(pada mulanya adalah KATA...)

Tuesday, May 17, 2016

Kalah Tipis,Tim Uber Indonesia ke Delapan Besar sebagai Runner Up

Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari/badmintonindonesia.org 

Anggia Shitta Awanda tak kuasa menahan tangis usai pertandingan partai keempat penyisihan Grup C antara Indonesia vs Thailand di Kunshan Sport Center, Tiongkok, Selasa (17/05/16) petang. Didampingi pasangannya Tiara Rosalia Nuraidah, Anggia tertunduk lesu meninggalkan arena pertandingan.

Tangis Anggia tampaknya lebih sebagai ekspresi kekecewaan usai melewati partai dramatis nan menentukan. Berpasangan secara dadakan dengan Tiara, keduanya gagal menjungkalkan Jongkolphan Kittiharakul/Rawinda Prajongjai melalui pertarungan ketat selama 50 menit.

Sempat menyamakan kedudukan di set kedua, Anggia/Tiara memiliki harapan untuk memenangkan pertandingan. Di set penentu beberapa kali perolehan poin keduanya mampu berada di depan 
pasangan Gajah Putih itu. Namun kehilangan dua poin terakhir membuat pasangan Thailand itu mengunci kemenangan dengan skor akhir 21-14 17-21 22-24.

Kekalahan ganda kedua ini membuat Tim Uber Indonesia harus rela menyerahkan status juara grup kepada Thailand. Sama-sama ke delapan besar, potensi lawan yang dihadapai akan berbeda. Thailand berpeluang menghindari tim kuat. Sebaliknya para Srikandi Merah Putih akan mendapatkan lawan tangguh untuk memperebutkan tiket semi final.

Terlepas dari siapa lawan di babak perempat final yang pasti Tim Uber telah memberikan yang terbaik di pertandingan terakhir penyisihan Grup C. Dengan sedikit perubahan komposisi, di antaranya dengan mengistirahatkan Greysia Polii dan Fitriani, sepertinya tim pelatih tak mau Indonesia bermain habis-habisan. Bisa saja tenaga Greysia dan Fitriani disiapkan untuk pertandingan sulit di delapan besar, mengingat di atas kertas peluang realistis Tim Uber Indonesia adalah menjadi runner up.

Di partai pertama, Maria Febe Kusumastuti tak bisa berbuat banyak saat berhadapan dengan jagoan Thailand, Ratchanok Intanon. Tunggal putri terbaik Tanah Air itu masih kalah kelas dari ratu bulu tangkis dunia itu. Selain itu track record Febe saat berhadapan dengan Intanon pun tak meyakinkan. Ia belum sekalipun menang atas Intanon dalam lima pertemuan mereka.

Intanon yang tampil cemerlang sepanjang tahun ini mengendalikan sepenuhnya pertandingan. Pebulutangkis nomor dua dunia itu butuh 42 menit untuk memenangkan pertandingan dengan skor 21-14 dan 21-14.

 “Dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya, Ratchanok sekarang lebih kuat, lebih cepat dan variasi pukulannya lebih banyak. Saya seperti cuma melayani permainan dia saja, susah mengimbangi. Dari segi kecepatan dan kekuatan, saya masih satu tingkat dibawah dia,” Febe mengakui keunggulan Intanon, dikutip dari badmintonindonesia.org.

Pebulutangkis 26 tahun itu melanjutkan, “Ratchanok punya senjata yang bikin kaget dan saya mati langkah. Saya sudah mencoba untuk menebak pergerakan Ratchanok, tapi tiba-tiba bisa dibelokkan sama dia.”

Ganda pertama Indonesia, Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari mampu menyamakan kedudukan usai menang mudah straight set atasSapsiree Taerattanachai/Puttita Supajirakul, 21-14, 21-12.
Hanna Ramadini/badmintonindonesia.org


“Ini pertemuan ketiga, jadi kami belajar dari pertemuan pertama dan kedua. Di pertemuan pertama kami menang, di pertemuan kedua kami kalah. Kami belajar dimana kekuarangan dan kelebihan kami saat melawan mereka,” ungkap Della.

Pemain 21 tahun Hanna Ramadini dipercaya sebagai tunggal kedua. Dalam posisi tertinggal, pemain asal Tasikmalaya, Jawa Barat itu menantang Busanan Ongbumrungphan. Walau usia Hanna lebih tua, secara rangking Busanan lebih baik.

