Posts

Menara Gading di Kota Paris Itu

Image
PSG usai mempertahankan Coupe de La Ligue (gambar dari DailyMail.co.uk) Paris Saint-Germain (PSG) dan menara Eiffel kini hampir identik. Sama-sama berada di ruang ibu kota Prancis, PSG menjadi klub yang sangat digdaya, dan tak tertandingi lagi di Ligue 1 dan jagad sepak bola setempat. Demikian pun Eiffel. Menara setinggi 300 meter itu sudah melegenda sejak pertama kali dibangun pada 28 Januari 1887. Hasil ciptaan Gustave Eiffel dan Stephen Sauvestre itu telah menenggelamkan seribu satu pesona Paris yang sejatinya bisa dibanggakan.  Bangunan tinggi kokoh di Champ de Mars, di tepian Sungai Seine itu seakan merampok kecantikan Paris di sana sini. Sejak Qatar Investment Authority menguasai 70 persen saham PSG pada akhir Mei 2011, PSG perlahan tapi pasti bangkit dari keterpurukan. Kerugian masa sebelumnya sebesar 19 juta euro, plus utang sekitar 20 juta Euro diselesaikan segera.   Dana belasan juta Euro itu seakan tak berarti dibandingkan kucuran fulus yang men...

Pelapis Terus Diasah, Indonesia Tanpa Gelar di China Masters 2016

Image
Della/Rosyita (badmintonindonesia.org) Indonesia dipastikan tanpa gelar di Bonny China Masters 2016. Harapan terakhir ganda putri Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari  kandas di babak semifinal. Pasangan non unggulan itu tak berkutik saat bertemu unggulan satu asal Tiongkok Luo Ying/Luo Yu. Menghadapi pasangan kembar itu, Della/Rosyita menyerah 21-9 dan 21-11. Para pemain pelapis yang menjadi andalan di turnamen level grand prix gold ini tak bisa berbuat banyak. Bahkan sebagian besar sudah harus angkat koper di babak-babak awal. Sektor tunggal putra hanya mampu bertahan hingga di babak kedua. Muhammad Bayu Pangisthu, Firman Abdul Kholik dan Fikri Ihsandi Hadmadi sama-sama kalah dua game langsung dari lawan mereka. Fikri kandas di tangan wakil Taiwan, Lin Yu Hsien , 11-21 dan 20-22. Selanjutnya, Bayu dibekuk Tanongsak Saensomboonsuk dari Thailand , 10-21 dan 18-21. Sementara Firman menyerah dari wakil tuan rumah Guangzu Lu, 15-21 dan 20-22. Sebelumnya...

Apa Kabar Donasi untuk Rio Haryanto?

Image
GP2/PAOLO PELLEGRINI. Sumber: queenrides.com Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) belum juga menyerah mencari sisa dana untuk Rio Haryanto agar tampil penuh di F1 musim ini. Saat ini, pebalap 21 tahun itu masih menunggak sekitar 4,2 juta euro atau Rp62 miliar dari total 15 juta Euro (Rp225 miliar) yang harus disetor ke Tim Manor Racing. Sisa tersebut setelah Rio menyetor 5,25 juta euro yang bersumber dari Pertamina, sponsor utama sebesar 2,25 juta euro plus dana pinjaman dari Kiky Sports sebesar 3 juta euro, ditambah 3 juta euro dari Pertamina yang disetor setelah seri balapan ketiga di China, Minggu (17/04) lalu. Tenggat waktu pelunasan itu tinggal menghitung hari. Sesuai kesepakatan sebelumnya, pihak Rio akan melunasinya pada Mei ini. Hingga kini kita masih menanti seperti apa perjuangan Rio dan Kemenpora untuk mencari sisa dana tersebut. Apakah sedikit demi sedikit mulai mencukupi? Belum lama ini, Menpora menemukan solusi kreatif me...

Jerez 30 Tahun, Siapa Pemilik Podium Utama?

