(pada mulanya adalah KATA...)

Wednesday, June 28, 2017

Lebih Sadar Masalah Pencernaan Anak Bersama EnfaClub


dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A sedang membawakan materi/foto dari Nury Sybli
“Tahu tidak perbedaan pertumbuhan dan perkembangan?” tantang M.Nuh Nasution membuka percakapan. Pertanyaan menohok dari Tim Ahli EnfaA+ itu membuat otak saya berpikir keras untuk mencari jawaban yang pas. Sisa-sisa pengetahuan dari masa lalu perlahan-lahan mulai menyembul. Setelah mendapat cukup amunisi, saya berusaha memberi jawaban atas pertanyaan yang menjebak itu. 

Itu adalah satu dari rangkaian pertanyaan penting yang mengemuka di sela-sela acara diskusi interaktif pada Sabtu, 17 Juni 2017 lalu di salah satu kafe di bilangan Jakarta Selatan. Diinisiasi oleh EnfaClub, acara hari itu mengambil tema, “Tidak Semua Masalah Pencernaan Berkaitan Dengan Alergi.”

Sekilas mengacu pada tajuk pembicaraan, pembahasan hari itu tentu lebih seputar masalah pencernaan anak dan bagaimana keterkaitannya dengan alergi.  Poin utama yang ingin ditekankan adalah tidak semua masalah pencernaan berhubungan dengan alergi. Dengan kata lain, tidak semua masalah pencernaan tersebab alergi. Para narasumber yang hadir pun sangat berkompeten untuk membuktikan pernyataan tersebut.  Mereka adalah dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A, yang berbicara panjang lebar tentang pencernaan pada anak; serta M.Nuh Nasution yang khusus menyoroti alergi pada anak melalui tes alergi susu sapi. 

Sebelum berbicara masalah pencernaan dan alergi ada baiknya kita kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Sadar atau tidak, istilah pertumbuhan dan perkembangan pada manusia kerap disamaartikan, atau lebih celaka lagi, disalahartikan. Padahal, kedua kata itu memiliki arti berbeda. 

Pertumbuhan mengacu pada pertambahan ukuran, volume dan massa yang bersifat “irreversible” atau tidak dapat kembali lagi. Pembesaran sel dan pertambahan jumlah sel akibat proses pembelahan sel kemudian menyata dalam pertambahan tinggi badan, panjang, atau berat badan. Pertumbuhan bisa dinyatakan secara kuantitatif. Pertumbuhan seorang anak misalnya, bisa dilihat dari perubahan tinggi badan, berat badan, dan sebagainya.

Sementara perkembangan lebih pada proses kualitatif menuju tingkat kedewasaan tertentu. Ia tidak dapat dinyatakan dengan bilangan atau angka-angka, melainkan terlihat dari sifat dan kemampuan. Saat bayi baru lahir tentu ia belum bisa berbicara. Lambat laun ia mulai bisa mengucapkan kata-kata tertentu hingga akhirya fasih berbicara. Bila pertumbuhan tak bisa kembali dan dibatasi oleh waktu, tidak demikian dengan perkembangan. Hingga usia tua pun manusia tetap mengalami perkembangan, seperti dalam mempelajari bahasa atau keterampilan tertentu.

Meski demikin pertumbuhan dan perkembangan ibaratnya dua sisi dari sebuah koin kehidupan manusia. Keduanya terbentuk sebagai hasil interaksi antara berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar. Faktor dari dalam bisa berupa gen, hormon, hingga nutrisi. Sementara faktor dari luar berupa lingkungan atau ruang pergaulan.  

Nutrisi yang tepat
Dengan tanpa mengabaikan faktor-faktor lain, nutrisi yang tepat akan menentukan tumbuh-kembang anak. Selain wajib memberikan nutrisi yang dibutuhkan anak, agar tumbuh dan kembang si buah hati berjalan optimal maka orang tua pun harus memastikan bahwa nutrisi yang diberikan itu bisa terserap maksimal. Agar proses penyerapan itu bisa berjalan sempurna maka nutrisi yang diberikan harus sesuai dengan kondisi pencernaan sang anak.

