(pada mulanya adalah KATA...)

Sunday, October 22, 2017

Gregoria Mariska dan Semburat Optimisme dari Yogyakarta

Gregoria Mariska. Gambar: www.badmintonindonesia.org
Bahwa regenerasi bulu tangkis Indonesia kerap mendapat kritik memang tak terhindarkan. Bicara prestasi olahraga tepok bulu Indonesia poin kritis hampir selalu mengerucut pada kaderisasi. Lambannya peralihan antargenerasi bahkan harapan serah terima tongkat estafet yang tak kunjung terwujud di sektor-sektor tertentu hampir selalu terdengar.

Sisi lain yang kadang alpa dari pertimbangan adalah susahnya mencetak prestasi, atau bahkan sekadar mendapatkan bibit unggul. Di tengah iklim persaingan bulu tangkis yang kian merata dan mendunia kerja regenerasi tentu jauh lebih berat. Beruntungnya, kita tidak pernah kehilangan harapan. Api optimisme yang terus dijaga dengan takzim niscaya akan terang benderang pada waktunya.

Bila dalam empat tahun terakhir kita selalu menjadi penonton munculnya para pemain muda berbakat dari negara lain di panggung BWF World Junior Championship, tidak demikian tahun ini. Terlepas dari faktor tuan rumah,  kali ini, Indonesia langsung melesat bak meteor yang menguasai podium-podium tertinggi di GOR Among Rogo, Yogyakarta.

Menyabet dua medali emas, dua medali perak dan satu medali perunggu di nomor perorangan adalah prestasi luar biasa. Melebihi target PBSI yang hanya mematok satu gelar juara, dan melampaui prestasi tahun lalu yang ramai-ramai berguguran di semi final. Bisa jadi ini pelampiasan setelah tak bisa berbuat banyak di nomor beregu yang berakhir di posisi kelima (tak sesuai target memang), di belakang Korea Selatan dan Jepang, serta finalis dua musim terakhir, Malaysia dan pemegang 12 gelar, China.

Mulai bergulir pada 1992 belum pernah Indonesia meraih medali sebanyak ini. Prestasi terbaik yang pernah diukir, identik dalam hal jumlah emas, hanya saat menjadi tuan rumah di edisi perdana itu. Saat itu Kristin Junita (tunggal putri) dan Santoso/Kusno (ganda putra) bersaing dengan dua juara dunia junior dari China dan satu dari Denmark.

Lepas 25 tahun kemudian Indonesia baru bisa melahirkan dua juara dunia baru. Gregoria Mariska Tunjung, tunggal putri dan pasangan ganda campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari memberikan isyarat bahwa sudah saatnya pemain muda Indonesia berbicara di panggung dunia.
Gregoria mengalahkan wakil China, Han Yue dalam pertarungan ketat dan melelahkan selama tiga set, 21-13, 13-21 dan 24-22. 

Saat menginjak partai final dan tahu siapa lawan yang bakal dihadapi, peluang wanita 18 tahun itu lebih besar bila mengacu pada rekor pertemuan. Di pertemuan pertama di nomor beregu, dara kelahiran Wonogiri itu menang straight set, 21-17 dan 21-17. Meski menang susah payah, Jorji, begitu wanita yang berulang tahun saban 11 Agustus dipanggil, menunjukkan kelebihan pengalaman atau jam terbang. Sebagaimana kita tahu bersama Hanna Ramadini dan Fitriani ketiganya sudah terbiasa memikul tanggung jawab besar di sektor tunggal putri tak lama setelah rantai regenerasi tiba-tiba saja terputus dan mengharuskan mereka untuk tampil di level senior.

Sementara Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari memberi angin segar di nomor ganda campuran bersama Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti yang dikalahkan di partai puncak, 21-23, 21-15 dan 21-18. “All Indonesian final” ini menjadi pertanda bahwa Indonesia tidak pernah kehabisan stok di salah satu sektor, di samping ganda putra, yang selalu menjadi penyelamat wajah kita di kancah internasional.

Kredit juga patut diberikan kepada Jauza Fadhila Sugiarto/Ribka Sugiarto yang merebut medali perak. Sekalipun finish sebagai runner up, keduanya telah berjuang sebaik-baiknya saat menghadapi sang juara dari Korea Selatan, Ha Na Baek/Lee Yu Rim yang menang 18-21, 21-11 dan 21-3. Jauza dan Ribka, juga Phita Mentari yang sekalipun kurang cemerlang di ganda putri namun bermain enerjik dan cerdik di ganda campuran, menjadi harapan masa depan.

Bila ketiga nomor mampu memberikan prestasi, tanda tanya justru mengemuka di sektor tunggal putra. Setelah menjadi runner up tahun lalu, Indonesia tak lagi menempatkan wakilnya di babak semi final, apalagi final, baik itu Kejuaraan Asia Junior maupun Kejuaraan Dunia Junior. Di nomor ini Thailand mengukir sejarah baru. Kinlavut Vitidsarn “pecah telur” di nomor tunggal putra usai menang17-21, 21-15, 21-9 dari Leong JH asal Korea Selatan.

Di sini Thailand selangkah lebih maju dari Indonesia. Negeri Gajah Putih itu sudah tiga kali meraih gelar tunggal putri meski dari Ratchanok Inthanon seorang. Kini mereka punya harapan masa depan di tunggal putra.

Terlepas dari kekurangan di sana sini, setidaknya prestasi yang diukir Jorji dan kawan-kawan memberikan angin segar bagi regenerasi bulu tangkis Indonesia. Para pemain muda ini bermain penuh semangat meski tidak sedang dalam kondisi prima karena dibayangi cedera dan kelelahan.
Kita memang sudah punya dasar untuk berharap seperti Intanon, Nozomi Okuhara, Akane Yamaguchi, Viktor Axelsen, atau Chen Qingchen/ Jia Yifan yang terus merawat prestasi sejak junior hingga kini di level senior. Terus menyuntikkan kepercayaan diri, memoles skill dan merawat kebugaran, bukan mustahil Jorji terutama, akan terus merangkak naik ke papan atas. 


Namun sudah banyak yang memberi awasan bahwa juara dunia junior bukan segalanya. Banyak nama yang sekadar menghiasi daftar juara di usia muda karena layu tak lama berselang.  Titian menuju puncak karier memang masih panjang. Adalah tugas berat banyak pemangku kepentingan mengkonversi semburat optimisme dari Yogyakarta itu menjadi prestasi.

hasil WJC 2017/www.tournamentsoftware.com

No comments:

Post a Comment

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...