Image
Sirkuit Jerez/Gambar MotoGP.com Dalam  sejarah balap motor dunia, Spanyol berjaya. Negeri Matador adalah rahim yang amat produktif bagi pebalap kelas dunia, seperti yang kita saksikan hingga kini. Negara yang terletak di Eropa Selatan itu pun menjadi kiblat sekaligus magnet yang menarik perhatian dunia tentang bagaimana mengakrabi sekaligus mengambil faedah dari bisnis balap tersebut. Setelah menyelesaikan tiga seri pertama, akhir pekan ini perhatian pencinta balap motor akan tertuju ke Jerez de la Frontera , tempat Sirkuit Jerez berada. Di wilayah Andalucia itu, seri keempat MotoGP musim ini akan berlangsung. Sirkuit sepanjang 4,428 meter itu sangat akrab di dunia MotoGP. Walau letaknya jauh dari ibu kota, pesona Jerez tak pernah pudar. Di tempat itu sejarah kemenangan dan kekalahan datang silih berganti, sepanjang 30 tahun menghiasi kalender balap motor.  Sejak menjadi arena balap roda dua pada 1987, sirkuit yang semula bernama Circuito Permanente de Jer...

Kartini Itu adalah Gading Safitri

Image
Gading Safitri dan trofi Singapura Open 2016 yang direbut Sony. Bagi siapa saja, apalagi seorang atlet, cedera sungguh tak mengenakkan. Lebih lagi, bila cedera itu kerap datang dan pergi. Hingga akhirnya benar-benar memaksanya untuk menepi dan kembali memulai dari titik nol. Pebulutangkis tunggal putra Sony Dwi Kuncoro jelas mengalami hal itu. Bahkan kenangan pahit itu masih membekas hingga kini, ketika dunia kembali memalingkan perhatian kepadanya. Berbicara usai meraih podium tertinggi tunggal putra Singapura Open 2016, Sony seakan ingin melupakan kekelaman itu. “Nggak usah ngomongin soal cedera, yang penting saya juara di sini,”ungkap Sony dikutip dari Juara.Net. Jelas, Sony ingin menguburkan masa silam yang kelam itu dalam-dalam. Sungguh tak mengenakkan untuk menghadirkannya lagi walau hanya sekelebat saja. Tetapi, kisah kelam itu tak bisa ditampik, apalagi disaput hingga tak berjejak. Justru masa lalu itulah bagian dari sejarah yang mengandung seribu satu ...

TSC, TNI-Polri dan Sejumlah Pertanyaan

Image
Peluncuran TSC, gambar Kompas.com Setahun sudah sepak bola Indonesia mati suri. Sejak PSSI dibekukan pada 17 April 2015, roda sepak bola Indonesia berjalan di tempat-untuk mengatakan terhenti sama sekali. Walau kompetisi demi kompetisi bermunculan, namun perannya tak lebih dari pelipur lara dan statusnya pun tak resmi. Aneka turnamen dadakan itu semata-mata diikhtiarkan sebagai pengisi kekosongan di tengah terhentinya kiprah Merah Putih baik ke dalam maupun ke luar. Kompetisi domestik resmi di bawah naungan PSSI tinggal kenangan. Sementara, peran serta Indonesia di kancah internasional tertutup sama sekali. Kini, publik menanti perkembangan nasib Indonesia yang telah dialienasi dari percaturan sepakbola global. Akankah ada kado manis di ulang tahun PSSI ke-86 yang berselisih sebulan dengan Kongres Luar Biasa FIFA di Meksiko bulan Mei nanti?  Atau jangan sampai, sanksi berlipat bakal diterima yang membuat sepakbola kita semakin terkapar? Entahlah. Sembari menanti ...

Waspadai ‘Jebakan’ Rio Haryanto

Image
Rio Haryanto/Kompas.com Membaca judul ini, apa yang Anda pikirkan dan pahami? Tentu, dengan tanpa diantarai tanda baca, beragam pemahaman akan muncul. Ya, memang itulah maksud saya. Setidaknya, beberapa dari antaranya seperti yang saya maksudkan di bawah ini. Seperti judul multitafsir di atas, kiprah Rio Haryanto di ajang F1 pun demikian adanya. Sejak nama pebalap kelahiran Surakarta itu mulai diorbitkan ke ajang jet darat tersebut, aneka suara bermunculan di sana sini. Polemik mengemuka. Pro-kontra hadir dalam rupa jamak. Salah satu titik perbincangan ialah ikhwal mahar fantastis yang harus disetor ke Manor Racing, tim yang kini dibelanya. Bagi kamu penentang-untuk mengatakan yang menyuarakan keberatan, uang 15 juta Euro atau Rp225 miliar terlalu mahal untuk satu kursi di tim asal Inggris itu. Sebagai debutan atau rookie, dana sebesar itu dinilai terlalu berisiko alias berpeluang mubazir. Manor bukan tim elit dengan sumberdaya yang memadai sehingga jaminan sebagai p...