(pada mulanya adalah KATA...)

Friday, March 15, 2019

Mengurai Soal Akut Sampah Plastik, Saatnya Kita Berpindah Paradigma

Sampah yang menumpuk  di pesisir Desa Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah
/ANTARA FOTO/Aji Styawan

Sampah, terutama sampah plastik adalah satu dari sejumlah hal yang sedang aktual di tanah air. Meski tidak selalu ramai dibicarakan, apalagi dijadikan fokus perhatian bersama, ikhwal sampah plastik adalah soal yang selalu mengemuka dan belum juga terselesaikan.

Padahal, disadari atau tidak, sampah plastik adalah persoalan krusial yang tengah kita hadapai. Oleh sebagian kalangan, persoalan tersebut sesungguhnya telah mencapai level akut. Sambil berkaca diri dan merenungi laku hidup sehari-hari, kita bisa melihat sejumlah data dan fakta yang terekam dalam angka.

Dalam salah satu kesempatan lawatan ke Manado, Sulawesi Utara, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Panjaitan, mengatakan Indonesia menempati peringkat kedua dalam hal pembuangan sampah plastik ke laut.

Pernyataan tersebut berangkat dari data yang dibeberkan Jenna Jambeck, profesor lingkungan dari University of Georgia, Amerika Serikat. Luhut mengatakan kontribusi sampah kita ke laut mencapai 187,2 juta ton. Angka tersebut sedikit lebih kecil dari China yang berada di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik.  

Bila diperinci, saban tahun sekitar 2,13 juta ton sampah plastik yang kita hasilkan dibuang begitu saja. Sebanyak 44 persen dari total sampah plastik itu kemudian mencemari lingkungan. Hal ini dikemukakan oleh Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Enri Damanhuri.

Situasi ini tidak lepas dari tingginya konsumsi plastik masyarakat Indonesia. Rerata dalam setahun setip penduduk Indonesia mengonsumsi 15 kilogram (kg) sampah. Sayangnya, tingginya penggunaan sampah plastik tidak dibarengi dengan kesadaran penggunaan sampah. Sampah masih dilihat sebagai barang sisa yang tidak bernilai guna. Alih-alih dimanfaatkan, sampah kemudian dibuang begitu saja, termasuk tidak pada tempatnya.

Masih mengutip Prof. Dr. Enri Damanhuri, dari total sampah plastik nasional, baru 36 persen yang dapat diambil dan dikumpulkan oleh Dinas Kebersihan dan Dinas Lingkungan Hidup dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selanjutnya, baru 20 persen yang masuk ke dalam sistem informal seperti bank-bank sampah untuk didaur ulang (recycle).

Andaisaja sampah-sampah plastik itu bisa dimanfaatkan dengan baik nilai ekonominya sangat tinggi. Bila ditotal angkanya bisa mencapai Rp 2,2triliun. Angka tersebut disebut oleh Zainal Abidin dari Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITB.  

Angka fantastis itu sesungguhnya berangkat dari perhitungan sederhana. Mengandaikan harga sampah plastik seperti botol minuman Rp 600 per kilogram, lantas dikalikan jumlah penduduk sebanyak 250 juta dengan tingkat konsumsi masing-masing individu 15 Kg.

Kita tentu tidak ingin nama Indonesia terus berada di papan atas klasemen penyumbang sampah plastik terbanyak. Selain bukan sesuatu yang patut dibanggakan, mengurangi penggunaan dan pemanfaatan secara bijak sampah plastik adalah isu-isu penting yang dituntut pelaksanaannya.

Pemerintah telah menyatakan perang terhadap sampah plastik demi pembangunan ekonomi secara berkelanjutan. Status Indonesia sebagai negara maritim dituntut untuk mengambil peran terdepan dalam upaya-upaya konservasi, alih-alih pengrusakan ekosistem kelautan.

Bila tidak segera bertindak, maka impian pemerintah untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada 2025 tak ubahnya pungguk merindukan bulan. Sebuah cita-cita yang tinggal tetap sebagai impian, malah berubah menjadi bencana.

Sampah plastik memerlukan waktu puluhan tahun untuk terurai. Kantong plastik misalnya, baru bisa terurai dalam rentang 10-20 tahun. Bila perilaku membuang sampah sembarangan dan begitu saja masih dipelihara, maka jumlah sampah plastik yang bermuara ke lautan akan semakin terakumulasi.
Sejumlah kajian menunjukkan bila tidak ada perubahan mendasar, maka pada 2025 kawasan perairan atau lautan di Indonesia akan menjadi lautan sampah. Jumlahnya akan melampaui persediaan ikan yang ada dengan komposisi tiga berbanding satu. Sungguh mengerikan, bukan?

Semangat 3R
Soal sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Tidak cukup seruan perang terhadap sampah plastik bila tidak mendapat dukungan dari para pelaku industri dan masyarakat luas. Gagasan mengurangi penggunaan tas plastik dan mendorong penggunaan plastik dari bahan alternatif tidak akan berhasil bila tidak direalisasikan bersama.