Hanna yang kini berada di rangking 63 dunia masih sulit menandingi permainan agresif tunggal 19 dunia itu. Alhasil Hanna tak berkutik dan menyerah dua set langsung dengan skor cukup telak, 8-21, 11-21.

“Saya lebih banyak main bertahan, ngga ada serangan balik, saya banyak diserang oleh lawan. Serangan Busanan hari ini memang lagi bagus. Shuttlecock yang dipakai hari ini lebih berat dari yang kemarin, saya kalah dari segi tenaga juga,” ungkap Hanna.

Setelah partai ketiga, kombinasi baru Tiara Rosalia /Anggia Shitta bertemu Jongkolphan Kittiharakul/Rawinda Prajongjai. Seperti disebutkan di atas laga keduanya berjalan sengit dan Tiara/Anggia nyaris memperpanjang nafas Merah Putih. Namun harapan segenap masyarakat Indonesia belum terwujud.

Pertandingan kelima, sudah tidak menentukan lagi. Namun, tak menghalangi Gregoria Mariska untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya, sekaligus menimba pengalaman di ajang tersebut. Menghadapi Nitchaon Jindapo, jelas Gregoria kurang diunggulkan.

Secara pengalaman dan rangking Gregoria kalah. Namun, dara asal Wonogiri yang kini berada di rangking 106 mampu memberikan perlawanan sepadan tehadap tunggal nomor 25 dunia itu. Sempat tertinggal di set pertama, pemain yang baru berusia 16 tahun itu mampu memaksa terjadinya rubber set hingga memenangkan laga dengan skor 21-13 14-21 20-22.

Berat

Menjadi runner up grup setelah menyingkirkan Hong Kong dan Bulgaria, membuat Tim Uber Indonesia harus bekerja ekstra keras di delapan besar. Pasalnya peluang untuk bertemu para juara grup terbuka lebar.

“Memang hasil ini tidak seperti yang diperkirakan, pertaruhannya di tunggal ketiga, kami memasang debutan dan bisa berhasil. Hasil ini membuat langkah tim Uber lebih berat, karena di perempat final kami akan bertemu para juara grup,” ungkap Achmad Budiharto, Chef de Mission tim Thomas dan Uber Indonesia.

 Namun, seperti dikatakan Achmad, situasi ini tak bisa dihindari dan harus dihadapi dengan sekuat tenaga. Terlepas dari siapa lawan yang akan ditemui, para Srikandi sejatinya bermain lepas tanpa beban.

“Tetapi ini harus kita hadapi, dengan predikat underdog, mudah-mudahan pemain kami bisa tampil lepas,” lanjutnya.

Berdasarkan aturan yang diterapkan di ajang beregu ini, ada kemungkinan dua tim yang bertemu di fase grup bertemu lagi di delapan besar. Aturan ini berbeda dengan yang diterapkan pada babak kualifikasi Thomas dan Uber pada bulan Februari lalu.

Dengan demikian dari hasil undian ada peluang Indonesia kembali bertemu Thailand. Budiarto yang merupakan WakilSekretaris Jenderal PP PBSI menjelaskan, “Tim Uber Indonesia ada kesempatan ketemu Thailand lagi di perempat final dan peluang kami terbuka. Sebetulnya tadi Tiara/Anggia punya kesempatan di game kedua dan ketiga tetapi Tuhan berkata lain.”

Sambil menanti siapa lawan yang dihadapi nanti, perjuangan para Srikandi Merah Putih tetap harus diapresiasi. Dukungan dan harapan tetap kita lantunkan, mengiringi langkah mereka di delapan besar.

Hasil pertandingan Tim Uber Indonesia vs Thailand (2-3) :

Maria Febe Kusumastuti vs Ratchanok Intanon 21-14, 21-14
Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari vs Sapsiree Taerattanachai/Puttita Supajirakul 21-14, 21-14
Hanna Ramadini vs Busanan Ongbumrungphan 8-21, 11-21
Tiara Rosalia Nuraidah/Anggia Shitta Awanda vs Jongkolphan Kittiharakul/Rawinda Prajongjai 21-14, 17-21, 22-24
Gregoria Mariska vs Nitchaon Jindapol 13-21, 21-14, 22-20

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 17 Mei 2916.
http://www.kompasiana.com/charlesemanueldm/kalah-tipis-dari-thailand-tim-uber-indonesia-ke-delapan-besar-sebagai-runner-up_573b03650bb0bd260962cdd3





No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Video Bar

Loading...

Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon Kembali ke Puncak Ranking Dunia

Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya. Gambar: www.badmintonindonesia.org Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon kembali ke ben...