(pada mulanya adalah KATA...)

Monday, December 11, 2017

Menanti The Minions Sempurnakan Predikat Pemain Terbaik 2017

Marcus dan Kevin menyabet penghargaan Pemain Putra Terbaik 2017/badmintonindonesia.org
Patut diakui kebanggaan bulu tangkis Indonesia masih bertumpu pada sektor ganda, baik ganda putra maupun ganda campuran. Selain posisi di rangking dunia, jumlah kontestan yang ambil bagian di turnamen akbar seperti Super Series Finals, Kejuaraan Dunia hingga Olimpiade masih didominasi kedua nomor tersebut.

Situasi ini berbanding terbalik dengan China. Negeri Tirai Bambu itu mampu meloloskan wakil dalam jumlah maksimal. Hal ini memberi arti penting. Regenerasi di bulu tangkis China berjalan baik dan merata. Sebaliknya, proses serupa berjalan lambat, tak merata dan kurang konsisten di bulu tangkis Indonesia. Selain kedua sektor tersebut, terutama di nomor tunggal, apalagi tunggal putri, Indonesia masih harus bekerja ekstra keras untuk menghadirkan prestasi.

Sepanjang tahun ini Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon menjadi pemain Indonesia yang paling konsisten menjaga performa. The Minions mampu meraih enam gelar super series masing-masing All England, India Open, Malaysia Open, Japan Open, China Open dan terakhir Hong Kong Open. Perempatfinalis Kejuaraan Dunia itu juga dua kali menginjak babak final super series yakni Korea Open dan Denmark Open.

Tak heran pasangan liliput yang berada di puncak rangking BWF itu dianugerahi gelar Pemain Putra Terbaik 2017 (Male Player of The Year). Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara gala dinner turnamen BWF World Super Series Finals 2017 di Dubai, Uni Emirat Arab, Senin (11/12/2017).

The Minions menyisihkan sejumlah nominator yakni Zheng Siwei, Viktor Axelsen dan Kidambi Srikanth. Siwei merupakan pemain muda China serba bisa yang berlaga di nomor ganda putra dan ganda campuran. Sepanjang tahun ini pemain 20 tahun itu menyabet empat gelar super series bersama pasangan ganda campuran, Chen Qingchen. Selain itu ia juga menjadi runner-up di lima turnamen super series, empat dari antaranya di nomor ganda campuran. Bersama Chen Qingchen keduanya mengukuhkan diri sebagai ganda campuran terbaik dunia.

Sepak terjang Axelsen dan Kidambi pun tak kalah mentereng. Axelsen adalah tunggal putra nomor satu dunia. Pemain muda Denmark ini meraih medali emas Kejuaraan Dunia dan dua kali meraih podium tertinggi di turnamen super series masing-masing di India dan Jepang. Srikanth menjadi pemain India dengan perkembangan pesat belakangan ini. Pemain 24 tahun itu memenangkan empat gelar super series (Indonesia Open, Australian Open, Denmark Open, dan French Open) sepanjang tahun ini. Bersama Axelsen keduanya menjadi pemain muda yang mampu bersaing dengan para pemain senior seperti Lee Chong Wei dan Chen Long.

Selain “The Minions”, Indonesia juga mengirim dua kandidat lain peraih penghargaan tahunan BWF. Pemain tunggal putri Gregoria Mariska dan tandem Greysiaa Polii di ganda putri, Apriyani Rahayu. Keduanya masuk nominator The Most Promising Player of the Year (Eddy Choong Award).

Jorji dan Apri bersaing dengan pemain tunggal putri China, Chen Yufei; ganda putra dan ganda campuran India, Satwiksairaj Rankireddy dan bintang muda China di nomor tunggal putri, Lee Zii Jia.

BWF Awards Commission akhirnya memilih Chen Yufei sebagai pemenang tahun ini. Chen dianggap sebagai sosok paling menjanjikan tahun ini. Baru berusia 19 tahun, Chen mampu meraih medali perunggu Kejuaraan Dunia dan menembus babak semi final dua turnamen super series (Japan Open dan Denmark Open). Selain itu Chen tercatat sebagai perempatfinalis Malaysia Open, Australian Open, French Open dan Hong Kong Open.