Kita sebenarnya sudah diingatkan terus-menerus untuk menerapkan sistem 3 R yakni Reuse, Reduce, dan Recycle sebagai salah satu solusi terhadap persoalan sampah. Penerapannya bisa dilakukan siapa saja, kapan saja dan dimana saja.  
Sistem ini mengajak kita untuk menggunakan kembali sampah yang masih bisa digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya (Reuse). Sejauh dapat kita menghindari atau setidaknya mengurangi (Reduce) penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Bila tidak membutuhkan sesuatu yang baru kita bisa menggunakan barang yang ada. Barang-barang yang ada pun sejauh dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin agar tidak mubazir.
Selain itu sampah yang dihasilkan tidak lantas dibuang begitu saja. Sampah bisa dimanfaatkan dengan didaur ulang (Recycle). Entah sampah organik maupun nonorganik bisa dimanfaatkan kembali melalui berbagai cara pemanfaatan. Sebagai contoh, botol plastik air minum bisa dipakai sebagai pot tanaman. Kertas-kertas bekas pakai bisa dimanfaatkan kembali menjadi kertas atau karton. Sementara itu, sampah organik dari dedaunan dan rumput misalnya, bisa diolah menjadi kompos.
Menuju ekonomi sirkular
Selain menggelorakan kembali semangat 3R di kalangan masyarakat luas, pada tataran dunia industri berkembang konsep ekonomi sirkular yang merupakan terjemahah dari “circular economy.” Konsep ini hadir di antaranya untuk menyerukan pemanfaatkan sumber daya secara baik.
Secara sederhana, ekonomi sirkular merupakan sistem ekonomi yang bertujuan meminimalkan limbah dan sebaliknya memanfaatkan setiap sumber daya sebaik mungkin. Kehadirannya merupakan antitesis dari pendekatan ekonomi linear yang terkenal dengan siklus produksi “ambil-buat-buang” atau take-make-waste.
Bila dalam sistem linear tradisional sumber daya yang telah dipakai lantas menjadi barang bekas, tidak demikian dengan ekonomi sirkular. Limbah sumber daya bisa dimanfaatkan kembali, sementara emisi dan kebocoran energi diminimalisasi. Cara-cara yang ditempuh pun bermacam-macam mulai dari pemeliharaan, perbaikan, penggunaan kembali, hingga daur ulang.
Konsep ini muncul melalui perjalanan panjang, hingga sulit dicarikan akar yang pasti. Pada 1989 ekonom lingkungan Inggris, David W.Pearce dan R.Kerry Turner membuat pemodelan yang membuatnya menjadi lebih jelas. Mereka menemukan kealpaan dan titik lemah dalam ekonomi terbuka tradisional. Mereka mendapati kenyataan bahwa daur ulang dari setiap aktivitas produksi belum menjadi perhatian. Di sisi lain, lingkungan semata-mata dilihat sebagai reservoir limbah.

Siklus linear ini berangkat dari dan ditopang oleh ketergantungan pada cadangan sumber daya yang terbatas untuk menghasilkan produk yang berusia pendek. Karena berumur pendek tak heran setiap produk itu kemudian segera berakhir di tempat pembuangan sampah tak lama setelah dipakai.

Pendekatan satu arah ini kemudian memantik kehadiran ekonomi sirkular atau melingkar yang menjadikan sistem bekerja serupa organisme dengan siklus yang tak berujung. Bila digambar dalam diagram, ia akan mengambil bentuk “loop tertutup” dengan rantai tak terputus.

Penerapan pendekatan ini nyata dalam kehadiran produk yang bertahan lebih lama atau barang-barang yang ada bisa digunakan kembali. Muara dari pendekatan ini antara lain mengurangi pemborosan, menekan produksi limbah dan polusi di satu sisi dan melestarikan sumber daya di sisi berbeda.

Konsep ini masih bisa dijabarkan secara panjang lebar, dengan berbagai macam aliran yang berkembang dan kritik yang menyertainya. Terlepas dari itu, sudah banyak industri yang mengadopsi konsep ini, mulai dari industri tekstil, konstruksi atau infrastruktur hingga logistik.

Salah satu perusahaan yang berkomitmen pada kelestarian alam dan menerapkan model ekonomi sirkular adalah Danone-AQUA. Perusahaan ini merupakan pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menjadikan keberlangsungan lingkungan dan inovasi sebagai prioritas.

Perwujudan nyata dari semangat tersebut adalah kehadiran kemasan botol plastik 100 persen hasil daur ulang. Patut dicatat, botol AQUA ini merupakan botol pertama di Indonesia yang 100 persen dibuat dari plastik daur ulang dan 100 persen bisa didaur ulang kembali.
Peluncuran botol AQUA 100 persen bisa didaur ulang/aqua.co.id
Botol AQUA 100 persen bisa didaur ulang ini terbuat dari botol plastik bekas AQUA yang telah dipilah, dibersihkan, dicacah lantas diproses dengan menggunakan teknologi tinggi menjadi material pellet atau recycled PET. Recycle PET itu menjadi bahan baku botol baru AQUA 100% Recycled.