Menurut dr. Ariani Dewi Widodo, pencernaan sangat vital bagi pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan. Ia menjadi kunci untuk mencapai generasi yang cerdas di masa depan. “Makanan yang ditelah akan diserap oleh usus, selanjutnya diedarkan oleh pembulu darah ke otak dan semua organ tubuh sehingga anak dapat manfaat untuk mencapai kecerdasan dan pertumbuhan. Agar bisa bermanfaat maka nutrisi itu harus diserap tubuh secara baik.”
Bila nutrisi itu tidak dicerna maka tidak ada yang bisa diserap. Bila tidak diserap maka akan terbuang. Nutrisi itu akan dibuang ke usus besar, selanjutnya mengalami proses fermentasi. Hasilnya dalam bentuk gas dan asam organik. Tak pelak anak menjadi rewel, mudah menangis dan sebagainya. 

Dokter Ariani mengingatkan bila masalah pada anak ini dianggap biasa dan dibiarkan berlarut-larut maka akan membawa dampak jangka panjang. Anak akan tumbuh menjadi sosok hiperaktif, sering cemas, mengalami gangguan tidur, sering migrain, dan rentan mengalami alergi-alergi lain.

Karena itu orang tua perlu memahami seluk beluk pencernaan pada anak. Patut diingat, saat anak baru lahir pencernaannya belum berjalan sempurna. Bayi pun dihadapkan pada persoalan gangguan pencernaan fungsional, yang mayoritas atau sekitar 50 persen terjadi karena pencernaan belum berfungsi secara sempurna. 

Sejalan dengan itu enzim-enzim pencernaan yang penting seperti enterokinase dan laktase pun belum sepenuhnya berfungsi. Enterokinase merupakan enzim yang berfungsi memecah protein. Sementara laktase berperan memecah gula yang disebut laktosa. Laktosa ini ditemukan dalam susu dan produk susu lainnya. Karena berbentuk senyawa gula besar, laktosa tidak dapat diserap tubuh secara alami. Agar metabolisme bisa berjalan maka tubuh memerlukan laktase untuk memecah laktosa menjadi dua partikel lebih kecil yang disebut glukosa dan galaktosa sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh.

Menurut dr. Ariani saat anak baru lahir enterokinase baru berperan sekitar 70 persen, sementara laktase baru bisa bekerja 20 persen. Karena itu sistem pencernaan pada bayi-bayi berusia muda tidak mudah mencerna protein dan gula dalam bentuk utuh sehingga perlu dipecahkan terlebih dahulu.
M.Nuh sedang mengarahkan peserta untuk melakukan tes alergi susu sapi/foto Nury Sybli
Tidak semua karena alergi

Dengan gambaran singkat di atas maka cukup jelas kiranya bahwa tidak semua persoalan pencernaan berkaitan atau tersebab karena alergi. Orang tua tidak bisa serta merta mengambil kesimpulan apriori bila terjadi masalah pada pencernaan bayi maka langsung mencarikan sebabnya pada alergi. 

Alergi itu sesuatu yang wajar. Sebab, ia adalah respon system imun tubuh terhadap sesuatu yang dianggap membahayakan bagi tubuh sehingga menimbulkan gejala tertentu. Gejala-gejala alergi umumnya terjadi seperti berikut ini: 

  • Muncul pada kulit berupa ruam kemerahan yang gatal.
  •  Adanya gangguan saluran pencernaan seperti muntah, mual, diare, mulas, dan sebagainya.
  • Adanya gangguan saluran pernapasan seperti membengkaknya saluran hidung yang menyebabkan hidung tersumbat, timbulnya asma dan sesak napas.
  • Gejala lain seperti pada mata, jantung dan pembuluh darah, serta pusing dan merasa takut-cemas.

Terkait alergi, dr.Ariani membeberkan hasil penelitian medis bahwa prevalensi alergi pada bayi hanya berkisar 2 hingga 7 persen. Artinya, dalam 100 anak, hanya ada tujuh anak yang berpotensi alergi. Sebagian besar persoalan pencernaan bisa mengacu pada data berikutnya, yakni 50 persern anak yang lahir cukup umur memiliki saluran pencernaan yang belum matang. Akibatnya, aktivitas pencernaan termasuk yang melibatkan enzim-enzim pencernaan seperti enterokinase dan laktase masih terbatas atau rendah.

