(pada mulanya adalah KATA...)

Thursday, December 27, 2018

Pemerintah Beri “Hadiah” Tahun Baru untuk Penyandang Disabilitas


Penampilan BRSPDSRW, Melati, Jakarta/dokpri
Know me for my abilities not my disability (Robert M. Hensel)

Ketika berbicara tentang kaum difabel, sebutan yang pas untuk penyandang disabilitas, apa yang ada di benak anda? Keterbatasan, tentu saja. Cacat, sudah pasti. Tetapi apakah hanya sederet predikat minor tersebut yang pantas disematkan kepada mereka? Bukankah tidak ada seorang pun yang dilahirkan sempurna?

Bila kita belum pernah berkenalan atau melihat mereka dari dekat, hati kita akan terenyuh dan emosi kita akan diaduk-aduk kala melihat bagaimana sekumpulan kaum tuna rungu bisa memainkan orkestra angklung dengan sangat indah.

Berpakaian tradisional, kaum wanita mengenakan kerudung hijau dipadu baju merah, sementara yang pria berpenutup kepala motif batik dengan baju koko hitam, belasan anggota Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (BRSPDSRW) Melati, Jakarta menghipnotis seisi ruangan dengan instrumen lagu-lagu nasional.

Instrumen yang disajikan memang biasa. Lagu-lagu pun sudah tak asing di telinga publik. Namun proses memainkan itu sungguh tak lazim. Dalam keterbatasan sensorik mereka memainkan alat musik dari Jawa Barat itu, saling berkoordinasi dan menjaga keharmonisan dengan hanya dipandu seorang dirigen yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Mereka memang tak bisa mendengar. Namun mereka bisa memperdengarkan musik yang indah!
BRSPDSRW bersama Menteri Perindustrian dan Menteri Sosial/dokpri
Itulah pengalaman kecil yang saya alami pada Kamis, 27 Desember 2018. Mereka hadir untuk merayakan hari bersejarah bagi kaumnya. Untuk pertama kali dalam sejarah republik ini, dua kementerian bersinergi untuk menegakkan hak-hak para difabel.

Bertempat di Ruang Garuda, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, selaku tuan rumah Kemenperin menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Sosial. Penandatangan memorandum of understanding atau MoU itu dilakukan oleh dua petinggi lembaga tersebut yakni
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita.

Turut hadir para pejabat teras dari dua kementerian itu. Tidak lupa, utusan dari asosiasi dan perusahaan industri alas kaki, industri tekstil dan garmen yang sudah memberi porsi kepada kaum disabilitas. Hadir juga sejumlah kelompok difabel.

Secara singkat MoU tersebut berkaitan dengan pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja bagi kaum difabel. Dalam sambutannya, Airlangga Hartarto memberikan gambaran terkait peran dan kontribusi mereka dalam sektor industri.
Airlangga Hartarto (kanan) dan Agus Gumiwang/dokpri
Data menunjukkan, kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian rata-rata sekitar 17 persen. Mengutip data Bank Dunia tahun 2017, politisi Partai Golkar itu mengatakan, Indonesia menjadi satu dari sedikit negara di dunia dengan sumbangsih industri manufaktur terbesar terhadap perekonomian nasional. Dengan kontribusi sebesar 20,5 persen, Indonesia hanya kalah dari China (28,8 persen), Korea Selatan (27 persen), Jepang (21 persen) dan Jerman (20,6 persen).

“Pertumbuhan industri non-migas diproyeksikan tumbuh 5,4 persen pada 2019. Sektor-sektor yang diproyeksikan tumbuh tinggi, di antaranya industri makanan dan minuman (9,86%), permesinan (7%), tekstil dan pakaian jadi (5,61%), serta kulit barang dari kulit dan alas kaki (5,40%),” lanjat pria kelahiran Surabaya, 56 tahun silam.

