(pada mulanya adalah KATA...)

Thursday, September 8, 2016

Sudah Saatnya Hendra dan Ahsan Berpisah?

Hendra/Ahsan menjadi Juara Dunia 2015 setelah di final mengalahkan wakil Tiongkok Liu Xiaolong/Qiu Zihan, 21-17 dan 21-14. 

Kurang dari sebulan lagi kita menyaksikan Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan bertandem. Setelah dua turnamen super series pada pertengahan September hingga awal Oktober, keduanya bercerai. Japan Open Superseries (20-25 September) dan Korea Open Superseries (27 September-2 Oktober) bakal menjadi panggung terakhir keduanya berpasangan.

Hal tersebut telah diisyaratkan Kepala Pelatih Ganda Putra PP PBSI Herry Iman Pierngadi. Menurut pelatih yang karib disapa Herry IP itu, sudah saatnya mereka berpisah dan mengambil peran sebagai pengayom dan pembimbing bagi junior.

 “Hendra/Ahsan sudah waktunya membantu pemain pelapis untuk berbagi pengalaman untuk menjadi pemain yang matang,”tandas Herry dikutip dari badmintonindonesia.org.

Keputusan tersebut tentu mengundang beragam reaksi. Di satu sisi, ada rasa kehilangan karena Hendra/Ahsan adalah pasangan ganda terbaik Indonesia saat ini. Setelah masa Rexy Mainaky/Ricky Subagja, Tony Gunawan/Candra Wijaya, Tony Gunawan/Halim Haryanto, Sigit Budiarto/Candra Wijaya, dan Markis Kido yang berpasangan dengan Hendra Setiawan, harapan ditumpukkan pada Hendra yang berpasangan dengan Ahsan.

Sejak mulai berpasangan pada akhir 2012, tepatnya setelah Olimpiade London, keduanya telah menorehkan sederet prestasi bergengsi. Dua kali menjadi Juara Dunia masing-masing pada 2013 dan 2015, satu gelar All England (2014), dua kali juara BWF Superseries Finals yakni pada 2013 dan 2015, medali emas Asian Games Incheon 2014, serta beragam gelar super series.

Singkat kata, keduanya menjadi salah satu pasangan ganda putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dengan prestasi yang nyaris sempurna. Pernah menduduki rangking teratas dunia pada 2013 dan selalu berada dalam lingkaran lima besar dunia menandakan kualitas keduanya di panggung dunia. Tak pelak, Hendra/Ahsan menjadi salah satu pasangan yang disegani.

Hanya saja Hendra/Ahsan gagal menyempurnakan koleksi gelar dengan medali Olimpiade Rio 2016. Tersingkir di fase penyisihan grup D setelah menelan dua kekalahan-masing-masing dari Chai Biao/Hong Wei dari Tiongkok dan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa asal Jepang-benar-benar menjadi antiklimaks, sekaligus isyarat kuat bahwa usia tak lagi memungkinkan mereka terus berpasangan.

Hendra sudah berusia 32 tahun, lebih tua empat tahun dari Ahsan. Meski masih dalam batas usia wajar untuk terus bersama, toh ada pebulutangkis lain yang masih bersinar dalam rentang usia seperti itu seperti dua tunggal legendaris Lee Chong Wei (Malaysia) dan Lin Dan (Tiongkok), memaksa mereka terus bersama bisa menjadi kontraproduktif.

Chong Wei, 33 tahun dan Lin Dan, 32 harus berjuang sangat gigih untuk menjaga kebugaran meski tak bisa dibohongi kehadiran perban di sejumlah bagian tubuh saat bertanding menandakan bahwa fisik mereka tak bisa terus dipaksa. Selain itu, keduanya merupakan pemain tunggal sehingga koordinasi dan pengaturan diri menjadi tanggung jawab pribadi.

Kondisi ini sangat berbeda dengan sektor ganda yang butuh sinergi dan kolaborasi apik dengan pasangan. Penurunan performa salah satu pihak berdampak pada permainan secara keseluruhan. Kesalahan salah seorang berakibat pada poin bersama. Dalam kondisi tak seimbang, tak ada yang bisa dilakukan pasangan selain memberi semangat, mencoba mengambil peran lebih, dan menutup celah di lapangan sejauh dapat. Lebih dari itu hanya dewi fortuna yang tahu.