Meski begitu, lanjut dr.Ariani, seorang anak tetap berpotensi mengalami alergi susu sapi. Biasanya peluang terbesar terjadi alergi karena faktor bawaan atau keturunan. “Pada bayi bisa terjadi alergi susu sapi namun tidak semua bayi bisa mengalaminya,” tegasnya.
Slide presentasi
Terjadinya alergi susu sapi dikarenakan usus bayi belum rapat sehingga alergi dari protein susu sapi mudah masuk. Namun seiring berjalannya waktu, usus pun semakin rapat sehingga alergi pun akan hilang. Saat berusia satu tahun, 70 persen bayi yang semula alergi tidak akan mengalami lagi. Sementara itu saat berusia tiga tahun hampir semua bayi (atau 90 persen) yang mengalami alergi akan sembuh. “Lambat laun alergi itu tidak akan terjadi lagi.”

Agar tidak gegabah mengambil sikap dan tindak lanjut sebaiknya orang tua mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mencari tahu penyebab masalah lebih jauh
  2. Mencatat apa yang dikonsumsi anak sebelum terjadinya masalah.
  3. Selanjutnya berkonsultasi dengan dokter.

Selain mengamati orang tua bisa mengambil langkah lainnya untuk memastikan apakah anak mengalami alargi atau tidak sehingga bisa mengambil tindakan yang tepat. 

Enfaclub telah menyediakan ruang digital bagi para orang tua untuk berkonsultasi, termasuk melakukan tes alergi susu sapi. Seperti dijelaskan M.Nuh, dengan berkunjung ke enfaclub.com/tesalergi-sususapi, orang tua akan dibimbing untuk menjawab serangkaian pertanyaan. Dengan mengisi/tick mark pilihan-pilihan sesuai gejala yang diderita anak, pada akhirnya orang tua akan mengetahui apakah si buah hati mengalami alergi susu sapi atau tidak.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya terkait frekuensi menangis (Berapa sering si kecil menangis?) dan gumoh. Lantas diarahkan untuk memilih tipe feses si kecil. Pada bagian selanjutnya orang tua akan dihadapkan dengan pertanyaan, “Apakah kulit si kecil terdapat gejala dermatitis atopi?”, “Apakah pada kulit si kecil terdapat biduran?” dan “Adakah gejala pada saluran pernapasan si kecil?” Pada akhirnya setelah mengisi data ibu dan anak, akan muncul skor penilaian berikut analisa yang menjawab pertanyaan utama, “Apakah si kecil mengalami alergi susu sapi atau tidak?”
Diagnosis dan rekomendasi setelah melewati serangkaian tes alergi susu sapi.
Pertanyaan yang jelas dibantu dengan ilustrasi yang gamblang sangat membantu orang tua. Selain itu, menurut informasi M.Nuh, di website tersebut orang tua bisa bertanya lebih jauh hingga mendapat informasi yang jelas dan akurat. Jadi dengan gawai di tangan, orang tua akan sangat terbantu untuk mengetahui kondisi sang buah hati.

Pertanyaan penting, bagaimana bila hasil tes menunjukkan bayi menderita alergi susu sapi? Pastinya, orang tua tidak perlu panik. Tetap tenang adalah sikap terbaik. Selanjutnya membawa bayi ke dokter untuk mendapatkan tindakan medis yang benar.
Dokter Ariani juga menganjurkan agar berhenti mengkonsumsi susu, makanan atau minuman yang mengandung susu. Tak kalah penting, “ganti susu sapi dengan produk lain. Utamakan ASI karena ia paling sesui dengan kebutuhan bayi.”
Tes alergi susu sapi dengan mudah dilakukan menggunakan telepon genggam/foto Nury Sybli

MeadJhonson produk pilihan

Untuk mendukung tumbuh dan kembang anak, orang tua selalu menyertai suplemen seperti susu. Terutama pada ibu yang mengalami masalah dengan ASI, susu formula selalu menjadi pelarian utama. Alasannya, bayi tidak bisa tidak membutuhkan pasokan nutrisi agar tumbuh-kembangnya terjaga. 

Langkah terbaik adalah mengkonsumsi susu formula dengan protein yang telah terhidrolisa ekstensif seperti formula Nutramigen LLG dari Mead Johnson. M.Nuh Nasution menjelaskan, produk MeadJohnson telah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pencernaan setiap anak. Produk MeadJohnson misalnya, telah memperhitungkan tingkat kebutuhan nutrisi seperti protein bagi anak dengan menjaga komposisi W (cair) dan KCL (gumpal) dalam susu. 

Prdouk MeadJohnson berusaha menciptakan formula susu seperti ASI dengan W 60 persen dan KCL 40 pesen. Dengan demikian protein tersebut mudah dipecah sehingga gampang dicerna oleh bayi, termasuk pada bayi sensitif atau dengan enzim enterokinase sedikit. 

