(pada mulanya adalah KATA...)

Monday, January 14, 2019

Millennial Marzukiana, Strategi “Proxy War” Ananda Sukarlan untuk Bang Maing

Foto dari KAYA.ID
Situasi politik di tanah air sedang panas. Titik didih semakin meningkat dan diprediksi akan menjadi-jadi mendekati hari H pemilihan langsung presiden dan wakil presiden Indonesia yang tak lebih dari tiga bulan lagi. Nah, ketika politik membuat kawan bisa menjadi lawan karena kepentingan menjadi segala-galanya, dengan cara apa kita bisa bersatu?

Tanpa berpikir panjang kita bisa menyebut olahraga. Tengok saja ketika tim kesayangan kita bertanding atau kala atlet kebanggaan negara bertarung. Kita kompak memberi dukungan. Saat kemenangan diraih kita serempak bersuka ria. Sebaliknya, sedih dan tangis akan melitani bersama saat kemenangan gagal diraih.

Selain olahraga-yang juga memiliki sisi destruktif dalam anarki dan huru-hara, musik adalah medium lain yang membuat kita bersekutu. Tidak ada dikotomi antara kawan dan lawan, kita dan mereka, lokal dan asing, kulit putih dan hitam, rambut kriting dan lurus, tua dan muda ketika berada di hadapan kesenian. Semua itu melebur. Larut nyaris tanpa bekas baik saat menikmati atau memberikan sajian untuk dinikmati.

Pengalaman dua jam di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, pada Minggu, (13/1/2019) kemarin menjadi bukti. Di hadapan Ananda Sukarlan Orchestra ratusan orang tertegun. Kompak menikmati sajian berkelas Jakarta New Year's Concert 2019. Kolaborasi pianis dan komposer kenamaan Indonesia, Ananda Sukarlan dengan lima musisi milenial membuat tepuk tangan tak pernah sepi di setiap akhir partitur.

Ananda mengkreasi kolaborasi dengan para musisi muda seperti Jessica Sudarta (Harpis), Finna Kurniawati (Violis), Anthony Hartono (Pianis), Mariska Setiawan (Soprano), dan Widhawan Aryo (Tenor). Kolaborasi ini tepat mengejawantah salah satu sisi dari tajuk pertunjukan yakni Millennial Marzukiana.
Mariska Setiawan (Soprano)
 dan Widhawan Aryo (Tenor)/Julie Putra

Para penonton berasal dari lintas generasi. Beragam latar belakang bersatu di ruang pertunjukan megah itu. Kaum milenial duduk berdampingan dengan mereka yang lebih senior. Masyarakat biasa pun para pejabat, orang kebanyakan hingga duta besar saling berbagi tempat.

Ada Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi bersama duta besar dari 12 negara mulai dari Rusia, Finlandia, Australia, Inggris, Italia, Jepang, Bangladesh, Kuba, Korea Selatan, Uzbekistan, hingga Prancis. Tidak hanya para tamu kehormatan dan masyarakat kebanyakan, mereka yang memiliki keterbatasan juga diberi tempat. Dari ratusan kursi dari berbagai kategori yang terjual ada 100 kursi yang disumbangkan untuk komunitas bisu, tuli, dan orang dengan down sindroma. Sekali lagi, musik benar-benar mempersatukan!

Ini baru satu sisi. Ada sisi lain yang patut diangkat. Itu adalah Ismail Marzuki. Sosok ini sudah lama berpulang, bahkan jauh sebelum generasi kini hadir. Lahir di Kwitang, Senen, saat Jakarta masih bernama Batavia, 11 Mei 1914 dan tutup usia 44 tahun kemudian.

Meski sudah lebih dari setengah abad berpulang, Mail, Maing atau Bang Maing masih berjejak. Peninggalannya masih bertahan hingga kini. Sosok yang namanya diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yakni Taman Ismail Marzuki (TIM) ini meninggalkan ratusan mahakarya. Halo Halo Bandung, Indonesia Pusaka dan Selendang Sutra adalah beberapa dari sekitar 300 masterpiece Maing.

Apakah semua karya Maing yang masih terkubur sudah diangkat ke permukaan? Pertanyaan ini tentu butuh waktu untuk menjawab. Apalagi sebagian besar peninggalan Maing bertumpu pada putri semata wayang, Rachmi Aziyah yang kini sudah berusia 68 tahun dan kehidupannya jauh dari layak.

