(pada mulanya adalah KATA...)

Tuesday, September 30, 2014

ENAK DIBACA DAN PERLU (Mempertimbangkan Urgensitas Jurnalisme Sastra)

Oleh: Silvester Ule

            Hari pers kita peringati setiap tanggal 9 Februari. Dalam rentang panjang perjalanan sejarahnya, pers telah memainkan beragam peran dan menghadirkan beragam makna. Sejak manusia memakai tulisan pada tahun 350 SM di wilayah Sumeria (5 abad kemudian di Mesir dan India, dan 15 abad kemudian di China), dunia tulisan sebagai pemberi dan pemelihara informasi telah berkembang dengan cepat, dengan berbagai varian dan perannya. Pers (dalam bentuk majalah dan surat kabar) adalah varian perkembangan tulisan yang memiliki makna dan kekuatannya sendiri dalam mempengaruhi berbagai aspek kemanusiaan. Adapun gagasan pelayanan publik tertanam secara mendalam dalam ajaran dan praktek jurnalistik. Demikian pula gagasan bahwa pers merupakan salah satu sarana hiburan. Selain itu kesadaran bahwa pers juga merupakan sarana transformasi sosial, dan sebagai sebentuk kekuatan tanpa pemerintahan (governance without government), semacam kekuatan keempat dalam trias politica yang sangat berpengaruh pada pelbagai bidang kehidupan, semakin menegaskan pentingnya peranan pers dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan manusia.
 Di tengah pluralitas media informasi, juga di tengah derasnya lalu lintas berita dan peristiwa, kita perlu sejenak mengambil jarak, untuk kembali melihat saluran berita di mana  berbagai peristiwa  hadir di hadapan kita. Dalam konteks NTT, saluran berita paling utama yang menampilkan berbagai peristiwa lokal adalah surat kabar. Karenanya, refleksi tentang pers dalam konteks kita tidak dapat dilepaskan dari refleksi tentang dunia persuratkabaran.
Patut diakui, terdapat kemajuan signifikan dalam dunia persuratkabaran kita. Dari aspek kuantitas, perkembangan itu nampak dalam hadirnya berbagai surat kabar “warna-warni” yang meramaikan dunia pemberitaan lokal. Menjamurnya pertumbuhan dan penambahan jumlah surat kabar “warna-warni” dengan berbagai idealismenya, dengan sendirinya meningkatkan dorongan yang sehat pada perkembangan berbagai media lokal dari aspek kualitas. Perkembangan kualitatif ini misalnya nampak dalam berbagai usaha serius dari surat kabar lokal yang sedikit mapan, yang sejauh ini terlihat terus membaharui diri, dengan memperbaiki wajah dan mutu pemberitaan.
             Namun, walaupun terdapat berbagai usaha serius dari persuratkabaran lokal (Pos Kupang misalnya) untuk memperbaiki wajah dan kualitas pemberitaan, namun masih nampak secara kental gaya pemberitaan konvensional (straight news), yang memberitakan suatu peristiwa dalam formulasi klasik 5W+1H secara baku, ketat dan kaku, yang semakin lama dapat semakin membosankan (kecuali satu dua feature yang sesekali muncul). Walaupun tentu saja formulasi ini adalah hal lumrah bahkan dalam berbagai surat kabar nasional yang lebih mapan, namun idealisme tentang gaya pemberitaan yang lebih baik perlu dikedepankan dalam rangka perbaikan mutu surat kabar lokal. Ada dua kerugian mendasar dalam gaya pemberitaan straight news.
