Posts

HAM, KEKERASAN, DAN GERAKAN ANTI KEKERASAN

(Refleksi Seputar Hari HAM Sedunia) Oleh Salvano Jaman* Tindakan kekerasan menjijikkan kita. Namun, tindak kekerasan juga memikat kita. Tindakan kekerasan menggelisahkan kita. Namun, tindakan kekerasan juga melindungi kita. Deretan kalimat bernada paradoks di atas sebenarnya mengungkapkan realitas manusia yang berada dalam alur pemikiran ganda tentang kekerasan. Di satu sisi, manusia menjadi pembenci kekerasan, mengutuk kekerasan. Ini tercermin dalam pelbagai gerakan anti-kekerasan dan upaya menghapus kekerasan dari muka bumi. Kita telah bergerak menuju sebuah masyarakat anti-kekerasan. Namun, di sisi lain, manusia menjadi ‘pencinta kekerasan’. Hal ini nyata dalam aneka aksi kekerasan yang terjadi. Kekerasan menjadi alat dan sarana yang dipakai ‘kelompok manusia’ ini dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Semakin nyaring ada teriakan anti-kekerasan, tampaknya semakin marak juga aksi kekerasan itu terjadi. Semakin meluas gerakan anti-kekerasan, semakin kejam juga kekerasan i...

Bencana, Abigram Iluminati dan Mukjizat

Oleh Servinus Nahak * Bencana dan jelangkung Robert Langdon, simbolog Harvard tersohor dalam Malaikat dan Iblis ( Angels and Demons )-nya Dan Brown itu andaikan benar-benar hidup? Datang dan menyaksikan bencana yang terjadi di seantero Indonesia sepanjang tahun ini dan deretan bencana di NTT beberapa bulan terakhir, maka inilah kesempatan kedua batok kepalanya terlalu banyak dipenuhi dengan kejutan-kejutan hebat dan menyesakkan dada. Untuk Langdon, melihat ambigram yang bertuliskan nama kelompok persaudaraan iluminati mungkin bukan masalah besar. Tetapi melihatnya tercap di dada lima lelaki yang terbunuh pada hari yang sama? Langdon mestinya datang dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa ambigram itu sungguh tercap bukan hanya di dada tetapi di sekujur tubuh bangsa ini dari ujung ke ujung. Ketika teka-teki yang membawa bencana itu dimulai Robert Langdon terpaku dan tak dapat berbuat banyak menyaksikan mayat jasad di depannya. Di sebelahnya berdiri seo...

“Bapak-isme” Kepemimpinan

Oleh Servinus Nahak* Seusai peringatan HUT ke-80 Sumpah Pemuda, untuk kedua kalinya pada tanggal 12 November 2008 ini kita memperingati suatu hari yang diabdikan untuk para bapak. Hari Bapak Nasional (selanjutnya, disingkat HBN) dalam peringatan sepanjang tahun masih “sekeluarga” dengan Hari Ibu dan Hari Anak Nasional. Dan tentu, Hari Pahlawan (10 November) masih punya “hubungan darah” dengan semua hari nasional tersebut. Di antara kepungan momentum ini, peran sentral para bapak tidak dapat diabaikan. Tetapi, di dalam sejarah ada saja konstruksi sosial yang telah menjadi guru yang jahat bagi masyarakat. Entah disengaja atau tidak, penetapan HBN jatuh sesudah Hari Sumpah Pemuda. Secara amat umum dapat dikatakan bahwa seorang pemuda akan segera menjadi (disapa) bapak sesudah meninggalkan masa lajangnya. Peralihan dari masa muda kepada “masa bapak” ini bisa terjadi sangat dini. Seorang siswa SMU yang menghamili teman kelasnya akibat seks pra-nikah, sebagai misal, mesti mengamb...

