga yang terlanjur tenggelam dalam kesibukan tingkat tinggi bisa memulai membuat jadwal untuk acara makan bersama. Rencana makan bersama itu bisa ditandai di kalender dan agenda masing-masing untuk memastikan semua anggota keluarga hadir pada saat itu.

Kedua, matikan TV selama waktu makan. Pastikan bahwa kita makan di meja makan agar lebih mudah berbicara dan berkomunikasi ketimbang di depan TV. Selain itu, menonaktifkan setiap perangkat elektronik agar tak mengganggu suasana makan dengan panggilan telepon atau SMS.

Ketiga, membuat waktu makan sebagai waktu bahagia! Biarkan anak Anda menceritakan tentang harinya. Orang tua bisa memancing anak untuk berbicara dan mengutarakan pengalaman yang dialami.

Keempat, membuka kesempatan bagi Anak-anak belajar tentang makanan selama waktu makan. Libatkan anak-anak dalam menyusun dan mengambil keputusan tentang makanan apa yang akan disajikan. Dengan demikian anak-anak akan merasa penting karena bisa berkontribusi untuk keluarga.

Bila perlu menyertakan anggota keluarga sejak dalam tahap perencanaan dan membagi tanggung jawab untuk mempersiapkan dan melayani satu item setiap kali makan bersama.

Kelima, berbicara pula tentang sumber makanan yang penting seperti buah-buahan dan sayuran sehingga anak-anak terbiasa dengan makanan yang sehat. Tak sedikit anak yang jarang mengkonsumsi sayur-sayuran dan kebiasaan itu berlangsung terus hingga remaja dan dewasa.

Seperti dilansir Kompas.com, Selasa, 20 Agustus 2013, berdasarkan data RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) dari Kementerian Kesehatan, tahun 2007, prevalensi nasional kurang makan buah dan sayur pada penduduk usia di atas 10 tahun mencapai 93,6 persen. Artinya, hanya 6,4 persen masyarakat Indonesia yang sudah cukup mengonsumsi sayur dan buah.

Padahal, kedua makanan tersebut amat berperan penting bagi tubuh.  Masih menurut sumber yang sama, mengutip pendapat dr Fiastuti Witjaksono, dokter spesialis gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), sayur dan buah mengandung serat, vitamin, mineral, enzim pencernaan, dan air, yang tidak dapat ditemukan secara keseluruhan di produk makanan lain, termasuk suplemen.

Serat dalam sayur dan buah berperan penting bagi kesehatan saluran cerna, menjaga kadar gula darah, dan menjaga kadar lemak darah. Selain itu, kandungan antioksidan “dalam sayur dan buah pun sangat penting bagi kesehatan tubuh. Antioksidan berperan dalam mencegah kerusakan sel akibat proses oksidasi yang merusak DNA, protein, dan lemak. Proses oksidasi menyebabkan penuaan dini, memicu kanker dan penyakit jantung.”
Keenam, membuat kejutan-kejutan dalam setiap kesempatan makan bersama. Bisa dengan menggantikan perabot atau perlengkapan makan. Menciptakan suasana berbeda saat makan bersama misalnya dengan menyalakan lilin atau piring khusus.

Ketujuh, saat makan bersama orang tua menciptakan suasana makan yang menyenangkan. Mendorong percakapan yang hangat dan memberikan kesempatan berbicara kepada semua orang.

Pilihan berbeda
Variasi makan bersama bisa diciptakan dengan mengubah menu makan, suasana atau tempat makan. Selain makan di rumah dengan menu makan yang disiapkan bersama, mencari tempat makan strategis dengan tawaran menu makan menarik bisa menjadi pilihan.

Keluarga saya memiliki alternatif untuk makan bersama seperti yang kami lakukan belum lama ini. Sebagai keluarga yang doyan cita rasa pedas kehadiran Red Hot Chiken benar-benar menjawab kebutuhan.
Letaknya tak jauh dari rumah semakin membulatkan hasrta kami untuk melewatkan salah satu kesempatan makan bersama di sebuah kedai Kentucky Fried Chickeh (KFC) yang terletak di jalan El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Selain memuaskan hasrat akan makanan yang membakar lidah, di tempat itu, kami mendapatkan suasana berbeda dimana orang tua yang membawa anak-anak juga dimanjakan dengan wahana bermaian untuk anak-anak seperti perosotan, ayunan dan sebagainya.

