(pada mulanya adalah KATA...)

Thursday, June 22, 2017

Surabaya Kota Pariwisata dan Asa 60 Tahun Astra



Salah satu sisi Kota Surabaya/viva.co.id

Menyebut Kota Surabaya, apa yang terbersit dalam pikiran Anda? Sudah pasti predikat sebagai kota terpadat, tersibuk, dan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Status tersebut diafirmasi dalam geliat ekonomi yang tercermin di antaranya dari pendapatan asli daerah (PAD). Mengutip Tribunnews.com, Senin, 4 Januari 2016, PAD Surabaya khususnya dan Jawa Timur umumnya dari sejumlah sektor tertentu mengalami lonjakan signifikan. Menariknya, hal ini terjadi justru saat ekonomi makro kurang bergairah.

Dari sejumlah sektor, pajak dan retribusi memiliki andil terbesar bagi PAD. Bahkan PAD sepanjang tahun 2015 melampaui nasional. Bila realisasi pendapatan asli negara dari sektor pajak tahun 2015 hanya 84,5 persen dari target, realitasasi PAD Jatim malah tembus 101, 74 persen.

Sumbangan terbesar datang dari pajak kendaraan bermotor (PKB) dengan realisasi 102,33 persen, bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) dengan realisasi mencapai 95,52 persen, dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) dengan realisasi hingga 100,7 persen. Begitu juga dari sumber lain seperti pajak rokok dengan realisasi 113 persen, retribusi jasa usaha dengan realisasi hingga 130,72 persen serta penerimaan lain-lain dari parkir berlangganan dengan realitasi mencapai 120,08 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa geliat ekonomi di Surabaya sanggup menantang arus perlambatan yang terjadi secara umum. Meski ekonomi nasional melemah, ketataan masyarakat untuk memenuhi kewajiban bayar pajak tak terpengaruh. Selain kesadaran akan tanggung jawab sebagai warga negara yang meningkat, bisa jadi, iklim ekonomi yang baik membuat masyarakat sanggup menyisihkan sebagian dari pendapatannya dalam bentuk pajak. 

Namun kenyataan ini sekaligus memunculkan pertanyaan. Apakah Surabaya memang hanya bisa hidup  dan menghidupkan diri dari pajak kendaraan dan aneka retribusi tersebut? Apakah Surabaya akan terus mengandalkan sektor-sektor tersebut di masa datang? Bagaimana dengan potensi pendapatan lainnya?

Satu hal yang patut dicermati adalah potensi pariwisata di Surabaya. Cukup janggal memang membicarakan pariwisata dalam konteks Surabaya. Biasanya di benak kita pariwisata identik dengan kota-kota tertentu seperti Bali dan Yogyakarta. Apakah Surabaya tak pantas menyandang status kota pariwisata? Apakah Surabaya tak berpotensi menyaingi Bali dan Yogyakarta?

Tentu saja bisa. Di Kota Surabaya misalnya potensi itu sudah ada. Bahkan potensi wisata di Surabaya lebih dari cukup untuk dikembangkan. Slogan pembangaunan Surabaya menuju kota MICE (Meeting, Incentive, Coference, Exhibition)  dengan sendirinya membuka kans bagi sektor yang satu ini. 

Bagaimana bisa? Bisa jadi kita terlalu menganggap biasa berbagai potensi yang ada di Surabaya saat ini sampai-sampai gagap untuk memanfaatkannya. Cukup ironis memang bila banyaknya potensi justru menenggelamkan potensi pariwisata di Kota Surabaya sendiri. Dari ujung yang satu ke ujung yang lain bertaburan titik-titik potensial untuk dikembangkan. Dalam serba keberagaman peluang untuk menjadi lebih majemuk terbuka lebar.

Sebagai contoh. Di Surabaya Utara terdapat tempat-tempat kultural yang sangat kental nuansa historis. Di sana ada Tugu Pahlawan, Gedung Grahadi, juga House of Sampoerna. Wilayan ini bisa dikembangkan sebagai locus pariwisata berbasis budaya.
Tugu Pahlawan dan Monumen 10 November/telusurindonesia.com
Di sisi lainnya, bagian selatan, bercokol tempat-tempat hiburan, rekreasi dan aneka pusat perbelanjaan. Wilayan ini bisa dikembangkan sektor pariwisata bernuansa hiburan, rekreasi, dan berbelanja dengan menjamurnya taman-taman publik, dan juga kebun binatang.

Bagaimana wilayah Timur? Potensi laut dan maritim sangat menjanjikan. Ada Jembatan Suramadu dan Mangrove yang bisa dioptimalkan. Di wilayah Barat bisa dikembangkan wisata lifestyle, yang mana saat ini sudah diciptakan menjadi kota dalam kota. Sementara di wilayah pusat, bisa menjadi locus utama perwujudan MICE. Banyaknya hotel, mall, dan convention hall menjadi aset sekaligus sarana vital untuk menjalankan konsep tersebut.