Demonstrasi Tiga Sarjana dan Geramnya Herodes

Oleh Servinus Nahak* Usai sensus penduduk, datang tiga majus dari Timur ke istana Herodes. Dalam nada protes mereka seolah berteriak, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” (Mat 2:2). Protes keras tiga majus bisa diperpanjang, “Tuan Herodes, kalo lo ada sensus coba siapkan akomodasi di kota yang cukup ka dan beri subsidi. Masak masih ada rakyat yang lahir di kandang?” Natal Yesus yang gawat darurat tanpa seorangpun bidan bersalin. Maria, ibu anak ajaib itu, seorang dara muda. Risiko bersalin tentu cukup tinggi. Medis belum semaju sekarang. Dalam situasi serba minus itu, datang tiga majus dari Timur. Konon tamu-tamu ini adalah para raja dari negeri-negeri yang jauh. Saya menyebut mereka para “sarjana” – menurut satu versi lain yang lazim. Ketika ketiganya datang, kemiskinan kandang langsung dihadapkan dengan kemewahan istana! Terkuaklah satu lubang besar. Emas, kemenyan dan mur tidak bisa menggantikan palungan, lampin dan air susu. Ketiga barang itu ...

Madah tiga tanya

Kala rembangpetangdatang Langkahmalassetengahbimbang Menyusurilorongwaktu sepi Taktentu “kemana kelanaku tuju?” Terusikbaradarah di dada Mengalir-melebur, membara-bergelombang-gelombang Di sanabayubercumbusemesta mesra Bercak-bercakdarahmenggumpaltanya, “untukapa?” Malampunmalam Semuadiam, bumipuasdibakardendam Manusiasetengahneraka Bergumam, “Untuksiapa?” ***   Satupertanyaan Seoranganakmasihhijau Barusajatumbuhdaripohonkehidupan Meratapiibunya, uzur “kenapakaukeluarkanakudariguagarba Kalauakuhanyakaujadikanmainanmu?” ***

Nyepi: dari “Bunyi ” ke “Sunyi”

Mungkin terasa  aneh ketika laju aktivitas saban hari bertempo  tinggi dalam sebuah kota metropolitan tiba-tiba saja terhenti. Tak ada geliat aktivitas kota yang sibuk. Penduduk kota menyepi dari hiruk-pikuk. Jalinan komunikasi dan transportasi dari dan ke kota tersebut dengan sendirinya terputus. Roda otomatisme ekonomi yang nyaris tanpa jeda tiba-tiba berhenti bergerak. Arus “masuk” dan “ke luar” kota pun stagnan. Orang-orang dengan sadar dan ikhlas memilih mengunci pintu dan dengan takzim berdiam diri dalam sunyi. Sungguh tak dapat dibayangkan bagaimana nasib lalu-lintas setiap sektor penting dalam kota itu. Demikianpun entahkah para pendatang tidak kesulitan tercebur dalam situasi yang jarang terjadi ini. Hal yang nampak ganjil ini berlaku di Bali, sebuah kota pariwisata internasional. Jika pengalaman tahun 2004 dan beberapa tahun lainnya terulang lagi, maka, pada tanggal 16 Maret tahun ini keadaan pulau Dewata tidak banyak berbeda. Pada Hari Raya Nyepi ini mayorita...

Gadis Merah Delima

gadis merah delima di persimpangan jalan menatap dalam tanya menunggu datangnya jawab dalam langkah setengah bimbang tak bisa memberi pasti entah ’kan dapat berkat dalam harap tak lekas jawab membuat mata menatap dalam bimbang penuh tanya ’kan cepat dapat jawab mata kerap  terusik pandang kadang lamban dalam tapa membuat ibadah tak pernah nyata beri jalan pada jawab ah, gadis merah delima yang selalu tanya penuh harap gadis merah delima bertakhta dalam benak mengusik  kata hati hampa dalam jawab mazmur kerap paksa gadis merah delima tidakkah kita pisah dalam kenangan? kelak datang sabda supaya tepat kata Bapa tiada yang tak terencana dari sabda kekal? ***