(pada mulanya adalah KATA...)

Sunday, November 19, 2017

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian
Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya masih berlaku hingga hari ini, Termasuk di dunia bulu tangkis. Tanpa harus mensambangi negara di Asia Timur itu, dari penampilan para pemain China di berbagai kejuaraan dari waktu ke waktu lebih dari cukup bagi Indonesia untuk memetik pelajaran penting.

China Open 2017 baru saja berakhir beberapa jam lalu. Turnamen level super series premier yang dihelat di Haixia Olympic Sports Center, Fuzhou kembali menegaskan China sebagai raksasa bulu tangkis dunia. Seakan pelampiasan kegagalan tahun lalu tanpa satu gelar pun, kali ini tuan rumah mengunci tiga gelar sekaligus. Chen Long (tunggal putra), Chen Qingchen/Jia Yifan (ganda putri) dan Zheng Siwei/Huang Yaqiong (ganda campuran) membuat para pendukung tuan rumah tersenyum lebar. 

Dua gelar lainnya dibagikan kepada Jepang di nomor tunggal putri melalui Akane Yamaguchi dan Indonesia melalui pasangan ganda putra, Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Marcus/Kevin tidak hanya menjaga muka Indonesia di China sekaligus mempertahankan reputasi mereka sebagai juara bertahan dan pasangan terbaik dunia. Duo minions masih terlalu tangguh bagi pasangan veteran Denmark yang belakangan menjadi musuh bebuyutan, Mathias Boe/Carsten Mogensen.

Pertemuan kedua pasangan ini di partai puncak menjadi laga ideal di sektor ini. Keduanya berada di puncak sekaligus mengulangi final tahun lalu. Saat itu duo minions menang straight set 21-18 dan 22-20, hal mana kembali berulang tahun ini dengan skor 21-19 dan 21-11.

Meski begitu pasangan Denmark yang teleh lewat kepala tiga itu masih memimpin dalam head to head. Sukses menjaga tren positif di dua pertemuan terakhir masing-masing di Japan Open dan China Open membuat pasangan mungil ini hanya butuh satu kemenangan lagi untuk menyeimbangkan catatan tujuh pertemuan mereka.

Tidak perlu banyak komentar terkait penampilan Marcus/Kevin di laga ini. Mereka mampu menjaga performa sejak laga pertama. Seperti biasa, Kevin dengan tipuan-tipuan dan netting mematikan, sementara Gideon dengan smash-smash keras tanpa kompromi. Kolaborasi apik kedua pasangan ini membuat pasangan-pasangan jangkung mulai dari Vladimir Ivanov dan Ivan Sozonov asal Rusia hingga pasangan tuan rumah Li Junhui dan Liu Yuchen yang dihadapi di semi final tak berkutik. Duo minions pun menunjukkan diri sebagai raja baru di sektor ini dengan catatan delapan gelar super series dalam dua tahun terakhir dengan lima dari antaranya diraih tahun ini.

Masih ada cerita menarik lainnya bagi bulu tangkis Indonesia di sektor ini. Pasangan Mohammad Ahsan dan Rian Agung Saputro terus menjaga asa sebagai pelapis Marcus/Kevin. Finalis Kejuaraan Dunia tahun ini nyaris menciptakan  “all Indonesian final” di China Open andai saja langkah mereka tak dijegal Boe/Mogensen. Meski kalah 20-22, 12-21 dari Boe/Mogensen, Ahsan dan Rian menjadi salah satu bukti keberhasilan alihpasangan. Setelah Hendra Setiawan mundur dari tim nasional, giliran Ahsan yang ditugaskan untuk mengangkat performa pemain yang lebih mudah yang kini ada dalam diri Rian Agung Saputro. Ahsan pun bertransformasi secara baik dari seorang smasher menjadi playmaker. Permainan depan sosok 30 tahun ini makin jago, dengan tanpa kehilangan power saat melancarkan pukulan.

Sayangnya langkah positif Ahsan/Rian justru tidak menggelitik Angga Pratama dan Ricki Karanda. Pasangan yang sebelumnya digadang-gadang sebagai penerus Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan ini tidak juga mencapai level permainan tertinggi. Penampilan yang angin-anginan membuat mereka kini tidak hanya telah disalip Marcus/Kevin tetapi juga terancam disusul Ahsan/Rian. Bukan tidak mungkin justru Ahsan/Rian yang akan mendampingi duo Minions di Asian Games tahun depan.