AQUA menjamin kualitas keamanan dalam pembuatan produk ini karena menerapkan standar keamanan yang tinggi. Selain itu telah memenuhi semua standar yang ditetapkan pemerintah.
Sebelumnya, AQUA telah menerapkan 70 persen bisnis galon yang dapat digunakan kembali. Tidak sampai di situ, AQUA juga tidak lagi menggunakan segel plastik pada tutup botolnya.

Inovasi yang dilakukan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memakai 50 persen bahan recycled PET dan menjadi 100 persen dapat didaur ulang, dipakai ulang dan mudah terurai pada tahun 2025. Hal tersebut menjadi bagian dari kontribusi perusahaan untuk ikut mengurangi sampah plastik di lautan hingga 70 persen pada 2025 nanti.

Saat ini Danone-AQUA sedang mengkampanyekan program “BijakBerplastik. Program yang diluncurkan sejak pertengahan 2018 itu berpusat pada tiga pilar utama yakni pengembangan infrastruktur pengumpulan sampah, edukasi konsumen, dan inovasi produk.

Dalam aspek infrastruktur pengumpulan sampah, sejak 2010, Danone-AQUA telah mendukung bisnis sosial yang difokuskan pada pengumpulan plastik inklusif di tanah air. Perusahaan ini bekerja sama dengan komunitas pengumpul sambah dan bank sampah. Sebanyak 12 ribu ton sampah per tahun telah dikumpulkan untuk didaur ulang melalui enam pusat pengumpulan.

Selain itu, AQUA terlibat aktif dalam mengedukasi masyarakat terkait pengolahan sampah plastik. AQUA juga memfasilitasi para konsumen di Bali khususnya untuk berpartisipasi membuang sampah botol plastik dalam drop box Danone-AQUA yang ada di CocoMart dan lokasi lain.

Informasi bagi masyarakat Bali, saat ini tersedia sejumlah drop box Danone-AQUA yang ada di Coco Supermarket Ubud, Coco Supermarket Batubulan, Coco Supermarket Jimbaran, Coco Mart Taman Griya dan Coco Mart Mumbul.
Penampakan drop box Danone-AQUA/twitter.com/aqua_lestari

Sejumlah terobosan yang telah dilakukan Danone-AQUA adalah sebagian kecil dari langkah besar yang dibutuhkan untuk mengurai persoalan sampah plastik di tanah air. Sebagaimana dikatakan Direktur PT Tirta Investama (Danone-AQUA) Corine Tap, untuk mengatasi soal tersebut dibutuhkan kerja sama dan kerja bersama semua elemen.

“Kami bertujuan untuk membuat seluruh kemasan kami dapat didaur ulang pada 2025. Hal ini dapat diimplementasikan melalui kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Dukungan dan kesadaran pelaku industri dan konsumen Indonesia sangat penting untuk memulai kebiasaan dalam menggunakan produk daur ulang,” papar Corine.   

Kita berharap para pelaku industri lainnya bisa mengikut langkah Danone-AQUA. Sementara  itu  masyarakat dan konsumen bisa ikut ambil bagian dengan berbagai langkah sederhana melalui penerapan laku “BijakBerplastik melalui sistem 3R.  

Memilah sampah sesuai jenis agar mudah didaur ulang, membuang sampah botol plastik pada tempatnya termasuk ke smart drop box AQUA yang telah tersedia, hingga menggunakan produk hasil daur ulang dan bisa didaur ulang seperti botol plastik AQUA.

Sebagai informasi, botol AQUA 100% bisa didaur ulang sudah diluncurkan di Bali dengan harga rekomendasi ritel sebesar Rp 8000. Masyarakat Bali bisa mendapatkan produk ini di supermarket, hotel, kafe dan restauran terpilih.

Produk tersebut akan tersedia di pasaran secara bertahap. Harapannya, produk itu sudah bisa dinikmati warga Jakarta pada semester 2 2019. Kita berharap produk hasil inovasi Danone-AQUA ini bisa mendapat sambutan dari masyarakat luas sebagai bagian dari upaya untuk menekan produksi sampah plastik dan memberikan keseimbangan pada kebutuhan hidrasi sehat dan pelestarian lingkungan.

Sudah saatnya kita meninggalkan konsep“take-make-dispose.” Mari menggelorakan laku “reduce-reuse-recycle” dan beralih pada paradigma ekonomi sirkular “make-use-return”. Setelah  “dibuat” dan “digunakan” produk tidak langsung dibuang tetapi didaur ulang untuk digunakan kembali.

No comments:

Post a Comment

Mengurai Soal Akut Sampah Plastik, Saatnya Kita Berpindah Paradigma

Sampah yang menumpuk  di pesisir Desa Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah /ANTARA FOTO/Aji Styawan Sampah, terutama sampah plastik a...