Meski Jorji dan Apri gagal meraih penghargaan tersebut, nominasi ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. Apri tampil baik di ganda putri. Bersama seniornya Greysia Polii, mereka telah menduduki 10 besar dunia.

Puncak The Minions

Marcus dan Kevin pun diharapkan mampu menyempurnakan performa mereka tahun ini dengan gelar penutup tahun. Ini menjadi segelintir gelar yang belum mengisi lemari prestasi mereka. Undian menempatkan The Minions di Grup A bersama Li Junhui/Liu Yuchen dari China, Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding asal Denmark, dan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dari Jepang. 
Undian ini membuka jalan bagi The Minions untuk balas dendam kegagalan di ajang serupa tahun lalu. Saat itu Marcus/Kevin tersisih di penyisihan grup bersama pasangan Indonesia lainnya, Angga Pratama dan Ricky Karanda. Mereka kalah bersaing dengan Mads Conrad Petersen/Mads Pieler Kolding dan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda.

Marcus dan Kevin hanya sekali menang atas Angga dan Ricky. Kontra duo Mads mereka menyerah straight set 12-21 dan 19-21. Di laga terakhir menghadapi wakil Jepang, keduanya juga kalah dua game langsung, 15-21 dan 19-21.

Jelang pertemuan keenam, The Minions memiliki catatan bagus kontra “tiang listrik” dari Denmark itu. Setelah kekalahan di Dubai tahun lalu, The Mions menyapu bersih tiga pertemuan terakhir mulai dari All England, India Open hingga turnamen super series terakhir di Hong Kong.  Jejak rekam yang bagus ini tentu menjadi modal berharga bagi The Minions jelang pertemuan keduanya pada 13 Desember 2017 besok.

Seperti kontra duo Mads, The Minions pun sudah lima kali  menghadapi Kamura/Sonoda. Catatan pertemuan pun identik dengan wakil Denmark. Marcus dan Kevin unggul dalam tiga pertemuan, termasuk dua pertemuan terakhir di Malaysia Open dan Korea Open tahun ini.

Jejak rekam ini menjadi bekal berharga bagi The Minions untuk menjaga ritme positif menghadapi lawan-lawannya. Setidaknya keduanya bisa memperbaikai catatan tahun lalu, lolos dari fase grup dan mencapai klimaks di Hamdan Sports Complex.

Selain The Minions, Indonesia juga diwakili dua pasang ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir serta Praveen Jordan dan Debby Susanto. Owi/Butet berada di grup berbeda dengan juniornya. Ini menjadi keuntungan bagi Indonesia untuk mendapatkan dua peluang di babak semi final.

Namun demikian mereka harus melewati hadangan yang tidak ringan. Owi/Butet berada di Grup B bersama Wang Yilyu/Huang Dopngping dari China, Tan Kian Meng/Lai Pei Jing asal Malaysia serta Chris Adcock/Gabriel Adcock dari Inggris. Sementara Praveen/Debby harus bersaing dengan
Zheng Siwei/Chen Qingchen (China), Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong), dan Kenta Kazuno/Ayane Kurihara (Jepang). 
Di atas kertas di banding Praveen/Debby, peluang Owi/Butet ke semi final lebih terbuka. Secara peringkat Owi/Butet masih berada di atas lawan-lawannya. Pasangan nomor tiga dunia ini pun unggul secara head to head. Mereka memimpin 9-5 kontra duo Adcock, imbang 1-1 menghadapi Wang Yilyu/Huang Dopngping dan unggul 2-1 atas wakil Malaysia.