Pertama, karena gaya pemberitaanya yang kaku, maka unsur hiburan terasa minim. Dengan demikian, surat kabar bisa mudah ditinggalkan atau hanya dilihat secara sekilas, kecuali pada kalangan terbatas yang tidak terganggu terhadap hal-hal yang serius dan kaku seperti itu. Pada saat ini, terdapat media-media lain yang menjadi saingan surat kabar, seperti televisi dan radio, yang mengemas banyak berita dan acara secara menarik. Pemberitaan dengan gaya klasik  straight news mungkin pada waktu dekat tak terlalu berpengaruh terhadap keberadaan surat kabar karena belum adanya TV lokal yang menyiarkan berita-berita lokal. Namun, dalam dunia yang sedang berkembang cepat, siapa dapat menjamin bahwa gaya pemberitaan straight news tidak akan menimbulkan kesulitan pada surat kabar itu sendiri pada masa mendatang?
Kedua, berkaitan dengan hal mendasar dari dunia jurnalistik yaitu melayani masyarakat dengan memberikan informasi vital tentang suatu peristiwa. Kompleksitas suatu peristiwa tidak dapat ditangkap secara utuh dalam tata cara reportase klasik yang hanya mencatat fakta-fakta dan memuatnya sebagai headlines. Banyak yang hilang: emosi, latar belakang kemanusiaan para pelakon suatu peristiwa, latar belakang fisik, situasi yang sedang berlangsung, percakapan-percakapan penting yang dapat mengungkap banyak hal yang tidak dapat terungkapkan hanya dengan pembeberan fakta, dll. Karena itu, reportase klasik secara tidak langsung mengabaikan banyak informasi penting dalam suatu kisah atau peristiwa. Secara analog dan puitis Bertold Brecht menulis: Dalam buku-buku cuma tercatat nama raja-raja. Apakah mereka mengangkat batu? Pada tiap halaman tercatat sebuah kemenangan. Siapakah yang masak untuk pesta kemenangan? Begitu banyak laporan, begitu banyak pertanyaan. [Berthold Damhauser dan Ramadhan K.H. (Pert.), Kau Datang Padaku, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994) hal. 63]. Laporan yang hanya membeberkan peristiwa apa adanya meninggalkan banyak kekurangan dan ketidaklengkapan. “Begitu banyak laporan, begitu banyak pertanyaan”.  
Sebagai reaksi terhadap kedua kekurangan mendasar dalam teknik reportase konvensional (straight news), munculah sebuah genre baru dalam dunia jurnalistik yaitu apa yang kita kenal saat ini sebagai jurnalisme sastra. Jurnalisme dan sastra bukanlah saudara kembar. Memang terdapat kesamaan, karena keduanya mengungkapkan realitas. Namun cara pengungkapannya berbeda. Jurnalisme mengungkapkan pertistiwa secara eksplisit, denotatif dan apa adanya, sesuai dengan fakta-fakta yang nampak. Tak ada unsur fiksi di sana. Di sisi lain, sastra mengungkapkan realitas secara implisit, dalam lambang-lambang dan simbol konotatif, dengan tokoh-tokoh dan alur imajiner, dalam gabungan yang kompleks antara fakta, imajinasi, emosi, fantasi, dll. Sastra adalah sebuah karya seni yang fiktif. Karena keduanya tidak identik, maka seorang sastrawan memunculkan ungkapan dalam kaitan dengan pembredelan beberapa media jurnalistik, yang secara implisit mengungkapkan perbedaan antara jurnalisme dan sastra: “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”. Sastra dan jurnalisme adalah “dua jenis makhluk yang dulunya saling delik dan saling cerca”, demikian kata Mahbub Djunaedi.
Selanjutnya, sejak  digunakan oleh Tom Wolfe pada tahun 1960-an, kata literary journalism mulai dikenal. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai jurnalisme sastra. Jurnalisme sastra adalah  perpaduan antara unsur-unsur seni dalam dunia sastra dan laporan dalam dunia jurnalistik. Persyaratan jurnalistik seperti fakta, obyektifitas dan akurasi data tetap dikedepankan. Namun, semuanya itu dikemas dalam uraian yang renyah, ringan, menarik, dengan adegan-adegan dan dialog yang dikumpulkan secara cermat dan seksama, dalam gaya pemaparan yang melibatkan emosi dan imajinasi. Jadi, pembaca bukan hanya disuguhi berita bahwa “Robert meninggal”, melainkan segenap suasana dan situasi emosional, lakon peristiwa dan dialog seputar kematiannya. Reporter bukanlah semata-mata pelapor berita, namun sekaligus seorang seniman yang melaporkan berita dengan kemampuan kebahasaaan yang tinggi.