Berani orbit, berani bongkar pasang

Situasi yang dialami Angga dan Ricky bila terjadi di tim China mungkin sudah berbeda cerita. Keduanya sudah lama bercerai. Kini China muncul dengan sejumlah pasangan baru hasil bongkar pasang. Menariknya China berani mengkombinasikan pemain dari generasi berbeda.

Di sektor ganda putra, Zhang Nan kini berpasangan dengan Liu Xuanxuan. Kombinasi senior dan junior itu berhasil melangkah hingga perempat final sebelum dihentikan Tang Chun Man/Tse Ying Suet.
Tahun lalu Zhang Nan mampu membawa Li Yunhui ke final ganda campuran China Open sebelum dikandaskan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Tak berapa lama kemudian Zhang Nan membiarkan Li Yunhui berjalan sendiri dengan pasangan muda lainnya, Du Yue yang sempat dipasangkan dengan pemain senior lainnya, Xu Chen.

Final ganda campuran kali ini menjadi contoh keberhasilan sejumlah negara melakukan bongkar pasang dan keberanian memberikan tempat kepada pemain muda. Baik Zheng Siwei dan Huang Yaqiong maupun Mathias Christiansen dan Christinna Pedersen adalah pasangan baru dari China dan Denmark. Zheng/Huang langsung mengawali kebersamaan dengan sangat baik setelah menjuarai Macau Grand Prix Gold pekan lalu sebelum mengukir sejarah di hadapan publik sendiri.

Sementara Christiansen/Pedersen adalah pasangan berbeda generasi yang baru saja dibentuk. Ini terobosan Denmark yang cukup ogah melakukan bongkar pasang. Bisa jadi karena para pemain mereka mampu menjaga konsistensi dan awet sebagai pasangan. Di lain pihak menjadi langkah baru guna mengantisipasi terbentuknya jurang antargenerasi seperti yang dialami Indonesia di nomor tunggal putri.
Cristinna yang telah berusia 31 tahun dipercaya menjadi mentor bagi Mathias Christiansen yang baru berusia 23 tahun. Pengalaman Christinna diharapkan bisa mengangkat juniornya lebih cepat. Tanda-tanda positif sudah terlihat. Keduanya memang gagal mencapai klimaks. Tetapi menginjak partai final turnamen bergengsi seperti ini menjadi hasil bagus yang belum tentu bisa diukir negara-negara lain, termasuk Indonesia. Keduanya bahkan menjungkalkan juara bertahan sekaligus harapan semata wayang Indonesia di ganda campuran, Tontowi dan Liliyana di babak perempat final.

Alarm bagi Indonesia

Tidak hanya China dan Denmark, Korea Selatan bahkan sudah terbiasa melakukan bongkar pasang. Tahun lalu Lee So Hee dan Chang Ye Na menjuarai China Open mengalahkan wakil tuan rumah Huang Dongping/Li Yinhui. Kali ini Lee So Hee kembali menginjak partai final bersama tandem berbeda yakni Kim Hye Rin. Sayang bersama Kim, Lee gagal menaklukkan juara dunia sekaligus pasangan terbaik China, Chen Qingchen/Jia Yifan, 21-7 18-21 21-14.

Lee So Hee yang berparaas cantik memiliki smash keras dan cerdas dalam bermain. Pemain berusia 23 tahun ini mampu menginjak final di tiga super series terakhir mulai dari Denmark dan Prancis. Ia menjadi salah satu bibit unggul di nomor ini sekaligus segelintir pemain Korea Selatan yang kini mencuri perhatian dunia. Kemampuan Korea Selatan mencetak pemain tidak secepat China, namun Negeri Ginseng pandai memaksimalkan potensi pemain dengan main rangkap dan bongkar pasang. Pada akhirnya terlihat kekuatan merata di semua lini. Mau dipasangkan dengan siapapun tetap kelihatan setara.

Sementara Indonesia masih mengandalkan pola regenerasi konvensional yang hanya berjalan baik di sektor tertentu saja. Di nomor ganda campuran isyarat makin jelas untuk berani melakukan terobosan seperti yang dilakukan negara-negara lain.

Saat ini kita praktis hanya mengandalkan Owi/Butet. Praveen Jordan dan Debby Susanto yang dipersiapkan sebagai pelapis pasangan senior itu malah semakin jauh dari harapan. Pasangan pelapis lainnya masih jauh tertinggal di belakang. Usia Butet tak bisa lagi dibohongi, cedera mendekat dan sepertinya enggan lekas pergi segera. Bila kita terus menerus berharap pada keduanya maka sulit membayangkan bila suatu ketika hal tak diharapkan terjadi pada pasangan ini.