Praveen/Debby harus menantang pasangan nomor satu dunia di pertandingan kedua babak kualifikasi. Dalam performa yang labil, pasangan rangking enam duni ini pun lebih dulu diuji oleh Tang Chun Man/Tse Ying Suet yang belum pernah dihadapi sebelumnya di laga pertama. Pertandingan terakhir menghadapi  Kenta/Ayane menjadi ajang pembuktian apakah Praveen/Debby mempu melewati tekanan dari pasangan berperingkat 16 dunia.

The Minions diharapkan mampu mengakhiri tahun ini dengan manis sekaligus menyamai prestasi Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan yang dua kali menjadi juara pada 2013 dan 2015. Owi/Butet dan Praveen/Debby pun demikian, bisa menjadi pasangan pertama dari nomor ganda campuran yang meraih gelar di turnamen berhadiah tertinggi itu. Bila tidak mampu membawa gelar maksimal, setidaknya Indonesia tidak pulang tanpa gelar seperti tahun lalu.

N.B
#Para pemenang Badminton World Federation Player of The Year 2017 :

Male Player of The Year : Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (Indonesia)
Female Player of The Year : Chen Qingchen (Tiongkok)
Eddy Choong Most Promising Player of The Year : Chen Yufei (Tiongkok)
Most Improved Player of The Year : Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang)
Para Badminton Male Player of The Year : Kim Jungjun (Korea)
Para Badminton Female Player of The Year : Amnouy Wetwithan (Thailand)

#Pembagian grup BWF Super Series Finals 2017:

Tunggal putra

Group A: Son Wan Ho (Korea), Lee Chong Wei (Malaysia), Ng Ka Long Angus (Hong Kong), Chen Long (China)
Group B: Srikanth Kidambi (India), Shi Yuqi (China), Chou Tien Chen (Taiwan), Viktor Axelsen (Denmark)

Tunggal putri

Grup A: Akane Yamaguchi (Jepang), Pusarla Venkata Sindhu (India), He Bingjiao (China), Sayaka Sato (Jepang)
Grup B: Tai Tzu Ying (Taiwan), Sung Ji Hyun (Korea), Ratchanok Intanon (Thailand), Chen Yufei (China)

Ganda putra

Grup A: Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon (Indonesia), Li Junhui/Liu Yuchen (China), Mads Conrad Pedersen/Mads Pieler Kolding (Denmark), Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang)
Grup B: Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark), Zhang Nan/Liu Cheng (China), Lee Jhe Huei/Lee Yang (Taiwan), Takura Hoki/Hugo Kobayashi (Jepang)

Ganda putri

Grup A: Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto (Jepang), Chen Qingchen/Jia Yifan (China), Yu Xiahon/Huang Yaqiong (China), Chang Ye Na/Lee So Hee (Korea)
Grup B: Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang), Christinna Pedersen/Kamilla Rytter 3 (Denmark), Jung Kyung Eun/Shin Seung Chan (Korea), Hsu Ya Ching/Wu Ti Jung (Taiwan)

Ganda campuran

Grup A: Zheng Siwei/Chen Qingchen (China), Tang Chung Man/Tse Ying Suet (Hong Kong), Praveen Jordan/Debby Susanto (Indonesia), Kenta Kazuno/Ayane Kurihara (Jepang)
Grup B: Wang Yilyu/Huang Dongping (China), Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia), Tan Kiang Meng/Lai Pei Jing (Malaysia), Chris Adcock/Gabby Adcock (Denmark)

#Jadwal #DubaiSSF (live di KompasTV):
-Fase Grup, Rabu 13 Des, 16.00 WIB
-Fase Grup, Kamis 14 Des, 16.00 WIB
-Fase Grup, Jumat 15 Des, 16.00 WIB
-Semifinal, Sabtu 16 Des, 13.00 WIB

-Final, Minggu 17 Des, 16.00 WIB

No comments:

Post a Comment

Video Bar

Loading...

Allianz Sweat Challenge, Tantangan Hidup Sehat di Allianz Ecopark Ancol

Dok: Allianz Sweat Challenge “Kesehatan selalu tampak berharga setelah kita kehilangannya.” – Jonathan Swift Kata-kata bijak di a...