Apakah keduanya masih sanggup mempertahankan performa maksimal baik secara pribadi maupun sebagai pasangan? Melihat performa Hendra/Ahsan sejauh ini, terlihat jelas tren penurunan. Meski ketenangan dan kematangan bermain Hendra tak juga berubah, kecepatan dan tenaganya mulai berkurang. Dalam kondisi seperti ini tak bisa terus memaksa Ahsan yang nota bene jauh lebih muda untuk melancarkan smes keras.

Menghadapi lawan dengan pertahanan yang kuat, power saja tidak cukup. Smes keras belumlah memadai. Butuh kecepatan dan kecerdikan untuk melakukan tipuan-tipuan. Dan tak kalah penting adalah ketahanan fisik untuk terlibat dalam duel-duel panjang yang jelas membutuhkan determinasi tinggi.

Latar belakang di atas tentu belum cukup mengabsahkan “perceraian” mereka. Hendra/Ahsan masih memiliki kualitas untuk bersaing. Namun sebagai satu pasangan, grafik penampilan mereka terlihat menurun, dan diperkuat dengan rangking dunia yang kini melorot ke urutan lima.

Karena itu perpisahan Hendra/Ahsan bukanlah akhir dari karir mereka. Mereka berpisah untuk disandingkan dengan pasangan baru, para penerus. Kehadiran mereka diharapkan bisa memotivasi, dan memberikan tambahan pelajaran kepada para junior.
Hendra/Ahsan juara All England 2014 usai mengalahkan pasangan Jepang Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa, 21-19 dan 21-19/gambar dari badmintonindonesia.org.

Herry IP telah menyiapkan pasangan baru bagi Hendra/Ahsan yakni Rian Agung Saputro dan Berry Angriawan. Saat ini Rian/Berry tercatat sebagai satu pasangan namun prestasi mereka tak secemerlang dua ganda pelatnas lainnya yakni Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo serta Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Secara prestasi, dan tercermin dalam peringkat dunia Rian/Berry-kini di rangking 22 dunia- jelas tertinggal dari Marcus/Kevin dan Angga/Ricky yang kini berada di rangking 11 dan 13 dunia.

“Saya merasa Rian dan Berry masih belum konsisten di pertandingan, jadi akan dicoba lagi sama Hendra dan Ahsan,” papar Herry.

“Perceraian” Hendra/Ahsan dan terbentuknya pasangan baru Hendra/Rian dan Ahsan/Berry diharapkan membuka jalan untuk melahirkan pasangan gado-gado yang tangguh. Bukan mustahil, setelah Hendra pensiun, Ahsan dan pasangannya bisa melanjutkan kejayaan, sama seperti saat Hendra ditinggalkan Markis Kido kemudian berpasangan dengan Ahsan.

Apakah pasangan penerus itu adalah dalam diri Ahsan dan Berrry? Seperti dikatakan Herry IP, dua turnamen terbuka di Denmark Open Superseries Premier (18-23 Oktober) dan Prancis Open Super Series (25-30 Oktober) menjadi ajang uji coba. Dari sana kita bisa melihat ada tidaknya tanda-tanda positif itu.

Sambil menanti kiprah dua pasangan baru itu, dua turnamen terdekat, di Tokyo dan Seoul tetap menarik dinanti. Di sana kita melihat perjuangan Hendra/Ahsan meraih kado perpisahan yang indah.Terlepas dari itu, untuk semua prestasi dan kebanggaan yang telah mereka persembahkan, kita patut angkat topi dan berterima kasih.

Daftar juara Hendra/Ahsan:
2013 :
Juara Malaysia Open Super Series
Juara Indonesia Open Super Series Premier
Juara Singapura Open Super Series
Juara BWF Championship
Juara Japan Open Super Series
Juara BWF Superseries Finals
2014
Juara ALL England
Juara Hongkong Open Super Series
Medali emas Asian Games Incheon
2015
Juara Malaysia Open Super Series Premier 2015
Juara BWF Championship
Juara BWF Super series Finals
2016

Thailand Masters

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 8 September 2016.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...