(pada mulanya adalah KATA...)

Tuesday, March 8, 2016

Sejuta Makna Aksi Solidaritas Merah Putih untuk Rio Haryanto

Ilustrasi: kemenpora.go.id


Demikianlah tajuk aksi yang digelar Menpora, Imam Nahrawi dan jajarannya di Wisma Kemenpora, Senin (7/3) untuk membantu pebalap F1 Rio Haryanto. Cak Imam, demikian sapaan manis Menpora, tampaknya tak sekadar berbasa-basi untuk membantu pebalap 23 tahun itu. 

Patut diakui janji bantuan Rp100 miliar dari pemerintah menimbulkan perdebatan luas dan masih harus melewati jalan terjal birokrasi dan regulasi. Namun demikian, Cak Imam memiliki cara lain untuk tetap memberikan perhatian kepada Rio. Salah satunya melalui aksi Solidaritas Merah Putih untuk Rio Haryanto itu. 

Aksi tersebut sudah dimulai dari lingkungan sekitar Menpora. Dalam semangat sukarela, Cak Imam dan para pejabat eselon I, II, III, IV berikut jajaran Kemenpora memberikan donasi kepada Rio.  Cak Imam menegaskan bahwa sumbangan tersebut tak berasal dari pemotongan gaji, seperti wacana yang sempat berhembus belakangan ini. Rumor tersebut pun sempat membuat ibunda Rio, Indah Pennywati,  dan sang manajer Piers Hunnisett yang hadir saat itu was-was dan enggan menerimanya.

Namun, Menpora secara tegas dan meyakinkan mengatakan sumbangan yang diberikan murni dari pemberian ikhlas, tanpa ada unsur paksaan apalagi via "sunat" gaji. Menpora menyumbang Rp20 juta dari total dana yang terkumpul sebesar Rp.262.734.200,00 saat itu. Dana tersebut langsung disalurkan ke rekening khusus Rio Haryanto yang diluncurkan pada saat itu juga. 

"Ini rekening yang langsung dimiliki oleh Rio, jadi terserah nanti akan digunakan oleh Rio. Makanya namanya Solidaritas Merah Putih untuk Rio Haryanto. Jadi seikhlasnya tak ada potong gaji," ungkap Menpora seperti dikutip dari INDOSPORT.com. 

Sarat makna 

Menpora telah mengambil langkah konkret untuk mendukung Rio yang masih membutuhkan dana tak sedikit. Seperti kita ketahui melalui sejumlah pemberitaan, Rio masih memiliki tunggakan pada Tim Manor Racing yang dibelanya musim ini. Dari total 15 juta Euro (setara Rp225 miliar) yang diminta tim asal Inggris itu, pihak Rio baru membayar 2,2 juta Euro. 

Dalam rencana pihak Pertamina sebagai sponsor utama Rio akan melengkapi 5,2 juta Euro sesuai kesepakatan sebelum seri ketiga musim ini yang akan digelar di Tiongkok, 17 Maret nanti. Aksi yang diambil Menpora, hemat saya memiliki sejumlah makna penting. 

Pertama, sebagai aksi panggilan untuk membantu Rio yang baru saja menjalani tes pramusim di Barcelona, Spanyol dan tengah bersiap menjalani debut di GP Australia, 20 Maret 2016 nanti. Aksi tersebut merupakan bentuk ajakan untuk memberikan dukungan finansial demi melengkapi kebutuhan Rio yang sangat bantaj di ajang yang sangat menguras kantong. Tentu, angka kebutuhan tingkat tinggi itu mustahil ditalangi Rio seorang diri. 

Kedua, melecut rasa solidaritas untuk membantu anak bangsa berbakat dan berprestasi. Pengalaman Rio Haryanto  menjadi cerminan bahwa tak mudah pemerintah menggelontorkan uang rakyat untuk membantu atlet apalagi di cabang olahraga sarat bisnis seperti ini. Maka cara lain yang bisa ditempuh ialah melalui aksi nyata seperti itu. Dengan memberikan bantuan secara ikhlas, kita pun turut menjadi bagian dari perjalanan sejarah Rio di ajang "wah" itu. 

Ketiga, mengetuk pintu perhatian dari para pihak yang berkecukupan dan memiliki kemampuan finansial memadai. Dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia jumlah kaum berpunya (The have) lebih dari cukup untuk memberikan separuh dari kepunyaannya untuk membantu Rio. 

Keempat, sebagai ajakan agar aksi yang sudah dimulai pihak Kemenpora bisa memberikan efek bola salju kepada instansi, lembaga-lembaga atau kementerian lain baik yang terkait maupun tak terkait untuk mempromosikan Indonesia melalui Rio Haryanto. 

Menpora mengaku sudah ada tanda positif dari Kementerian Pariwisata dan PT Garuda Indonesia. Diharapkan sinyal bagus itu bisa segera menyata mengingat Rio pun bisa menjadi agen promosi yang andal. Bila selama ini Kementerian Pariwisata memakai cara lain untuk memperkenalkan Indonesia, demikian pun Garuda Indonesia yang pernah menggandeng Liverpool sebagai parter bisnis dan promosi, mengapa tidak memanfaatkan aset bangsa yang satu ini? 

Jangan jadi beban 

Tentu tak bisa dipungkiri bahwa solidaritas yang diberikan kepada Rio bukan tanpa risiko. Dukungan yang diberikan sudah pasti dibarengi dengan ekspekstasi dan harapan tertentu. Bahkan bisa sedemikian tinggi yang membuat Rio akhirnya merasa terbebani. 

Pada titik ini kedewasaan Rio pun dituntut. Sebagaimana kompetisi yang memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi dan menguras mental, perlahan-lahan diharapkan mental Rio semakin terasah, termasuk dalam menanggapi reaksi beragam dari masyarakat yang sudah terlihat sejak angin polemik bantuan berhembus. 

Sebagai bangsa, kita tentu berharap agar Rio menjadikan dukungan itu lebih sebagai lecutan untuk mengasah diri dan meraih prestasi. Dan bukan beban yang memangsa perhatian dan pikiran yang bisa berakibat fatal. Sebaliknya, kedewasaan kita sebagai bangsa pun dituntut. Sebagai pembalap muda sekaligus debutan di ajang prestisius itu, kita tak bisa menaruh target terlampau tinggi kepada Rio. Harapan untuk tetap bertahan di ajang F1 sudah lebih dari cukup bahkan sudah menjadi kebanggan tersendiri bagi kita. 

Biarlah Rio tetap fokus mempersiapkan diri jelang debut di Australia pada pertengahan Maret ini, dan kita pun tak kenal lelah dan tanpa pamrih mendukungnya, sebagai bagian dari 'kita' yang menjunjung tinggi dan mencintai Merah Putih yang satu dan sama. 

N.B:  

Bagi yang ingin memberikan donasi bisa disalurkan melalui rekening Solidaritas Merah Putih untuk Rio Haryanto  

122 0000 882 012  
atas nama Rio Haryanto  Bank Mandiri KCP Jakarta gedung pusat Kehutanan.  

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 7 Maret 2016

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/charlesemanueldm/sejuta-makna-aksi-solidaritas-merah-putih-untuk-rio-haryanto_56dd4503c3afbd8f11b9dc6f

No comments:

Post a Comment

Video Bar

Loading...

Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon Kembali ke Puncak Ranking Dunia

Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya. Gambar: www.badmintonindonesia.org Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon kembali ke ben...