Kita akan kelimpungan mencari pengganti. Ditambah bila sesewaktu Debby memutuskan gantung raket, isyarat yang sudah lama dikabarkan. Sebelum semua itu terjadi PBSI mesti berani mengambil langkah berani. Dengan pengalaman segudang, Debby bisa berbagi ilmu kepada para pemain muda. Begitu juga Owi dan Butet.

Pertanyaan mengemuka, kepada siapa para pemain senior itu berbagi? Apakah kepada generasi Alfian Eko Prasetya, Ronald Alexander dan Melati Daeva Oktavianti? Bisa saja. Tetapi pengalaman Owi dan Gloria misalnya menjadi bukti tak berjalannya proses bongkar pasang tersebut. Bila demikian mengapa harus takut mencoba memadukan dengan generasi dibawahnya? Praveen dan Phita atau Tontowi dan Fadia misalnya. Dengan national poin bisa langsung ke super series, jika belum berani, setidaknya bisa mencoba di level Grand Prix Gold.

Entah mengapa generasi Melati cs sulit bersaing di level super series. Tampaknya mereka butuh pasangan yang setidaknya pernah menjadi juara super series. Mental mereka perlu digedor degan mentor yang senior.

Langkah berani

Potensi para pemain muda Indonesia tak jauh berbeda dengan negara-negara lain. Bila dihitung bibit-bibit muda Indonesia tak kalah banyak dari China sekalipun. Namun nasib para pemain muda di kedua negara itu berbanding terbalik.

Sebagai contoh, saat Gregoria Mariska kandas di Malaysia International Challenge, Gao Fangjie sukses ke perempat final China super series premier. Gao hanya lebih tua setahun dari Gregoria. Bahkan Jorji, sapaan Gregoria pernah mengalahkan Gao di semi final Kejuaraan Asia Junior 2016. Saat itu Gao kalah 21-13 dan 10-21 dari Jorji dan harus puas dengan medali perunggu. Sementara Jorji melangkah ke final sebelum kandas di tangan Chen Yufei.

Namun dalam rentang setahun prestasi Gao melesat. Pemain 19 tahun ini sudah langsung berbicara di level super series premier. Saat Jorji masih bersaing di turnamen level bawah, Gao sudah bisa menumbangkan para ratu seperti P.V Sindhu dan Carolina Marin. Sindhu yang menjadi juara bertahan dibungkam dua game langsung di perempat final dengan skor 21-11 dan 21-10. Sementara Marin, peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 mendapatkan nasib serupa Sindhu di semi final, juga dalam dua game, 21-19 dan 21-19.
Gao Fangjie (kanan) gambar dari @Antoagustian
Sayang Gao harus menyerahkan gelar juara kepada  Akane Yamaguchi yang mengalahkannya di final dengan skor 21-13, 21-15. Namun prestasi Gao ini mengisyaratkan bahwa China telah mendapatkan penerus Li Xuerui, Wang Shixian dan Wang Yihan. Tidak hanya rupa yang mirip, permainan Gao pun mengingatkan kita pada Li Xuerui.

Sejak He Bingjiao menjuarai Prancis Super Series tahun lalu, tak ada tunggal putri China yang naik podium tertinggi dalam 10 tur super series sepanjang tahun ini. China sedang bekerja keras mengatasi paceklik ini. Namun Negeri Tirai Bambu itu tak perlu menunggu terlalu lama untuk mengakhiri masa penantian itu. Bingjiao dan Gao adalah dua dari sejumlah pemain muda China yang siap bersaing di papan atas dalam usia yang masih belia.

Sementara Indonesia masih terus menggantung harapan pada generasi Fitriani dan Hanna Ramadini lalu Jorji untuk menjembatani jurang antargenerasi yang kini menganga lebar. Selain terus mengasah mereka dari satu kompetisi ke kompetisi lain, berani mencemplungkan mereka di turnamen level atas patut dipertimbangkan. Dalam hal ini lagi-lagi kita masih harus belajar dari China. Tidak seperti kita, mereka memiliki cara berbeda dalam “mengasuh” yang membuat pemain muda mereka bernasib jauh lebih baik dari pada kita. Bukan soal talenta, tetapi soal keberanian untuk berubah.

N.B

Hasil final #ChinaSSP 2017:
Gambar dari @AntoAgustian


No comments:

Post a Comment

Video Bar

Loading...

Menanti The Minions Sempurnakan Predikat Pemain Terbaik 2017

Marcus dan Kevin menyabet penghargaan Pemain Putra Terbaik 2017/badmintonindonesia.org Patut diakui kebanggaan bulu tangkis Indonesia m...