(pada mulanya adalah KATA...)

Monday, June 29, 2020

Langkah Mudah Deteksi Alergi dengan Allergy Risk Screener

Ilustrasi dari Danone


Apa itu alergi?  Apakah alergi itu bersifat genetik? Apakah alergi itu sesuatu yang menakutkan? Bagaimana bila anak terkena alergi? Dampak apa saja yang akan anak alami bila terkena alergi? Apakah alergi yang ada pada anak bisa disembuhkan? Bagi para orang tua, bagaimana mencegah alergi?

Demikian sekelumit pertanyaan yang ada di benak kita saat berbicara tentang alergi, terutama pada anak. Apalagi bagi para orang tua yang memiliki buah hati. Saya tak terkecuali.

Saat ini saya sedang belajar sambil perlahan-lahan menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua secara baik dan benar. Tentu, hal seperti alergi tidak bisa disepelehkan. Alergi perlu dikenali dengan sebaik-baiknya.

Dengan mengenali alergi maka saya bisa bertindak secara tepat manakala itu terjadi pada anak. Demikianpun bila alergi ternyata tak terjadi pada anak, setidaknya saya tahu bagaimana cara untuk menghindarinya.

Saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang alergi secara cuma-cuma. Kesempatan itu datang di saat kita harus menghadapi wabah Corona atau Covid-19. Melalui webinar yang digagas Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia, kesempatan itu terjadi pada 25 Juni 2020.

Para pembicara kompeten saling berbagi ilmu dan pengalaman mereka. Ada Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes., konsultan alergi dan imunologi anak; Putu Andani, M.Psi., psikolog dari TigaGenerasi, juga Chacha Thaib, sosok ibu dengan alergi anak. Tak ketinggalan Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia.
Para narasumber/Danone Indonesia

Jangan Disepelehkan
Statistik menunjukan angka kejadian alergi pada anak di Indonesia yang tak bisa diremehkan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menemukan peningkatan angka kejadian alergi pada anak. Bahkan alergi susu sapi pada dermatitis atopic mencapai angka 60 persen.

Nah, apa itu alergi?  Mengutip alodokter.com, secara sederhana alergi diartikan sebagai “reaksi sistem kekebalan tubuh manusia terhadap benda tertentu, yang seharusnya tidak menimbulkan reaksi di tubuh orang lain.” Reaksi yang muncul bisa berupa pilek, ruam kulit yang gatal, atau bahkan sesak napas.

Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes, mengatakan bahwa dampak alergi lebih dari sekadar gejala yang dialami anak.  Alergi memiliki dampak yang signifikan, tidak hanya bagi anak, tetapi juga keluarga hingga masyarakat.

“Bagi si kecil, alergi dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung,” ungkap Prof.Budi.

Selain itu anak yang mengalami alergi bisa mengalami gangguan pertumbuhan. Bila terlambat dikenali dan tidak ditangani dengan baik maka alergi akan menghambat tumbuh kembang anak.
Apakah ada aspek lain yang terdampak? Tentu. Bila anak mengalami alergi tentu orang tua harus berjuang untuk mendapatkan pengobatan. Biaya pengobatan saat ini tentu tidak murah. Belum lagi biaya-biaya lain yang mengikuti.

Selain dampak-dampak tersebut, masih ada dampak lain yang bisa ditimbulkan. Aspek psikologi anak dan orang tua tentu akan terganggu. Penelitian menyebutkan bahwa anak yang alergi dapat mengalami gangguan seperti gangguan daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif dan lemas.

Sedangkan bagi orang tua, munculnya gejala alergi pada anaknya dapat menimbulkan kecemasan berlebih atau lebih parahnya sampai perasaan depresi.