Kekuatan jurnalisme sastra bukan hanya terletak pada konsep-konsep, gagasan dan peristiwa, melainkan terutama pada cara memberikan penjelasan yang tidak biasa. Karena itu, dihindari ekspresi-ekspresi dan pengungkapan peristiwa yang tanpa ilustrasi, tanpa narasi dan tanpa penjelasan. Untuk memperoleh berita yang kaya dan dengan ekspresi yang hidup, seseorang bukan hanya mengumpulkan berita, tetapi dalam arti tertentu mengadakan sebuah riset, walaupun bukan dalam artinya yang ketat seperti dalam dunia akademis. Singkatnya, jurnalisme sastra adalah gabungan dari akurasi penyampaian berita, keterlibatan reporter dalam sebuah peristiwa sehingga menghasilkan karya yang menggugah emosi pembaca, struktur yang mirip tulisan fiksi pada dunia sastra untuk menggelar suasana (sehingga dapat memberikan pengaruh yang kuat pada pembaca), tanggung jawab untuk memaparkan fakta walaupun dengan gaya sastra, juga terkadang aspek simbolisme, di mana reporter memaparkan fakta yang kelihatan remeh, tetapi disusun sedemikian rupa sehingga memiliki keterkaitan dengan dunia yang lebih luas dan pemaknaan yang lebih mendalam. Gaya yang sederhana, memikat dan menyenangkan sangatlah dibutuhkan, agar pembaca tidak hanya melihat, melainkan juga seakan-akan merasakan suatu peristiwa.    
Dalam jurnalisme sastra, yang diperhatikan secara lebih mendalam adalah berita-berita kemanusiaan, yang walaupun kecil, tetapi dapat menjadi cerminan masalah kemasyarakatan yang besar. Memang pada dasarnya terdapat peristiwa istimewa yang dalam dirinya sendiri mengandung nilai berita spektakuler. Namun, kisah itu disentuh dengan menangkap perasaan dan pengalaman sebagaimana layaknya orang biasa di balik kementerengan tokoh-tokoh di balik suatu peristiwa. Dalam pandangan para pencetus literary journalism, kebenaran ada pada detail-detail kecil kehidupan yang riil. Reporter menggali suara masyarakat sealamiah mungkin, mengungkap sosok-sosoknya, sampai pada kata-kata dan dialognya. Kedalaman dan personalitas sumber-sumber berita merupakan hal sentral dalam jurnalisme sastra. Dengan demikian, jurnalisme sastra dapat menghindarkan cara pemberitaan sensasional yang membombardir privasi tokoh-tokoh tertentu, dan menggantikannya dengan masalah-masalah kemanusiaan di balik peristiwa dan tokoh-tokoh besar atau kecil. Pada gilirannya, selain sebagai pemberi informasi yang dapat dipercaya, kedalaman analisis dan penyajiannya dapat menjadi sarana hiburan dan menghadirkan ciri edukatif.
Di Indonesia, jurnalisme sastra nampak, misalnya pada majalah Tempo. Kolom “Catatan Pinggir” adalah contoh pengamatan yang cermat terhadap lautan ide dan peristiwa selama sepekan, yang ditulis dalam gaya puitis dengan simbolisme yang kental. Keseluruhan majalah Tempo menghadirkan suatu corak berita yang unik dan menarik, sesuai dengan semboyannya: “enak dibaca dan perlu”. Majalah ini masuk dalam berbagai bidang kehidupan dengan tampilannya yang serius tetapi sederhana dan memikat, yang juga merupakan implementasi dari mottonya yang