Kepada seorang petugas yang belum lama bekerja di tempat tersebut, saya sedikit bertanya ikhwal menu tersebut. Menurutnya, Red Hot Chicken belum lama diluncurkan  kembali setelah sebelumnya pernah mengisi ruang makan pelanggan KFC pada 2015.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Brand Manager KFC Rusli Tan kepada Kompas.com, Rabu (20/0/2016). “Sesudah penjualan Red Hot Chicken habis pada bulan April 2015, kami buat suatu survei mengenai Red Hot Chicken di beberapa kota di Indonesia. Dari hasil survei kami melihat bahwa minat konsumen untuk produk kategori pedas ini lumayan tinggi.”

Tak sabar memuaskan hasrat, kami pun langsung memesan paket Super Besar. Sebenarnya kami bisa memadukan Red Hot Chicken dengan varian ayam lainnya seperti Crispy atau Original dalam paket Super Besar 2. Namun, kami kompak ingin merasakan kembalinya varian yang “hilang” itu.

Saat memalingkan wajah ke lajur sebelah kanan, seorang ibu rupanya sedang memilih varian yang sama. Bedanya, ia memesan untuk dirinya sendiri. “Dada mentok,”teriak sang pelayan kepada jajaran juru masak di balik rak-rak aluminium melanjutkan pesanan ibu tersebut.

“Mohon bersabar ya pak. Proses memasaknya memakan waktu kurang lebih 20 menit,”ungkap sang pelayan.
Seakan tak membiarkan saya berbicara, dari kerutan di dahi ia sudah bisa menebak apa yang ingin saya tanyakan. “Biasanya setiap ayam yang telah digoreng memiliki periode waktu saji sekitar 1,5 jam. Untuk memastikan agar tak sampai membuat ayam tersebut masuk kategori tak layak, kami menanti sampai ada yang memesan baru digoreng. Ditambah lagi Red Hot Chicken ini belum banyak diketahui sehingga belum banyak yang memesannya.”

Tak peduli dengan 20 menit yang disampaikan sang pelayan, sambil menanti pesanan kami memanfaatkan waktu untuk berbicara banyak hal. Tak disangka obrolan sebelum makan yang hangat itu membuat kami tak sadar saat sang pelayan datang dengan beberapa piring besar dengan sejumlah ayam goreng berukuran besar di atasnya.

Secara umum dari segi ukuran Red Hot Chicken tak jauh beda dengan varian Crispy dan Original. Prinsip pelayanan yang maksimal kepada pelanggan benar-benar dipegang teguh. Seperti diutarakan pelayan lainnya tentang bagaimana mereka memilih ayam tergambar jelas bahwa ayam terbaiklah yang disajikan kepada pelanggan.

Namun, warnanya benar-benar beda dari dua varian lainnya. Aroma yang berani bersekutu dengan daging ayam yang berwarna kemerahan. Tekstur luar kemerahan membungkusi daging yang tebal dan gurih, khas KFC. Ketika mendarat di lidah, rasanya benar-benar pecahhhh.....

Mengutip Rusli warna merah tersebut berasal dari cabai merah. Namun, bukan ala kadarnya saja.  Bumbunya mengikuti bumbu khas hidangan ala Tiongkok yakni szechuan dengan cabai merah sebagai bumbu utama
 “Ayam kami dibumbui dengan bumbu szechuan kemudian dicampur dengan 11 bumbu rahasia KFC,” tandas Rusli Tan.

Gurih dan renyah berpadu padan dengan rasa pedas yang menggoda. Semakin nikmat disantap dengan nasi panas dari beras pilihan. Sebagai penyuka masakan pedas, Red Hot Chicken benar-benar menjawab kebutuhan. Nyamii.. Remah-remah yang tersisa di piring pun terasa sayang untuk dilewatkan. Pedas kriuk-kriuk benar-benar menggoda.

Bagi yang tak menyukai rasa pedas, tak perlu khawatir. Sup KFC dan aneka varian minuman dingin siap meredakan pedas di lidah.

Kenikmatan Red Hot Chicken tak hanya memuaskan lidah, juga jago merekatkan kebersamaan makan malam kami saat itu. Pedas di lidah, dekat di hati, melengkapi diplomasi dan edukasi meja makan kami malam itu. Terima kasih KFC.


Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 5 Agustus 2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Tolak Penyalahgunaan Obat!

Penny K. Lukito, Kepala BP POM RI (dokpri) Area seputaran Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta hampir tak pernah sepi sepanjang hari terma...