“Secara sosial, anak dan orang tua bisa merasa rendah diri dan menyerah. Jika hal ini terjadi, pencegahan terhadap risiko alergi pada anak dapat terhambat,” tandas Putu Andani, M.Psi.
Slide presentasi

Langkah mudah
Alergi tentu tak bisa dianggap remeh. Banyak aspek yang terdampak mulai dari kesehatan, tumbuh kembang, ekonomi, hingga psikologi baik anak maupun orang tua. Untuk itu beberapa hal ini perlu diperhatikan.

Pertama, alergi perlu dideteksi dan dicegah sejak dini. “Anak dengan alergi cenderung memliki rangkaian penyakit alergi seiring bertambahnya usia. Bahkan diturunkan ke generasi berikutnya,” ungkap Prof.Budi.

Dengan mendeteksi sejak dini maka kita mudah untuk menelusuri riwayat alergi keluarga dan memberikan nutrisi yang tepat untuk mendukung sistem imun yang lebih baik.

Kedua, pentingnya ASI (Air Susu Ibu) dan nutrisi lengkap dan seimbang. Unsur-unsur ini sangat penting untuk mendukung perkembangan sistem imun anak. Bagaimaan bila anak tidak bisa mendapatkan ASI eksklusif?

Susu formula bisa menjadi pilihan. Terutama yang mengandung prebiotik dan probiotik untuk mendukung sistem imun anak dalam menurunkan risiko alergi.

Ketiga, orang tua adalah kunci. Peran orang tua tidak bisa diremehkan dalam hal apapun, termasuk soal pencegahan dan penyembuhan alergi. Orang tua, demikian Putu Andani, harus menamkan semangat positif dan optimis bahwa pencegahan alergi bisa dilakukan sejak dini.

Jika reaksi alergi terjadi sebaiknya orang tua jangan panik, usahakan agar si Kecil tetap tenang, jangan berasumsi tentang penyebab alergi si Kecil, lakukan validasi langsung dengan ahlinya,” usul Putu Andani, M.Psi.

Hal senada disampaikan oleh Chacha Thaib. Dengan pengalamannya berhadapan dengan anak dengan alergi, ia menyerukan kepada para orang tua untuk tak meremehkan isu alergi. Apalagi bagi orang tua yang memiliki risiko menurunkan kondisi alergi pada sang anak.

Chacha Thaib memiliki riwayat alergi susu sapi dan debu. Alergi ini kemudian diturunkan ke anaknya. Begitu banyak dampak yang ia alami, termasuk juga menjadi cenderung penakut dalam memilih makanan.

“Di kesempatan ini, saya ingin mengajak para orang tua untuk lebih menyadari pentingnya pencegahan alergi sejak dini untuk menghindari dampak negatif di kemudian hari,” ungkap Chacha Thaib.

Keempat, menggunakan Allergy Risk Screener. Ini merupakan tools digital yang disediakan oleh Danone SN Indonesia untuk membantu para orang tua untuk deteksi risiko alergi maupun manajemen nutrisi sejak dini.

Perangkat ini sudah diluncurkan sejak Maret 2020 lalu dan tak kurang dari puluhan ribu orang tua di Indonesia sudah merasakan manfaatnya. Penggunaannya pun mudah. Dengan mengakses bit.ly/allergyriskscreener dan mengikuti langkah-langkah yang diminta, orang tua maupun tenaga ahli bisa mengetahui kondisi yang terjadi dengan si kecil.

Tidak hanya itu, Allergy Risk Screener, sebagaimana disampaikan Arif Mujahidin, juga menjadi perangkat edukasi terkait pencegahan alergi sejak dini dan membantu mempersingkat waktu konsultasi. Situasi pandemi Corona yang membatasi ruang gerak dan interaksi sosial kita, membuat Allergy Risk Screener menjadi alternatif yang sangat membantu.
Yuk kita deteksi alergi sejak dini dengan Allergy Risk Screener!

No comments:

Post a Comment

Langkah Mudah Deteksi Alergi dengan Allergy Risk Screener

Ilustrasi dari Danone Apa itu alergi?   Apakah alergi itu bersifat genetik? Apakah alergi itu sesuatu yang menakutkan? Bagaimana bil...