Untuk mendorong pertumbuhan industri, lanjut Airlangga, ada tiga pilar utama yang harus diperhatikan. Selain modal atau investasi dan teknologi, sumber daya manusia adalah pilar penting.
Untuk menyiapkan sumber daya manusia yang handal di sektor industri, sudah sejak 2013 silam, Kemenperin menggalakkan Program Diktal 3 in 1. 

“Para peserta diberikan pelatihan, lalu disertifikasi kompetensinya berdasarkan SKKNI, kemudian ditempatkan bekerja di perusahaan industri, tanpa dipungut biaya,” beber Airlangga.

Kemenperin pun menargetkan sebanyak 72 ribu orang akan ambil bagian dalam Program Diklat 3 in I pada 2019. Salah satu kelompok masyarakat yang disasar dari program ini adalah kaum difabel.

Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2015 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 8,56 persen dari total populasi Indonesia yang tergolong disabilitas. Presentase tersebut ekuivalen dengan 22 juta orang.

Tentu itu bukan angka yang kecil. Apalagi bila dibandingkan dengan data Kementerian Tenaga Kerja tahun 2013 yang menyebutkan kaum difabel yang menganggur masih cukup tinggi.

Situasi ini tentu masih jauh dari perwujudan amanat Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Regulasi itu mewajibkan perusahaan swasta memberi kuota satu persen kepada mereka. Persentase itu sedikit lebih besar untuk BUMN/BUMD yang berada di angka minimal dua persen.

Dalam sambutannya, Mensos Agus Gumiwang menegaskan, keterlibatan kaum difabel dalam sektor industri juga merupakan bagian dari amanat Nawa Cita yang digalakkan Presiden Joko Widodo. Karena itu MoU ini menjadi bentuk lain dari perhatian negara terhadap kaum difabel.
Airlangga Hartarto mendapat kenang-kenangan lukisan/dokpri
"Saya dapat perintah langsung dari Bapak Presiden untuk merumuskan sebuab konsep membangun 
industri yang sepenuhnya melibatkan penyandang disabilitas. Oleh sebab itu, saya langsung berkomunikasi dengan Menperin Airlangga, karena kalau soal industri kita harus serahkan kepada ahlinya," ungkap Agus Gumiwang yang disambut tepuk tangan hadirin.

Kita tentu patut memberikan apresiasi kepada industri tekstil dan alas kaki. Selain memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan industri non migas, industri tersebut juga menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja, tidak terkecuali dari kelompok difabel.

“Untuk itu, Program Diklat 3 in 1 akan lebih banyak difokuskan pada penyiapan sumber daya manusia di sektor industri tekstil dan alas kaki, tidak terkecuali bagi penyandang disabilitas,” beber Airlangga.

Saat ini sudah ada 12 perusahaan industri yakni tujuh industri alas kaki dan lima infustri tekstil atau garmen yang bersedia menerima tenaga kerja difabel lulusan Diklat 3 in 1. Salah satu perusahaan yakni PT. Wangta Agung mendapat penghargaan dari Project Manager Program Mitra Kunci USAID dan Ayo Inklusif atas komitmennya dalam memberikan akses kesempatan kerja bagi kaum "minoritas" ini.

Airlangga pun bertekad untuk terus mendorong perusahaan industri lainnya untuk mengikuti langkah serupa. Bagaimanapun juga kaum difabel berhak mendapat tempat di republik ini dengan segala hak mereka.

Tidak hanya pemerintah, perhatian dari lembaga-lembaga lain dan masyarakat umumnya sejatinya sangat diharapkan. Semoga MoU yang ditandatangani hari ini membuat dunia industri makin inklusif dan makin ramah difabel. Makin banyak vokasi industri yang memberi tempat kepada mereka. Sehingga benar kata Agus Gumiwang, momen hari ini tak ubahnya pemberian “hadiah” tahun baru bagi kaum difabel di tanah air.
Keseruan bersama BRSPDSRW usai acara/foto Imawan
Inspirasi Hensel
Robert M.Hensel bukan seorang yang sempurna. Ia dilahirkan dengan Spina bifida. Secara medis, ini merupakan cacat lahir ketika sumsum tulang belakang bayi gagal berkembang dengan baik. Namun kecatatan itu tidak menghentikan langkahnya untuk meraih kesuksesan dalam hidup.