Potensi menjanjikan itu akan tinggal tetap sebagai potensi bila tidak ada upaya lanjutan dari para pihak. Sebagai tokoh kunci, pemerintah melalui dinas terkait seperti dinas pariwisata perlu memiliki master plan untuk rencana masa depan. Melengkapi berbagai infrastruktur penunjang seperti jalan, dan berbagai fasilitas publik lainnya adalah penting untuk menunjang terwujudkan rencana besar tersebut.

Selain itu dibutuhkan kontribusi dari pihak-pihak lain mulai dari masyarakat hingga pihak swasta. Masyarakat perlu diedukasi dan dipantik kesadarannya bahwa Surabaya adalah kota wisata. Pemahaman dan kesadaran ini pada gilirannya akan menuntun sikap sekaligus perilaku berwawasan wisata. Selain menunjukkan keramahan dan keterbukaan kepada siapa saja, posisi tersebut memacu masyarakat untuk ikut ambil bagian medapatkan manfaat dari kehadiran orang-orang dari luar daerah, hingga turis-turis dari mancanegara.

Pihak swasta antara lain pelaku bisnis. Mulai dari pemilik hotel, restoran, biro perjalanan, hingga pengusaha yang bergerak di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Di antara para pelaku bisnis ini dituntut adanya sinergi untuk membangun kerja sama. Sulit membayangan bira setiap pihak berjalan sendiri-sendiri maka yang terjadi bukan kemajuan tetapi kemunduran. Bali menjadi contoh sukses bagaimana kerja sama di setiap lini berjalan baik.

Dalam rangka itu maka perlahan-lahan pemerintah dan para pihak terkait perlu duduk bersama. Bersama menyusun rencana strategis dengan pola kerja dan koordinasi yang jelas. Dalam master plan tersebut patut untuk memperhatikan konektivitas di antara wilayah dengan keragaman dan keunikannya, juga perlahan-lahan melengkapi berbagai sarana penunjang penting. Agar para wisatawan bisa menikmati pariwisita maka kebutuhan dasar mereka seperti makanan, minuman, rasa aman, dan nyama harus tercukupi.

Asa Astra

Sebagai salah satu bagian dari perjalanan ekonomi bangsa, Astra telah berkontribusi bagi negeri sejak berdiri 60 tahun silam. Sesuai motonya “Sejahtera Bersama Bangsa”, perusahaan multinasional yang bergerak di bidang otomotif ini tidak pernah menutup mata untuk ikut andil dalam pembangunan di daerah.

Surabaya adalah salah satu daerah yang sudah merasakan bagaimana kontribusi perusahaan yang didirikan oleh Tjia Kian Tie dan William Soerjadjaja ini. Selain melalui kendaraan yang diproduksi dan tenaga kerja yang diserap, Astra juga telah ambil bagian dalam proses pembangunan berkelanjutan dengan menyentuh kreativitas anak-anak muda.

Pada 21 Mei 2017 lalu, Astra dan pemerintah setempat menggelar Geekfest 2017. Ini merupakan event yang mempersatukan anak muda Surabaya yang kreatif dan berpeluang memberikan andil bagi terciptanya iklim ekonomi kreatif di Surabaya.

Dukungan Astra ini amat penting. Selain menyasar anak muda sebagai tulang punggung pembangunan, suntikan semangat dan inspirasi hingga modal untuk berkreasi penting untuk menggeliatkan industri dan ekonomi Surabaya. Anak-anak muda inilah yang nantinya akan menghidupkan sektor UMKM, salah satu mata rantai dalam industri pariwisata Surabaya.

Semoga inisiatif Astra ini membuka jalan bagi para generasi penerus untuk mulai menyiapkan diri menjadi manusia-manusia kreatif yang pada gilirannya bisa berguna bagi banyak orang melalui geliat ekonomi kreatif yang dibangun.Niscaya semakin banyak orang-orang muda yang kreatif maka asa Astra dan harapan untuk menjadikan Surabaya sebagai kota pariwisata dapat terwujud.

Selamat ulang tahun Astra!





Post a Comment

1 comment:

  1. ini yang membuat saya pengen banget liburan ke surabaya, kotanya sudah banyak pilihan destinasi wisatanya jadi gak perlu jauh-jauh main ke daerah, cukup keliling kota sudah bisa dapatkan semua yang dicari.

    ReplyDelete

Video Bar

Loading...

Menanti The Minions Sempurnakan Predikat Pemain Terbaik 2017

Marcus dan Kevin menyabet penghargaan Pemain Putra Terbaik 2017/badmintonindonesia.org Patut diakui kebanggaan bulu tangkis Indonesia m...