Peran Penting Orang Tua Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi (Refleksi Harganas 2022)

Ilustrasi keluarga: shutterstock via Kompas.com

Saat ini kita memasuki masa transisi. Setelah dua tahun terkungkung dalam kehidupan yang sempit tersebab pandemi Covid-19, kini kehidupan dalam semua aspek mulai berangsur pulih.

Sekat-sekat isolasi dan pembatasan mobilitas fisik mulai dibuka. Tirai ruang interaksi personal dan sosial perlahan-lahan tersingkap. Sekolah-sekolah sudah memperbolehkan pembelajaran tatap muka. “Work From Home” (WFH) atau “Work From Anywhere” (WFA) sudah mulai ditinggalkan dan kembali ke model awal: “Work From Office” (WFO).

Seperti sekolah dan kantor, ruang-ruang sosial dan publik lainnya pun mulai ramai. Nadi kehidupan serasa kembali berdenyut normal. Walau kembali ke kehidupan normal (baru), banyak hal tetap menuntut adaptasi dan persiapan tertentu.

Dalam situasi seperti ini orang tua memainkan peran penting terutama untuk menuntun anak-anak kembali ke kehidupan seperti sebelum masa “pagebluk.” Anak-anak perlu dibekali agar tumbuh kembang tetap berjalan optimal.

Apa saja peran yang patut dimainkan orang tua terhadap kehidupan sang buah hati? Aspek-aspek apa yang penting diperhatikan orang tua agar anak bisa menjalani masa transisi menuju kehidupan normal?

Entah sebuah kebetulan, peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2022 persis jatuh di masa peralihan. Peringatan saban 29 Juni itu sepatutnya dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Lebih penting dari itu, #HariKeluargaNasional2022 adalah momentum sosialisasi dan optimalisasi peran penting setiap keluarga di Indonesia.

Melansir laman Kemendikbud, keluarga memiliki delapan fungsi penting, mulai dari agama, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, pendidikan, ekonomi, hingga pembinaan lingkungan untuk mewujudkan keluarga yang berketahanan.

Seperti tahun sebelumnya, tajuk peringatan tahun ini masih berkutat pada misi penurunan stunting anak. Ini kesempatan untuk kembali menghidupkan peran penting keluarga sebagai agen utama pencegahan dan penurunan stunting.

Saat ini, angka prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi: 24,4 persen (SSGBI 2021). Ada target besar yang ingin dicapai secara nasional yakni menurunkannya ke angka 14 persen pada 2024 nanti.

Danone Indonesia coba mengerucut refleksi Harganas tahun ini sebagaimana topik webinar pada Selasa (28/6/2022) atau sehari sebelum hari H yakni “Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi.”

Hadir sebagai pembicara #BicaraGizi2022 adalah dr. Irma Ardiana, MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, dan Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101 Cici Desri.

Para narasumber Bicara Gizi 2022: foto Danone Indonesia

Persiapan Aspek Sosial dan Emosional Anak

Selama masa pandemi, ruang gerak dan kehidupan sosial anak sungguh terbatas dan sengaja dibatasi.

Padahal, anak-anak butuh ruang untuk mengejawantahkan kodratnya sebagai makhluk sosial sekaligus sebagai kesempatan untuk mengasah kecederasan sosial dan emosional mereka.

Dokter Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH menggarisbawahi pentingnya aspek sosial dan emosional seorang anak.

Menurut dokter spesialis tumbuh kembang anak ini, dua aspek itu menjadi jembatan untuk menggapai berbagai aspek kehidupan dan menjadi jembatan untuk fase kehidupan selanjutnya.

Orang tua perlu memiliki pemahaman yang memadai terkait perkembangan sosial emosional anak terutama di periode transisi ini.

“Bagi anak-anak, kebingungan menghadapi perubahan ruang dan rutinitas baru saat kembali menjalani kehidupan dan interaksi sosial dapat meningkatkan masalah sosial-emosional yang dampaknya bisa berbeda tergantung dengan usia anak dan dukungan dari lingkungannya,” demikian dr.Bernie.

Bila tidak dipahami dan diantisipasi, anak-anak bisa mengalami kebingungan dan pada gilirannya bisa memantik masalah-masalah lainnya. Perkembangan emosi dan sosial anak terganggu dan bisa berdampak hingga usia dewasa seperti gangguan kognitif, depresi, dan potensi penyakit tidak menular.

Dokter Bernie menekankan betapa dekat perkembangan emosi dan sosial dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Ketiganya seperti mata rantai yang saling terkait dan saling mempengaruhi.

Untuk itu, dr.Bernie menganjurkan, “Agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka orang tua perlu memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat.”

Pola asuh kolaboratif

Pemerintah sudah menetapkan Indeks Pembangunan Keluarga (IBangga) yang bersumber dari Pendataan Keluarga 2021 yang tertuang dalam metadata Indikator Kinerja Utama BKKBN 2021.

Seperti disampaikan Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Irma Ardiana, MAPS, hal tersebut mencakup tiga dimensi dan 17 variabel.
Dimensi dan variabel IBangga: tangkapan layar Youtube Nutrisi Bangsa

Tiga dimensi itu adalah ketentraman, kemandirian, dan kebahagiaan. Masing-masing mencakup sejumlah variabel seperti menjalankan ibadah, kepemilikan buku nikah, kepemilikan akta lahir anak usia 0-17 tahun, kepemilikan kartu jaminan Kesehatan, tidak terdapat konflik keluarga, dan tidak mengalami ceraih hidup. Semua ini merupakan bagian dari aspek ketentraman.

