(pada mulanya adalah KATA...)

Thursday, January 10, 2019

Seberapa “Greget” Film Preman Pensiun?


“Setiap pertanyaan harus terjawab di kamu, setiap persoalan harus selesai di kamu”

Demikian pertanyaan yang mengemuka ketika serial sinetron dengan judul serupa diangkat ke layar lebar. Orang tentu akan bertanya macam-macam. Beberapa di antaranya: apakah latar, setting, tokoh dan penokohan, tetap sama? Bila demikian apa perbedaan mendasar dengan tayangan yang sudah menemani ruang tontonan selama ratusan episode sebelumnya?

Tentu tidak mungkin bila tidak ada yang baru ketika kisah serial televisi tersebut diangkat ke layar lebar. Orang pasti ingin melihat sesuatu yang berbeda dari yang ditonton hingga episode terakhir tiga tahun silam. Namun kebaruan dimaksud harus dimaknai secara hati-hati. Kisah ini sudah sedemikian dikenal dengan kekhasan tersendiri. Jangan sampai anasir baru itu membuat cerita ini jadi berbeda, tidak seperti Preman Pensiun yang telah dikenal.

Apresiasi patut diberikan kepada Aris Nugraha. Sutradara dan penulis naskah ini cukup piawai mengolah tegangan-tegangan itu. Dengan kecakapan sinematografi yang tak diragukan lagi, Aris mampu menjawab rasa penasaran penonton sekaligus membuat kekhasan Preman Pensiun tak memudar.

Setidaknya secara subjektif bisa saya katakan demikian. Hal ini berangkat dari pengalaman saat menyaksikan gala premier film tersebut di salah satu bioskop di bilangan Jakarta Selatan, Kamis, 10 Januari 2019 kemarin. Saya beruntung menjadi satu dari segelintir orang yang bisa menyaksikan lebih awal film tersebut sebelum diputar secara luas di bioskop-bioskop pada 17 Januari mendatang.
Sosok  Muslihat yang diperankan Epy Kusnandar
Kembali ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Ada sejumlah hal yang bisa dikatakan. Pertama, film ini menjawab rasa rindu penonton terhadap Preman Pensiun. Para penyuka sinetron tanah air tentu sudah sedemikian akrab dengan Muslihat (diperankan Epy Kusnandar), Gobang (diperankan Dedi Moch Jamasari), Ujang (diperankan M Fajar Hidayatullah), Bohim (diperankan Kris Tatoo), Dikdik (diperankan Andra Manihot), Esih (diperankan Vina Ferina), Kinanti (diperankan Tya Arifin), Imas (diperankan Soraya Rasyid), Pipit (diperankan Ica Naga), Murad (diperankan Deny Firdaus) hingga Kang Bahar (diperankan almarhum Didi Petet).

Tokoh-tokoh tersebut kembali hadir secara utuh, kecuali Kang Bahar yang diperankan almarhum Didi Petet. Karakter masing-masing tetap khas, kekocakan-kekocakan yang ditampilkan tak juga berubah dalam balutan kultur Sunda yang kental.

Kedua, setelah sempat hilang dari layar kaca untuk waktu yang tidak singkat, kemunculan kembali Preman Pensiun tidak merepetisi kisah-kisah yang sudah tersaji. Kali ini Aris, sang pencipta ide, ingin menjawab rasa penasaran penonton tentang kelanjutan cerita selepas kematian Kang Bahar.

Bagaimana nasib Muslihat dan para preman yang menjadi anak buahnya? Bagaimana kelanjutan romantika hubungan Imas dan Dikdik? Bagaimana kehidupan Muslihat dengan anak perempuan semata wayangnya? Apakah Pipit dan Murad masih menjadi “sejoli” yang kocak? Bagaimana relasi Muslihat dan anak-anak Kang Bahar?
Dedi Moch Jamasari yang berperan sebagai Gobang.
Pertanyaan-pertanyaan itu coba dijawab secara runtut. Tidak lupa, Aris menyajikan ketegangan baru dalam sebuah kisah pembunuhan. Adik ipar Gobang tewas dikeroyok sekelompok preman. Siapa pelakunya? Apakah Muslihat harus turun tangan untuk menyelesaikannya seturut wejangan Kang Bahar yang menjadi kutipan pembuka di atas?

Ketiga, saya tidak akan membicarakan lebih lanjut tentang jalannya cerita. Biarkan masing-masing orang memenuhi sendiri rasa penasarannya saat film tersebut hadir di bioskop. Yang mau saya tekankan, film ini memang patut ditonton. Tidak hanya oleh anda yang sudah jatuh cinta dengan kisah tersebut.