Ia tampil sebagai tokoh terkemuka dalam komunitas disabilitas. Ia adalah tokoh panutan difabel berdaya. Pria kelahiran Amerika 1969 berada di garda terdepan untuk mengadvokasi perlakuan dan hak semua individu yang hidup dengan disabilitas di seluruh dunia.

Selain aktivis ia juga seorang penyair dengan lebih dari 900 publikasi yang diterbitkan di seluruh dunia. 

Sejak tahun 2000, Robert masuk dalam sejumlah nominasi di dunia kepenyairan. Salah satu prestasinya tercatat dalam Guinness World Records. Hingga kini ia merupakan pemegang rekor Guinness & Ripley karena mampu mengendarai kursi roda non stop sepanjang 6,178 mil.

Ia nekat melakukan hal itu bukan demi popularitas diri. Upaya itu dilakukan untuk membantu mengumpulkan uang untuk komunitasnya. Selain itu ia juga dipercaya membawa obor Asian Games 2006 di Doha, Qatar.

Kita yakin perjuangan yang ditempuh Hensel tidak lain untuk mewujudkan apa yang pernah keluar dari mulutnya sendiri: know me for my abilities not my disability. Kenali saya karena kemampuan saya, bukan cacat saya. 
Kutipan lain yang terkenal dari Robert M.Hensel/www.azquotes.com


Post a Comment

38 comments:

  1. Semoga setelah adanya mou ini para difabel memiliki kesamaan hak dalam kesejahteraan dan kehidupan nya. Jangan lagi ada perbedaan, karena mereka juga sama seperti masyarakat pada umumnya, punya harapan, cita dan masa depan.

    Tidak hanya di kota ya, tapi difabel di desa juga nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget mba semoga kaum difabel semakin mendapat tempat yang pantas di tengah masyarakat kita ya..makasih mba udah mampir

      Delete
  2. bener banget mba semoga kaum difabel semakin mendapat tempat yang pantas di tengah masyarakat kita ya..makasih mba udah mampir

    ReplyDelete
  3. bangga dan terharu liat teman teman penyandang disabilitas malah bisa lebih berprestasi dan punya banyak talenta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba mereka mau buktikan kalau mereka itu bisa meski punya keterbatasan

      Delete
  4. Banyak penyandang disabilitas yang produktif ya, masih banyak juga aku liat yang berbagi ilmu pun melalui kursi rodanya. Great!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sekali mba..banyak kaum difabel yang sangat menginspirasi..termasuk menginspirasi kita semua

      Delete
  5. Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan manusia normal lainnya, maka butuh dukungan dari semua pihak, tidak hanya rakyat tetapi dukungan pemerintah juga penting ya ka, agar mereka merasa diperdulikan dan keberadaan mereka juga dibutuhkan. Terima kasih kepada pemerintah atas kado istimewanya untuk penyangdang disabilitas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget kk..mereka butuh perhatian dan support dari semua pihak..semoga kita bisa menjadi bagian dari kelompok yang pendukung itu

      Delete
  6. Keren. Semoga dengan penandatanganan ini, Para penyandang disabilitas bisa mendapatkan semua haknya ya. Seperti layaknya kita yang normal mendapatkan hak kita. Dalam bidang apa pun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara regulasi dan kesepahaman sudah ada..sekarang tinggal kita tunggu realisasinya ya mba..berharap kata-kata tercetak itu benar-benar bisa diwujudkan..

      Delete
  7. Ya semoga ke depan lebih banyak yg memperhatikan kaum disabilitas ini ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes mba semoga kita masuk dalam kelompok pendukung kaum difabel ya..salam

      Delete
  8. Wow... dukung pemerintah, dukung teman teman difabel. Sudah seharusnya pemerintah menyamakan hak setiap warganya termasuk teman2 difabel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prinsipnya sih seperti itu mba, mereka dan kita itu memiliki hak-hak yang sama..

