Peringatan World Prematur Day: Menyadari Risiko dan Upaya Mencegah Kelahiran Prematur

Ilustrasi dari fimela.com

Tahukah Anda saban 17 November, dunia memperingati Hari Prematur Sedunia atau World Prematur Day?

Sebagai informasi, Hari Prematur Sedunia bercikalbakal pada Mei 2010 di New York, AS. Sang pemula adalah European Foundation for The Care of Newborn Infant (EFCNI), Little Big Souls (Afrika) dan March of Dimes (AS).

Peresmian dan perayaannya sendiri dimulai sejak 2011 bersamaan dengan bergabungnya National Premier Foundation (Australia). Tahun ini tema yang diusung adalah “Zero Separation, ACT NOW!” atau “Tak Ada Lagi Pemisahan. Bertindak Sekarang!”

Tema ini tak terlepas dari kondisi dunia yang sedang dilanda pandemic COVID-19. Masa “pagbelbug” yang sudah berjalan hampir dua tahun ternyata juga membawa dampak besar buat para orang tua dengan bayi mereka yang lahir prematur.

Danone Specialized Nutrition Indonesia memaknai peringatan itu melalui webinar Bicara Gizi bertajuk “Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur.”

Tampil dua pembicara yakni Dr. dr. Rima Irwinda, Sp.OG(K) yang merupakan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal serta Dr. dr. Putri Maharani TM, Sp.A(K) selaku Dokter Spesialis Anak Konsultan Neonatologi.

Definisi prematur

Dr. dr. Rima Irwinda, Sp.OG(K) coba mengartikan kata prematur dan kelahiran prematur. Ia justru lebih familiar dengan kata preterm.

“Karena kata praterm untuk menilai dari usia kehamilan (anak dilahirkan kurang dari 37 minggu), sedangkan prematur itu maturitas belum cukup, dimana anak dilahirkan dibawah 37 minggu, misal 36 minggu,” ungkapnya memberi alasan.

Dari penjelasan di atas, sebuah kelahiran digolongkan prematur bila Si Kecil lahir sebelum usia 37 minggu. Menurut WHO, kelahiran prematur berarti bayi lahir sebelum 37 minggu di mana dalam kondisi normal bayi lahir di usia 39 minggu kandungan.

Kelahiran prematur masih diklasifikasi lagi ke dalam prematur ekstrem (kurang dari 28 minggu), sangat prematur (28 sampai kurang dari 32 minggu), moderat (32 sampai kurang dari 34 minggu) dan prematur akhir (34 sampai kurang dari 37 minggu). Peringkat Indonesia

Kasus kelahiran prematur di dunia tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, dari data yang mengemuka, jumlahnya tidak sedikit. Dr.Rima menyebut riset dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan 1 dari 10 anak lahir prematur. Setiap tahun diperkirakan 15 juta anak di seluruh dunia lahir sebelum waktunya (lebih dari 3 minggu sebelumnya).

Bagaimana posisi Indonesia? Data WHO tahun 2010 Indonesia menempati posisi teratas di daftar negara dengan jumlah kontribusi prematur tertinggi.

Indonesia berada di lingkaran lima besar dari 10 negara yang memberikan kontrbusi 60 % kelahiran preterm di seluruh dunia. Pada tahun 2010 terdapat 675.700 kelahiran preterm dimana kelahiran preterm/tahun dari angka kelahiran preterm/100 kelahiran hidup 15,5 % (ranking 9).
Ilustrasi dari tangkapan layar webinar dari YouTube Nutrisi Bangsa


Data ini sejalan dengan temuan Riset Kesehatan Dasar tahun 2019 yang menunjukkan bahwa 84% kematian pada anak yang baru lahir di Indonesia disebabkan oleh kelahiran prematur.

Mengapa harus dicegah?

Ini menjadi pertanyaan mendasar bagi setiap keluarga. Sebab, anak yang lahir secara prematur memiliki risiko lebih tinggi lahir dengan masalah kesehatan serius dan jangka panjang. Kelahiran prematur akan memberikan dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak jangka pendek yang bisa timbul yaitu masalah pernafasan, masalah minum, pendarahan intraventikular, aliran jantung tak normal, dan sepsis.

Untuk jangka panjang akibat kelahiran preterm dapat menimbulkan cerebral palsy, developmental delay, masalah penglihatan, masalah pendengaran dan gangguan belajar.

Selain si Kecil, Ibu juga perlu mendapatkan perhatian untuk memulihkan diri. Ibu yang melahirkan prematur memiliki kekhawatiran berlebih, stres, dan juga kelelahan karena Si Kecil harus diperhatikan lebih ekstra.

Karena itu perlu edukasi memadai tentang risiko, tantangan dan penanganan kesehatan kelahiran prematur. Butuh intervensi tepat bagi keduanya agar tumbuh kembang anak tetap optimal.

Berikut beberapa tips untuk mencegah kelahiran prematur:

Pertama, lakukan pemeriksaan ke dokter lebih dini dan teratur untuk perawatan prenatal. Kedua, segera periksa ke tenaga kesehatan apabila mengalami masalah kesehatan yang berisiko selama kehamilan seperti diabetes, tekanan darah tinggi, anemia, dan lain-lain.

Ketiga, hindari kebiasaan atau pola hidup yang tidak sehat seperti merokok, minum minuman beralkohol, menggunakan obat-obatan terlarang, dan sebagainya.

Keempat, makan makanan dengan nutrisi cukup sesuai pedoman Isi Piringku.

Kelima, jaga berat badan ideal (tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit).

Keenam, lindungi diri dari infeksi (cuci tangan dengan baik dan sering), jangan makan daging mentah, ikan atau keju yang tidak dipasteurisasi.

Ketujuh, kurangi stres selama masa kehamilan.

Comments

Popular posts from this blog

Menanti Intervensi Pemerintah untuk Anak dengan Penyakit Langka

Dari Namirah, Sarwendah, Olivia Jensen Hingga Alice Norin Jatuh Hati Pada All New Sienta

Menulis Terus Sampai Jauh...