Film yang diproduksi MNC Pictures ini sarat makna. Sebelum muncul di layar lebar, film ini mendobrak dominasi film-film remaja dengan kisah-kisah percintaan yang berseliweran di stasiun-stasiun televisi swasta nasional. Bisa dicek sendiri tema sinetron yang menjamur saat ini.
Para pemain film Preman Pensiun saat gala premier/foto Echi Mustika
Begitu juga tokoh dan penokohan yang dibangun. Selain kebanyakan diisi kisah yang terlalu “tua” untuk diperankan oleh anak-anak remaja, dan terlalu dewasa untuk dipertontonkan secara luas dan terbuka, para pemeran pun adalah sosok terpilih. Terpilih tentu bukan karena kualitas akting, tetapi karena memiliki bonus wajah yang elok dan rupawan. Hampir sebagian besar para pemeran adalah mereka yang diberkahi wajah yang oleh kacamata subjektif disebut ganteng dan cantik.

Sementara Preman Pensiun tidak menjual kegantengan dan kecantikan, meski kecantikan sejumlah pemeran tidak diragukan lagi. Preman Pensiun tetap menghadirkan kisah dari sekelompok preman di kota Bandung. Atribut preman benar-benar ditampilkan tanpa kepalsuan sedikitpun.

Menariknya, dan ini yang menjadi nilai lebih film ini, dalam kesangaran wajah, tubuh dan penampilan, mereka tetaplah orang-orang Sunda dengan budi dan tutur bahasa khas ketika bertemu orang-orang yang disegani karena kewibawaannya. Tak heran, aksi kocak yang mengundang gelak tawa akan mengisi setiap adegan yang ditampilkan.

Pada titik ini, maksud Aris tercapai. Sebagaimana dikatakan usai gala premier tersebut, ia sebenarnya ingin menghadirkan kontras tersebut. “Film tentang preman tetapi di Bandung,” demikian kata kreator serial legendaris Bajaj Bajuri itu.
Selain mengirim maksud tersebut, film ini juga mengemukakan pesan kesetiaan. Kesetiaan akan panggilan dan pilihan. Dalam kehidupan yang kasar dan keras, Muslihat tetap mengemban amanat yang ditemurunkan Kang Bahar, sosok yang sangat dihormati dan disegani. Amanat untuk memperhatikan nasib dan masa depan anak buahnya. Amanat untuk menjaga tali silaturahmi dan kekeluargaan.

Akhirnya, film ini tidak menjawab tuntas semua pertanyaan. Tentu ada strategi tersendiri untuk tidak menjawab semua dalam satu film, selain keterbatasan ruang dan waktu yang tak dapat ditampik. Sekalipun berjudul Preman Pensiun tetapi film ini tetap berlanjut. Para preman belum benar-benar pensiun. Entah sampai berapa layar lagi untuk membuat judul tersebut benar-benar tergenapi, film ini lebih dari cukup mengobati rasa rindu kita untuk bernostalgia dengan kisah kontras yang kocak namun sarat makna.
Selamat menyaksikan!


Post a Comment

32 comments:

  1. Penasaran sama film lepasnya. Dulu di serial televisi juga hanya nonton beberapa episode saja.

    Duh tapi di Cianjur tempat saya tinggal ga ada bioskop. Hem... Nonton harus di luar kota kali ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah sayang banget ya semoga bisa berkesempatan mampir di bioskop2 terdekat ya mba

      Delete
  2. Seeial tivinya saya tak pernah ketinggalan nonton. Dan versi layar lebarnya musti nonton juga nih. ..

    ReplyDelete
  3. Harus nonton nih. Semoga layar lebarnya seseru layar kacanya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba direkomendasikan deh untuk ditonton bakal ada kejutan demi kejutan

      Delete
  4. kata teman-teman filnya bagus ini, tapi akunya ntah bakan nonton di boskop atau ga, soalnya sedang sibuk-sibuknya di rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa disegerakan ya mba untuk menyaksikannya di bioskop, tentu sensasinya berbeda dibanding nonton selain di bioskop

      Delete
  5. Satu lagi bacaan yang bikin pengin nonton juga. Tapi keluarga cemara aja belum ketonton, kata temen2 aku bagus juga, ah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, dalam jenis berbeda, Keluarga Cemara juga direkomendasikan untuk ditonton. Aku sudah menontonnya dan menurut saya menarik dan sarat makna

      Delete
  6. Terus terang aku ga ngikutin preman pensiun di televisi .Tapi kalau dari makna cerita sih aku dukung banget film kayak gini .menggambarkan bahwa preman juga bisa jadi orang baik lho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa dibalas dengan menonton filmnya ya mba..bagus banget pokoknya...wkwk

      Delete
  7. Oh gituu...?
    Jadi si akang-akang preman ini tidak benar-benar pensiun?