      Delete
  9. Senang bangat saya dengan hadirnya MoU dari Kemenperin dan Kemensos ini, semoga semakin memotivasi saudara-saudara kita peyandang difabel untuk semangat mengeluarkan segala kemampuan terbaiknya dan mendapatkan pekerjaan yang terbaik juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mas semoga mereka bisa mendapat yang terbaik ya

      Delete
  10. Semoga penandatanganan Mou ini makin terperhatikannya hak2 teman2 difabel ini. Karena Banyak teman2 difabel yang berprestasi dan mereka malah yang memot8vasi kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mba semoga sama saudara kita makin diberdayakan ya

      Delete
  11. Semoga komitmen ini berkelanjutan. Aku ingin mereka mendapat kesempatan yang sama seperti kita. Dan ingin mereka jadi wirausahawan wirausahawati hebat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju teh dengan poin terakhir,,menjadi wirausahawan yang mandiri ya

      Delete
  12. Sudah saatnya kaum difabel mendapatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah, karena mereka juga berhak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pekrjaan yang layak.

    Aku sangat mengapresiasi dan mendukung kolaborasi antara kemenperin dan kemensos ini, semoga dengan adanya nota kesepahaman ini makin membuat kaum difabel mandiri dan berkarya menciptkan prestasi terbarunya ya ka ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba untuk kolaborasi seperti ini memang patut kita dukung ya..kita nantikan seperti apa realisasinya..semoga memuaskan dan sesuai harapan ya

      Delete
  13. Oh my Goodness! Luar biasa semangat dan perjuangan Hensel! *merinding euy*

    ReplyDelete
  14. Eh iya, saya juga terhipnotis dengan instrumen lagu-lagu nasional yang dimainkan oleh teman-teman difabel. Semoga programnya berkelanjutan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes kak..realisaasi dan keberlanjutan program itu yang ditunggu sekarang ya..

      Delete
  15. Luar biasa. Saya turut bahagia dg adanya kolaborasi ini utk mereka teman-teman difabel. Semoga bisa dimanfaatkan sebagai ruang berkembang utk karya-karya menawan dan siap bersaing di dunia industri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga harapan dan cita-cita terbaik bagi kaum difabel bisa tercapai ya mba

      Delete
  16. Bahagia banget hadirnya program ini, tetanggaku berarti ada kesempatan bekerja juga di industri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mba semoga makin terbuka kesempatan bagi kaum difabel tidak hanya di kota2 besar semata tetapi juga di daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan

      Delete
  17. Beberapa kali liat difabel bisa berkarya.. Malah jauh lbh bagus dari kita yang normal... Punya temen juga yang kakinyanlumpuh, tapi bisa jadi atlet. Kalo semua difabel dikasih semangat pasti malah mengharumkan bangsa kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat mas, kalau dikasih kesempatan, semangat dan ruang, mereka pasti bisa berkarya dengan sangat baik

      Delete
  18. Merinding ngebayangin mereka main musik padahal mereka berketerbatasan fisik dalam mendengar. :' salut! Semoga ini benar2 jadi hadiah tahun baru mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mba apalagi mereka gak bisa dengar tetapi bisa tampil kompak dan harmonis..luar biasa!!

      Delete
  19. kolaborasi yang tepat untuk mendukung kemandirian para penyandang difabel, semoga semakin banyak karya yang tercipta, dan mereka juga semakin maju.

    ReplyDelete
  20. Ikut bahagia dgn adanya program ini, Semoga semakin mandiri & sejahtera ya

    ReplyDelete
  21. Bangga sekali lihat teman2 difabel bisa berkarya dan berprestasi, smoga mou ini bisa memberikan semangat dan kesempatan baru bagi mereka

    ReplyDelete

Jangan Mudah Percaya, Pastikan Selalu Konsumsi Air Minum dalam Kemasan yang Terpercaya

Ilustrasi dari www.danone.com Air merupakan senyawa penting bagi semua makhluk hidup, tak terkecuali manusia. Bukan rahasia lagi, kebu...