(pada mulanya adalah KATA...)

Monday, May 21, 2018

Nostalgia bersama TVRI dalam Tayangan Langsung Piala Thomas dan Uber 2018

Sumber: twitter.com

Sehari pasca Piala Thomas dan Uber 2018 bergulir di Impact Arena, Bangkok, Thailand, pencinta bulu tangkis di Indonesia mendapat kabar gembira. Hari pertama penyelenggaraan akses untuk menyaksikan perjuangan para skrikandi dan pangeran bulu tangkis Indonesia cukup terbatas. Selain stasiun televisi berbayar K-Vision, kita hanya memiliki pilihan melalui “live streaming” dengan akses yang jauh lebih terbatas.

Tidak nyaman memang. Rasanya gimana gitu.  Event akbar yang seharusnya mendapat perhatian luas itu tidak mendapatkan peliputan yang semestinya. Bukan karena enggan mengeluarkan “harga” untuk mendapat tontonan, tetapi mestinya akses untuk melihat sepak terjang para pahlawan bulu tangkis kita dibuka lebar-lebar. Ya, setidaknya melalui stasiun televisi swasta yang bisa dijangkau oleh masyarakat luas.

Akhirnya setelah menanti, sambil menebak-nebak stasiun televisi mana yang mau mengambil “risiko”-karena memang penuh perhitungan untuk menayangkan jenis olahraga satu ini di tengah materi siaran lainnya yang lebih “seksi”-ada stasiun televisi yang mau menayangkannya secara gratis. Stasiun itu adalah Televisi Republik Indonesia (TVRI)!

Saatnya kembali ke TVRI! Tanpa perlu berpikir panjang untuk mencari tahu alasan, kesediaan TVRI menyiarkannya patut disambut gembira. Di satu sisi, TVRI memainkan peran sebagai lembaga penyiaran publik, yang sebagian besar biaya operasionalnya ditanggung negara, untuk memberikan tontonan secara gratis kepada masyarakat Indonesia. Apalagi tayangan ini terkait perjuangan tim Indonesia yang sedang menjalankan tugas mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.  

Seluruh rakyat Indonesia tentu tidak bisa memberikan dukungan secara langsung kepada Hendra Setiawan, Greysia Polii dan kawan-kawan. Sedikit dari banyak cara yang bisa dilakukan secara tidak langsung adalah melalui perantara televisi. Liputan “live” akan membuka akses kepada masyarakat untuk melihat sambil memberikan dukungan dari jauh.

Di sisi lain, penayangan ini menjadi sebentuk ajakan kepada masyarakat untuk kembali ke TVRI! Di tengah menjamurnya televisi swasta yang tidak hanya banyak dalam jumlah tetapi lebih atraktif dan menarik dalam kemasan membuat posisi TVRI kian terpinggirkan. Berapa banyak masyarakat  Indonesia kini yang masih setia memutar tayangan TVRI? Berapa banyak generasi masa kini yang masih menyimpan nama TVRI di benak ketika hendak menyalakkan televisi?

Sebelum tahun 1989 ketika televisi swasta pertama belum berdiri, TVRI adalah penguasa. Begitu juga ketika RCTI baru mulai mengudara, lantas menyusul SCTV setahun berselang, pamor TVRI masih begitu kuat. Tidak sedikit tayangan TVRI yang menjadi primadona dan kini masih disebut-sebut. Ketika kita berbicara tentang konten atau siaran yang muncul di layar kaca masa kini kadang mengantar kita melihat kembali ke belakang, ke masa-masa ketika tayangan seperti Oshin (drama serial dari Jepang), Dari Desa ke Desa (liputan tentang aneka profesi orang Indonesia di berbagai pelosok desa), Berpacu dalam Melodi (acara kuis yang dipandu Koes Hendratmo yang kini dalam kemasan baru dihadirkan kembali oleh salah satu stasiun televisi swasta), Aku Cinta Indonesia (sinetron tentang remaja yang mengedepankan nilai-nilai positif dengan Amir (Agyl Syahriar), Cici (Dyah Ekowati Utomo) dan Ito (Ario Sagantoro).sebagai pemeran utama), hingga Si Unyil menjadi favorit pemirsa. Apa yang membuat berbagai acara itu terkenal dan masih dikenang hingga kini? Tentu bukan semata-mata karena saat itu tidak ada banyak pilihan. Tetapi ada sesuatu yang lebih dari itu.