    Aah...aku ga nonton sinetronnya dan belum ke layar lebarnya.
    Bakalan bingung gak siih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang benar-benar pensiun dari profesi preman tetapi ada yang sepertinya masih tetap atau pengen kembali lagi..tonton deh filmnya

      Delete
  8. Penasaran sama filmnya. Bakalan jadi sequel gak, nih? Keliatannya filmnya bagus, ya, soalnya pemerannya juga totalitas itu, cuma pake kaos dalem pada saat premiere.

    Ngomong-ngomong, bedanya apa preman di Bandung sama di kota-kota lain? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau menafsir kata-kata sang sutradara saat gala premier kayakya ini bukan film terakhir bakal ada lagi soalnya masih ada teka-teki yang belum terjawab

      Delete
  9. Aku ga begitu ngikutin Preman Pensiun sih di TV. Ya, cuma, tau sekilas doang lah. Apalagi, setelah Didi Petet meninggal, aku udah ga begitu ngikutin lagi sih. Tapi, salut juga sih, Kang Muslihat muncul dengan karakternya di promosi film tersebut. Totalitas yang tinggi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Para pemain tampil dengan penuh totalitas..terlebih si Muslihat benar2 keren

      Delete
  10. Gitu ya tokoh utamanya pas launchinh film, datang pake kaos oblong. Preman banget dah. Eh maksudnya preman pensiun banget, hehe

    Moral atau nasehat-nasehatnya ini yg jadi keunggulan juga yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya aku juga kaget Muslihat nekat pakai pakaian kayak gitu gak disangka-sangka sih tetapi waktu lihat langsung tampang premannya kurang tampak tidak seperti di film hehe

      Delete
  11. Aku suka banget dulu nonton ini sama mamah di tv wkwkwk. Makanya pas ini mau di diemin aku agak seneng dan antisipasi takut takut aku punya ekspektasi yang ketinggian. Tapi kayaknya kalo diliat dari review ya filmnya oke banget yaaas wkekeke penasaran pengen nonton cepet cepet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan ditonton mba biar terjawab rasa penasarannya..

      Delete
  12. Penasaran euy. Banyak yang bilang filmnya bagus. Tapi kalau dari sinetron diangkat ke layar lebar pasti punya lelebihan dong. Mantap ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu ada nilai dan sisi lain yang menarik ditonton dari film ini..

      Delete
  13. Hehe bener juga ya, film ini enggak menjual kegantengan dan kecantikan. Jd makin penasaran sama jalan cerita filmnya. pengennonton sendiri. Moga2 ada kesempatan ke bioskop minggu ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Film yang membongkar stereotip para pemeran film-film di sinetron tanah air hehe

      Delete
  14. dulu waktu sinetronnya masih tayang aku ngikutin ceritanya, dan emang gereget sih.. kebayang nih filmnya juga pasti lebih gereget deh gak sabar mau nonton juga

    ReplyDelete
  15. aku kadang bingung harus menilai film itu bagus atau tidaknya. yang pasti kalau nonton aku merasa terhibur berarti film itu bagus.. dan film ini aku terhibur sih. jd menurutku bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski bercerita tentang preman tetapi tetap menampilkan sisi humanis melalui aksi dan dialog-dialog yang menggelitik

      Delete
  16. Waktu masih sinetron aja Eny suka banget nonton sama mamah juga, lucu sih hhe. Kalo filmnya blm yaa... Jadi makin penasaran habis baca tulisan ini. Epy Kusnandar yang pake kaos tanpa lengan keliatan kayak pasrah bgt ahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan ditonton mba filmnya kelucuan dan kekocakan masih terpelihara di antara kejutan-kejutan jalan ceritanya

      Delete

Mengurai Soal Akut Sampah Plastik, Saatnya Kita Berpindah Paradigma

Sampah yang menumpuk  di pesisir Desa Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah /ANTARA FOTO/Aji Styawan Sampah, terutama sampah plastik a...