(pada mulanya adalah KATA...)

Saturday, September 16, 2017

Bulu Tangkis Indonesia Ukir Sejarah Baru di Korea Open

Marcus Gidieon dan Kevin Sanjaya/badmintonindonesia.org
Sejak naik level menjadi super series pada 2007, Indonesia belum pernah mengirim wakil sebanyak ini. Apalagi mampu menciptakan “all Indonesian final” di sektor tunggal putra. Sejak satu dekade silam Indonesia baru sekali membawa pulang gelar juara yakni pada 2015 melalui pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Namun tahun ini, Indonesia sukses mengirim empat wakil ke partai puncak, dengan satu gelar juara sudah pasti direbut. Itulah yang terjadi di Korea Open Super Series tahun ini.

Kejutan terbesar terjadi di nomor tunggal putra. SK Handball Stadium, Seoul menjadi saksi kebangkitan dua pemain muda, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting. Nama mereka kerap dielu-elukan namun belum juga mencapai klimaks di turnamen besar. Kali ini Jojo dan Ginting menyaput segala ragu, membuktikan bahwa mereka masih pantas memanggul tanggung jawab masa depan bulu tangkis Indonesia.

Di babak semi final, Sabtu (16/09/2017), Ginting menumbangkan wakil tuan rumah yang berstatus pemain nomor satu dunia, Son Wan Ho.  Ini menjadi pertemuan pertama antara dua pemain yang berjarak 23 strip di daftar rangking dunia. Butuh waktu lebih dari satu jam bagi pemain rangking 24 dunia itu mengalahkan Wan Ho dengan skor akhir 16-21, 21-18 dan 21-13.

Ginting menunjukkan visi dan strategi permainan yang bagus, meski masih harus memperbaiki akurasi pukulan. Absennya sejumlah unggulan seperti Lee Chong Wei, Lin Dan, Chen Long dan Viktor Axelsen dimanfaatkan dengan baik untuk mencapai final super series pertama sepanjang karirnya.
Begitu juga Jojo yang sukses “pecah telur” saat menghadapi pemain Taiwan, Tzu Wei. Selalu kalah di tiga pertemuan sebelumnya tidak menjadi alasan bagi pemain yang baru saja berulang tahun ke-20 pada 15 September kemarin untuk kembali menyerah menggapai final super series pertamanya. Ia pun hanya butuh waktu lebih dari 30 menit untuk menyudahi perlawanan pemain nomor 12 dunia itu dengan skor 21-13 dan 21-17.

Jojo dan Ginting akan mengulangi pencapaian Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso saat menciptakan “all Indonesia final” di level super series yang diukir di tanah air pada 2008 silam. Penantian gelar tunggal putra sejak Sony menjadi juara Singapore SS tahun lalu pun berakhir. Siapa yang paling siap menjadi pemenang di babak final Minggu (17/09) besok akan mengikuti jejak Joko Suprianto, Ardy B Wiranata dan Heryanto Arbi yang berturut-turut menjadi juara Korea Open dalam rentang 1993-1995, atau dua tahun setelah Korea Open bergulir.

Kembalinya Marcus/Kevin dan Praveen/Debby

Dua wakil lainnya yang tampil di babak final berasal dari sektor ganda. Mantan pasangan nomor satu dunia, Marcus Fernaldi Gideo dan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan juara All England 2016, Praveen Jordan dan Debby Susanto.

Baik Marcus/Kevin maupun Praveen/Debby sama-sama mengincar gelar juara di Korea untuk pertama kalinya. Keduanya ingin mengulangi catatan manis para seniornya seperti Ricky Subagja/Rexy Mainaky (1995 dan 1996), Flandi Limpele/Eng Hian (1999), Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto (2004), Tony Gunawan/Candra Wijaya (2006) di nomor ganda putra serta Nova Widianto/Liliyana Natsir yang menjadi juara tahun 2006 sekaligus satu-satunya ganda campuran Indonesia yang pernah berjaya di Korea.

Di babak semi final Marcus/Kevin yang kini berada di urutan tiga dunia itu menyingkirkan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dari Jepang. Kedua pasangan harus bermain tiga game setelah Kamura/Sonoda merebut set kedua. Lapangan yang berangin sedikit banyak mempengaruhi para pemain, terutama akurasi pukulan. Setelah melewatkan 50 menit, Marcus/Kevin pun mengunci kemenangan rubber game dengan skor 21-18, 17-21 dan 21-16.

Kemenangan ini sekaligus mengunggulkan Marcus/Kevin dalam catatan head to head. Sebelumnya kedua pasangan berbagi kemenangan dalam empat pertemuan. Pertemuan terakhir di Malaysia Open 2017 dimenangkan Marcus/Kevin dengan skor 21-16 dan 21-13.

Di partai final Marcus/Kevin akan menantang unggulan pertama sekaligus pasangan nomor satu dunia asal Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen yang menumbangkan pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Kedua pasangan sudah empat kali bertemu. Rekor pertemuan lebih mengunggulkan pasangan Denmark yang mampu meraih tiga kemenangan, termasuk pertemuan terakhir di penyisihan Grup Piala Sudirman 2017. Saat itu Boe/Mogensen menang 16-21 24-22 23-21.

Sekalipun nasib Boe/Mogensen lebih baik dalam sejarah pertemuan keduanya, Kevin/Marcus pun memiliki catatan meyakinkan saat tampil di partai final turnamen super series. Tercatat dari enam final super series, Kevin/Marcus selalu mampu menjadi juara. Artinya rekor 100% kemenangan di final masih belum ternoda. Akankah rekor sempurna ini berlanjut di Korea kali ini?

Benar kata Kevin saat berbicara kepada badmintonindonesia.org. “Besok kami harus lebih tenang, lebih siap di non teknisnya kalau harus berhadapan dengan Denmark. Karena kalau secara teknik kan semua sudah hampir rata aja.”

Bila Marcus/Kevin akan tampil di partai terakhir, hal sebaliknya terjadi pada ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan dan Debby Susanto. Unggulan tujuh ini akan membuka partai final, menantang pasangan non unggulan dari China, Wang Yilyu dan Huang Dongping. Di babak semi final, Praveen/Debby menang mudah atas pasangan Jerman Marvin Emil Seidel dan Linda Efler, 21-18 dan 21-12. Sementara Wang/Huang menghentikan perjuangan wakil Malaysia Chan Peng Soon dan Cheah Yee See juga straight set, 21-15 dan 21-9.

Praveen/Debby wajib mewaspadai pasangan China berperingkat 13 dunia itu. Keduanya harus belajar dari pertemuan pertama sekaligus satu-satunya di Kejuaraan Asia tahun ini. Saat itu Praveen/Debby secara mengejutkan kalah dua game langsung 22-24 dan 19-21. Bila tidak ingin terpeleset untuk kedua kalinya maka apa yang dikatakan Debby harus dijadikan bahan evaluasi. “Di BAC (Badminton Asia Championships) kemarin bisa dibilang kami seharusnya nggak kalah. Tapi ada beberapa poin yang kami mati sendiri dan lengah. Jadi harus dipelajari lagi supaya tidak terulang.”

Semoga sejarah baru Indonesia di Korea kali ini sempurna!


Berikut jadwal final #KoreaSS 2017:
Sumber: @Antoagustian

No comments:

Post a Comment

Video Bar

Loading...

Indonesia Sabet 2 Gelar Korea Open 2017

Anthony Ginting (kanan) dan Jonatan Christie, finalis #KoreaSS 2017/badmintonindonesia.org Pertama kali sejak naik level menjadi turnam...