Mengharapkan Piala Thomas dan Uber untuk menarik perhatian masyarakat luas kepada TVRI tentu bukan hal mudah. Bisa jadi sekadar proyek sementara, atau bahkan hanya program sesaat yang tak cukup menarik. Toh berapa banyak pencinta bulu tangkis di Indonesia, atau berapa banyak yang mau berpaling ke TVRI untuk menonton bulu tangkis dibandingkan tayangan-tayangan lain yang lebih menarik? Apa artinya TVRI dibanding raksasa-raksasa media elektronik dengan konten masa kini yang lebih menggoda?

Belum lagi bila prestasi tim Indonesia tak sesuai harapan. Bisa jadi ini menjadi pertimbangan yang membuat stasiun televisi swasta enggan berebut membeli hak siar. Mereka akan lebih memilih berburu “kue” iklan yang mengemasi tayangan-tayangan lain dengan potensi rating yang lebih menjanjikan.

Namun kita perlu angkat topi untuk niat baik TVRI menghadirkan liputan langsung dari Bangkok untuk masyarakat Indonesia. TVRI seakan kembali ke akar. Ia seperti kembali ke asal dari mana dan untuk apa ia berdiri.

Bila membuka kembali lembaran sejarah, kita akan mendapatkan kenyataan bahwa TVRI berdiri untuk menyokong proyek olahraga bernama Asian Games. Stasiun televisi yang mengudara pada 24 Agustus 1962 itu dibangun untuk memberikan eksposur lebih terhadap multievent antarnegara Asia yang digelar di Jakarta pada tahun yang sama. Pemerintah ingin mengabarkan secara lebih luas kepada masyarakat Indonesia khususnya dan dunia umumnya semarak pesta olahraga antarnegara Asia yang pertama kali digelar di Indonesia.

Semuanya dimulai dari SK Menteri Penerangan No.20/SK/M/1961 tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T). Acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-17 di halaman Istana Merdeka, Jakarta menjadi siaran percobaan. TVRI akhirnya mengudara untuk pertama kalinya dengan siaran langsung pembukaan Asian Games IV di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Itulah kisah masa lalu yang hanya bisa dikenang. Situasi telah berubah yang hanya bisa diterima dan dinikmati. Kini ketika TVRI mau menghadirkan turnamen bulu tangkis beregu paling prestisius, sebagai pencinta bulu tangkis kita perlu menyambutnya dengan penuh rasa syukur. Sambil memberikan dukungan kepada tim Merah Putih, yang berjuang dengan segala kelebihan dan kekurangan, serentak kita pun bernostalgia dengan stasiun televisi kebanggaan bersama, media yang diikhtiarkan sebagai saluran pemersatu bangsa.

Ah, saya menulis catatan kecil ini dalam perasaan campur aduk. Senang atas kabar baik yang saya dapat dari kicauan Yuni Kartika,  mantan atlet nasional yang kini menjadi komentator bulu tangkis, di akun twitternya yang serentak disebarluaskan di jagad maya ketika sedang memantau dengan perasaan was-was perjuangan Fitriani dan kawan-kawan menghadapi Malaysia di laga perdana penyisihan Grup D Piala Uber. Akhirnya Tim Uber Indonesia meraih kemenangan penting dengan skor 3-2. Kemenangan ini membuka harapan bagi mereka untuk bisa berbicara banyak di perhelatan dua tahunan kali ini. Sekaligus membuat pencinta bulu tangkis di tanah air memiliki dasar yang lebih kuat untuk berharap, setelah kemenangan perdana tim Thomas kemarin, bahwa TVRI akan terus menyiarkannya secara langsung, seiring langkah para pemain yang mengayun sampai jauh... 

Bravo TVRI!

N.B
Hasil pertandingan Tim Uber Indonesia vs Malaysia:
Sumber: www.tournamentsoftware.com


No comments:

Post a Comment

Menikmati Seni Tingkat Tinggi di Art Jakarta 2018

Salah satu stand yang ada di Art Jakarta 2018/dokpri Seni itu luas. Seni juga soal selera. Namun siapa pun akan dibuat kagum bila mens...