Tidak hanya itu yang mencemaskan. Ada kecemasan lain yang ditunjukkan dengan pertanyaan apakah generasi masa kini masih familiar dengan lagu-lagu legendaris Bang Maing? Seandainya masih dikenal apakah karya-karya besar itu hanya tinggal tetap seperti sekarang?

Pada titik ini usaha yang ditempuh Ananda Sukarlan tepat dan benar adanya. Seperti namanya, Millennial Marzukiana menjadi jembatan untuk menghubungkan kembali para milenial dengan Bang Maing. Sekaligus jembatan antara Bang Maing dengan dunia. Karya-karya Ismail Marzuki adalah harta berharga yang terus dirawat dan wajib disenandungkan ke seluruh dunia.
Ananda Sukarlan dan para musisi milenial/foto dari KAYA.iD
“Adalah sebuah kehormatan bagi kami dapat berkolaborasi dengan Ananda Sukarlan yang mempunyai hasrat yang sama dalam membangun dan mengembangkan potensi-potensi terpendam yang terdapat di Indonesia,” tegas Nita Kartikasari, CEO Kaya.ID yang merupakan produser acara ini.

Sungguh sebuah pengalaman berharga, bisa melihat dan menikmati dari dekat Ananda Sukarlan menghidupkan dan menjadikan baru karya Bang Maing dalam sebuah pertunjukan spektakuler. Orkes megah yang menyajikan musik klasik yang indah.

Durasi 120 menit pertunjukkan terasa begitu singkat. Seri “Concerto Marzukiana” yang menggubah Melati di Tapal Batas, Gugur Bunga, Wanita, Selendang Sutra, Halo-Halo Bandung dan Indonesia Pusaka karya sang legenda seperti tak cukup. Ya memang tak cukup untuk membangkitkan kembali ingatan dan ambil bagian dalam merawat dan menggemakan karya-karya Bang Maing ke seluruh dunia. Kerja seperti ini bukan perkara kecil dan mudah, apalagi bila hanya dilakukan oleh segelintir orang.


Meski begitu kerja kreatif Ananda kali ini sedikit banyak membuat kita, terutama kaum milenial, kembali membayang Bang Maing. Sambil menanti seri-seri berikutnya dari Ananda Sukarlan untuk Bang Maing, kita berharap partitur yang sudah dihasilkan ini dapat dibawakan oleh orkes manapun dan dirigen manapun. Karya-karya Bang Maing tidak berhenti di tangan Ananda dan di ruang pertunjukan kali ini. 
Foto Julie Putra
Itulah cara mengadopsi strategi “Proxy War” dalam musik yang diterapkan oleh negara-negara Eropa selama berabad-abad. Strategi yang terbukti jitu sehingga musik Mozart bisa mengisi setiap ruang dengar penduduk bumi.

Mengutip Ananda Sukarlan, “Musik Mozart dapat dikenal di seluruh dunia tentu karena para musikus dan orkes di semua negara, termasuk Indonesia, memainkan karya-karya mereka. Jika memainkan musik Mozart, kita telah membantu memperkenalkan produk seni Austria.” Kini saatnya musik Marzuki, partitur karya-karyanya mengisi arus balik musik klasik dunia. Mengapa tidak bila kita semua kompak bersatu, bukan?

Post a Comment

24 comments:

  1. Bener, selain olahraga, musik juga bisa mempersatukan berbagai karakter dan latar belakang ya.
    Baru tahu kalau di judul Bang Maing itu untuk Mail alias Ismail Marzuki. Alfatihah buat beliau, pahlawan nasional

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar mengimbangi urusan yang lain-lain yang bikin gaduh mari kita bergabung pada kesenian ya mba...ya Bang Maing atau Mail itu nama panggilan sang legenda

      Delete
  2. Wow, baca tulisan ini bikin aku merinding dan pengen nonton langsung orkestranya. Tapi memang benar sih, gak semua orang tahu karya Ismail Marzuki. Kayak aku yang cuma tahu sedikit karyanya.

    ReplyDelete
  3. Senangnya, bisa melepas rasa pusing akibat ramai politik.
    Duh aku jadi malu, belum tahu banyak karya Ismail Marzuki.

    ReplyDelete
  4. Karya - karya Ismail MArzuki ini banyak yah, sayang sekali saya dikit banget taunya, huhuhu.