Selanjutnya, unsur-unsur kemandirian meliputi sumber penghasilan, makan makanan beragam, tinggal di rumah layak huni, kepemilikan tabungan atau simpanan, tidak ada anggota keluarga usia 7-18 tahun yang putus sekolah, tidak terdapat anggota keluarga yang sakit, dan akses informasi media online/internet.
Pemetaan IBangga secara nasional: tangkapan layar Youtube Nutrisi Bangsa

Interaksi keluarga, pengasuhan bersama, rekreasi, bersama, dan keikutsertaan dalam kegiatan sosial atau gotong-royong merupakan variabel dari dimensi kebahagiaan.

Ada kenyataan menarik terkait pola asuh orang tua selama pandemi. Melansir hasil survei BKKBN sebagaimana dipaparkan dr. Irma Ardiana, MAPS, selama masa pandemi, 71,5 persen pasangan suami-istri telah melakukan pola asuh kolaboratif.

Selebihnya, 21,7 persen lebih didominasi istri, dan sisanya, 5,8 persen sepenuhnya berada di tangan sang istri.

Kenyataan itu menarik untuk ditelaah. Data UNICEF dalam laporan berjudul “Towards A Child-Focused COVID-19 Response and Recovery: A Call to Action” yang diterbitkan Agustus 2021, menemukan bahwa saat pandemi para orang tua mengalami tingkat stres dan depresi lebih tinggi. Karena itu, pengasuhan anak di rumah saja memiliki risiko tersendiri.

Dalam situasi seperti itu, orang tua tentu tidak bisa menjalankan perannya secara optimal. Bisa saja orang tua justru menghambat pemenuhan kebutuhan emosi dan psikologis anak. Orang tua yang tengah bermasalah bisa jadi meneruskan dan menghadirkan masalah bagi buah hati mereka.

Untuk itu, konsep pola pengasuhan kolaboratif menjadi penting. Pengasuhan bersama dengan mengedepankan komunikasi, negosiasi, kompromi, dan pendekatan inklusif. Alih-alih jenis pendekatan lain seperti otoriter atau permisif.

Lebih spesifik, dokter Irma Ardiana menerangkan demikian. “Pengasuhan bersama antara ayah dan ibu menawarkan cinta, penerimaan, penghargaan, dorongan, dan bimbingan kepada anak-anak mereka.”

Pola pengasuhan seperti itu akan membantu tumbuh kembang anak. Dalam konteks percepatan penurunan stunting, pendekatan seperti ini sungguh dianjurkan dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) seorang anak. Sehingga berbagai kebutuhan terutama nutrisi dan psiko-sosial seorang anak sudah terpenuhi sejak janin sampai usia 23 bulan.

“Pola asuh yang tepat dari orangtua dinilai mampu membentuk anak yang hebat dan berkualitas di masa depan,” tegas dr.Ardiana.

Sejumlah tips

Pertama, Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101 Cici Desri membagi sejumlah pengalaman bagaimana mengisi masa transisi untuk sang anak.

“Setelah menjalani pembatasan sosial selama hampir dua tahun, saya melihat ada banyak tantangan yang dihadapi si Kecil untuk kembali bersosialisasi dengan dunia luar,” bukanya.

Cici menemukan kenyataan bahwa proses adaptasi tidak selalu berjalan sesuai harapan. Anak mengalami keterkejutan saat bertemu dengan orang baru. Saat berinteraksi dan beraktivitas dengan banyak orang, anak pun berpotensi mengalami frustrasi.

Dalam situasi seperti itu, ia menganggap penting peran orang tua. Ia dan sang suami berusaha mendorong si Kecil untuk berani mengungkapkan pikiran dan perasaan. Dengan demikian, sebagai orang tua mereka bisa mengetahui apa yang sedang terjadi pada sang anak.

Tidak sampai di situ. Keduanya juga bekerja sama dengan guru dan pihak sekolah untuk terus memantau sang anak.

Tidak ketinggalan, mereka juga berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mengetahui lebih jauh upaya yang bisa dilakukan agar tumbuh kembang anak tetap berada di jalur positif.

Walau berat, seorang anak tetap harus berinteraksi sosial dengan carat atap muka langsung dengan dunia di luar rumah. Sebab, menurut Cici, hal tersebut penting untuk, “menumbuhkan rasa kepercayaan baru dan merasakan kenyamanan berada di lingkungan barunya.”

Pada gilirannya, lanjut Cici, “Si Kecil bisa tumbuh menjadi anak hebat yang pintar, berani, dan memiliki empati tinggi.” Kedua, dr.Bernie menekankan peran orang tua sebagai contoh terdekat pertama yang anak pelajari untuk membangun kecerdasan emosional dan sosial mereka.

Mengikutsertakan mereka dalam kegiatan atau diskusi keluarga. Mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang baik terutama dalam manajemen perasaan.

“Kita bisa menggunakan bedtime talk, kadang-kadang mau tidur dibacakan cerita, meminta tanggapan saat kehidupan siang seperti apa,” ungkap dr.Bernie.
Tips bagi orang tua dalam membangun kecerdasan sosial dan emosional anak: Youtube Nutrisi Bangsa

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menanti Intervensi Pemerintah untuk Anak dengan Penyakit Langka

Menulis Terus Sampai Jauh...

Dari Namirah, Sarwendah, Olivia Jensen Hingga Alice Norin Jatuh Hati Pada All New Sienta