Perusahaan yang telah berusia lebih dari seabad ini, sejak didirikan Edward Mead Johnson, Sr. pada  1905, terus melakuan inovasi. Kini hadir aneka produk makanan bayi, hingga susu formula seperti Enfa A+  (Enfa Mama A+, Enfagrow A+3 untuk usia 1 – 3 tahun, Enfagrow A+ 4  untuk usia 3 – 12 tahun).

Dari berbagai produk yang tersedia, MeadJohnson juga tak lupa menyediakan produk untuk mengatasi bayi alergi susu sapi. Produk tersebut dilengkapi pula unsur probiotik yang turut berperan menyembuhkan persoalan alergi pada anak.

Salah satu produk terbaik itu adalah EnfaGrow A+ gantle care. Susu formula ini diperuntukan bagi anak yang mengalami ketidaknyamanan dengan pencernaan seperti perut kembung atau sering buang angin. Dengan teknologi PHP (Partially Hydrolyzed Protein) kandungan protein yang tersaji lebih halus sehingga mudah dicerna pada bayi dengan pencernaan yang sensitif. Susu tersebut dilengkapi nutrisi penting seperti Omega 3 dan omega 6, Kalsium, Zat Besi, Asam Folat, Vitamin B1, B6 dan vitamin B12, yang sangat berperan penting mendukung tumbuh dan kembangnya.
Contoh produk/foto Nury Sybli
Periode emas

Acara hari itu dilengkapi dengan kehadiran Group Head Digital Zenit Optimedia Parjono Sudiono yang membahas “Cara Membuat Artikel SEO Friendly”. Materi yang disajikan memberi warna berbeda sekaligus menambah wawasan para blogger, sehingga bisa berkomunikasi lebih luas di dunia digital.

Menindaklanjuti informasi dari Parjono, para perserta pun tertantang untuk menghasilkan tulisan yang bisa dijangkau lebih luas sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh semakin banyak orang. Tema yang diangkat hari itu sangat penting dan relevan. Tumbuh dan kembang anak adalah hal penting yang patut dipahami oleh orang tua dan calon orang. Lebih jauh, soal ini pun tidak hanya menjadi perhatian para orang tua semata.
Parjono Sudiono/foto Feryana Sari
Pemerintah pun merasa perlu ikut campur. Bagaimanapun juga masa depan bangsa terletak di tangan anak-anak kita. Sudah sejak 30 Oktober 2013 silam pemerintah meluncurkan “Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan.” Gerakan ini menggarisbawahi pentingnya perhatian optimal pada 1000 hari pertama kelahiran. Sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun anak mengalami apa yang disebut “window of oppurtunity”  atau periode emas. 

Selama periode emas itu segala kebutuhan anak harus tercukupi secara seimbang sehingga perkembangan dan pertumbuhannya berjalan optimal. Tak terkecuali soal nutrisi yang tepat dengan menaruh perhatian pada urusan pencernaan. Bagaimanapun juga pencernaan adalah kunci menuju tumbuh-kembang anak secara optimal. 

Ahirnya, menyitir pernyataan Dudi Adrian, perwakilan dari EnfaClub saat membuka acara hari itu, orang tua sebaiknya memiliki pengetahuan yang cukup sebelum menyerahkan segala persoalan kepada dokter. Pada titik ini saya pun tersadar, betapa luhurnya status sebagai orang tua, dan betapa sarat tanggung jawab untuk memenuhi panggilan luhur itu.

Terima kasih EnfaClub atas penyadaran hari itu!



Post a Comment

5 comments:

  1. bener banget nih, setelah 1thn alergi susu sapi anak saya semakin berkurang, bahkan sekarang sudah gak alergi susu sapi lagi 😊

    ReplyDelete
  2. Kalau saya paling ingat dari Bpk. Adrian: sekali salah mengambil asumsi (atas gejala masalah pencernaan anak), maka langkah seterusnya akan salah terus. Jadi orangtua memang perlu belajar terus mulai dari sebelum si anak lahir.

    ReplyDelete
  3. nutrisi yang tepat emang penting banget ya untuk mendukung tumbuh kembang anak. makasih mas ilmunya

    ReplyDelete

Video Bar

Loading...

Merayakan Kebhinekaan Melalui Festival Kuliner Nusantara 2017

Wakil Walikota Jakarta Utara, perwakilan dari Kemenpar berfoto bersama para penari/dokpri. Salah satu karakteristik Indonesia adalah ke...