    ReplyDelete
  5. Saya baru tahu nama panggilan Bapak Ismail Marzuki itu Bang Maing alias Mail hehehe

    Setuju bangat sih, bahwa olahraga dan musik merupakan bahasa universal yang bisa menyatukan banyak orang tanpa melihat perbedaan. Dan seru bangat ya Mas, bisa menonton langsung orkestra seperti ini,jadi pengen. :D

    ReplyDelete
  6. Perhelatan musik yang membawa misi mulia.pengen deh mendapat pengalaman menyaksikan secara langsung musik orkestra, penasaran seperti apa feel-nya

    ReplyDelete
  7. Aku jarang nonton acara musik secara live, tapi ya suka juga liht di TV. Memang musik, lagu bisa jadi cara pemersatu bangsa

    ReplyDelete
  8. acaranya keren yaa.. penasaran pengen dengar gugur bunga dan halo halo bandung dengan musik yang lebih berbeda.

    ReplyDelete
  9. Aki bukan anak musik, jd kurang ngerti dg dunia orkestra. Tapi kagum jg dg kekuatan musik yg begitu besar. Menyatukan semua kalangan.

    ReplyDelete
  10. Belum pernah nonton orkestra secara langsung dan kebayang indah dan khidmatnya menikmati mahakarya Bang Maing melalui alunan orkestra yang indah didengat

    ReplyDelete
  11. Ooh nama pertunjukan toh, kukira istilah baru tentang apaa gitu deh

    Keren Pak Ananda Sukarlan dkk. Menghidupkan kembali karya2 Bang Muing. Semoga kelak nanti digelar lagi dan banyak yg mencontoh

    ReplyDelete
  12. Ternyata Ismail Marzuki meninggalnya saat masih cukup muda ya 40 tahunan.
    Aku blm pernah liat konser musik secara langsung. Moga2 kapan2 bisa liat jg :D

    ReplyDelete
  13. Keren sekali ya. Musik memang selalu jadi penawar apapun, ya. Apalagi dibalut dalam sajian orkestra seperti ini. Pasti mengesankan.

    ReplyDelete
  14. karena musik adalah bahasa kalbu untuk sesiapun dimuka bumi. bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan prasaan terdalam dan bisa diterima semua orang. Musik adalah bahasa dunia

    ReplyDelete
  15. masyaallah baru tahu.. nama panggilan Ismail Marzuki ternyata "maing". unyu banget.

    dan memang yg mengerti musik adalah org2 yg punya kecerdasan dibidang musik. sayangnya aku enggak.. xixii maafkanlah.. selera musikku payah..

    ReplyDelete
  16. wah keren ya ananda sukarlan ini bikin konser orkestra berkolaborasi dengan musisi-musisi milenial..

    ReplyDelete
  17. Aku tau nya taman ismail marzuki, Karya2 beliau blm terlalu tau.
    Proud of ananda sukarlan mulia banget mau menyatukan kiya melalui musik, apalagi dgn karya dr anak bangsa ismail marzuki

    ReplyDelete
  18. So life and powerful banget yah :') beda emang kalo udah bener2 pro dan dari hati juga. Katanya, musik memang bahasa universal, selalu kagum lah sama orang2 kayagitu nggak ngerti lagi

    ReplyDelete
  19. Musik beneran menyatukan ya.. lupakan sejenak pertarungan politik #eh kita fokus pada karya-karya anak bangsa seperti ini.. bangga aku bacanya.. apalagi bisa langsung merasakan feel saat kolaborasi dalam musik dimainkan.. arrrghhh jadi merinding

    ReplyDelete
  20. Nonton musik secara live emang asyiiik, beda aja gitu rasanya. APalagi yang diliat artis idola.

    ReplyDelete
  21. Ingat hamil yang selalu memperdengarkan baby dalam kandungan dengan lagu lagu klasik hahaha. Pun live gini aku belum pernah nonton.

    ReplyDelete
  22. Olahraga dan musik memang menyatukan segalanya ya, Bang. Terutama musik. Bisa menentramkan. Saya ga pernah menghadiri live orchestra, tapo baca tulisan bang charles, serasa ikut nonton konsernya. ^_^

    ReplyDelete
  23. Musik karya Ismail Marzuki nggak terlalu banyak yg aku tahu, tapi respect sama Ananda Sukarlan yg menyajikan pertunjukan ini. Pasti jadi pengalaman yg berharga banged ya Mas bisa nonton langsung.

    ReplyDelete

Asus ZenBook 13, 14, dan 15: Perpaduan Apik Seni dan Teknologi Mutakhir

Peluncuran varian terbaru Asus ZenBook/foto www.tek.id Laptop sudah menjadi bagian dari kebutuhan masa kini. Nyaris tidak ada aktivitas ...