lain: “Rubrik nasional tapi bukan politik, ekonomi tetapi bukan statistik, ilmu tapi bukan tekhnologi, agama tapi bukan kotbah, kesehatan tetapi bukan kedokteran”. Dalam harian lokal, jurnalisme sastra dapat dilihat pada penulisan feature, yang menampilkan human interest dengan gaya yang ringan dan mendalam. Namun, penulisan feature masih belum diadakan secara rutin dan komprehensif. Tentu saja idealnya, unsur jurnalisme sastra dapat  dihadirkan pada berbagai obyek pemberitaan dalam surat kabar lokal, baik dalam pemberitaan dan pembahasan masalah politik, ekonomi, budaya, kriminalitas, dll.
Jurnalisme sastra seyogyanya semakin dihidupkan, terlebih dalam situasi saat ini yang ditandai dengan bombardir acara televisi dan iklan-iklannya. Televisi memang memberikan banyak hal menarik, karena menggabungkan dan mengaktifkan unsur pendengaran dan penglihatan sekaligus. Namun, yang tidak mampu ditawarkan oleh Televisi adalah aspek kedalaman dari suatu berita atau gagasan. Kedalaman ini hanya dapat ditawarkan media cetak, termasuk surat kabar, karena media cetak dapat dibaca secara individual dan tenang, sehingga menyisakan ruang bagi sebuah refleksi. Namun, kedalaman sebuah ulasan peristiwa dan unsur hiburan yang menyertainya tak dapat disediakannya bila media cetak masih dalam pola pemberitaan konvensional. Jurnalisme konvensional tidak memadai. Sekarang kita harus perlahan-lahan beralih pada jurnalisme sastra.
Namun, jurnalisme sastra sendiri menghadirkan sederetan syarat yang kompleks. Penulisan jurnalisme sastra selain membutuhkan keterampilan dalam tekhnik menulis laporan jurnalistik, juga mengandaikan penguasaan kosakata dan kemampuan kebahasaan yang cukup sempurna. Kemampuan melakukan wawancara yang cermat, luas, intensif dan obyektif serta kesungguhan dan keterlibatan penuh dalam suatu peristiwa juga menjadi prasyarat penting dalam proses penulisan  literary journalism. Karena merupakan gabungan unsur jurnalistik dan sastra, maka dalam jurnalisme sastra, kewartawanan dan kepenyairan seakan dilebur dalam satu kesatuan. Reporter adalah seorang wartawan sekaligus seorang sastrawan atau penyair. Kemampuan wartawan terletak pada kualitas informasi hasil liputannya. Laporan wartawan menyebabkan pembaca mengetahui lebih banyak mengenai berbagai peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Kemampuan sebagai penyair terungkap dalam bahasa yang menukik ke dalam realitas, jujur, tulus, bahasa yang menggambarkan suatu peristiwa sedemikian rupa sehingga terasa berdenyut dan hidup. Hal ini tentu membutuhkan waktu dan energi, juga kompetensi pribadi wartawan yang memadai, dan ini bukanlah hal mudah dalam dunia persuratkabaran yang senantiasa diburu deadline.

Saat ini mungkin berat, dan masih merupakan sebentuk idealisme. Namun, setiap idealisme selalu memiliki kemungkinan terealisasi. Adalah sebuah harapan bahwa suatu saat, koran-koran lokal menghasilkan gaya tulisan yang, menarik dan menghibur, dengan kedalaman sajian dan unsur edukatif yang memadai. “Enak dibaca dan perlu”, demikian motto majalah Tempo, yang dapat diterapkan pada koran-koran lokal sebagai prinsip menuju jurnalisme sastra. 

No comments:

Post a Comment

Video Bar

Loading...

Gelar Juara Duo Minions dan Pelajaran dari China Open 2017

Marcus/Kevin meraih gelar China SSP 2017. Gambar dari @Antoagustian Petuah klasik, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”  tampaknya ma...